
Dua ekor kuda dipacu penuh memasuki kadipaten Daha. Debu mengepul di belakang mereka, menciptakan ilusi seperti asap tebal.
Dua orang muda-mudi berwajah hitam dan bercaping terlihat lusuh dan lelah. Mereka tidak pernah berhenti hingga tiba di depan alun-alun istana Daha.
"Kakak, apakah kita akan langsung masuk ke istana Daha?" tanya si gadis yang tak lain adalah Citra Kartika.
"Ya, kita langsung menghadap pada Paman Adipati. Bukti-bukti yang ada harus segera diserahkan pada Paman Adipati, Ayahanda dan Paman Panglima Jayasendra !"kata Surya Kencana.
Di depan gerbang istana kadipaten mereka dihadang oleh para prajurit penjaga gerbang.
"Berhenti ! Kalian ini siapa? Berani sekali memasuki gerbang istana Daha tanpa meminta ijin terlebih dahulu !" pemimpin penjaga mencegat dua muda- mudi itu.
"Kami mau menghadap Adipati Daha, ada hal penting yang harus kami laporkan !" sahut Surya Kencana.
Para prajurit memandang wajah hitam di balik caping itu, juga pakaian mereka yang lusuh dan kotor. Dalam hati mereka tertawa. Tetapi mereka tetap berdiam diri dan memandang dengan tegas pada kedua orang muda itu.
"Siapa kalian? Tidak sembarang orang bisa melapor langsung pada Adipati Daha! Serahkan pada kami laporannya, biar kami sampaikan nanti pada Adipati !"
Kedua muda-mudi itu saling pandang, lalu meledaklah tawa mereka.
"Dik, ini gara-gara mukamu yang keling, kita jadi dipandang rendah mereka !" kata Surya Kencana.
"Ya sudahlah, kakak katakan saja identitasmu, agar kita bisa segera masuk !" bisik Citra Kartika.
"Baiklah. Ehem. Paman-paman penjaga pintu, biarkan kami masuk. Aku adalah Surya Kencana dari istana Panjalu !" kata Surya Kencana serius.
Para penjaga itu saling pandang. Beberapa detik kemudian tawa geli mereka meledak tanpa bisa ditahan lagi.
"Siapa?" Pemimpin penjaga bertanya lagi untuk memastikan.
"Aku pangeran Surya Kencana dari Panjalu ."
"Hahaha..." Tawa mereka makin keras.
"Sejak kapan Pangeran Panjalu memiliki wajah seperti pantat kuali begitu yaa?" seorang prajurit bergumam sambil tertawa geli.
Surya Kencana menghela nafas panjang. Dengan sabar ia mengeluarkan sebuah lencana pengenal dari balik jubah luarnya.
Tanda pengenal dari istana Panjalu itu diperlihatkannya pada para prajurit. Mereka langsung mengenali dan serentak tawa mereka senyap.
"Ampuni kami, Pangeran ! Silahkan masuk !" kata pemimpin penjaga pintu. Ia memerintahkan bawahannya untuk membukakan pintu gerbang.
Surya Kencana dan Citra Kartika menuntun kudanya masuk. Mereka menambatkan kuda di bawah pohon. Beriringan mereka memasuki pendapa depan untuk memberitahu para pegawai istana kadipaten.
"Tolong sampaikan pada Paman Adipati, Raden Surya Kencana datang untuk bertemu !" kata Surya Kencana pada seorang petugas pendapa.
Pemuda penjaga pendapa itu terheran-heran. Tetapi ia tetap mengirim pelayan untuk melapor pada pengawal pribadi Adipati Daha.
Beberapa saat kemudian, Adipati Arya Wisena diiringi beberapa orang tergopoh-gopoh datang untuk menyongsong tamunya.
Dari jauh mata sang Adipati telah berkaca-kaca melihat sepasang muda-mudi itu.
Ia tahu, sepasang anak muda berkulit keling itu adalah penyamaran Surya Kencana dan Citrawani .
.
.
.
Tangis Dewi Borawati dan kedua anak gadis kembarnya pecah ketika sore itu dipertemukan dengan Citra Kartika.
Keempat wanita beda usia itu mencurahkan kerinduan mereka masing-masing. Hingga jauh malam mereka masih bercengkerama, bercerita sambil diselingi tangis haru.
Sementara itu Surya Kencana mengutarakan hasil penyelidikannya bersama Citra Kartika pada Adipati Daha.
__ADS_1
"Dengan bukti-bukti yang telah kita dapatkan, cukup sebagai dasar untuk memperingatkan, bahkan menyerang Jenggala dan Malawapati , Romo Adipati !" kata Surya Kencana tegas.
Adipati Daha masih membolak-balik tumpukan lontar yang memuat nama-nama perkumpulan yang bersekutu dengan Jenggala. Lontar panjang yang terdiri dari tiga ikat besar itu juga menuliskan garis besar rencana mereka.
Satu ikat lontar terakhir tidak bisa dibaca oleh mereka karena menggunakan aksara dan bahasa yang aneh.
