Jatukarma

Jatukarma
Bab 19


__ADS_3

Di dusun terpencil itu, setelah dua hari merawat perempuan terluka parah yang mengaku bernama Puspa. Raden Surya Kencana meninggalkan sekantung uang untuk perempuan nahas itu.


Kepada para gadis dusun ia mengajarkan cara untuk merawat luka dan patah tulang Puspa.


Ketika Raden Surya Kencana meninggalkan dusun, Puspa berpesan pada Surya Kencana agar datang mencarinya ke dusun itu jika memerlukan bantuan.


"Tuan, saya adalah seorang perempuan malang. Saya tidak memiliki apa-apa untuk membalas kebaikan tuan. Ini adalah bentuk ucapan terimakasih saya," kata Puspa sembari menyerahkan sesuatu ke tangan Surya Kencana.


Ketika telah jauh meninggalkan dusun, Raden Surya Kencana membuka bungkusan kecil yang diberikan oleh Puspa.


Itu adalah sebuah saputangan sutra bersulamkan lambang adipati Hujung Galuh.


"Hmm, sudah kuduga, perempuan muda itu bukan orang yang sederhana. Ia sampai terluka seperti itu, seperti sengaja disiksa dan dipatahkan. Nadinya juga tidak beraturan, seperti sengaja dikacaukan. Rupanya latar belakangnya memang istimewa." Gumam Raden Surya Kencana.


Saputangan itu dilipat dan disimpannya baik-baik di dalam buntalan.


Dalam beberapa hari Raden Surya Kencana tiba kembali ke ibukota. Ia disambut dengan isak tangis sang Ibunda.


Ayahandanya sakit karena memikirkan dua pusaka kerajaan yang raib. Sementara istri kedua putra mahkota juga hilang diculik dalam perjalanan kembali ke istana. Dua hal ini masih dirahasiakan dari publik. Hanya para petugas intel dan pengawal rahasia khusus yang bertugas menyelidik yang mengetahui rahasia ini.


"Adikmu saat ini dalam dilema ! Ia harus membantu tugas ayahandamu yang sedang sakit. Tetapi ia juga gelisah karena hilangnya Citrawani."


"Anakku, bantulah adikmu untuk menemukan Citra. Nanda Nareswara telah ikut menyelidik selama berminggu-minggu tanpa membuahkan hasil." ucap Ratu Pujawati dengan sedih.


Surya Kencana tercenung.


Tidak disangkanya peristiwa sebesar ini terjadi ketika ia tengah digembleng oleh gurunya di lereng gunung Welirang. Tidak mungkin gurunya tidak melihat peristiwa sebesar ini dengan kekuatan mata bathinnya.


Kenapa Guru tidak memerintahkannya berbuat sesuatu sebelum dua minggu, tentu ada maksudnya.


Surya Kencana berangkat ke hutan tempat menghilangnya Citrawani. Ia bermaksud melakukan penyelidikan sendiri.


Jika dalam waktu seminggu ia tidak mendapatkan petunjuk, ia akan menghadap gurunya untuk meminta nasihat.


Di tempat lain, Nareswara dan Ki Parwata telah merambah seluruh hutan di luar kadipaten Daha. Semua semak disibak. Goa-goa dimasuki. Pohon-pohon yang rimbun dibabat cabangnya . Dusun-dusun terpencil didatangi.


Tetapi kedua putri Adipati Daha bagai lenyap ditelan bumi.


Sampai saat ini lenyapnya kedua gadis itu belum diberitahukan kepada ibu Citrawani yang sedang berjuang meraih kesembuhan paripurna.


"Tempat mana lagi yang belum kita datangi," keluh Nareswara. Mata bathinnya telah ia buka untuk melacak keberadaan kedua saudarinya, tetapi gagal. Ada selubung gelap yang selalu menghalangi pandangan bathinnya.


Nareswara menghela nafas panjang dan berat. Tubuhnya yang letih dan pikiran kacau tidak menyurutkan tekadnya untuk menyelamatkan kedua saudarinya.


