
Pada awalnya Rafli mencoba tak ambil peduli keberada Zakira. Namun ia juga tak ingin terjadi sesuatu pada Zakira.
Beruntung Rafli masih menyimpan nomor Sinta sahabat Zakira.
Dia langsung menghubungi Sinta.
"Halo selamat malam,"sapa seorang wanita di sambungan teleponnya.
"Selamat malam, apa saya sedang bicara dengan Sinta."
"Oh iya saya sendiri."
"Maaf Mbak Sinta sudah pukul 09.00 malam tapi Zakira belum juga pulang. Kira-kira ke mana ya?" Tanya Rafli.
"Oh Zakira bersama Pak Reymond Mas."
"Reymond, bosnya Zakira?"
''Iya Mas."
"Memangnya mereka ada pekerjaan apa, hingga harus pergi berdua dan belum juga pulang sampai malam seperti ini?"
"Kalau itu Saya kurang tahu. Setelah saya pulang dari istirahat makan siang Zakira dan Pak Raymond sudah tidak ada. Pak Raymond menelpon saya katanya Mereka berdua ada urusan di luar kota."
"Ada urusan di luar kota?!"
"Iya bener mas."
"Maaf ya Mbak Sinta. Apa selama ini Raymond dan Zakira sering pergi ke luar kota."
tiba-tiba saja keadaan hening.
"Halo Mbak Sinta Apa Anda masih di sana."
"Oh iya masih Mas."
"Maaf Mbak Sinta, saya tanya sekali lagi, tolong anda jawab dengan jujur. Apa Reymond dan Zakira sering pergi ke luar kota bersama?"
"I-iya Mas." Sinta menjawab dengan gugup.
Seketika bola mata Rafly melotot dengan jantung yang berdetak tak karuan.
"Hah jadi mereka sering keluar kota dan menginap?"
"I-iya Mas."
Glek... Rafli menelan salivanya, seketika lututnya gemetar mendengar ucapan dari Sinta.
"Mas sudah dulu ya saya tutup sambungan teleponnya," pungkas Sinta dan langsung memutus sambungan teleponnya.
Brug
Rafli yang masih membatu itu seketika melepaskan handphone yang digenggamnya hingga jatuh ke lantai.
Bola matanya berkaca-kaca, karena menahan rasa sakit atas berita yang telah didengar baru saja.
Butuh beberapa saat untuk kembali tersadar dari lamunannya. Kemudian ia masuk ke dalam kamar dan berusaha merupakan kejadian itu agar hatinya tak terasa sakit.
Rafli berbaring di kamar sambil membolak-balikkan tubuhnya. Waktu menunjukkan pukul 10.00 malam tapi dia belum juga tenang.
Kemudian Rafli kembali bangkit dan duduk di atas tempat tidur dan menangis.
"Dasar perempuan ****** hiks! tak tahu diri, belum jadi janda dia sudah menginap dengan bos nya. Akan ku berikan pelajaran pada Zakira dan pada bosnya."
"Untuk apa aku memikirkannya sedangkan dia tidak memikirkan perasaanku. Kupikir dengan menjatuhkan talak padanya Dia meminta maaf dan menyadari kesalahannya. Tapi ternyata aku salah, hiks. Aku terlalu lemah untuk bertindak tegas. Harusnya aku lakukan apa yang, ibu ku katakan sejak dulu, hiks hiks."
Selama beberapa saat, Rafli menangis karena perasaannya yang begitu sakit akibat terluka karena diselingkuh dan dikhianati oleh sang istri.
Hiks hiks
__ADS_1
Semakin mencoba untuk tak peduli pada Zakira tapi semakin tidak bisa,
Jiwanya terus saja tidak tenang sebelum dia membalas perbuatan Zakira dan Raymond.
"Lihat saja apa yang akan kulakukan pada kalian berdua,"ucap Rafly dengan genggaman tangan yang gemetar
***
Keesokan harinya Rafli bersiap pergi ke suatu tempat dengan beberapa surat di dalam genggamannya.
Rafli pum membuka pintu mobilnya dan melempar sebuah map di atas jok mobil.
Akhir-akhir ini emosinya sering tak terkendali. Padahal Rafli dikenal seorang yang lembut dan bersahaja.
Brum-brum suara mobil Rafli keluar dari area mess, meninggalkan suara gaduh para penghuni Mess.
"Eh sepertinya Zakira nggak pulang ya," ucap salah seorang wanita kepada tetangganya.
"Iya Bu sepertinya akhir-akhir ini Mas Rafli selalu dibuat emosi oleh istrinya. Kemarin datang sama pria lain dengan menggunakan mobil. Eh malam ini justru nggak pulang. Benar-benar kelewatan ya Zakira, punya suami tampan kok diselingkuhin."
"Ah mungkin suaminya Mbak Zakira kurang kaya karena itu Zakira lebih memilih pria kaya raya."
"Iya bagaimana ya kalau ibu ketua Persit kita tau tentang perlakuan Zakira."
"Ah pastinya si Rafli nggak mau ngomong lah Bu. Karena itu mereka diam-diam saja."
Tak hannya dua orang itu beberapa orang tetangga Zakira kembali bergunjing tentang kehidupan rumah tangga Zakira.
***
Rencananya Rafli akan menjebak Raymond tentang isu perselingkuhan Reymon dengan Zakira. agar bisa menjadi bukti bagi Rafli untuk melaporkan hal itu pada atasannya, untuk mendapat izin menggugat cerai Zakira. Selain itu dia akan melaporkan kasus kehamilan Zakira sebagai kasus asusila yang melibatkan Raymond dan istrinya
Pukul 09 pagi.
