
Bagus Saksena menyeruput minuman di depannya dengan tenang. Ia tersenyum pada Adipati Hujung Galuh yang ikut menenggak minumannya. Adipati Wilanggiri adalah bawahan dan sahabat baik ayahandanya. Dan Harya Wisanggeni , putra sang adipati adalah saudara seperguruannya.
"Jadi bagaimana keputusanmu, Paman Adipati? "
"Aku agak merasa sungkan, Nanda Raden. Istriku adalah kerabat dekat Panjalu. Boleh dibilang kami adalah satu keluarga. Ini adalah suatu dilema yang agak berat."
"Pikirkanlah masa depan dimas Wisanggeni, paman. Masa depan Hujung Galuh. Percayalah, tidak ada yang lebih penting daripada kemandirian. Paman percaya bahwa berada di bawah bayang-bayang Panjalu akan selalu berada dalam kemakmuran dan kedamaian? Belum tentu, paman. Ketahuilah, bahkan perdamaian yang terjalin di antara Panjalu dan Jenggala saat ini pun, palsu!"
Adipati Wilanggiri terkesiap.
"Bukankan Galuh Permaisuri adalah nanda Sundari, adik kandungmu sendiri? Dan perkawinan politik ini telah menjadi tonggak perdamaian dua kerajaan?"
"Sesungguhnya, paman, tidak ada perdamaian yang abadi. Adikku telah 4 tahun menjadi istri utama putra mahkota, namun belum memiliki putra. Panjalu telah mulai bersiap-siap mendepak adikku dan menggantinya dengan Galuh Citrawani."
"Yah, aku tahu dia Putri Adipati Daha, mantan jatukarma Raden Suryapaksi. Dulu aku nyaris melamar Citrawani atas permintaan Wisanggeni, tetapi ditolak oleh Adipati Daha. Ternyata dia memang disiapkan untuk menjadi permaisuri yang sesungguhnya?"
"Begitulah, paman." Bagus Saksena mengangkat bahu. "Begitulah permainan istana. Karena itu jangan terlalu percaya dengan situasi tenang di permukaan seperti ini. Kita harus memiliki pijakan yang kuat, pegangan yang kokoh. "
Adipati Wilanggiri manggut-manggut. Hatinya resah. Tugas yang dimandatkan oleh Bagus Saksena cukup berat. Tetapi imbalannya sangat sepadan. Kerjasama bisnis yang akan menguntungkan kedua belah pihak. Adipati Wilanggiri hanya perlu meminjamkan salah satu bawahannya, Corah Caturupa, kepada Bagus Saksena.
Lagipula, ia memiliki sedikit ganjalan di dalam hatinya terhadap Adipati Daha yang telah menolak lamaran putranya. Akibat penolakan itu, Wisanggeni lebih memilih untuk berkelana menambah ilmunya. Dibandingkan belajar untuk mengendalikan pemerintahan.
"Raden, aku hanya memiliki satu syarat saja. Aku menjamin bahwa Corah Caturupa tidak akan gagal menjalankan tugas. Tetapi, aku minta jangan sangkut pautkan namaku. Anggaplah bahwa Corah Caturupa bekerja untukmu secara pribadi. Bukan atas namaku. Bagaimana? Apakah kau setuju?"
"Itu syarat yang sangat mudah, paman. Jangan cemaskan hal itu. Semua informasi tertutup rapat. Tidak akan ada yang bocor. Aku jamin dengan kedudukanku sebagai Aryapati Jenggala."
"Baiklah kalau begitu. Aku setuju untuk meminjamkan Corah Caturupa padamu. "
Mereka berjabat tangan.Menandai kesepakatan kerjasama rahasia mereka.
Setelah pertemuan dengan Adipati Wilanggiri di kedai minum itu, Bagus Saksena melenggang di jalanan kota Hujung Galuh. Kota pelabuhan yang ramai ini, selalu menarik perhatiannya. Suara gamelan yang mendayu dari sebuah jalan kecil menariknya masuk.
Jalan kecil itu seperti sebuah lorong yang panjang. Banyak bangunan megah di kiri kanan jalan yang membuat Bagus Saksena selalu suka untuk singgah ke sini.
Gamelan mendayu itu berasal dari sebuah gedung terbesar. Di depan gedung itu dijaga oleh beberapa pengawal bersenjata. Seorang gadis cantik bersolek dan berpakaian menarik berdiri di halaman, menyambut tiap tamu yang masuk.
"Silahkan, tuan muda," gadis itu mengenali dan segera menyambut Bagus Saksena.
Gadis itu mengantar Bagus Saksena hingga ke ruangan dalam. Di dalam ruangan ada banyak sekali gadis cantik yang duduk-duduk santai. Ada yang tengah melayani beberapa lelaki makan minum. Ada yang hanya duduk-duduk di sudut ruangan yang remang-remang.
