Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram

Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram
Nasab Siapa?


__ADS_3

Setelah tiga hari dirawat di ruang ICU Zakira dipindahkan di ruang perawatan.


Begitupun dengan bayinya.


"Mbak Zakira bayinya ditaruh di sini saja ya."


"Iya suster terima kasih," ucap Zakira lirih.


Racun yang diberikan oleh Raymond, memang  racun yang begitu kuat, hingga bisa membunuh dalam waktu hitungan detik.


Beruntung Zakira  mendapat penanganan cepat hingga dia bisa selamat.


Saat ini Zakira masih dalam masa pemulihan.


Dipeluknya bayinya itu karena begitu rindu pada putranya, sambil meneteskan air mata.


"Ya Allah, untung  saja bunda selamat nak, siapa yang akan merawat kamu hingga kamu dewasa nanti, jika Bunda tak ada.Kamu tenang saja, seperti apapun orang terhadap kamu, Bunda akan selalu menjaga dan melindungi kamu," lirih Zakira sambil mencium pucuk kepala bayinya.


Rafli masuk ke dalam ruangan dan melihat ada bayi Zakira di sana.


"Loh kenapa bayinya dibawa ke sini?" Tanya Rafli.


"Memangnya kenapa mas? Kamu tidak suka? kalau anak ku  ada sama aku?"


Rafli terdiam sejenak. 


"Bukan tidak suka, tapi kamu baru pulih dari racun yang hampir merenggut nyawa kamu. Atau tidak repot jika bayi itu ada di sini?"


"Tidak apa-apa Mas, anak ku  ini tidak mengganggu aku sama sekali, justru aku merasa tenang jika dia bersamaku."


"Ah terserah kau sajalah."


Rafli pun membereskan barang-barang belanjanya sementara Zakira menatap Rafli dengan sinis.


***


Selama di rumah sakit, Rafly terlihat enggan menyentuh bayi itu. Hal itu membuat Zakira serba salah.


Jika saja Zakira tahu jika Rafli tak menginginkan anak itu. Mungkin lebih baik mereka berpisah sejak dulu. Karena tak mungkin Zakira menelantarkan anaknya.


Setelah dirawat seminggu di ruang perawatan, Zakira pun keluar dari rumah sakit dan dibawa pulang ke rumah.


***


Melihat Zakira yang baru pulang dari rumah sakit dengan membawa bayinya, para tetangga yang terdiri dari ibu-ibu menghampiri rumah Zakira.

__ADS_1


Mereka datang dengan beberapa hadiah untuk bayi Zakira. Ada sekitar 4 orang di sana mereka langsung masuk ke kamar Zakira untuk melihat bayi yang dilahirkan Zakira.


"Ya ampun lucu banget anak kamu Za. Sudah dikasih nama?" Tanya salah seorang tetangga.


"Belum Mbak, aku belum memikirkan nama yang cocok untuk bayiku."


"Kasih saja namanya Ahmad. Bapaknya Rafli, anaknya Ahmad jadi kalau di sambung namanya seperti nama artis yang terkenal itu loh."


Tiba-tiba seorang tetangga berbisik ke telinga wanita itu.


"Hus ngaco kamu, itu kan bukan anaknya Rafli," bisik salah seorang tetangga Zakira.


Wanita itu terdiam.


"Gak di aqiqah kan anak mu Za?" tanya salah seorang lainya.


"Insyaallah minggu depan Kak. Ini aku baru pulang dari rumah sakit. Makanya belum sempat."


"Oh iya lah. Moga kamu dan bayi kamu selalu sehat ya Za," ucap seorang wanita paruh baya yang merupakan tetangga Zakira.


"Amin Bu, Terima kasih ya."


"Ya udah Za, kalau begitu kami semua pamit ya semoga kamu dan anak kamu sehat selalu." Tetangga yang lain pun memberi ucapan doa untuk Zakira.


Hal itu Iya sampaikan pada sang suami.


***


Keesokan harinya Zakira sudah melucuti semua perhiasan yang ia miliki. Dia menunggu Rafly pulang kerja sambil memberikan ASI pada bayinya.


"Assalamualaikum," sapa Rafli di depan pintu.


"Waalaikumsalam."


Zakira menghampiri Rafli kemudian menyuguhkan minuman untuk yang memang sudah dipersiapkan.