"Sudah sebulan lebih kita mencari tanpa hasil. Sepertinya kita harus mengubah cara pandang kita, Raden!" ucap Ki Parwata. "Sepertinya kita harus kembali ke titik awal, mereka-reka apa motif mereka menculik tuan putri Citrawani."

__ADS_1


"Tanpa ada permintaan tebusan harta benda. Siapa yang kira-kira diuntungkan dengan hilangnya tuan putri ?"


Nareswara memandang ke depan.


"Siapa lagi kalau bukan saingan kakakku? Galuh Jenggala !" tuduh Nareswara geram.


"Tetapi kita tidak bisa menuduh atau menginterogasi tanpa bukti ."


"Raden, hamba memang punya firasat kalau Galuh Jenggala ada hubungannya dengan penculikan tuan putri. Bagaimana kalau kita kembali ke ibukota dan mengawasi tindak tanduk mereka? Kita mencari petunjuk dari titik awal kembali dengan mengawasi pergerakan mereka !"


" Baiklah. Paman kembali ke ibukota untuk mengawasi kediaman Galuh Sundari. Aku akan kembali mencari jejak di hutan. Jika dalam waktu seminggu belum menemukan petunjuk, kabari aku. Aku akan meminta nasihat pada Guru !"


"Baik. Raden ! "


Hari itu juga Ki Parwata kembali ke ibukota. Sementara Nareswara masih melakukan pencarian mengepalai pasukan intel kerajaan.


*****


Tengah malam Kajeng kliwon , di sebuah kuburan luas pinggir ibukota Jenggala. Empat orang perempuan paruh baya mempersiapkan sesaji yang ditaruh pada sebuah sanggah cucuk (anyaman bambu berbentuk triagonal yang disangga sebuah tiang bambu).


Mereka memakai kemben dan kain putih sebatas paha. Keempat perempuan itu kemudian duduk melingkar untuk membaca mantra. Setelah itu mereka duduk diam dengan rambut diuraikan dan dibawa ke depan menutupi wajah.


Beberapa saat kemudian, tangan mereka berubah menjadi kasar dan tebal dengan kuku panjang meruncing. Mereka mengangkat wajah dan menyibakkan rambut. Wajah mereka sudah menebal, berkerut dengan mata membesar dan bersinar tajam mencorong.


Perlahan mereka bangkit, lalu bersamaan melakukan tarian untuk menghormati Dewi Durga. Tarian Kali, dengan satu kaki diangkat (nengkleng) , tangan di depan dada dan di depan wajah dengan lidah menjulur panjang. Nyala api kecil menyembur-nyembur keluar dari lidah mereka, seperti tetesan air liur.


Setelah itu, perempuan yang paling gemuk, membacakan mantra untuk memanggil sukma orang yang ditujunya.


"Galuh Citrawani Diah Paramhita, datanglah, datanglah, datanglah pada angger Raden Bagus Saksena Sang Aryapati Jenggala, sukmamu lulut asih di hadapan telapak kaki Raden Bagus Saksena, sukmamu lulut asih pada senyum dan ucapan Raden Bagus Saksena, sukmamu lulut asih di tangan Raden Bagus Saksena...Luluh, luluh, luluh sirna pikiran dan wiwekamu di hadapan Raden Bagus Saksena ..."


Demikian mantra mereka ucapkan sebanyak 7 kali, kemudian mereka membacakan mantra guna-guna yang sama pada kain satunya, dengan menyebut nama Raden Suryapaksi agar lulut asih pada Galuh Putrika Sundari.


Lolongan anjing liar yang memilukan dari pinggir hutan menegakkan bulu roma. Keempat perempuan itu menari-nari makin cepat, kemudian tubuh mereka melesat bagaikan terbang, lenyap meninggalkan ekor api di belakang .


***


Raden Suryapaksi terbangun tengah malam itu dengan nafas memburu. Mimpi erotis yang baru saja dialaminya terasa sangat nyata dan menyiksa kelelakiannya.


