Jatukarma

Jatukarma
Bab 22


__ADS_3

Bagus Saksena manggut-manggut.


"Sepertinya tawaranmu boleh juga. Aku akan melepaskan adikmu. Sebagai jaminannya, tuan putri akan aku bawa ke Janggala sebagai tawanan." Katanya pelan, seolah bicara pada dirinya sendiri.


"Ada ketentuan yang harus kamu ingat, Raden Bagus Saksena ! Aku akan berada di Jenggala sebagai tamu, bukan sebagai tawanan !" kata Galuh Citrawani tegas.


" Dan namaku di sana bukan Galuh Citrawani, tapi Citra Kartika, seorang tamu dari negeri jauh. Satu lagi, aku harus mendapatkan kepastian bahwa adikku Mayani sudah tiba dengan selamat di istana ayahku. Jika tidak, aku tidak menjamin bahwa rencanamu untuk menjadikan Galuh Sundari sebagai ratu akan berhasil dengan mulus !"


"Ada lagi syarat dan ketentuanmu, tuan putri?" Bagus Saksena bertanya sarkastis.


"Sudah cukup. " Galuh Citrawani duduk manis di atas bangku, melipat tangan di atas pangkuan. Mata bulatnya memandang lurus ke depan.


"Aku minta kamu membebaskan adikku secepatnya !"


"Itu hal kecil. Asalkan aku berhasil membawa tuan putri cantik pulang ke Jenggala sebagai tamu istimewa ! Aku akan membebaskan adikmu, begitu kamu sudah berangkat bersama kami ke Jenggala !"


"Baik. Sekarang silahkan yang terhormat Raden Bagus Saksena menyiapkan semua secepatnya. Aku tidak ingin adikku mengalami trauma akibat disekap oleh orang-orang bar-bar seperti kalian !" desis Citrawani.


"Dengan segala senang hati, tuan putri..." Bagus Saksena mencakupkan kedua tangannya di depan sambil tersenyum.


Citrawani menyerahkan tusuk kundai emas yang menjadi jaminan kebebasan adiknya. Dengan takjim Bagus Saksena menyimpannya di balik baju.


*****


Galuh Mayani tersadar dari pingsan. Saat membuka mata, yang ia lihat adalah kamarnya sendiri di istana Daha.


Ayahandanya bersama Raden Nareswara dan Galuh Wasanti berdiri memandangnya dengan cemas. Gadis itu merangkul kembarannya dan langsung menangis tersedu.


Nareswara membiaran adiknya meluapkan emosi. Setelah gadis itu berhenti menangis, Wasanti menyodorkan segelas air. Mayani meneguk air dengan cepat untuk kemudian ia tersedu lagi karena teringat pada kakaknya, Galuh Citrawani.


"Di mana Kakak ? Ayahanda, Kanda Nares, di mana Kakak Galuh ?" tanya Mayani .


" Kami tidak menemukan Kakak di mana-mana. Kami hanya menemukanmu pingsan di bawah pohon, di tengah alun-alun kadipaten Daha," sahut Nareswara .


"Kakak, kami disekap di sebuah gua ! " Mayani berteriak histeris. "Aku akan membawa Kanda ke sana ! Kakak pasti masih di sana!"


"Sabar, Mayani. Tenangkan dulu dirimu .." Adipati Aryawisena memegang tangan putri bungsunya . Dielusnya rambut gadis itu dengan prihatin.


Mayani menangis terus. Keesokan harinya, tanpa bisa dicegah lagi, ia bersikeras untuk ikut menunjukkan goa tempat ia disekap untuk pertama kalinya.


Ketika Nareswara bersama pasukan berhasil menemukan gua itu, yang ada hanyalah puing-puing reruntuhan.

__ADS_1


"Kurang ajar ! Mereka telah menghilangkan jejak !" geram Nareswara.


Mayani menangis histeris sejadi-jadinya di pelukan saudara kembarnya.


"Kakak Galuh...kau benar-benar menghilang..." isaknya tersedu.


Sepanjang ingatannya, ia telah beberapa kali dipindahkan. Pertama kali ia ditahan di dalam goa itu bersama kakaknya, meski ruangan mereka terpisah.


Setelah itu ia selalu dipindah-pindah, kadang di sebuah gudang besar berdinding batu. Kadang di sebuah rumah gedong berdinding kayu tebal.


Sebelum ia dibius dan dipulangkan, para penculik mengatakan bahwa mereka akan dibebaskan.


"Besok kamu akan kami antarkan pulang !"kata si kurus tinggi yang sering datang menyambanginya.


"Oh, begitu? Apakah kalian sudah mendapatkan uang tebusannya? Kakakku juga akan dipulangkan, bukan?" Dalam hati Mayani bersorak gembira.


Selama ditahan, ia diperlakukan dengan baik. Makan minum, pakaian dan tempat tidur disediakan dengan sangat layak. Para pengawal tahanan juga selalu menaruh hormat padanya.


Hanya si kurus tinggi ini yang terkadang memandanginya dengan tidak sopan. Tetapi sejauh ini lelaki itu tidak pernah berani menyentuhnya seujung rambut pun.


