Jatukarma

Jatukarma
Bab 8


__ADS_3

Raden Suryapaksi memasuki kediaman Galuh Citrawani dengan airmuka mendung. Matanya yang tajam mencorong bak naga, dinaungi alisnya yang hitam lebat mengkerut bagai golok terbalik.


"Di mana Galuh Citrawani?" tanyanya dengan suara menggelegar pada pelayan yang menyambutnya di pintu gerbang.


"Menjawab paduka Raden, tuan putri tengah berada di ruang kelas kesehatan bersama Tabib Wong dan para pelayan."


Kelas kesehatan? Kerut di kening Raden Suryapaksi makin dalam.


"Antarakan aku ke sana!"


Pelayan memberi hormat, kemudian memimpin jalan menuju kelas kesehatan di dalam kediaman. Raden Suryapaksi bertanya-tanya, kelas kesehatan apa yang dimaksud oleh pelayan ini? Tidak lama kemudian ia telah mendapat jawabannya.


Galuh Citrawani dan Sekar serta dua orang pelayan lelaki dan perempuan lainnya, nampak tengah mengerumuni seseorang yang terbaring menelungkup. Tabib Wong tengah menjelaskan sesuatu. Suryapaksi tidak mempedulikan mereka semua. Ia terbelalak melihat seorang lelaki telanjang ditutupi sehelai selimut sedang dikerumuni mereka.


"Apa-apaan ini?" Teriaknya. Pelayan yang mengantarnya, baru saja membuka mulut untuk mengumumkan kedatangan sang Raden. Pelayan yang kikuk itu terpaksa mengatupkan rahangnya kembali.


Galuh Citrawani dan yang lain sontak mengangkat kepala, kaget . Raden Suryapaksi melangkah lebar dan menutupi punggung lelaki telanjang itu dengan sengit.


"Kamu apa-apan, Citrawani? Kenapa kamu dan para pelayanmu menonton dan menyentuh punggung seorang lelaki telanjang?"


"Hah?" Galuh Citrawani tercengang. "Kakanda Raden Suryapaksi, angin apa yang membawa kanda kemari?"


"Tidak usah basa-basi! Jelaskan ini apa? Siapa lelaki ini? Beraninya kalian berbuat hal yang tidak pantas !" Raden Suryapaksi menepuk punggung lelaki itu dengan keras. Orang itu tersentak bangun. Rupanya ia ketiduran dari tadi.


"Ada apa ini?" Raden Surya Kencana membalikkan punggung gelagapan. Ia melihat wajah marah adiknya dengan bingung, lalu memandang pada Citrawani dan yang lain-lain.


"Ah yaa, aku tadi menjadi sukarelawan untuk latihan para murid. Rupanya aku ketiduran," pangeran yang selalu ceria itu terkekeh. " Tetapi dimas, kenapa kau bangunkan aku sambil marah-marah? Aku baru saja mimpi dikerubuti bidadari."


"Hmm, kakanda...apa yang kakanda katakan? Apakah pantas seorang pangeran kerajaan telanjang punggung dan dada ditonton oleh para wanita seperti ini?" tukas Raden Suryapaksi, tidak peduli pada gerutuan kakak kandungnya.


"Kamu siapa?" tanya Raden Suryapaksi pada Tabib Wong yang masih berlutut menghormatinya.


"Dia tabib yang ahli akupuntur dan ramuan herbal timur, kakanda! Dan kami semua di sini tengah belajar ilmu kesehatan alternatif modern. Dalam ilmu kesehatan, tidak ada yang namanya pantas atau tidak pantas, kakanda! Sepanjang itu masih dalam batas lingkup kode etik kedokteran!" Citrawani yang menjawab. Dia membalas tatapan suaminya dengan tenang dan berani. Suryapaksi mendengus. Banyak sekali kata-kata Citrawani yang aneh baginya dan membuatnya makin kesal.


"Kalian semua keluar dari ruangan ini !" Perintahnya pada semua orang. Para pelayan dan tabib Wong bangkit dari lantai dan bergegas keluar ruangan. Tinggal Surya Kencana yang masih bermalas-malasan di atas tempat tidur medis.


"Kakanda!" Suryapaksi menegur dengan tegas.