Rafli tiba di kantor Raymond.
Setelah memarkirkan mobilnya, Rafli langsung menuju pos satpam.
"Anda siapa ya Pak. Ada perlu apa?" tanya satpam pada Raymond.
"Saya ada perlu dengan beliau dan sudah janji dengan beliau."
Rafli menunjukkan kartu keanggotaan militernya.
"Saya tidak akan macam-macam Pak. Saya hanya ingin bertemu dengan Raymond Karena ada urusan."
"Oh baiklah kalau begitu silakan Anda menuju ke lantai 3, keluar dari lift belok ke kiri dan di sana ada ruangan Pak Raymond."
"Baiklah kalau begitu terima kasih."
Dengan langkah super cepat Rafli melewati koridor menuju lift.
Dengan nafas yang memburu dan emosi yang tertahan Rafly coba untuk bersikap tenang agar amarah tak menguasainya saat itu.
Dia harus bisa membuat Raymond mengaku tentang perselingkuhan mereka. Sebelum itu Raffi juga menyiapkan sebuah alat perekam yang akan merekam pembicaraan mereka.
Ting.. lift berhenti di lantai 3 langsung saja Rafli keluar dan menuju ke ruangan Raymond.
Saat itu Sinta begitu kaget dengan kehadiran Rafli. Dia pun langsung berdiri.
"Selamat siang Mas, mau cari siapa?" Tanya Sinta berbasa-basi seketika wajah Sinta menjadi pucat kasih
Iya Mbak saya mau mencari Pak Reymond apa beliau ada di ruangannya.
Sinta tertunduk sepertinya ia ragu
Tanpa menunggu izin dari Sinta, Rafli langsung berjalan menuju arah ruangan Reymond.
Krack… tanpa mengetuk pintu, Rafli langsung masuk ke ruangan Raymond.
__ADS_1
Pria berumur 30 tahun itu sedikit kaget dengan kehadiran Rafly, senyum licik terbit di sudut bibirnya.
"Eh Pak Rafli Ada apa nih. Kenapa tiba-tiba datang ke ruangan saya?"
Rafli menggenggam erat tangannya mencoba untuk tidak emosi.
Karena jika dia emosi, itu sama saja akan berakibat fatal terhadap karir nya sendiri.
Sepertinya Raymond memang mencari kesempatan dalam hal ini. Reymond tersenyum sambil menyodorkan tangannya. Bersikap ramah terhadap Rafly.
'Bagaimana kabar anda Pak Rafli?" ucap Reymond.
Rafli menatap sinis ke arah Raymond tanpa memperdulikan tangan Raymond yang terulur ke arahnya.
"Maaf Pak, saya tidak suka basa-basi."
"Ya kalau begitu silahkan duduk, saya juga bukan orang yang suka berbasa-basi dan tidak punya waktu untuk itu."
"Katakan saja dimana Zakira?"
"Zakira? Anda bertanya tentang istri anda pada saya?"
"Kemarin saya menelpon Sinta, dan Sinta mengatakan Anda pergi bersama Zakira setelah makan siang. Dan sampai kini Zakira belum kembali," kata Rafly.
'Lalu Kenapa Anda bertanya pada saya?" Tanya Reymond balik.
Rafli membelalakkan bola matanya sepertinya Raymond memang menginginkan dia untuk emosi kemudian memukulnya.
"Bukannya Anda pergi bersama istri saya siang kemarin? Jadi wajar saja jika saya menanyai anda karena sampai saat ini saya tidak mengetahui keberadaan istri saya."
Iya saya pergi bersama istri anda, saat istirahat jam makan siang, tapi sore harinya saya sudah mengantarnya di kantor." Rafly berkilah.
Rafly memicingkan matanya kembali.
"Boleh saya tanya satu hal?"tanya Rafli dengan emosi tertahan.
"Silakan saja."
"Apakah Anda yang telah menghamili Zakira?" tanya Rafly dengan nada tegas.
Jantung Rafli berdegup semakin kencang, ketika mengatakan hal itu, tapi ia harus tetap tenang agar tidak terbawa emosi.
Sementara Raymond tersenyum tipis, kemudian ia melipat kedua tangannya ke dada dan dengan santai dia berkata.
"Kalau memang saya yang telah menghamili Zakira, lalu anda mau apa?" tanya Reymond seperti menantang.
Seketika Rafli benar-benar sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi.
Bough ....1 bogam mentah mendarat di pipi Raymond.
Jangan ditanya soal kekuatan Rafli, fisiknya lebih kuat dari dua orang pria meski tubuhnya tak sebesar dan tak setinggi Reymond.
Pukulan Rafly membuat Raymond bergerak beberapa langkah ke arah belakang.
"Kenapa Anda memukul saya? Kami melakukan atas dasar suka sama suka. Lagi pula saat itu Shakira kesepian. Dia juga butuh kehangatan, salah kau sendiri yang telah meninggalkannya lebih lama!"
Bugh! Bugh! Dasar pengecut! Berani-beraninya kau berzina dengan istri orang lain.
Rafly tak henti-hentinya memukul wajah Reymond sementara Reymond tak sedikitpun membalas.
Sinta yang mendengar keributan di ruangan Reymond segera memanggil security dan beberapa karyawan lainnya.
Bugh!
Tubuh Remon ambruk ketika mendapatkan pukulan dan tendangan dari Rafli yang bertubi-tubi, bagian bibir dan wajahnya memar dan berdarah.
"Dasar bajingan tengil"
"Berhenti!" Teriak salah seorang pria yang baru saja tiba di ruangan itu.
__ADS_1
Namun bukannya berhenti, tapi Rafly terus menghajar Raymond.