Ia meminum segelas air untuk meredakan debaran jantungnya.


Tetap saja bayangan erotis itu menghantui pikiran. Senyum dan suara lembut Galuh Sundari memanggil-manggil jiwanya, sehingga akhirnya ia tidak tahan.


Bergegas turun dari pembaringan, Raden Suryapaksi meraih jubah malamnya. Tanpa membangunkan pengawal yang terkantuk-kantuk di depan pintu, Raden Suryapaksi keluar dan melangkah cepat menuju kediaman Galuh Sundari.


Ternyata para pengawal Sundari telah menunggu dan berjaga-jaga. Begitu Suryapaksi muncul, mereka segera memberi hormat dan membukakan pintu gerbang.

__ADS_1


Galuh Sundari menyambut suaminya dengan hangat dan bahagia. Ia berlari menghambur ke pelukan Suryapaksi yang merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.


"Kakanda Suryapaksi, hamba sangat merindukan kakanda..." keluh Sundari manja.


Suryapaksi mengelus rambut Sundari lalu menghirup aroma wangi rempah yang menguar dari rambut hitam lebat itu.


"Aku juga sangat merindukanmu, dinda ," desah Suryapaksi.


Bayangan erotis dalam mimpi menuntunnya untuk mencari bibir Sundari dengan bibirnya, lalu dilumat penuh nafsu. Jemarinya merambah ke dada busung Galuh Sundari yang tidak mengenakan apapun di balik kain sutra tipisnya.


Perempuan itu mengerang dan merintih, sehingga makin membakar gairah yang telah disulut dalam diri Raden Suryapaksi. Api gairahnya menyala-nyala dan membumbung hingga ke ubun-ubun.


Raden Suryapaksi meraih tubuh istrinya dengan tak sabar dan dipondong ke dalam peraduan. Mereka melampiaskan naluri yang tidak mengenal lelah semalam suntuk.


Galuh Sundari tidak menahan diri untuk menjerit-jerit erotis.


Ia telah menahan diri selama berbulan-bulan tidak disentuh suaminya. Malam ini ia membiarkan dirinya bergerak liar sejadi-jadinya mengimbangi gelora gairah suaminya yang juga beringas tidak karuan.


Paginya, pembaringan mereka kusut masai dengan tilam tertarik ke sana sini.


Raden Suryapaksi terbangun dengan wajah kuyu dan bingung. Ia melihat dirinya tanpa busana, demikian juga istrinya yang tergolek lemas tanpa sehelai benang pun di sampingnya.


Lelaki itu merasa sangat lelah dan tidak punya keinginan untuk membangunkan istrinya. Ia memakai busananya yang tercecer di lantai, kemudian kembali ke kediamannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Sepanjang hari itu ia bingung, kenapa ia begitu bernafsu untuk bercinta dengan istrinya.


Padahal saat ini fokus pikirannya sedang tercurah pada kasus-kasus berat yang belum dipecahkan.


Kedua pusaka belum ditemukan. Istri keduanya belum diselamatkan dari penculikan.


Manusia macam apa dia yang malah bersenang-senang mengumbar nafsu dengan Sundari, saat istrinya yang lain belum diketahui nasibnya?


Suryapaksi, apa yang merasukimu?


Raden Suryapaksi memukul-mukul kepalanya dengan kesal.


Sementara itu, Galuh Sundari yang ditinggal sendiri, tersenyum puas dan bahagia. Sisa sisa kehangatan tubuh suaminya masih membekas di kulitnya yang telanjang.


Ia begitu bahagia bisa mereguk manisnya bercinta setelah sekian bulan dalam kesepian dan kedinginan.


Tiba-tiba ia teringat, dan terhenyak.


"Oh Dewa, aku lupa meminum ramuan ! Aah, kenapa bisa begini?"


Galuh Sundari memijit kepalanya dengan galau dan bingung.

__ADS_1


***"""


__ADS_2