Tapi sebaik apapun perlakuan yang ia terima, ia bukan orang yang bebas. Karena itu berita kebebasannya menerbitkan harapan baru dalam diri Galuh Mayani.


"Kami tidak pernah mengharap tebusan. Kakakmu akan menikah dengan pimpinan kami." kata si kurus tinggi dengan nada dingin.


"Dan asal tuan putri tahu, kakakmu Galuh Citrawani lah yang merencanakan penculikan ini. Sebenarnya beliau telah lama menjalin hubungan rahasia dengan junjungan kami. Peristiwa ini hanya drama, sebagai kedok untuk menutupi kejadian sesungguhnya !"


"Omong kosong apa yang kau bicarakan?" bentak Galuh Mayani marah. Tangannya yang dibelenggu mengepal erat-erat.


"Kakakku bukanlah perempuan biasa yang bisa kamu temui di jalan-jalan ! Dia bangsawan terhormat, istri pangeran mahkota Panjalu yang punya harkat dan martabat tinggi ! Beraninya kamu menghina kakakku?!" Galuh Mayani berteriak saking marahnya.


"Sabar dulu tuan putri, sabar ! Dengar dulu penjelasan kami ." Si kurus tinggi tersenyum, lebih tepatnya menyeringai. Matanya lagi-lagi menjelajahi wajah dan tubuh Mayani dengan kurang ajar.


"Tuan Putri Citrawani dan Raden Suryapaksi tidak pernah akur. Mereka tidak saling mencintai. Itu menyebabkan tuan putri tidak bahagia. Hatinya merana, meskipun coba ditutupi dengan banyak kegiatan yang beliau kerjakan. Apakah sebagai adiknya, anda pernah diceritakan tentang kelas kesehatan, kelas olahraga, peternakan ulat sutra dan sebagainya di istana putri Panjalu?"


Galuh Mayani mengakui dengan terpaksa.


"Semua itu adalah pelipur lara tuan putri Citrawani. Dan sesekali tuan putri keluar istana untuk menyamar menjadi tabib keliling yang dermawan. Benar, begitu?"


Mayani lagi-lagi mengangguk dengan berat hati. Galuh Citrawani memang sering menceritakan pengalamannya kepada dirinya.


"Beliau jatuh cinta kepada junjungan kami yang terhormat. Mereka bertemu dan menjalin kasih di luar istana Panjalu. Akhirnya tuan putri memutuskan untuk melarikan diri dari istana, dengan pura-pura diculik. Untuk menjaga agar keluarga kadipaten Daha tidak berselisih dengan istana Panjalu !" tandas si lelaki kurus tinggi.

__ADS_1


Galuh Mayani terduduk dengan kaki lemas.


Ia sama sekali tidak bisa percaya dengan kisah yang baru kali ini ia dengar. Dan ia tidak ingin percaya.


Ia dan kedua saudaranya yang lain tidak pernah sepenuh hati menerima pernikahan kakak sulung mereka sebagai istri kedua.


Mereka terlalu menyayangi dan menghormati Galuh Citrawani. Status istri kedua dan kehidupan pernikahan kakaknya yang tidak bahagia, cukup melukai hati mereka.


Meskipun mereka berharap Citrawani bisa meraih kebahagiaan. Tapi Mayani sama sekali tidak pernah bermimpi kakaknya akan melarikan diri untuk menikah dengan orang lain.


Ini sama sekali bukan gaya kakaknya !


"Aku tidak percaya...kamu berdusta ...kalian pendusta !!" kata Mayani berulang-ulang.


Seikat surat disodorkan oleh lelaki tinggi kurus. Mayani melihat tanpa mengambilnya.


"Ambillah, tuan putri Mayani !"


"Apa ini?" tukas Mayani dingin.


"Ini adalah surat yang ditulis tuan putri Citrawani untuk diberikan pada keluarga di Daha !"


Dengan ragu, Galuh Mayani menerima surat itu. Dibukanya ikatan daun rontal itu. Ketika mengenali goresan huruf-huruf khas kakaknya, tubuh Mayani melorot lemas di lantai. Airmata perlahan-lahan menitik turun ke pipinya.


*****


**Ayahanda Adipati yang terhormat, Ibunda terkasih, adikku Nares, Wasanti dan Mayani yang tersayang, maafkan hamba yang tidak bisa menjaga kalian dengan baik.


Keadaan hamba baik-baik saja. Jangan mencemaskan hamba. Hamba akan hidup dengan baik dan bahagia.


Adik-adikku, hiduplah juga dengan baik dan bahagia. Kakak menitipkan kedua orangtua kita pada kalian. Jadilah anak yang berbakti. Buatlah Ayahanda dan Ibunda bahagia.


Bersama surat ini hamba kembalikan tanda perjodohan hamba dengan Kakanda Jayanti Suryapaksi .


Jika ada kesempatan lagi di masa depan, atas ijin dan anugerah Ida Sang Hyang Widhi, kita akan bertemu lagi.


Sekali lagi, maafkan hamba.


Galuh Citrawani Diah Paramhita**


******

__ADS_1


******


__ADS_2