Jatukarma

Jatukarma
Bab 34


__ADS_3

Bulan purnama kapat yang bulat besar, cahayanya redup menyinari pesanggrahan di atas puncak gunung Kemukus.


Pesanggrahan itu milik Perguruan Gunung Kemukus yang dipimpin oleh Nyi Bawani dan kakaknya, Ki Guyani. Mereka dua orang kakak beradik pemeluk aliran Bhairawa kalacakra, guru dari Ratu Limbur dari Malawapati dan Ratu Liku dari Jenggala .


Malam itu ratusan orang murid gunung Kemukus berjaga-jaga di setiap pos penjagaan mereka, dari kaki gunung hingga ke puncak. Menjaga agar ritual utama yang dilakukan oleh pimpinan mereka tiap purnama kapat di pesanggrahan puncak gunung tidak mengalami gangguan .


Surya Kencana dan Citra Kartika yang masih menyamar sebagai sepasang muda-muda berkulit hitam dan memakai caping, berhasil mendaki gunung Kemukus tanpa banyak kesulitan.


Para murid perguruan itu bukanlah orang-orang yang ahli kanuragan. Ilmu kesaktian mereka lebih condong pada ilmu kebatinan dan ilmu hitam. Pagar gaib dan pepasangan yang mereka gunakan untuk melindungi wilayahnya, dibobol dengan mudah oleh Surya Kencana dan Citra Kartika yang sudah mengintai dan menyelidik selama berhari-hari.


Kedua muda mudi itu kini mengintai sekelompok orang di depan pesanggrahan puncak gunung. Orang-orang itu duduk diam membentuk lingkaran, mengelilingi sebuah sanggah cucuk kosong (Sanggah cucuk : tempat pemujaan dari bambu yang dianyam berbentuk segitiga) .


Di hadapan masing-masing orang ada senampan sesajen. Berisi berbagai buah-buahan, nasi tumpeng kecil, ikan dan ayam panggang dan seguci arak keras .


Citra Kartika menghitung jumlah mereka, ada kira-kira 30 orang. Ia mengenali beberapa orang di antara mereka, ada Nyi Bawani, ada tuan Narjuman dan Abirangga serta anaknya, Abimana .


"Adik, perempuan yang gemuk itu adalah ratu Limbur , bibi dari Bagus Saksena dan Galuh Sundari. Sedangkan perempuan yang mirip dengannya tapi sedikit lebih langsing dan lebih cantik adalah Ratu Liku, ibu kandung dari Bagus Saksena..." bisik Surya Kencana.


Citra Kartika memperhatikan kedua perempuan itu. Yang gemuk, wajahnya bundar berlemak tetapi masih cantik, kulitnya kuning langsat. Dadanya besar sekali, dengan pakaian minim yang dikenakannya, dada itu seakan-akan hendak tumpah ke mana-mana.


Yang lebih langsing juga hanya mengenakan sehelai selendang putih untuk menutupi dada dan sehelai kain putih di atas lutut untuk menutupi pahanya .


Mereka terdiri dari lelaki dan perempuan yang semuanya berpakaian minim. Yang laki-laki bahkan hanya mengenakan sehelai cawat dari kain putih hanya untuk menutupi bagian vitalnya.


"Lihat adik, kamu pasti tidak tahu orang itu ! Dia adalah Patih Agung dari Jenggala !" Surya Kencana menunjuk seorang lelaki paruh baya yang bertubuh tinggi besar, kekar berotot dan berkumis tebal. Lelaki itu duduk di samping Ratu Liku .


"Dan itu lihat, dia adalah Adipati Malawapati..." kembali Surya Kencana menunjuk seorang lelaki yang bertubuh tinggi kurus dengan kumis tipis yang duduk di sebelah seorang perempuan muda.


"Adik jangan kaget, kalau aku katakan, itu adalah adipati Bojonegoro dan istrinya, " kata Surya Kencana sambil menunjuk dua orang tua berusia sekitar 60 tahun yang duduk bersisian.


"Bukankah adipati Bojonegoro adalah bawahan setia Panjalu?" Tanya Citra Kartika heran.

__ADS_1


"Begitulah, adik. Dari aini kita tahu mana yang benar-benar setia, dan mana yang bermuka dua. Sekarang perhatikan apa saja yang akan mereka lakukan. Mereka baru saja memulai ritual Makarapuja ini, dan puncaknya adalah tengah malam nanti."


Orang-orang itu duduk tak bergerak dalam lingkaran. Mereka melakukan ritual menahan nafas sambil memusatkan pikirannya. Setelah beberapa saat, mereka mulai melafalkan mantra bersama-sama .