Beberapa penari sedang menghibur pengunjung di sebuah aula besar, di mana penabuh gamelan mempertunjukkan kepiawaiannya. Beberapa lelaki mabuk turut menari. Ada yang teler berat dan menyandar di dada seorang gadis penghibur.
Bagus Saksena mengikuti si gadis pemandu yang membawanya melewati ruangan, keluar ruangan utama, melintasi taman kecil, kemudian memasuki sebuah gedung di bagian belakang. Gedung ini lebih kecil tetapi mewah.
Si gadis membukakan sebuah pintu dan mempersilahkan Bagus Saksena masuk.
"Silahkan, tuan muda ! Dia sudah menunggu anda di dalam."
Pemuda itu memasuki ruangan luas itu tanpa ragu. Di dalam, terdapat sebuah bak mandi besar, ditaburi bunga-bunga wangi. Seorang wanita muda duduk di tepi kolam dengan menopangkan kaki. Wanita itu hanya mengenakan sehelai kain tipis membalut tubuhnya yang molek.
"Tuan Bagus Saksena," suara bening merdu mendayu bak alunan rebab. "Sudah lama Puspa menunggu tuan ."
"Puspasari, kamu makin cantik. Aku merindukanmu," Bagus Saksena merangkul tubuh molek itu dan melahap bibirnya dengan rakus. Puspasari mengalungkan lengan halus panjangnya di leher kekar itu dengan manja.
"Tuan muda sudah melupakan Puspa," desahnya dengan suara merajuk.
"Mana mungkin aku melupakan bunga semanis dan sepanas ini. Hidupku sangat berat, banyak tugas dan pekerjaan yang harus aku selesaikan."
"Duh, tuan hamba ! Bagilah beban di pundak tuan pada Puspa, bahuku cukup kuat untuk memikulnya, " Puspasari menyurukkan dadanya yang gemuk berisi ke dada Bagus Saksena.
"Bahu sekecil dan selemah ini? " Bagus Saksena meremas bahu putih itu , tersenyum.
"Biarpun bahuku kecil, tetapi mampu menahan beban dua gunung," Puspasari membiarkan helai kain tipis yang tersampir di dadanya, merosot turun.
Memamerkan dua gundukan bukit besar yang segera disambar dan diremas Bagus Saksena. Pemuda itu menghembuskan nafas kasar.
"Puspasari, jangan menggodaku. Aku masih memiliki tugas untukmu. "
"Ah, tuan muda. Bisakah tuan membicarakan hal itu nanti, setelah diriku melayani tuan bersenang-senang?"
"Tidak. Tugas ini sangat penting. Biarkan aku jelaskan dulu padamu . "
Dengan patuh, Puspasari menarik kainnya untuk menutupi dadanya, lalu mempersilahkan Bagus Saksena duduk di atas kursi .
"Tugas penting apakah yang aku emban kali ini, tuan muda?"
"Malam ini juga kau harus berangkat ke keraton Panjalu! Aku membutuhkan keahlianmu sebagai maling tak tertandingi, Corah Caturupa !"
__ADS_1
Puspasari menopang dagunya, siku tangannya menumpang di atas lututnya.
"Apa yang harus hamba curi?"
"Keris pajenengan Ki Jagasatru."
Puspasari terkejut.
"Benar-benar tugas yang berat... Itu adalah keris pusaka Paduka Raja Aryaiswara !"
"Masih ada satu benda lagi yang harus kau curi !"
"Apa itu?"
"Simbol patung emas Ganesha!"
"Apa?!" Puspasari benar-benar terkejut.
"Kamu sanggup atau tidak?"
"Apa keuntungannya untukku?"
"Aku akan memberikanmu beberapa ratus laksa emas."
Puspasari tersenyum sinis.
"Hartaku sudah cukup melimpah,, tuan muda. Penghasilanku sangat banyak di sini dan tempat lain."
Sialan. Perempuan ****** ini sombong juga. Rutuk Bagus Saksena .
"Aku akan mengangkatmu menjadi kepala desa di sebuah perdikan di wilayah Jenggala. Kamu bisa mengangkat derajatmu, tidak lagi menjadi penghibur seni. Bagaimana?"
"Hahaha, lucu. Bukankah tuan sendiri tahu, siapa sebenarnya diriku . Puspa adalah simpanan tidak resmi dari Adipati Hujung Galuh. Puspa menginginkan kedudukan yang lebih tinggi, derajat yang lebih tinggi."
Puspasari bangkit berdiri, menghampiri Bagus Saksena. Dicoleknya dagu pemuda itu genit.
"Jadikan Puspa sebagai selir tuan muda Bagus Saksena!"
