Jatukarma

Jatukarma
Bab 12


__ADS_3

Lereng gunung Welirang tengah malam, gelap tanpa bintang. Suasana sunyi senyap, tiada suara binatang malam, seolah seluruh penghuni bumi tengah terlelap dalam tidur. Pasraman Begawan Wistara di lereng timur juga sunyi sepi, tiada seorang murid pun yang masih terjaga. Kecuali sang Begawan dan seorang muridnya yang berdiri di tengah halaman sambil memandang langit.


"Lihat, nak. Api itu melesat menuju ke arah Daha ..." Begawan Wistara menunjuk ke langit gelap. Jelas sekali sebuah api panjang berekor melesat ke barat. Sang murid yang tak lain adalah Raden Surya Kencana, mengawasi ekor api yang panjang dan bergerak bagaikan hidup.


"Ini kiriman api ilmu hitam, Rama Guru ? Siapakah yang akan menjadi targetnya? Besar sekali apinya !"


"Coba buka mata bathinmu, ngger anakku !" Begawan Wistara memegang bahu muridnya. Raden Surya Kencana memejamkan matanya.


Seketika ia melihat adiknya, Raden Suryapaksi . Dalam kegelapan, adiknya tengah dililit oleh asap hitam tebal bagaikan kabut gelap yang teramat gelap. Adiknya yang tidak bisa melihat dalam gelap, hanya berjalan ke sana kemari tanpa arah.


Raden Surya Kencana mengarahkan pandangannya ke luar lingkaran kabut. Ternyata adiknya telah terkepung oleh pasukan tak kasat mata, yang semuanya adalah sebangsa lelembut pelemah sukma. Mereka tidak diperintahkan untuk mengganggu. Hanya mengepung dan melemahkan kekuatan dan semangat.


Dengan mengerahkan kekuatan bathinnya, Raden Surya Kencana mengikuti asal kedatangan api berekor itu. Raden Surya Kencana dibawa melesat, ke arah timur, hingga akhirnya pandangan mata bathinnya melihat tiga orang perempuan cantik. Dua orang sudah setengah baya, dan seorang lagi masih muda.


"Ayo ngger.." Begawan Wistara menepuk pelan pundak Surya Kencana. Pemuda itu sedikit tersentak dan membuka matanya dengan tercengang. Perempuan muda pengirim ilmu hitam dalam penglihatannya itu, bukan lain Galuh Sundari.


"Guru, dari awal hamba sudah merasa kalau ipar hamba bukan orang yang sederhana !" Raden Surya Kencana masih terbawa perasaannya. "Tapi hamba sama sekali tidak menduga kalau Galuh Sundari bisa melakukan praktek ilmu hitam."


"Bhairawa Kalacakra," gumam Begawan Wistara sembari mengelus janggutnya yang putih.


"Bukankah itu aliran sesat, Guru?" Surya Kencana terkejut. "Mereka yang meyakini aliran itu, adalah para pemuja Dewi Durga, Dewi Kematian. Mereka yang sering melakukan tari-tarian pemujaan di pekuburan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa para petinggi Jenggala suka menggunakan jalan sesat dan singkat Bhairawa Kalacakra untuk meraih kekuasaan dan kesaktian."


"Angger anakku, ayo kemari. Biarlah Rama menjelaskan kepadamu.."


Begawan Wistara mengajak muridnya duduk di atas bale-bale di teras samping pondok. Bunga kantil dan melati hutan yang mekar di samping pondok menebarkan aroma wangi, menambah mistis suasana.


Dengan sabar, Begawan Wistara menjelaskan pada muridnya. Aliran Tantrayana Bhairawa yang dianut oleh para petinggi Jenggala bukanlah aliran sesat. Laku penganut aliran itulah yang sering menyimpang dari intisari dan dasar ajarannya.


"Leluhur kita juga banyak yang menganut aliran Tantrayana bhairawa. Memuja Siwa dan Dewi Durga. Tetapi mereka melakukannya dengan benar. Panca makarapuja yang mereka lakukan adalah bentuk pemurnian raga dan jiwa, untuk mempercepat moksa. Kalaupun ada pemahaman dan pelaksanaan yang keliru, dan menjadikan para penganut Bhairawa sebagai pelaku ilmu hitam, memakan tumbal, itu adalah penyimpangan."


"Ketahuilah, angger. Seberapa tinggi pun kekuatan ilmu hitam itu, tidak akan ada artinya dibandingkan waranugraha dari Hyang Wenang, Hyang Maha Kuasa. Dengan selalu meyakini dan berserah pada Hyang Wenang, kamu tidak perlu takut dengan kedigdayaan para pengikut Bhairawa Kalacakra aliran hitam."


