Jatukarma

Jatukarma
Bab 25


__ADS_3

"Tidak boleh !" Senyum menghilang dari bibir Bagus Saksena.


" Menahanku terlalu lama hanya akan menghabiskan persediaan berasmu lebih banyak," Citra mengangkat sebelah alisnya.


" Jenggala adalah negeri yang kaya. Persediaan beras kami melimpah. Seluruh rakyat Jenggala hidup sejahtera dan makmur. Aku bisa memberikanmu apa saja!" tegas Bagus Saksena.


"Jangankan sandang pangan, emas permata, bahkan lima desa akan kuberikan, asal kamu tetap tinggal di Jenggala, Citra."


.


Citra Kartika merasa ada yang aneh. Ia menoleh ke arah Bagus Saksena. Ia mendapati pandangan mata pemuda itu sungguh tajam dan dalam, penuh dengan permohonan.


"Berapa lama aku harus tinggal di sini?"


"Selamanya. Tinggallah di sini, di sisiku untuk selama-lamanya..."


"Selamanya? Mana mungkin. Negeri ini bukan tanah tumpah darahku ! " kata Citra ketus.


" Tapi negeri ini kelak akan menjadi milikmu, akan menjadi negeri yang kamu perintah bersamaku, sebagai ratuku kelak.."


"Huh, rayuanmu tidak berlaku untukku !" potong Citra tak sabar.


"Tapi aku serius, Citra !" kata Bagus Saksena tegas. " Aku tahu, kamu tidak akan percaya begitu saja pada kata-kataku, karena dulu aku memusuhimu. Dulu aku selalu ingin menyakitimu. "


"Itu semua hanya permainan takdir, Citra! Aku tidak pernah meminta untuk terlahir sebagai pangeran mahkota Jenggala. Aku tidak pernah meminta adikku jatuh cinta pada Raden Suryapaksi. "


"Aku juga tidak pernah meminta untuk menjadi istri kedua Raden Suryapaksi!" Tukas Citra.


"Asal kau tahu, Pangeran ! Aku tidak akan pernah kembali ke istana Panjalu ! Aku tidak akan mengganggu Raden Suryapaksi dan Galuh Sundari. Kini aku bukan Galuh Citrawani lagi. Galuh Citrawani sudah mati. Yang ada hanyalah Citra Kartika, seorang gadis biasa yang tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan kalian. Karena itu, biarkan aku lepas, bebas !"


"Citra, aku mencintaimu !" kata Bagus Saksena tiba-tiba.


"Apa?!" Citra tercengang.


Selama ini, Bagus Saksena sering mendekati dan merayunya untuk diperistri. Tetapi pangeran Aryapati Jenggala itu tidak pernah mengungkapkan perasaan hatinya.


"Aku mencintaimu .." kata Bagus Saksena tanpa ragu-ragu. "Aku memintamu untuk tinggal di sini selamanya, menjadi istriku. Bukan semata-mata karena ingin menahanmu agar tidak kembali ke istana pangeran mahkota Panjalu ! Bukan !"


"Aku memintamu untuk tetap di sini. Karena aku mencintaimu ! Karena kamu adalah bunga dari mimpi-mimpiku! Menikahlah denganku, Citra ! Jadilah permaisuri putra mahkota Jenggala !"


Citra Kartika hanya tercengang sesaat, lalu termangu. Bagus Saksena bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan Citra.


"Aku sungguh-sungguh, Citra. Aku tidak sedang menipu atau memperdayaimu ! Jika aku hanya ingin menyingkirkanmu dari istana Panjalu, untuk apa aku menahanmu jauh-jauh ke sini? Dengan kemampuanku dan anak buahku, tidak ada susahnya untuk melenyapkan seorang Galuh Citrawani. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak tega.."


"Karena aku, aku mencintaimu...."


Bagus Saksena meraih pergelangan tangan Citra, lalu digenggamnya kedua tangan gadis itu dengan lembut.


"Lepaskan !" delik Citra.


Dengan patuh, Bagus Saksena melepas tangan Citra dan meletakkan kembali dengan perlahan di pangkuan gadis itu.


