Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram

Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram
Menafkahi Diri Sendiri


__ADS_3

Karena tak ingin terjadi keributan, Rafli membawa Denisa keluar dari rumah itu dan mengantarkan pulang.


Di dalam mobil.


"Mas, aku tuh sakit hati sama Zakira, kamu kok diam aja sih saat aku ditampar!" Denisa berkeluh kesah kepada Rafli yang sejak tadi hanya diam sambil mengamati jalan raya.


"Istri kamu itu tak hanya pandai menyembunyikan aib perselingkuhannya, tapi juga pandai bersilat lidah dan memutar fakta."


"Kok kamu betah sih tinggal sama orang seperti itu!"


Denisa bermaksud untuk memanas-manasi Rafli, agar Rafli segera menceraikan Zakira tanpa harus menunggu wanita itu melahirkan.


Dia sudah tidak sabar untuk menggantikan posisi Zakira  sebagai istrinya Rafli.


Denisa terus ngomel, tapi tetap tak mendapat respon dari Rafli. Rafli tetap bergeming.


"Mas kamu dengar nggak sih, apa yang aku omongin."


"Denger kok!" sahut Rafli  ketus.


"Terus kamu diam saja? Ingat Mas, tadi Zakira tidak hanya menghinaku, tapi juga menghina kamu. Apa kamu tidak mengambil tindakan sedikitpun, terhadap apa yang dia katakan tadi!"


Denisa menatap Rafli yang sedang menyetir, dia berharap mendapat respon dari Rafli. Namun, lagi-lagi


Rafli kembali diam.


Denisa mendengus kesal." Huh percuma saja ngomong tapi nggak direspon sedikitpun!"


20 menit kemudian mobil tiba di rumah Denisa.


"Masuk dulu mas Rafli!"


"Tidak usah, aku langsung pulang saja."


Sesampainya di rumah, Rafli  melihat uang yang diberikannya pada Zakira masih terletak di atas meja.


Raffi mengetuk pintu kamar Zakira.


Tok tok tok.


Pintu terbuka keduanya saling menatap.


"Kenapa kau tak ambil uang ini?  Apa kau sudah merasa hebat, hingga  tak membutuhkan uang dariku."


"Kau simpan saja uang itu, Aku tak mau berhutang budi yang nantinya akan kau ungkit ungkit lagi. Mulai sekarang, aku akan menafkahi diriku sendiri. Dan mulai sekarang aku  tak ingin anak ini sampai termakan hasil dari kerja kerasmu."


Rafli menatap zakira dengan bola mata yang berpendar.

__ADS_1


"Jika sudah tidak ada lagi yang akan dibicarakan aku tutup pintunya dulu."


Zakira menutup langsung pintu kamarnya.


Rafli menghempaskan nafas kasar berusaha menahan emosinya.


Tok tok tok pintu kembali di gedor.


"Zakira! jika kau berubah pikiran, kamu bisa ambil uang ini, aku letakkan di atas meja sofa," ujar Rafli dari arah luar kamar. Namun tak sahut oleh Zakira.


***


Keesokan harinya, Raffi kembali menemukan uang itu tak bergerak sama sekali.


Karena emosi dia pun menemui Zakira di dapur.


"Apa maksud kamu Zakira, kamu ingin aku berdosa karena tidak menjalani kewajibanku dengan menafkahimu?" tanya Rafli.


"Tidak berdosa, jika aku merelakannya dan tak menginginkannya. Kau sendiri yang menginginkan jalan hidup kita yang terpisah-pisah. Mulai saat ini, aku akan membiayai kehidupanku sendiri Mas."


"Aku nggak mau kau ungkit pemberianmu suatu saat nanti, karena yang akan makan uang itu bukan hanya, aku tapi juga anak yang ada di kandunganku. Uangmu akan menjadi darah daging baginya. Dan jika suatu saat kau mengungkitnya bagaimana bisa aku mengembalikannya. Aku bisa menafkahi diriku dan anakku," ucap Zakira sambil menutup tempat bekalnya.


Rafli masih menatap Zakira dengan lekat, dia semakin kesal dengan wanita itu.