Setelah duduk dan meneguk  minumannya Rafli masuk ke dalam kamar, kemudian mengganti pakaian dan bergegas ke kamar mandi.


Setelah memakai pakaian rapi menghampiri Zakira.


"Kamu sudah makan Za?"tanya Rafli.


"Belum Mas, maaf ya aku belum sempat masak."


"Ya sudah aku beli makanan diluar saja. Nanti kita makan sama-sama."

__ADS_1


"Iya Mas."


Rafli hendak keluar.


"Mas tunggu sebentar."


"Ada apa?" tanya Rafli sambil menoleh ke arah Zakira.


Zakira menyerahkan sekotak perhiasannya. Perhiasan tersebut adalah miliknya dari hasil kerja keras Zakira selama ini.


"Mas aku boleh titip ini nggak. Kamu jual di sini ada surat-suratnya."


"Kamu mau jual perhiasan untuk apa Za?"


"Aku mau jual perhiasan untuk pembiayaan aqiqahan anakku Mas."


"Aqiqah? kamu mau aqiqah anak kamu?"


"Iya Mas. Ini perhiasan, aku beli dari uang tabunganku sendiri." Zakira menegaskan.


"Bukan begitu Za, sekarang kamu pikir, biasanya aqiqah akan disebutkan nasab dari anak itu. Apa kamu memberi nasab Raymond sebagai ayahnya nanti?"


"Astagfirullah Mas." Air mata Zakira seketika menetes. Hati Zakira terasa sakit seperti ditusuk-tusuk dengan sembilu.


"Mas, sebenarnya meskipun anak yang  dilahirkan itu bukanlah anak biologis kamu. Tapi tetap saja anak itu nashabnya akan jatuh ke nasab kamu."


"Tidak!  aku tidak sudi namaku ada di dalam nama anak itu. Seorang anak pembunuh! seorang anak pemerkosa! dan kamu ingat Zakira dia juga yang telah meracuni kamu. Si Reymond keparat itu!"


" Cukup Mas! Bentak sambil menangis.


"Kalau kamu tidak sudi berikan nama kamu pada nasab anak ku, tidak apa-apa. Biarkan saja anakku tanpa nasab. Tapi jangan sekali-sekali jangan kamu sebut jika anakku itu anak dari seorang pembunuh, anak dari seorang pemerkosa! Aku tidak terima anak ku yang suci itu! kalian nodai dengan nama-nama yang buruk! Semua bayi yang terlahir di dunia ini suci. Yang membuatnya ternoda adalah lingkungan dan orang-orang yang mengambil andil dalam mendidiknya! Jika kau tidak mau menjualkan perhiasan itu, aku akan minta tolong kepada orang lain," ucap Zakira sambil membungkus kembali perhiasannya.


"Hiks hiks,"tangis Zakira


Ia meletakkan perhiasan itu kemudian dia menggendong anaknya dan mencium anaknya.


"Hiks hiks Jika kamu selalu mengungkit asal usul anak aku, sebaiknya kamu ceraikan saja Aku mas. Aku tidak terima kamu perlakukan seperti ini, hiks."


Rafli terdiam menatap Zaakira yang menangis sedih. Ada perasaan iba di hatinya karena telah membuat sang istri menangis.


Sekedar keterangan saja ya reader.ada hadits yang menerangkan keadaan seperti yang Zakira alami ini. Semoga kita tidak keliru. maaf jika ada kesalahan silahkan tulis di kolom komentar


 Imam an-Nawawi ulama madzhab Syafi’i membeberkan jika ada seorang perempuan bersuami, kemudian hamil yang mungkin pula disebabkan oleh laki-laki selain suaminya, maka ketika anak itu lahir di-nasab-kan kepada suaminya.


Artinya, “Jika ada dua orang laki-laki (suami sah dan selingkuhan istri) yang bersama-sama menggaulinya (istri tersebut) dalam keadaan suci, kemudian si istri hamil (dan melahirkan) anak yang dimungkinkan anak itu berasal salah satu dari kedua laki-laki tadi, maka anak tersebut dinasabkan kepada suami sahnya, sebab ada hadits, ‘Anak itu milik si empunya ranjang,’ (HR. al-Bukhari-Muslim).” (Imam an-Nawawi, Majmu’ Syarh al-Muhadzab, juz XVII/410).

__ADS_1


__ADS_2