"Iya, iya. Kanda pergi !" gerutu Surya Kencana sembari memakai pakaian atasnya. Setelah itu ia memalingkan muka pada Galuh Citrawani.


"Adik sepupu, jika nanti perlu sukarelawan lagi untuk ditusuk jarum, cari aku ya. Huah, badanku rasanya geli-geli enak..."


"Kakanda!" Suryapaksi memandang kakaknya kesal. Yang ditatap terkekeh-kekeh sambil melesat pergi.


"Apa maksud dari semua ini, Citra?" Suryapaksi mendekati Citrawani dengan tatapan menuntut penjelasan.


"Hamba sudah menjelaskan, kami semua sedang mempelajari akupuntur, ilmu tusuk jarum. Juga memperdalam ilmu pengobatan herbal. Sekar, Arum dan Wicaksana sudah belajar intensif selama 7 bulan lebih. Sekarang mereka tengah belajar tingkat master. Kakanda ke mana saja, sampai tidak tahu apa-apa? " sindir Citrawani.


"Beraninya kamu mengadakan kelas seperti ini tanpa persetujuan dan ijin dariku. Apakah aku masih suamimu?"


"Hmm, coba tanyakan hal itu pada diri kakanda sendiri..." Citrawani memalingkan wajahnya acuh tak acuh.


"Bagus! Beraninya kamu melawan kata-kataku! Aku akan memberimu hukuman ."


"Atas dasar apa kakanda akan menghukum hamba? "Citrawani tersenyum sinis. "Jika kanda ingin bertanya, siapa yang memberi hamba ijin untuk mendirikan kelas kesehatan, maka silahkan kanda bertanya ! Hamba akan menjawab, agar kakanda tidak sok tahu dan sok perhatian pada hamba!"


"Siapa? Siapa yang berani memberimu ijin itu?" tantang Suryapaksi.


"Ibunda Ratu, dan telah disetujui oleh Yang Mulia Ayahanda Raja." Citrawani mencibir penuh kemenangan.

__ADS_1


Raden Suryapaksi terdiam. Terasa sekali olehnya, betapa tajam kata-kata Citrawani, menohok tepat di jantungnya. Anehnya, ia merasakan ada kebenaran yang tak bisa terbantahkan dalam ucapan gadis ini. Diam-diam ia mengamati profil wajah Citrawani dari samping.


Wajah itu telah berubah, dari yang ia ingat terakhir kali, 4 tahun lalu. Dulu, ia akrab dengan wajah dan suara Citrawani kecilnya. Sekarang, rupanya gadis kecil itu sudah dewasa. Profil wajahnya terlihat sangat cantik dan elegan, tubuhnya penuh kemolekan yang menunjukkan usia dewasa. Dan kata-katanya, bukan main tajam dan beraninya !


"Ada lagi yang hendak kakanda tanyakan atau titahkan pada hamba? Kalau tidak ada, hamba hendak mohon ijin pamit, masih banyak hal yang harus hamba kerjakan."


"Tetap di tempatmu, Citrawani !"


Galuh Citrawani urung melangkah keluar. Ia menantikan ucapan Suryapaksi seraya mendongak, menatap tepat pada mata suaminya yang menjulang di hadapannya. Tangannya bersidekap, menunggu.


"Sikap apa ini? " cela Suryapaksi. "Begini caramu memandang suamimu, dengan tangan terlipat di dada dan mata menantang?"


"Hamba harus bagaimana? Semua yang hamba lakukan selalu salah ! Jika memang kakanda begitu tidak menyukai hamba, jangan datang ke sini ! Temani kakak Galuh saja selamanya !"


Suryapaksi melangkah maju, mendekati Citrawani. Dadanya menyentuh tangan Citrawani yang terlipat di depan dadanya. Jari tangan Suryapaksi menyentuh dagu gadis yang mendongak itu.


"Jadi, kamu cemburu? Karena aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan Galuh Sundari, hemm?!"


"Sejujurnya, hamba tidak peduli ! Apapun yang kakanda lakukan, hamba tidak peduli. Hamba memiliki banyak hal, hamba memiliki hidup dan cita-cita hamba sendiri, yang tidak ada hubungannya dengan kakanda!"