"Jadi ? Apa yang kau harapkan dariku ? Kau berharap aku untuk membalas cintamu, setelah apa yang kau lakukan padaku dan keluargaku?" Citra mendongak memandang Bagus Saksena yang berdiri di hadapannya. Seulas senyum sinis kembali tersungging di bibir gadis itu.

__ADS_1


Bagus Saksena menggeleng.


"Aku tidak berani berharap terlalu banyak. Aku hanya ingin memberikan tempat dan kedudukan yang terbaik untukmu, setelah semua kesalahan yang kulakukan terhadapmu..."


"Aku hanya berani berharap, kamu menerima lamaranku. Setelah menjalani pernikahan, aku akan sangat bahagia jika kamu bisa mencintaiku secara perlahan-lahan ..."


"Hihihi.. "


Kini giliran Bagus Saksena yang tercengang. Ia menatap heran pada Citra Kartika yang tengah terkikik geli.


"Kenapa kamu mentertawakanku, Citra?" tanya Bagus Saksena .


Citra masih terkikik geli.


Wajah Bagus Saksens perlahan-lahan berubah warna, ketika Citra terus saja tertawa dengan nada meremehkan.


"Mimpimu terlalu tinggi, pangeran. Mana mungkin aku mau menikah denganmu. Borio-boro jatuh cinta padamu ! Kamu berkaca dulu, siapakah dirimu, siapakah aku ! Perbedaan di antara kita bagaikan langit dan bumi !"


"Aku telah memberikan kedudukanku untuk menukarnya dengan kebebasan adikku. Kita sudah impas, sudah tidak ada lagi yang patut untuk dipertukarkan ! " Citra tersenyum makin sinis.


Ditatapnya wajah Bagus Saksena yang terlihat mulai memerah.


"Kenapa!? Wajahmu memerah. Kamu tidak terima dengan kata-kataku?!!" tantang Citra dengan berani.


"Jelas ! Kamu telah menghinaku, Citra ! Kamu mengatakan bahwa perasaan hatiku yang tulus ini hanya mimpi?" Bagus Saksena memegang tangan Citra erat-erat.


"Kamu bukan lagi putri Daha yang terhormat, Citra ! Statusmu hanyalah seorang janda, bekas istri kedua seorang pangeran ! Atas dasar apa kamu menolak kedudukan terhormat yang aku tawarkan padamu ?"


"Aku sedikit banyak merasa bersalah padamu dan ingin menebusnya dengan memberimu tempat terhormat di hatiku! Atas dasar apa kamu menolakku?"


Citra menghempas tangannya hingga terlepas dari pegangan tangan kuat Bagus Saksena. Gadis itu meloncat bangun lalu berdiri di hadapan Bagus Saksena yang marah.


"Helooo...kamu jangan pura-pura tidak tahu, siapa yang menyebabkan aku menjadi istri kedua, siapa yang menyebabkan aku menjanda juga ! Kalian, bangsawan Jenggala ! "


"Dan heloooo, kamu juga jangan pura-pura tidak tahu, meskipun aku sudah janda, tapi aku masih muda, cantik dan polos. Aku belum pernah menjadi istri yang sesungguhnya! Masih banyak ada pemuda yang baik di luar sana yang lebih pantas menjadi suamiku ! Dan pastinya, mereka akan berlomba-lomba untuk menjadi suamiku ! "


Dengan lincah dan nakal, juga karena merasa kesal, Citra sengaja memanas-manasi Bagus Saksena. Ia puas melihat kemarahan di wajah lelaki itu yang merah hingga ke kuping.


"Siapa?" tanya Bagus Saksena. "Siapa yang berani menargetkanmu untuk menjadi istrinya?"


"Kamu tanya sendiri hatimu, siapa kira-kira laki-laki yang bisa menolak untuk menjadi pendamping hidupku?" sergah Citra mengejek. "Apakah sepupu-sepupumu, pamanmu atau bahkan ayahandamu?"


"Kamu ..." Bagus Saksena sedikit terhuyung. Sungguh hebat keberanian dan kelancangan gadis itu mempermainkannya .