Sang pemimpin perguruan, Ki Guyani dan Nyi Bawani bangkit untuk memercikkan air pada semua sesajen di hadapan para peserta ritual.


Setelah itu, secara serentak mereka makan daging ayam dan ikan panggang yang ada dalam sesajen, lalu meneguk arak yang telah disediakan .


Citra Kartika dan Surya Kencana menjadi penonton setia. Citra benar-benar penasaran, tak sedetikpun ia melewatkan pemandangan di depannya. Ini adalah hal baru dan sekaligus mendebarkan yang baru kali ini dilihatnya seumur hidup.


Malam yang gelap dengan lolongan anjing hutan di kejauhan, ditambah ritual orang-orang itu sebenarnya pemandangan yang cukup seram bagi orang biasa.


Tetapi bagi Citra Kirana, suasana horor ini hanya menambah semangatnya untuk menonton sampai akhir.


Telah hampir tengah malam ketika ritual makan minum selesai.


Orang-orang itu sekarang berdiri. Lalu perlahan mereka menari-nari dengan kaki diangkat sebelah, tarian untuk memuja Durga Bhairawi.


Lalu terjadilah hal yang paling gila dan tidak terbayangkan sama sekali oleh Citra Kartika.


Surya Kencana dari tadi telah memperingatkannya.


"Adik, setelah ini mereka akan melakukan ritual terakhir. Kalau adik tidak suka, jangan dilihat!"


"Tidak apa-apa, kakak ! Aku penasaran apa yang akan mereka lakukan," bisik Citra Kartika.


Dan terpampanglah dengan nyata di depan mata mereka, peristiwa yang tidak hanya membuat Citra Kartika terperanjat tapi juga sekaligus jengah dan malu.


Orang-orang yang telah dalam keadaan setengah mabuk itu, mabuk oleh minuman keras dan tarian, kini membuang helai-helai pakaian mereka yang minim.


Dengan tubuh tanpa sehelai benang pun, mereka mulai saling berpelukan dan berpagut.

__ADS_1


Lelaki perempuan, tua muda, tidak peduli siapapun yang ada di dekat mereka. Digeluti dan diseng*gamai dengan penuh na*fsu.


Ratu Liku dise*tu*buhi dengan liar oleh patih agungnya. D*esah dan e*rangan mereka bagai lagu nyaring yang membuat pasangan liar lainnya di samping mereka tambah semangat.


Nyi Bawani yang masih bertubuh mulus meskipun wajahnya tua penuh keriput, dige**luti penuh semangat oleh Abimana si pemuda ugal-ugalan.


Sementara ayahnya, Abirangga tengah berpacu penuh gaira*h dengan anak perempuan tuan Narjuman, Wulandari.


Istri tuan Narjuman sendiri tengah digagahi dengan perkasa oleh orangtua yang sebenarnya sudah bungkuk, yaitu Ki Guyani.


Pimpinan Kelelawar Maut, Prajala nampak sedang asyik menggumuli seorang perempuan super bahenol yang bukan lain adalah ratu Limbur, istri dari adipati Malawapati.


Citra Kartika ternganga. Dia terpaksa memalingkan mukanya ke arah lain.


"Gila. Ini sih bokep nyata. Sialan ! Mataku ternodai..." keluhnya dalam hati .


Surya Kencana sudah tahu puncak ritual ini akan seperti ini. Resi Wistara sudah pernah menjelaskan padanya. Karena itu ia tidak melihat. Ia memejamkan mata untuk mengheningkan cipta.


Orang-orang itu semakin menggila. Mereka berganti-ganti pasangan berkali-kali untuk memuaskan na*fsu be*rahi yang menyala-nyala.


Lewat tengah malam hingga dini hari, barulah pesta mereka berakhir. Setelah itu mereka bergelimpangan dalam keadaan bu*gil, larut dalam keadaan multi orgas*me.


Mereka merasakan sengatan-sengatan listrik dan sensasi aneh memasuki tubuh mereka. Ritual mereka telah berhasil .


Tidak ada yang tahu, ketika mereka larut dalam pesta ****, dua muda-mudi memasuki pesanggrahan.


Citra Kirana dan Surya Kencana menggeledah markas mereka, untuk mencari bukti dari persekutuan mereka .


Pagi hari, ketika matahari mulai memerah di ufuk timur. Citra Kartika dan Surya Kencana melenggang menjauhi lembah gunung Kemukus dengan bukti-bukti berada dalam buntelan di punggung mereka.


Sedangkan orang-orang masih bergelimpangan tumpang tindih dalam tidur mereka yang nyenyak dan puas.

__ADS_1


__ADS_2