"Hah?" Bagus Saksena terkejut.
"Kenapa? Tuan tidak bersedia? Kalau begitu, lupakan saja."
"Kamu ingin terus seperti ini denganku? Baiklah, aku setuju !"
Puspasari tersenyum senang. Ia melempar kainnya jauh-jauh, lalu mendekap lelaki tampan itu dengan bahagia. Mereka bercumbu dengan mesra. Jari jemari terampil Puspasari menggembosi helai demi helai pakaian yang menutupi tubuh itu, hingga helai terakhir.
.........
Bagus Saksena mengusap air yang membasahi rambutnya. Puspasari masih memainkan air bunga yang merendam tubuhnya.
"Pangeran, jangan pergi dulu !"
"Aku harus kembali ke Panjalu lebih dahulu. Ingat, Puspa, misi ini harus berhasil, jika kamu ingin mendampingiku selamanya."
"Baik, tuanku."
Dengan kecewa, Puspasari menatap tubuh berotot yang keluar dari bak mandi, meninggalkan gelombang-gelombang air yang besar.
********
Pedesaan yang masih asri ini, terletak di lereng gunung Welirang. Hutan bambu yang berjajar di sepanjang tepi aliran sungai, menyisakan hawa sejuk hingga tengah hari sekalipun. Dua orang pemuda berjalan bersisian, menuruni lembah, memanggul pacul menuju ke ladang jagung mereka yang terletak di tepi hutan bambu.
*Mudita, jagung kita sudah bisa dipanen.." Pemuda yang lebih tua dan kulitnya lebih gelap, memberitahu yang muda. Besok kita bawa keranjang-keranjang, kita panen dan kita bawa naik ke pasraman."
"Iya, kakang Subrata. Tetapi panen ini banyak. Harusnya kita membawa lebih banyak saudara untuk membawa hasil panen."
"Sekarang kita gemburkan dulu tanah di sebelah sana, untuk menanam ubi dan sayuran," Subrata menunjuk ke sebidang tanah di dekat aliran sungai.
Mereka melangkah ke ladang yang masih kosong itu. Hari masih pagi. Kabut pun masih tersisa membuat pandangan agak terhalang. Mata tajam Mudita menangkap sesosok tubuh yang tengah membasuh diri di tepian sungai.
Mudita terheran. Para penduduk desa di kaki gunung tidak pernah mandi di situ. Biasanya mereka mandi lebih di hilir, di tempat yang datar dan bersih dari semak belukar. Siapa yang membasuh diri di pagi buta dan tempat terpencil ini? Tanpa sengaja, Mudita lebih mendekat lagi karena penasaran.
"Kurang ajar !" Orang itu tiba-tiba mengenakan kainnya kembali dan berkelebat. Mudita terkejut karena baru menyadari, bahwa ia telah mengintai orang mandi, tanpa ia kehendaki.
"Maaf, saudara... saya tidak sengaja..."
"Hiaaahhh!" Tanpa ba bi bu, orang itu menyerang Mudita dengan pukulan maut. Mudita membuang dirinya ke samping, kemudian menangkis tangan dan kaki orang yang datang bertubi-tubi.
__ADS_1
"Orang gunung sialan, beraninya melihatku mandi !" maki orang itu. Mudita tambah terkejut, karena itu adalah suara seorang wanita. Dan ia akhirnya bisa melihat wajah orang itu, ketika orang itu akhirnya berhenti menyerang dan mengamati Mudita dengan penasaran.
"Siapa kamu? Kenapa kamu bisa menghindari semua seranganku?"
"Nona yang baik, maafkan aku tadi tidak bermaksud kurang ajar. Kami petani dari lereng gunung Welirang ini, di sini adalah kebun garapan kami . Pagi begini nona telah mandi, apa tidak kedinginan?"
"Bukan urusanmu!"
"Oh? Baiklah kalau begitu.." Mudita mengangkat bahunya. "Selamat jalan, nona."
"Hei, kamu jawab dulu ! Siapa namamu? Kenapa kamu bisa melawan seranganku? Apakah kamu murid seorang ahli silat?"
Mudita hanya mengangkat bahu.
"Kami cuma petani dusun, nona!" Subrata yang menjawab dengan sabar. "Nona sendiri siapa? "
" Bukan urusanmu ! Aku bertanya pada dia, bukan padamu!" kata wanita itu ketus. Ia memandang Mudita dengan kesal. "Hei. Aku sedang sibuk sekarang. Namaku Puspasari ! Ingat namaku ya ! Suatu saat nanti kalau kita bertemu lagi, aku akan menantangmu duel. Bocah sombong !"
Wanita bunga rumah seni hiburan di Hujung Galuh itu berkelebat pergi.
Subrata menggeleng-gelengkan kepala.