"Begitu? Lalu, kenapa kamu mengadu kepada ibunda, bahwa kamu selalu kesepian dan mengeluh kalau aku bersikap tidak adil padamu? Kamu ingin aku datang ke kediamanmu, bukan? Baik. Nanti malam aku akan datang, menemanimu tidur. "


Suryapaksi tidak mempedulikan wajah pias Citrawani yang terkesiap.


"Kamu merasa bahwa aku tidak adil, karena aku selalu bermalam bersama Galuh Sundari. Diriku tidak pernah tidur denganmu. Citra, sejak awal kamu sudah tahu bahwa aku hanya mencintai Sundari ! Kenapa kamu tidak sadar diri? "


"Hamba sangat sadar diri, kakanda ! Yang tidak sadar diri itu siapa? Kenapa kakanda menuduh hamba mengadu pada ibunda? Tidakkah kakanda tahu bahwa fitnah lebih kejam daripada membunuh?"


"Jika kamu tidak mengadu, kenapa ibunda memanggilku, menegur dan memarahiku? Ibunda menuntut agar aku lebih banyak menghabiskan waktu bersamamu. Ibunda ingin segera memiliki cucu !"


"Jadi, salah hamba di mana?" Citrawani bertanya dengan sabar. " Ibunda ingin segera menimang cucu. Itu adalah hal yang wajar. Setiap orangtua ingin agar putranya memberi cucu untuk meneruskan keturunan. Apa salah hamba dalam hal ini?"


"Bukan kamu yang mempengaruhi ibunda agar beliau menginginkan cucu darimu dan dariku?"


"Kamu bicara apa?" Suryapaksi tidak mengerti. Dengan curiga ia mengerutkan kening, menatap Citrawani lurus. Citrawani menoleh ke arah lain. Ia malas memandang wajah suami yang menurutnya arogan dan narsis ini.


"Yang jelas, hamba tidak terima dituduh seperti ini ! Jika kakanda tidak ingin datang ke sini, silahkan saja ! Tidak usah datang juga tidak apa-apa."


"Dan membiarkan Ibunda memarahiku lagi? Lalu nanti beliau akan melapor pada ayahanda? Huh. Nanti malam aku akan datang ke tempat tidurmu."


Suryapaksi melangkah keluar dengan cepat.


Meninggalkan Citrawani yang terbelalak dan ternganga.


"Apa katanya tadi? OMG !" Citrawani menepuk keningnya dengan bingung.


****


Malam itu Raden Suryapaksi benar-benar datang ke ruang pribadi Citrawani. Para pelayan Citrawani sudah antusias dan gembira sejak sang Raden memasuki peraduan. Sekar dan Gentini tersenyum ceria menjaga pintu depan. Mereka tidak tahu kalau majikannya duduk dengan kalut di depan meja , berhadapan dengan Raden Suryapaksi yang tengah meminum teh herbalnya.


"Hamba sudah bilang, kakanda tidak perlu memaksakan diri datang ke ruangan hamba," Citrawani berbisik. Ia tahu, pelayannya pasti sedang menguping di balik pintu. Wajah mereka terlihat begitu berbinar ketika mengundurkan diri dan menutupkan pintu.


"Kenapa? Kau takut padaku?"


Citrawani melengos. Ia telah sengaja berbisik, tetapi lelaki ini malah bersuara menggelegar. Dasar tidak peka.


"Citrawani, ayo layani aku ," Suryapaksi mengulurkan tangannya. Terpaksa Citrawani membantunya membuka jubah luarnya. Suryapaksi beranjak menuju pembaringan dan duduk.


"Kenapa kamu masih tidak ke sini?"

__ADS_1


"Hamba...hamba tidur di lantai saja... Kakanda silahkan berbaring di sana dengan tenang."


"Kamu tidak ingin menggodaku? Kamu tidak ingin membuat anak denganku?"


Merah wajah Citrawani, merah hingga ke telinganya. Ia diam saja, memandangi dinding kayu di sebelahnya yang berukir-ukir.


"Kamu sengaja bersikap dingin seperti ini, untuk menarik perhatianku?" Sekali bergerak, Raden Suryapaksi telah menjulang di depan Citrawani.


"Ti..tidak ..." Citrawani merasa agak terintimidasi dengan sosok tinggi besar Suryapaksi. "Kakanda jangan pedulikan hamba, eh ..anggap saja hamba tidak ada di sini.."