"Yang ini tidak bisa kami pecahkan rahasianya Romo ! Karena itu kami berencana untuk menghadap Romo Baghawan Wistara untuk meminta petunjuk !" kata Surya Kencana.
"Ini sepertinya aksara dan mantra untuk ajaran Bhairawa mereka," kata Adipati Arya Wisena.
"Romo Adipati bisa membacanya?" tanya Surya Kencana .
"Tidak. Tetapi Romo pernah mempelajari Tantra, meskipun bukan aliran Bhairawa Kalacakra . Ada beberapa aksara yang masih Romo ingat."
"Tidak disangka Jenggala telah lama merencanakan pengkhianatan. Dari rancangan mereka ini, terlihat bahwa persekutuan pihak Jenggala dan perguruan gunung Kemukus telah terjalin cukup lama . Dan dari perguruan inilah mereka mendapatkan sekutu-sekutu yang lain yang terhubung karena kesamaan keyakinan !" tutur Adipati Arya Wisena.
"Sebenarnya yang paling menonjol dalam aliran ini adalah ratu Jenggala dan patih agungnya, Romo. Sedangkan Raja Jenggala tidak terlihat dekat dengan perguruan gunung Kemukus !"
"Berarti desas-desus yang beredar selama ini bahwa Ratu Liku dan saudarinya adalah murid utama ratu desti (ilmu hitam) adalah berita yang sebenarnya.." gumam Adipati Daha.
"Benar, Romo. Dan satu hal lagi yang perlu saya laporkan pada Romo Adipati adalah, Ratu Jenggala memiliki rencana tersendiri terhadap tahta kerajaan Jenggala. Raja Jenggala sebenarnya tidak terlalu memahami apa yang dilakukan oleh ratu di belakangnya, dan juga tidak paham bahwa patih agung adalah musuh dalam selimut baginya !"
"Kita bisa memanfaatkan kenyataan ini untuk menyerang Jenggala tanpa bala tentara," Adipati Daha mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Serangan tanpa bala tentara? " ulang Surya Kencana.
"Iya, Nanda. Nanti Romo akan babarkan kepadamu. Setelah itu Nanda bisa menghadap Romo Bagawanmu untuk meminta petunjuk lebih lanjut mengenai lontar ketiga ini."
"Romo, tiga hari lagi saya akan berangkat ke Panjalu untuk melaporkan hal ini kepada Ayahanda Prabu. Setelah itu barulah saya menghadap kepada Romo Bagawan."
" Nanti setibanya di Panjalu, beritahu adikmu Nareswara mengenai semua rencanamu. Dia sudah lama di sana, sekalian membantu Ayahandamu menyelidiki hilangnya dua pusaka Panjalu."
"Baiklah, Romo."
"Sekarang nikmati dulu wedang jahenya. Udara telah menjadi makin dingin."
"Hanya saja...Romo kuatir dengan masa depannya.. kuatir dengan jatukarmanya..." Adipati Daha menghela nafas sedih.
"Setiap manusia telah memiliki garis tangannya sendiri, Romo. Jatukarma masing-masing tidak bisa dipaksakan atau dikejar. Kita tinggal menjalani semua pituduhing Widhi. Saya sepatutnya tidak mengajari Romo, karena Romo lebih bijak tentunya," Surya Kencana tersenyum.
"Nanda, terus terang Romo juga agak nelangsa dengan adik kembarmu, terutama Mayani."
"Bukankah dia telah bertemu muka dengan tunangannya, Wisanggeni?"
"Itulah yang membuat Romo nelangsa. Tanpa sengaja, Wisanggeni menangkap percakapan rahasia si kembar. Mayani menolak perjodohannya dengan Wisanggeni. Pemuda itu lalu diam-diam mengembalikan tanda pertunangan yang kami berikan. Dia membebaskan Mayani dari ikatan. Meskipun secara resmi pertunangan mereka belum dibatalkan, bahkan Mayani pun belum tahu hal itu. Tetapi Wisanggeni berjanji akan meminta orangtuanya membatalkan pertunangan ketika suasana sudah membaik."
Adipati menghela nafas berat. Dia menyesalkan sekali melepaskan calon menantu yang perkasa itu kembali ke kotanya dengan membawa kekecewaan.
"Semoga nanti segala hal berlangsung dengan baik dan damai, Romo ! " Ujar Surya Kencana tulus.
"Yah, semoga demikianlah yang terjadi.."
.
.
.
Kepanikan yang terjadi di atas gunung Kemukus hanya melanda para tokoh penting. Kehilangan berkas-berkas penting perguruan mereka dirahasiakan dari para murid dan pengikut.
Berbagai tanda tanya yang tak kunjung memperoleh jawaban. Adalah, siapa musuh yang demikian lihai. Mampu mencuri berkas rahasia dari dalam markas yang dijaga dan dipagari ilmu hitam dengan ketat?
Berhari-hari setelah pertemuan tahunan mereka selesai, Ratu Liku masih sering termangu.
Ia takut jika rahasia yang telah lama terpendam, akan terekspos ke permukaan.
