Jatukarma

Jatukarma
Bab 26


__ADS_3

Rapat pagi hari di antara para pejabat Panjalu berlangsung khidmat. Kesunyian itu terusik oleh kedatangan seorang pengawal yang meminta ijin untuk masuk dan memberi laporan pada Raja dan Raden Jayanti Suryapaksi.


"Mohon melaporkan berita dari istana putri. Yang Mulia Permaisuri Galuh Sundari sekarang sedang ditangani tabib karena perut beliau sakit. Kata tabib Darma, paduka permaisuri akan segera melahirkan."


Sidang pun gempar.


Upacara tujuh bulanan untuk kehamilan Galuh Sundari baru saja dilangsungkan kemarin. Usia kandungannya belum genap bulan untuk dilahirkan.


Sidang pun ditunda, karena Raja Aryaeswhara dan Raden Suryapaksi bergegas menuju istana putri . Di sana telah menunggu Ratu yang tengah menangis mencemaskan keadaan sang cucu.


Para tabib hilir mudik keluar masuk membawa segala keperluan tindakan. Seruan- seruan panik dan perintah-perintah tabib pada asistennya membuat hati para bangsawan Panjalu yang menunggui di balik tabir menjadi ketar- ketir.


Ratu memanggil Tabib Wong yang tampak berdiri untuk menunggu aba-aba dari tabib yang ada di dalam tirai.


"Tabib Wong. apa yang terjadi dengan kandungan Galuh Sundari?"


"Maaf, paduka. Hamba bukan tabib yang rutin memeriksa kesehatan paduka Sundari. Tabib Darma lah yang mengetahui keadaan permaisuri. Menurut pemeriksaan hamba tadi. Permaisuri mengalami tekanan darah yang terlalu tinggi. Jika kehamilan ini diteruskan, akan berbahaya baik bagi jiwa permaisuri maupun sang jabang bayi."


"Karena itu tabib Darma tekah memberi ramuan untuk merangsang kelahiran lebih cepat..."


Ratu dan Raja mendengarkan dengan sangat sedih.


Raden Jayanti Suryapaksi termenung. Ia merefleksikan kembali perlakuannya selama ini kepada Galuh Sundari yang cenderung dingin dan menghindar.


Ia sendiri bingung, darimana datangnya dorongan rasa benci dan menolak. Padahal kehamilan istrinya adalah hal yang dinanti-nanti oleh semua rakyat Panjalu.


Apakah ada yang salah dengan dirinya?


Sejak menghilangnya Citrawani dan sidang perpisahan mereka, hatinya seolah ikut pergi.


Di dalam bilik persalinan, Galuh Sundari tengah berjuang untuk melahirkan sang jabang bayi. Peluh membasahi sekujur tubuhnya.


Suara rintih dan erangannya menggema. Ia dikelilingi oleh beberapa asisten Tabib Darma . Sementara sang Tabib sibuk memberi aba-aba dari balik tirai.


"Dorong terus paduka, tarik nafas panjang ..."


"Huuft...huufth... aaaaaaahhhgg.." jerit kesakitan Galih Sundari menegakkan bulu roma.


"Ayo dorong paduka, ini rambutnya sudah kelihatan ...yaaa...dorong. .."


Tepat tengah hari, akhirnya sang jabang bayi pun terlahir ke dunia.


Tetapi ada yang aneh.


Bayi tidak berdosa itu sama sekali tidak menangis.


Tabib Darma telah berusaha semampunya, dibantu oleh beberapa tabib lain. Tetapi sang bayi tidak pernah membuka mata.


"Ampuni hamba, Yang Mulia !" Tabib Darma bersujud di depan Raja dan Ratu dengan wajah penuh duka.


"Hamba dan para tabib lain telah berusaha. Tetapi pangeran kecil tidak membuka mata. Hyang Widhi telah membawa pangeran kecil kembali ke suargaloka .."


Terdengar jerit tangis dari para wanita istana. Ratu terduduk lemas di kursi sambil menangis dan sesambatan. Raja Aryaeswarhya terdongak sambil menggeleng-gelengkan kepala penuh duka.


Raden Suryapaksi memejamkan matanya. Airmata merembes dari sudut matanya. Ada secuil penyesalan di sudut hatinya karena telah mengabaikan Sundari di masa kehamilannya.


Meskipun ada perasaan-perasaan aneh yang membuatnya tidak nyaman berada di dekat istrinya. Tetapi anaknya adalah darah dagingnya. Tidak seharusnya ia bersikap dingin.

__ADS_1


Dengan terhuyung, ia menyibak tirai. Nampak beberapa dayang mengurusi Galuh Sundari yang tengah pingsan. Sementara sang bayi yang telah dibersihkan, dipakaikan kain putih bersih.


Raden Suryapaksi meminta untuk menggendong anaknya.


Bayi itu sungguh tampan. Meski ada kelainan dengan bentuk hidung dan bibirnya yang tidak menyatu dengan sempurna. Tetapi di mata Suryapaksi, anaknya adalah bayi tertampan di dunia.


"Anakku..." airmata menetes-netes dari matanya, yang segera diusap dengan satu tangan. Airmata tidak boleh mengenai jazad anaknya yang suci.


"Maafkan ayahandamu, nak. Maafkan aku..." beribu kata maaf ia bisikkan dengan lirih.


Raja dan Ratu yang menemani Raden Suryapaksi juga tak bisa menahan duka.


.


.


.


Isak tangis mewarnai pemakaman sang pangeran kecil di saat sandikala.