Suryapaksi meraih tubuh Citrawani lalu dilempar ke atas pembaringan. Gelagapan, Citrawani mengatur jatuhnya supaya tidak terasa sakit. Belum sempat ia berpikir, Suryapaksi telah 'hinggap' di atas tubuhnya yang terlentang. Tangan kokoh itu memegang bahunya, lutut Suryapaksi mengunci kakinya.


"Kakanda, jangan begini!" Citrawani mengernyit risi ketika jemari Suryapaksi menyusuri pipinya yang halus. Nafas panas lelaki itu menghembus di wajah Citrawani, membuat gadis itu merasa aneh dan merinding.


"Apa maksudmu? Kamu ingin mengatakan bahwa aku tidak boleh melakukan begini?" Dengus Suryapaksi.


"Tidak, tapi ini...ini .. tidak benar.."


"Apa yang tidak benar? Apa kamu bukan Citrawani, istriku?"


"Hamba..hamba tahu kalau kakanda cuma terpaksa... hamba hanya tidak ingin, kakanda lebih membenci hamba karena terpaksa melakukan ini. Hamba hanya ingin hidup dengan tenang dan damai tanpa intrik di istana ini .."


"Meskipun itu artinya, kamu harus merelakan aku hanya untuk Sundari?"


"Jika itu memang membuat kakanda bahagia, hamba rela.."


Suryapaksi tertegun. Tangannya yang masih membelai anak rambut di kening mulus Citrawani, terhenti sejenak. Kata-kata Citrawani terdengar tulus dan sungguh-sungguh. Tidak terlihat tanda-tanda gadis itu ingin sengaja menggodanya.


"Apa yang akan kamu lakukan jika aku tidak datang ke tempatmu, Citrawani?"


"Apa? Hamba tidak akan melakukan apapun, Kakanda. Hidup akan terus berlanjut, dengan kakanda datang atau tidak ! Hamba tidak harus terpuruk, menangis atau bunuh diri, bukan? Kakanda melakukan segala hal sesuai keinginan kanda. Hamba juga melanjutkan semua keinginan dan cita-cita hamba untuk menjadi orang yang berguna bagi rakyat. Cukup adil, bukan?"


Suryapaksi melepaskan Citrawani. Ia kembali ke tempat duduk. Sesekali ia mengamati Citrawani sambil mencerna kata-kata gadis itu.


"Adilkah aku untukmu, Citra?" tiba-tiba sang pangeran mahkota menanyakan hal itu. Citrawani tertegun mendengarnya.


"Adil? Untuk saat ini, hamba merasakan cukup adil. Karena kakanda mencintai kakak Galuh, wajar jika kakanda selalu lebih mengutamakannya dan ingin ada di dekatnya."


"Apakah itu menyakitimu?"


"Untuk saat ini tidak."


"Kenapa?"


"Sama seperti kakanda yang tidak mencintai hamba, maka hamba pun, maaf, belum mencintai kakanda."


"Tetapi waktu kecil kamu selalu mengatakan, bahwa suatu saat nanti kamu hanya akan memilihku sebagai suami. Dan bahwa kamu hanya mencintaiku." Suryapaksi menatap Citrawani yang menjadi tercenung.


"Mungkin dulu memang begitu, kakanda, tetapi hamba sudah tidak ingat apapun. Bukankah kakanda telah maklum kalau hamba menderita amnesia penuh?"


Kini giliran Suryapaksi termangu.


Jika Citrawani memang benar, maka pemahamannya selama ini keliru.


Dengan tenang, Raden Suryapaksi meraih jubahnya. Ia memakai jubah itu, lalu menoleh pada Citrawani.


"Citra, aku akan kembali ke istana diam-diam, agar tidak ada yang tahu. Kamu tidur saja saja pura-pura sudah melayaniku. Kelak, kita masih akan berbicara lagi. Kuharap nanti semakin banyak lagi yang bisa kita perbaiki."


Dengan langkah lebar, pangeran mahkota membuka jendela, lalu melesat keluar tanpa suara.

__ADS_1


Diam-diam Citrawani merasa lega. Sungguh ia tidak siap untuk melayani suami yang belum dikenalnya dengan baik. Suami yang dianggapnya arogan dan narsis. Dengan lega ia membaringkan diri, lalu terlelap dengan cepat .


********


__ADS_2