"Aku pergi dulu Mas, Assalamualaikum."


Zakira langsung berlalu meninggalkan Rafli.


***


"Apa?  Yang benar saja kamu diusir dan ditampar oleh Zakira?" tanya Bu Rita dengan geram.


"Iya tante, Zakira menghina aku. Dia bilang, kalau aku perempuan kotor yang merebut suaminya."


Bu Rita menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Berani sekali dia berkata seperti itu! Dia pikir dia siapa!"


"Aku juga sakit hati Tante, bagaimana kalau aib zakira kita sebarluaskan saja?"


"Menyebarkan aibnya? tapi apa tidak mengganggu profesi Rafli. Aku takut akan berdampak pada karir putraku."


"Loh yang berbuat kan Zakira, Kenapa Rafli yang terkena imbasnya."


"Sudahlah Denisha, kita cari aman saja, tante takut profesi Rafli justru jadi taruhannya. Kasihan Rafli kalau sampai dipecat gara-gara wanita itu."


"Terus aku harus bagaimana Tante? mulutnya kurang ajar sekali. Jika saja tidak ada Mas Rafli disana, pasti sudah ku jambak-jambak rambut wanita tak tahu diri itu!"

__ADS_1


"Kalau kau tidak bisa menyakitinya di rumahnya, silahkan saja kau sakiti dia di jalanan kau bikin malu dia di kantornya."


Denisa tersenyum menyeringai.


"Benar juga, akan ku balas perlakuannya. Lihat saja nanti."


***


Waktu jam istirahat tiba.


'Za, lo nggak ke kantin?" tanya Sinta.


"Gak, gue bawa bekal sendiri."


"Ya udah nggak apa, gue traktir kok."


"Nggak usah Sin, gue mau makan sambil memanfaatkan waktu makan siang gue untuk bekerja."


"Kerja apa sih Za? Bukankah ini sudah waktunya istirahat."


"Iya, tapi sekarang gue sudah jadi salah satu reseller kosmetik. Dan gue harus memanfaatkan waktu luang untuk membalas chat dan pesanan pelanggan."


"Wah, di saat hamil kok kamu makin aktif kerja sih Za? bukannya orang hamil butuh waktu istirahat yang banyak?"


"Sebenarnya sih iya, tapi mau gimana lagi Sin, gua harus bekerja keras biar bisa punya tabungan, setelah melahirkan kemungkinan gue nggak akan kerja di sini lagi."


"Loh kenapa? Lu takut nggak ada yang jaga anak lo?"


Zakira mengangguk.


"Iya Sin."


"Sekarang kan ada baby sitter atau tempat penitipan bayi dan anak. Sayang lo Za, cari kerjaan seperti kita ini nggak gampang. Apalagi aku dengar setelah melahirkan kamu bakalan diceraikan oleh suami kamu. Kalau kamu nggak kerja, gimana kamu bisa menafkahi anak kamu?"


Di saat yang bersamaan Reymon hendak keluar. Ia tak sengaja mendengar pembicaraan antara Sinta Dan Zakira.


"Itu dia Sin, makanya gua mau jadi reseller saja dari sekarang. Gua nggak tega nitipin anak gue ke orang lain."


"Ngomong-ngomong lu nggak pengen tahu siapa yang telah memperkosa Lo di hari itu?" tanya Sinta.


"Nggak, nggak sama sekali."


"Loh kenapa? Bukannya lo bisa minta tanggung jawab sama pria itu atau paling nggak lo bisa laporin dia biar dia dapat hukuman."


"Biarkan saja lah Sin, aku yakin Allah Maha melihat dan Maha tahu. Biar Allah saja yang menghukumnya. Lagi pula jika aku tahu siapa orang yang telah melakukan perbuatan itu padaku, mungkin saja aku akan membenci anakku sendiri."


Sinta menatap Zakira dengan iba. 

__ADS_1


'Kasihan sekali Zakira. Apa gue beritahu ya Siapa yang telah berbuat demikian pada Zakira,'  batin Sinta.


bersambung ya Gengs.


__ADS_2