"Angger anakku, Surya Kencana. Kamu lahir di saat sang surya baru terbit menyinari pertiwi. Saat itu kamu tidak menangis. Tubuhmu bercahaya kuning terang, seperti cahaya sang surya yang keemasan. Itulah kenapa kamu dinamai Surya Kencana. Seorang putra yang bercahaya bak matahari emas."


"Kamu bukan orang sembarangan, ngger. Surya Kencana adalah pewaris trah leluhur kita yang bijak, sakti mandraguna. Kakekmu, ayahandaku, adalah seorang maharaja yang telah weruh sak durunge winarah (tahu sebelum terjadinya suatu peristiwa). Beliaulah salah satu contoh yang disebut-sebut dalam kitab suci kita, sebagai seorang jiwan mukta. Seorang yang telah mencapai pencerahan sempurna semasa jiwanya masih menyatu dengan raga."


Surya Kencana mengenang kakek yang sangat mengasihinya, kakek yang sering menggemblengnya dalam olah bathin. Maharaja yang memerintah Panjalu dalam waktu lama, beliaulah Maharaja Panditawatara. Tiga tahun lalu, raja besar yang sangat dicintai kawula rakyatnya itu mangkat dan telah disucikan di Candi Silapetak.


"Surya Kencana, kelak engkaulah yang akan meneruskan kemuliaan dan kebijaksanaan kakekmu. Ciri-cirinya telah ada semenjak kamu lahir, nak. Seperti yang diramalkan oleh kakekmu, kelak Suryaputra dari Panjalu dan Candraputri dari Jenggala yang akan menyatukan kembali kedamaian di tanah Jawa ini. Panji-panji Surya sang matahari yang kelak akan memerintah di tanah Jawa, yang kemashurannya bahkan sampai ke negeri-negeri seberang !"

__ADS_1


Surya Kencana tercengang.


"Dimas Suryapaksi dan Galuh Sundari kah yang dimaksud oleh Kakek?"


Begawan Wistara memandang sekilas pada muridnya, lalu tersenyum.


"Tidak. Perjodohan Suryapaksi dan Sundari adalah kehendak manusia, bukan kehendak takdir. Perjodohan yang dipaksakan seperti ini, tidak akan bisa berlangsung lama."


"Hamba merasakan, ada misteri yang selalu menyelubungi Sundari dan saudaranya. Hamba merasa aneh, di saat saudara lelakinya lebih sering berada di Panjalu, daripada mengurus kerajaannya sendiri."


"Keadaan yang dipaksakan, harus selalu diawasi dan dikekang, ngger. Agar buhul-buhul yang diikatkan tidak menjadi longgar. Cobalah tutup matamu dan bukalah mata ketigamu. Lihatlah apa yang seharusnya kamu lihat."


Begawan Wistara menyentuh tengah-tengah alis muridnya. Seketika Surya Kencana merasakan ledakan cahaya terang berwarna ungu bergelombang-gelombang, membungkus kegelapan.


Di dalam kegelapan itu nampak adiknya, Suryapaksi yang ditutup matanya oleh tangan seseorang. Ketika Surya Kencana berusaha melihat siapa orang yang menutup mata adiknya, ia melihat dua orang lagi berdiri di belakang orang itu.


Ia mengenali Galuh Sundari dan ibunya, ratu Jenggala. Tetapi perempuan paruh baya yang bertubuh subur dengan payudara super besar yang tertawa mengerikan paling belakang, ia tidak mengenalnya.


Di antara cahaya ungu, terdapat cahaya putih dan kuning terang ... seorang gadis membawa satu wadah air jernih lalu mengguyur Suryapaksi, sehingga ketiga orang perempuan dengan aura kegelapan itu mundur teratur.


Ketika Surya Kencana berusaha melihat siapa gadis muda yang menyiramkan air, ia terpesona. Gadis itu menghampirinya, mengulurkan tangan. Wajah gadis itu bercahaya, senyumnya cemerlang. Dia Galuh Citrawani Diah Paramhita, putri Daha.


"Sudah ngger, ayo kembali."


"Rama Guru, kenapa dia? Kenapa dia ? Dia Citrawani adik sepupu hamba, istri dimas Suryapaksi? "


"Semua ini adalah rahasia takdir, ngger. Secuil rahasia takdir ini hanya bisa dimengerti oleh trah Panditawatara. Kelak kamu akan tahu. Tidak usah kamu risaukan, tidak usah kamu cemaskan. Jalinan takdir mu akan berjalan dengan sendirinya."


"Guru, apa yang harus hamba lakukan sekarang? Api ilmu hitam itu jelas-jelas sedang menuju kepada dimas Suryapaksi ! Apakah hamba harus memperingatkan dia? Ataukan hamba harus memunahkan ilmu hitam itu?"


"Adikmu sedang menjalani utang piutang karmanya, Ngger. Belum waktunya kamu ikut campur. Nareswara dan Subrata telah turun gunung sejak tiga hari lalu. Mungkin sore tadi mereka telah tiba di Daha. Biar mereka yang mengurusi angger Suryapaksi. Kelak Rama yang akan memberitahumu ketika sudah tiba masanya bagimu untuk membantunya."