__ADS_1
"Tidak akan ada yang terjadi, Paduka ! Rahasia kita aman, terkubur bersama jasad istri pertama hamba !"
"Tetapi rahasia perguruan telah hilang digondol maling, Patih ! Aku punya firasat, pencuri berkas rahasia itu bukan orang sederhana. Mereka pasti musuh-musuh kita !"
"Bukti yang mereka dapatkan adalah catatan para murid dan pengikut perguruan, juga garis besar rencana perguruan . Tidak ada satupun yang bisa merunut pada hubungan kita. Tidak juga Paduka Raja," bantah Patih Agung.
"Patih, bukan Paduka Raja yang aku kuatirkan !" tukas Ratu Liku.
Terbayang di matanya, suaminya yang begitu memanjakan dan memujanya.
Lelaki yang jauh lebih tua darinya, yang tergila-gila pada kecantikannya. Sehingga rela menyingkirkan permaisuri yang pertama. Dewi Sekarwangi, demi untuk memenuhi permintaannya.
Raja Jenggala memang gagah perkasa. Tetapi usianya kini telah mencapai enam puluh lima tahun.
Segagah apapun seseorang, ketika usianya telah lanjut, maka kekuatan dan keperkasaannya jauh berkurang.
Apalagi untuk seorang Ratu Liku, pemuja kecantikan dan kegagahan.
Wajahnya jelita, masih elok di usia 45 tahun. Nyaris menyamai putrinya, Galuh Sundari.
Semua itu didapatnya dari semua usaha dan ritualnya.
Sehingga sulit dikatakan, sang penguasa Jenggala tunduk di bawah kakinya karena kecantikannya, ataukah karena pengaruh ilmu hitamnya.
Ataukah keduanya.
"Ya, bukan Paduka yang aku kuatirkan ! Tetapi Bagus Saksena !" cetus Ratu Liku. " Anak itu makin hari makin tidak bisa diatur. Dan itu semua gara-gara gadis liar dari Daha. "
"Hanya gara-gara patah hati, dia menolak menikahi putri dari Jonggrang Wesi ! Akan jadi apa dia nanti, Patih? Hingga saat ini belum juga mau mengambil seorang istri pun."
"Hahaha, bukankah dia mirip dengan hamba? Hamba pun sampai sekarang hanya setia pada satu cinta.."
"Diam !" sentak Ratu Liku.
"Aku kuatir padanya, karena selain keras kepala, dia juga selalu ingin tahu . Karena itu kau hati-hatilah bersikap di depannya !"
"Baik, Paduka !"
"Aku minta kau segera carikan seorang putri yang cantik untuk menjadi istrinya. Sia-sia perjuangan kita untuk menyatukan banyak sekutu, jika calon rajanya masih belum memiliki pendamping."
"Satu lagi .... mengenai Galuh Sundari..."keluh Ratu Liku.
"Putri kesayangan hamba, buah hati hamba tercinta .." sahut Patih Agung dengan mata berbinar .
Permaisuri Jenggala mendecih sinis. Tetapi karena mereka berada di tempat yang aman, tidak ada penguping. Ia tidak membantah kata-kata Patih Agung.
"Dia sudah gagal menjadi Ratu Panjalu. Oleh karena itu, rencana awal kita untuk Panjalu akan tetap berjalan sesuai petunjuk Guru !"
"Putriku yang malang... Apakah dia masih mengurung dirinya di istana keputrian?" tanya Patih Agung dengan wajah sedih.
Ia sangat mencintai putri kebanggaan Jenggala itu.
Mereka berdua tahu, Galuh Sundari adalah murni buah cinta terlarang antara Ratu Liku dan Patih Agung. Yang terjalin sejak menjadi murid perguruan Kemukus, puluhan tahun silam.
Semua tokoh gunung Kemukus juga tahu rahasia itu. Mereka semua saling menjaga dan melindungi rahasia. Karena mereka semua memiliki hubungan terlarang sesama pengikut perguruan.
"Putri yang bodoh dan lemah, kalah oleh cinta. Biarlah dia meratapi cintanya sampai dia menyadari bahwa cinta itu hanya omong kosong!" Ratu Liku bersungut-sungut .
"Tapi dia adalah prasasti hubungan kita yang berharga, Paduka ! Hamba tidak akan membiarkan Putri hamba menderita !"
"Bagus. Kalau begitu nanti kau carikan dia seorang penguasa yang hebat !" Ratu Liku menyeringai.
"Masih ada Bagus Saksena untuk kita sadarkan juga, Patih. Kau uruslah agar dia segera menikahi putri mahkota Jonggrang Wesi. Agar kita bisa cepat-cepat mengangkat dia jadi Raja, melengserkan si tua Prabu Jayengrana !"
"Baik, Paduka. Hamba akan laksanakan semampu hamba!"
__ADS_1
Betapa besar kebahagiaan di hati Patuh Agung .
Karena dia meyakini, penguasa Jenggala selanjutnya adalah anak kandung dari hubungan gelapnya dengan Ratu Liku, Bagus Saksena.