
Setelah mendapat surat keterangan dari Dokter yang menangani Rafli, Reymond dan Zakira menuju laboratorium untuk melakukan pemeriksaan sel punca.
"Mas, jika mas Rafli berhasil dalam menjalani transplantasi tulang ini, apakah Akbar bisa melakukan transplantasi?"
"Mas rasa bisa, Sayang. Oh ya nanti kita akan tanya Loren apa di sana ada penyedia prosedur transplantasi sumsum tulang belakang untuk anak-anak. Jika seandainya sumsum tulang aku dan Rafly cocok, kemungkinan besar untuk Akbar juga bisa."
"Jadi maksud kamu, kamu mau donor sum-sum tulang untuk Akbar mas?" tanya Zakira dengan bola mata yang berembun.
"Iya kalau bisa kenapa ngak? semoga Akbar juga bisa menerima sumsum tulang belakang punya ku, agar Akbar bisa tumbuh menjadi anak normal seperti yang ceria sama seperti Aufar.
"Hiks terima kasih Mas," tutur Zakira sambil menangis memeluk Reymond .
"Iya Sayang, apa pun akan ku lakukan asal bisa membuat mu bahagia," kata Reymond.
Mereka tiba di laboratorium.
Reymond menyerahkan surat dari dokter Anwar.
"Ini suster surat dari dokter Anwar."
"Oh mau melakukan prosedur aspirasi sumsum tulang belakang ya pak?"
"Iya suster."
"Baiklah saya jelaskan dulu prosedurnya."
"Nanti saat melakukan pengambilan sampel bagian tubuh anda akan di bius dan di sayat pada bagian belakang kemudian akan dimasukkan jarum untuk mengambil isi dari sumsum tulang belakang.
"Prosedur aspirasi biasanya aman. Namun, tetap saja ada kemungkinan efek samping atau komplikasi, seperti terjadinya pendarahan, infeksi, reaksi akibat alergi obat bius, dan nyeri di area yang tersayat setelah prosedur itu di lakukan."
Zakira bergidik ngeri mendengar pemaparan dari Suster itu.
"Iya suster saya mengerti," kata Reymond .
"Baiklah pak, sebentar saya hubungi dokternya terlebih dahulu."
"Silahkan anda berbaring saja, saya lakukan pemeriksaan terlebih dahulu."
Suster memeriksa keadaan Reymond. Beberapa saat kemudian dokter tiba untuk melakukan pengambilan sampel.
Reymond di minta berbaring miring untuk menerima suntikan bius.
Setelah itu di lanjutkan dengan proses penyataan.
Zakira tak kuat melihat Reymond saat menjalankan prosedur tersebut. Zakira sampai menutup matanya.
"Bunda, keluar saja jangan lihat," kata Reymond.
"Gak mas, aku mau lihat kamu."
Tiga puluh menit pun berlalu. Dan proses pengambilan cairan sumsum tulang belakang tersebut selesai.
Reymond terbaring karena merasakan ngilu di bagian tersayat nya.
"Suster, suami saya apa harus di rawat?" tanya Zakira.
"Tidak mesti Bu, tapi sebaiknya tidak menyetir kendaraan sendiri. berbaring saja setengah jam sampai 1 jam ke depan baru boleh pulang."
"Iya Suster."
"Masih sakit Mas?" tanya Zakira sambil mengusap kepala Reymond .
"Gak lagi, kalau melihat senyuman mu, aku gak merasa sakit lagi."
"Is, apa-apaan sih Mas. Kita tuh bukan anak remaja yang suka di gombalin gitu," ucap Zakira sambil tersipu.
"Siapa yang gombal, emamg kenyataan begitu," ujar Reymond .
Suster yang mendengar ucapan Reymond ikut tersenyum.
"Hus, malu di dengar suster. Kita sudah gak muda lagi."
__ADS_1
"Siapa bilang gak muda, masih muda nih." Reymond mencolek perut Zakira
Zakira hanya tersenyum simpul.
"Jam berapa Sayang, anak-anak sudah pulang?"
"Akbar pulangnya sekitar satu jam lagi. Nanti biar aku saja mas yang jemput. Nanti aku bawa Akbar ke sini sekalian melihat keadaan ayahnya. Kasihan mas Rafli mungkin dia juga kangen sama anak-anaknya."
"Gak lah, kita pulang sama-sama besok baru kita bawa anak-anak untuk melihat keadaan ayahnya."
"Iya Mas."
Karena mengkhawatirkan Zakira menyetir sendiri, Reymond memutuskan untuk pulang bersama Zakira.
Karena hasil laboratorium juga akan keluar beberapa hari lagi.
Zakira dan Reymond pulang menuju sekolah Akbar.
Mereka menunggu sekirar satu jam di kantin sekolah Aufar juga pulang
Setelah keduanya anaknya berada di dalam mobil mereka pulang.
"Daddy , Daddy nggak kerja?" tanya Aufar.
"Nggak,hari ini Daddy mau ngajak kalian makan siang bersama. karena Daddy punya kejutan khusus untuk kalian."