"Sudah cantik, ilmu silatnya tinggi pula."
"Sayang dia sombong," tukas Mudita.
"Hahaha, ya sudahlah Mudita, mari kita bekerja !" Subrata mengayunkan paculnya dengan bersemangat.
Mudita turut mengayunkan cangkulnya. Pemuda petani itu berkulit bersih. Wajahnya tampan dengan alis hitam tebal dan mata bening seperti mata seorang bocah. Sudah setahun ia tinggal di pasraman Gunung Welirang, belajar ilmu kanuragan dan ilmu bathin pada Begawan Wistara.
Sesekali mereka turun gunung, membantu para murid untuk bercocok tanam. Kadang-kadang turun ke desa untuk membeli beberapa perlengkapan. Para penduduk desa dan murid-murid pasraman tidak pernah menduga, bahwa pemuda itu sesungguhnya adalah Nareswara Paramudita, putra adipati Daha.
Pemuda itu melarikan diri dari istana kadipaten karena tidak setuju kakaknya menjadi istri kedua putra mahkota. Ia pernah protes habis-habisan kepada ayahandanya. Mengajukan usul untuk menerima lamaran dari adipati Hujung Galuh. Tetapi semua ditolak oleh ayahnya. Dengan alasan, tidak mendapatkan restu dari Raja.
"Ayahanda, Kakakku Citrawani adalah anak kandung anda ! Apakah ayahanda tega melihat Kakak menjadi istri kedua dari mantan tunangannya sendiri ?"
"Nares, Paduka Raja adalah sesembahan seluruh kawula Panjalu, termasuk Ayah, kamu dan kakakmu. Titahnya adalah hukum di negeri ini. Titahnya adalah juga kehormatan untuk kita semua."
"Kehormatan macam apa, Ayah? Jelas-jelas kehormatan kita diletakkan di bawah telapak kaki musuh kita, Jenggala ... Kenapa harus putri Jenggala yang menjadi permaisuri dan putri Daha yang menjadi istri muda? Kenapa tidak dibalik?"
"Jangan bicara sembarangan, Nares ! Kamu masih muda, belum mengerti dunia politik..."
"Selalu dunia ! Selalu politik ! Apa-apa dunia ! Sungguh menjijikkan dunia politik ini !"
"Sudahlah, Nares. Kamu belum mengerti. Suatu saat nanti kamu juga akan terjun ke politik, untuk menggantikan kedudukan Ayah."
"Maaf, Ayah. Hamba tidak berminat untuk menjadi orang yang kejam dan menjijikkan gara-gara politik !"
"Nareswara !"
Nareswara Paramudita benar-benar minggat, di hari kakaknya dihantarkan ke istana Panjalu untuk menjadi istri kedua Suryapaksi.
Ibundanya menangis tersedu-sedu dan jatuh pingsan. Ibu yang malang itu, kehilangan dua buah hatinya dalam waktu bersamaan. Yang satu dinikahkan, yang satu minggat.
Mudita menggelengkan kepala. Ia sedih jika teringat pada kakak dan ibunya, dua wanita yang paling dikasihinya di dunia ini. Kelak jika ilmunya sudah cukup, ia akan turun tangan untuk memperjuangkan nasib mereka, apapun resikonya.
Tiba-tiba Mudita menghentikan ayunan paculnya, dan mendongak. Keningnya berkerut.
"Ada apa, Mudita?" Subrata, sejatinya adalah pengawal Mudita yang paling setia. Dalam penyamaran mereka kali ini, hanya Subrata dan Begawan Wistara lah yang tahu siapa sesungguhnya Mudita.
"Kakang Subrata sadarkah? Itu dari arah Jenggala, menuju ke arah situ, adalah jalur terdekat untuk memotong jalan menuju... Panjalu !"
"Hhh??"
"Kakang, ingat-ingat wanita tadi ! Ada berapa banyak orang yang bisa menandingi ilmu silatku?"
Subrata manggut-manggut.
"Tidak banyak. Di antaranya adalah Raden Suryapaksi dan Bagus Saksena. Juga, Harya Wisanggeni..."
"Harya Wisanggeni dicoret, karena ia adalah orang yang condong pada kebaikan ! Raden Suryapaksi juga dicoret, karena ia adalah putra mahkota Panjalu."
"Yang tersisa hanya Bagus Saksena. Dan dia adalah putra penguasa Janggala..."
"Tidak biasanya lereng gunung Welirang dilewati orang, apalagi orang sesakti itu dari Janggala, menuju Panjalu ! Ini mesti ada sesuatu. Kakang ! Ayo cepat, kita meminta nasehat dari Guru !"
Mereka berdua bergegas meninggalkan pekerjaan mereka, berlari kecil mendaki punggung Welirang .
__ADS_1
*******