Langit gelap, mendung tebal beriringan di langit, seolah mengantar kepergian sang calon pewaris tahta.


Iring-iringan begitu banyak rakyat yang mengantar junjungan mereka ke peristirahatan terakhir, tidak bisa meredam cuaca dingin berkabut.


Lolongan anjing terdengar di mana-mana, membuat orang-orang merinding.


Upacara penguburan dilakukan dengan sunyi.


Raden Surya Kencana yang berdiri di sisi adiknya, selalu mengawasi jika sang adik tahu-tahu rubuh pingsan.


Tetapi Suryapaksi dengan tegar menggendong jazad bayinya untuk dititipkan pada ibu pertiwi.


Galuh Sundari tersadar dari pingsannya di malam hari.


Selama itu yang merawat dan menjaganya adalah para tabib dan dayang-dayang. Ketika membuka mata, yang pertama ia tanyakan adalah bayinya.


"Di mana bayiku?"


Para tabib dan dayang-dayang menundukkan kepala.


"Tabib Darma, di mana bayiku?" dengan nada meninggi, Sundari menoleh pada tabib kepercayaannya.


Sejenak, Tabib Darma tidak bisa menjawab. Setelah menarik nafas panjang dan melepasnya pelan, Tabib Darma menjawab dengan berat hati.


"Paduka, semua kejadian di dunia ini adalah pituduhing Widhi... semua adalah kehendakNya... Hamba harap paduka sabar dan lascharya..."


"Apa maksudmu tabib Darma?! Katakan padaku, di mana anakku...di mana ..." raung Galuh Sundari.


"Paduka...Pangeran kecil telah tiada.."


Galuh Sundari menangis sejadi-jadinya.


.


.


Setiap hari Raden Suryapaksi menyendiri di pura keluarga.

__ADS_1


Ia bersemedi untuk menenangkan hatinya yang bergejolak. Di sela-sela keheningan, ia memohon kepada Hyang Widhi untuk mengampuni semua dosa yang pernah ia lakukan.


Kepergian putra kecilnya adalah luka terdalam di hatinya.


Selain itu, hatinya juga mencatat luka yang dalam oleh kepergian Galuh Citrawani, di saat hatinya mulai tergelitik oleh kehadiran gadis itu.


Tidak sedikit pun ia tergerak menyambangi kediaman Galuh Sundari untuk mengetahui kabar istrinya .


Sebaliknya, setiap hari ia menghabiskan waktu untuk meditasi dan menyesali diri.


Hingga di hari keempat puluh, Suryapaksi memohon kepada kedua orangtuanya untuk menggelar tapa semedi di atas gunung.


"Ayahanda.. Hati hamba sangat berduka dan menderita. Ijinkan hamba untuk melakukan yasa di hutan, agar hati ini menemukan pencerahan dan kedamaian..."


"Jika itu memang bisa mendatangkan kedamaian di hatimu, Ayahanda tidak akan menghalangi."


"Tetapi bagaimana dengan Galuh Sundari? Dia tengah dirundung duka, menangis tiap hari. Tegakah nanda meninggalkannya dalam keadaan seperti itu?"


Sang Ibunda mengerutkan keningnya.


"Hamba titipkan Galuh Sundari pada Ayahanda dan Ibunda. Kelak jika hati hamba telah terobati, hamba akan segera pulang ke istana !"


Diaturlah persiapan bagi Suryapaksi untuk menjalani yasa di hutan.


Raden Surya Kencana diutus ayahandanya untuk mengantarkan Suryapaksi ke pertapaan Begawan Wistara di atas gunung Welirang.


Maka berangkatlah mereka beberapa hari kemudian, diantarkan oleh beberapa pengawal dengan perbekalan lengkap.


Galuh Sundari yang masih lemah lahir bathin, melepas kepergian suaminya dari jendela istana. Airmatanya menganak sungai di pipi.


Entah kapan suaminya akan kembali. Tidak ada yang tahu.


Bahkan mungkin dia tidak akan pernah melihat suaminya kembali, itu rintih dan keluhan dari sudut hatinya yang meronta.


****


Perjalanan Suryapaksi ke puncak gunung Welirang tidak mengalami halangan berarti.


Dalam waktu singkat, mereka telah tiba di bawah padukuhan Begawan Wistara.


Karena jalan yang sulit dan mendaki, kuda-kuda ditinggalkan di bawah, dijaga oleh beberapa pengawal.


Sebagian lagi mendaki jalan gunung sambil menyunggi barang-barang bawaan sang Raden.


Begawan Wistara menyambut mereka dengan senyum bahagia.


"Akhirnya, kau datang nak...!" Sang Begawan merentangkan tangannya.


Suryapaksi masuk ke dalam pelukan orangtua yang sering menimangnya ketika kecil. Ada hawa kehangatan dan perlindungan yang membuat diri Suryapaksi terasa nyaman seketika.


"Romo...Romo Begawan ...tolong ajari hamba tentang penebusan dosa.." ujar Suryapaksi lirih.


Ia merasa ada tangan yang hangat mengelus kepalanya, membuatnya terasa ringan.


"Romo .."


"Ya nak, Romomu ini sudah tahu . Apa yang terjadi padamu bukanlah hukuman dari Hyang Widhi. Ini semua adalah jalan yang memang harus kau tempuh, untuk menemukan dharmamu !"

__ADS_1


Suara kakak ayahnya yang halus dan lembut, entah kenapa membuat hati Suryapaksi mencelos. Tahu-tahu ia telah berlutut dan memeluk kaki sang Begawan dengan lemas.


******


__ADS_2