"Kejutan apa Daddy ?" tanya Akbar.
"Kejutannya adalah....." Reymond mengulur ngulur waktu
Ih Dedi kebiasaan, main tebak-tebakan.
"Kejutannya adalah, sebentar lagi kalian bakalan punya adik!"
"Yey! kita punya adik bang!"
"Daddy adiknya perempuan atau laki-laki?"
"Aufar mau perempuan!"
"Akbar mau laki-laki!" seru mereka.
"Kalau Daddy mau anak perempuan atau laki-laki?" tanya Zakira.
"Apa saja boleh, yang penting sehat dan selamat."
"Daddy , karena adiknya sudah jadi, boleh gak Akbar tidur sama bunda lagi?"
"Tetap nggak boleh dong sayang. kan aku baru sebentar lagi jadi Abang."
"Yah, padahal kan Akbar mau tidur sama Bunda lagi." Akbar kan takut
"Iya Akbar, mulai sekarang kita harus belajar tidur sendiri, kita kan calon Abang, gak boleh takut Anak laki laki itu gak boleh takut tidur sendiri,"kata Aufar.
"Iya deh, "
"Ya sudah sekarang mau makan dimana Bunda?".
"Aku mau makan sop iga sajalah Mas."
"Tapi kamu gak apa-apa kan Mas?" Zakira menghawatirkan suaminya itu. Namun ternyata Reymond tidak apa-apa. Tak ada konflik atau apapun pada bekas sayatan Reymond .
Karena keadaan suaminya baik-baik saja Zakira pun bisa menikmati makan siangnya.
***
Beberapa hari berikutnya Zakira dan Reymond membawa Aufar dan Akbar menemui Rafli. Kebetulan mereka juga ingin mengetahui hasil hasil tes sumsum tulang belakang. yang dilakukan oleh Raymond.
"Assalamualaikum," ucap Aufar dan Akbar mereka masuk ke dalam ruangan di mana Rafli dirawat.
Rafli menoleh ke arah Akbar dan Aufar dengan bola mata yang berembun.
__ADS_1
Karena perubahan wajah Rafli Akbar dan Alfa terdiam mereka hampir tak mengenali ayah mereka.
"Ayah," lirih Aufar.
"Akbar! Aufar kalian datang Nak?"
"Iya Yah, Ayah kenapa bisa sakit?" tanya Akbar sambil mengusap wajah Rafli.
Rafli tersenyum haru, sebenarnya dia begitu rindu pada kedua anaknya.
"Ayah kami bawa buah-buahan untuk Ayah yah cepet sembuh ya Yah," kata Akbar sambil mencium pipi Rafli.
Aufar juga mendekati Rafli dan mencium Rafli.
"Cepat sembuh ya Yah."
"Aamiin. Terima kasih ya." bola mata Rafli perlahan berembun.
Mereka ngobrol sambil menunggu kedatangan dokter yang membawa hasil uji sampel sumsum tulang milik Reymond dan Rafli.
Sekitar 10 menit, dokter tiba di ruangan Rafli dan kembali memeriksa keadaan Rafli.
Setelah itu ia membuka hasil perbandingan tes uji cairan sum-sum tulang belakang.
Dokter tersenyum.
"Hasilnya HLA mereka cocok, jadi saudara Reymond bisa menjadi pendonor untuk pasien."
"Alhamdulillah! ucap mereka semua secara serempak
Bu Rita seketika menangis bahagia mendengar berita dari dokter tersebut,
"Alhamdulillah, Rafli semoga kamu cepat sembuh Nak," ucap Bu Rita sambil memeluk Rafli.
"Iya Bu."
"Kapan operasi pencangkokan sumsum tulang belakangnya di lakukan dokter?" tanya Reymond.
"Nanti kita akan jadwalkan, dan kemungkinan bisa di lakukan dalam beberapa hari lagi."
"Baiklah dokter, saya siap kapan saja "
"Ia, semoga kondisi pasien bisa memungkinkan untuk di lakukan prosedur operasi."
"Baiklah saya permisi dulu," kata dokter tersebut
Zakira dan Reymond meninggal Aufar dan Akbar untuk menemani Rafli.
"Setelah ini aku ikut kamu kerja saja Mas, nanti sekalian jemput anak-anak."
"Aku gak kembali ke kantor."
"Lalu kita mau kemana?"
"Mau ke hotel saja."
"Ngapain ke hotel?"tanya Zakira
"Bulan madu. Jarang banget kan siang-siang gini bisa ..."
Reymond tersenyum mesum sambil menaik turunkan alisnya.
Zakira pun mengerti maksud Reymond .
Zakira tersenyum sambil mencubit perut Reymond." Dasar ya, gak puas-,puas kamu mas."
"Kemaren kan libu beberapa hari Sayang, nanti setelah cangkok, pasti liburkan. Ya aku rapel saja sejak hari ini."
"Iya terserah kamu sajalah."
Mereka pun pergi ke suatu hotel untuk melaksanakan bulan madu yang tertunda kemaren.
__ADS_1