"Baik, Rama Guru. Hamba mengerti."


"Kamu tinggallah dulu di sini, ngger. Ada yang akan Rama ajarkan padamu. Dua minggu lagi barulah ada tugas untukmu."


"Baik, Rama Guru."


Malam yang semakin mencekam, langit yang semakin gelap, tanpa angin yang berhembus, akhirnya dibelah oleh gemuruh petir. Hujan akan segera turun, dari mendung-mendung tebal yang tak mampu menahan beratnya titik air.

__ADS_1


Raden Surya Kencana berbaring di biliknya . Pikirannya masih menelaah ucapan dari gurunya . Ia masih tercenung dengan informasi bahwa dia lah yang terpilih dan diramalkan oleh kakeknya untuk menjadi penerus tahta. Hal yang dihindarinya sejak masih remaja, dengan pura-pura bersikap bodoh.


Siapakah Begawan Wistara?


Dia bukan lain adalah raja Panjalu terdahulu, saudara tertua dari Raja Aryaiswara. Nama aslinya Sri Handraya Iswarya. Tanpa pernah memiliki istri, menjabat sebagai pemimpin negeri hanya seumur jagung, beliau memilih untuk menekuni jalan darma, menjadi seorang wiku, pertapa. Menyerahkan tampuk kekuasaan kepada adiknya, Sri Raja Aryaiswara.


Surya Kencana adalah keponakan sekaligus murid kesayangan, yang telah digembleng sejak bayi.


Pemuda itu tidak bisa terlelap tidur. Hujan deras mengubah cuaca menjadi dingin. Tetapi ia merasa badannya panas dan berkeringat. Akhirnya ia duduk bersila, mengatur nafas, memejamkan mata dan mulai memasuki alam meditasi.


******


Galuh Citrawani terbangun karena mendengar suara geraman dan teriakan Raden Suryapaksi.


Dengan kewaspadaan khas prajurit yang terlatih, Citrawani langsung melompat bangun dan menghampiri sisi tempat tidur yang ditempati Suryapaksi.


Lelaki calon pewaris tahta itu meronta-ronta dengan mata terpejam. Peluh sebesar biji jagung menetes di dahinya. Citrawani paham, suaminya sedang dicengkram oleh mimpi buruk. Atau mungkin sedang mengalami sleep paralysis, ketindihan. Diguncang-guncangnya lengan Suryapaksi. Tetapi sekian menit berlalu lelaki itu masih meronta-ronta.


Dengan tidak sabar, Citrawani meraih kendi air di meja dan langsung memercikkannya ke wajah Suryapaksi. Terengah-engah, lelaki perkasa itu membuka matanya.


"Citra? Kamu menyiramku ?" Suryapaksi mengusap wajahnya yang basah.


"Ya maaf, siapa suruh meronta-ronta begitu. Kakanda mimpi buruk, tidak bangun-bangun. Terpaksa hamba siram, daripada tidak bangun selamanya."


"Kamu...kamu mengatakan hal buruk !" Suryapaksi mengerjapkan matanya, tidak percaya. "Kamu mengutuk suamimu sendiri?"


Citrawani menggelengkan kepala dengan wajah tidak berdosa. "Kakanda mengalami sleep paralysis, ketindihan. Itu termasuk sakit saraf kalau di ilmu medis. Kalau menurut mitos orang-orang dulu, itu tanda ketindihan setan ! Makanya, kalau mau tidur itu berdoa dulu, Kakanda!"


Suryapaksi tercenung. Ia tidak mengerti sepenuhnya penjelasan Citrawani. Ia lebih tidak paham lagi, keanehan apa yang terjadi pada dirinya. Mimpi-mimpi buruk menghantui beberapa malam berturut-turut, yang sangat melelahkan dan menguras tenaganya. Ia memijat belakang kepalanya yang terasa berdenyut.


Citrawani yang melihat kening Suryapaksi berkerut, menghampiri suaminya.


'Ijinkan hamba memeriksa nadi kakanda."


Tanpa menunggu jawaban, Citrawani memegang pergelangan tangan Suryapaksi. Citrawani sedikit terhenyak ketika merasakan nadi yang lemah dan tidak beraturan.


"Ini seperti gejala anemia berat. Tapi mana mungkin? Dia lelaki sehat dan arogan begini," bathin Citrawani.


"Citra...kepalaku pusing sekali....dadaku sesak .." keluh Suryapaksi. Belum selesai ia berucap, tubuhnya telah lunglai ke lantai.

__ADS_1


Citrawani berseru kaget. Kartala si penjaga bayangan segera melompat masuk ke dalam ruangan, diikuti oleh beberapa pengawal yang berjaga di luar rumah.


****


__ADS_2