"Iya. Aku, Citra Kartika," ejek gadis itu. "Kamu tidak percaya kata-kataku? Sepupumu yang bernama Ragaparna pernah datang kemari. Tanyakan saja padanya, apa yang pernah ia minta kepadaku. Tanyakan juga pada ayahandamu, pernahkan beliau mengirim pelayannya untuk membujukku?"


Mata Bagus Saksena perlahan memerah.


"Katakan padaku, darimana datangnya keberanianmu ini, Citra Kartika !" desis Bagus Saksena murka. "Apakah kamu sudah tidak ingin lagi memiliki nyawamu?"


Citra Kartika tertawa.


"Nyawaku ini sejak dulu sudah sering kamu permainkan, Bagus Saksena. Sudah berapa kali percobaan pembunuhan yang kamu lakukan padaku. Ternyata hingga kini nyawaku ini masih setia menempel padaku !" kata Citra sarkastis.

__ADS_1


Bagus Saksena menggeram pelan. Ia merasa gemas dipermainkan oleh gadis itu. Ketika ia hendak bicara lagi, dengan cueknya Citra Kartika beranjak pergi.


" Mau ke mana kamu, Citra Kartika? "


"Aku mau membasuh tubuhku. Hari sudah beranjak gelap. Apakah Raden Bagus Saksena ingin menahanku hingga tengah malam?" tantang Citra Kartika.


"Pembicaraan kita belum selesai !"


"Oh, please deh pangeran ! Pembicaraan kita tidak akan pernah selesai. Endingnya akan selalu seperti ini, selama kamu masih arogan dan egois !" seru Citra .


Bagus Saksena terdiam. Ia hanya memandangi tubuh sexy yang melenggang gemulai menyeberangi jembatan kayu di atas kolam ikan.


Tubuh gemulai yang selalu menghiasi mimpinya. Wajah anggun yang selalu muncul dalam setiap ingatannya. Tubuh dan wajah milik seorang gadis yang menjadi tamu istimewa, atau tepatnya, tawanannya.


Kenapa? Kenapa gadis tawanan ini selalu berhasil menghindari kehendaknya?


Haruskah ia memaksakan diri dan kehendaknya, agar gadis itu tunduk padanya?


Bagus Saksena semakin galau


...........


"Apa yang ada di dalam pikiranmu itu. Ragaparna?" ucap Bagus Saksena siang itu.


Ragaparna yang sedang membasuh tangan setelah melatih kudanya di lapangan rumput, mendongakkan kepala.


"Maksud kakanda?" tanyanya bingung.


"Apa yang kamu pikirkan tentang Citra Kartika? Dan apa yang pernah kamu katakan kepadanya di istana tempatnya ditawan?"


Wajah Ragaparna memucat.


Bagus Saksena berdiri di depannya dengan wajah memerah. Dengan sedikit gugup, Ragaparna berkilah.


"Hamba hanya mempersembahkan beberapa barang yang dikirimkan dari Malawapati, Kanda... hanya untuk menghormati dia, tidak lebih .."


Pemuda yang lebih muda dari Bagus Saksena itu menundukkan kepalanya.


Bagus Saksena menepuk-nepuk bahu Ragaparna.


"Ingatlah, sepupuku. Kita dibesarkan bersama-sama. Jangan pernah menginginkan sesuatu yang bukan milikmu ...."


"Baiklah, Kanda !" Ragaparna menundukkan kepalanya. Ia baru berani mengangkat kepalanya ketika Bagus Saksena menyuruhnya pergi. Dengan tergesa ia melangkah menuju kudanya lalu menungganginya menjauh.


Bagus Saksena mengamati gerak-gerik Ragaparna . Setelah sosok sepupunya menghilang dari pandangan, ia memanggil pengawal bayangannya.


"Kebo Prakasa !"


Lelaki perkasa itu tahu-tahu telah berdiri di depan tuannya, lalu memberi hormat.


"Siap, tuan !"


"Kirim orang untuk mengawasi gerak-gerik Ragaparna ! Dan khusus untukmu, awasi juga kediaman Citra Kartika ! Perhatikan siapa saja yang pernah berkunjung, terutama paman dan ayahandaku !"

__ADS_1


******


__ADS_2