
Istana Jenggala dibangun dengan arsitektur yang elegan dan indah.
Tiap bagian istana memiliki taman-taman bunga yang luas. Kolam ikan hias maupun kolam mandi dihubungkan dengan jembatan kayu. Di atas kolam ikan selalu dibangun pergola untuk peristirahatan para bangsawan.
Sudah enam purnama Galuh Citrawani tinggal di salah satu istana megah ini.
Selama ini ia hanya melakukan latihan asana yoga dan meditasi untuk mengisi kekosongan hatinya. Kadang ia berlatih olah kanuragan di taman bunga di belakang istana yang ia tempati.
Sering pula ia berkeliling di taman yang luas itu, memetik beberapa tanaman herbal untuk dimasak sendiri.
Dua orang pelayan pribadi yang ditugaskan untuk melayani, tidak pernah jauh dari sisinya. Demikian juga satu pasukan pengawal yang tidak pernah lepas dari penjagaan.
Tidak main-main, Bagus Saksena menempatkan jago-jago paling tangguh untuk menjaga kediaman tamu istimewa dari Daha itu.
Pangeran mahkota itu seringkali menyambangi Galuh Citrawani.
Berkali-kali ia meminta Galuh Citrawani untuk bersedia dinikahi. Tetapi gadis yang telah mengubah namanya menjadi Citra Kartika itu selalu menanggapi dingin.
Terkadang muncul niat jahatnya untuk memaksa putri Daha itu menjadi selir, tetapi dipatahkan oleh keraguan hatinya sendiri.
"Mengapa kakanda segan menghadapi Citra Kartika? Dia hanya seorang wanita. Sampai mana kekuatannya jika kakanda memaksanya? Atau...jangan-jangan kakanda jatuh cinta padanya?" seorang adik sepupunya pernah menggoda sang Raden.
"Mungkin...aku jatuh cinta padanya..." kata Bagus Saksena lesu.
"Hah? Kakanda tidak main-main...?" sang adik sepupu terperangah.
"Tidak, Ragaparna... Aku tidak main-main. Perasaanku bukan permainan. Aku tidak sanggup untuk memaksa atau melakukan kekerasan padanya. Hatiku sudah bertekuk lutut di hadapannya.." kata Bagus Saksena resah.
Ragaparna ternganga.
"Kakanda benar-benar tidak main-main...tapi kenapa harus jatuh cinta padanya? Selama ini sudah banyak gadis dan wanita cantik yang menyembah dan mengemis cinta kakanda.. Kenapa kakanda harus jatuh cinta pada seorang tawanan ?"
"Aku tidak tahu. Aku juga tidak mengerti mengapa perasaanku menjadi begini. Mungkin ini yang dinamakan karma .. "
" Kakanda percaya pada karma?"
"Aku percaya. Semua hal jahat yang pernah aku lakukan, aku tahu suatu saat pasti akan ada masanya untuk ketemu pala karma! Mungkin ini salah satu yang aku terima !"
Bagus Saksena memegang erat pisau yang ia gunakan untuk berlatih, lalu melemparnya pada sebuah pohon. Pisau itu menancap dengan telak di tengah batang pohon.
"Seperti pisau itu, Ragaparna. Karmapalaku ini menancap tepat di hatiku, dengan nama cinta!"
"Menakjubkan ! Hamba tidak pernah terpikir kalau suatu saat akan ada masanya kakanda menjadi budak cinta !" Ragaparna berdecak kagum.
__ADS_1
"Ini bukan suatu prestasi, Ragaparna ! Kamu tidak usah membuatku kesal," Bagus Saksena mengerutkan keningnya.
Ragaparna terkekeh.
Kedekatannya dengan calon penguasa Jenggala itu sudah dimulai sejak kanak-kanak. Mereka dibesarkan dan tumbuh bersama-sama di istana Jenggala. Itu sebabnya ia tidak pernah takut untuk menggoda kakak sepupu terdekatnya itu.
"Kalau kakanda tidak sanggup memaksanya dengan kekerasan, maka gunakanlah kekayaan dan kedudukan kakanda, serta kelembutan dan kasihsayang. Seorang wanita tidak akan mampu menahan semua godaan itu sekaligus. Sekeras apapun hatinya, suatu saat pasti akan meleleh juga. " tutur Ragaparna.
"Sejak kapan kamu mengambil alih pekerjaan ahli sastra kerajaan ini?" Bagus Saksena mendengus.
Ragaparna kembali terkekeh.
"Kalau kamu ada kemampuan untuk menggombal, tulislah kisah sastra asmaradana. Kamu cuma koar-koar di hadapanku, tetapi kamu sendiri juga belum ada kekasih hati!" ketus Bagus Saksena.
"Hamba menunggu kakanda untuk menikah lebih dulu, bukankah kakanda lebih tua dari hamba?" Ledek Ragaparna.
"Bibi Ratu sudah sering berkeluh kesah, kapan kakanda akan memberi beliau seorang mantu. Itu sudah ada seorang bidadari, tinggal sambar saja, susah sangat ! Pangeran kok kalah sama tawanan ..."
Bagus Saksena meraih sebutir jambu air dari atas meja. Sepupunya tahu gelagat. Ia segera melesat kabur sebelum ditimpuk oleh sang Pangeran yang sedang galau.
Setelah sepupunya menghilang, Bagus Saksena menghela nafas. Mungkin perkataan Ragaparna terkesan ngawur, tapi tidak ada salahnya untuk dicoba.
Harta, kedudukan, kelembutan dan kasih sayang. Wanita mana di dunia ini yang tahan dengan godaan itu semua?
Bagus Saksena memandang jambu air yang tak jadi dipakai menimpuk Ragaparna. Buah itu berwarna merah menggoda, seperti bibir ranum seorang gadis yang masih muda.
..............
Citra Kartika membuat teh herbal untuk memperkuat tubuhnya. Berbagai daun dan bunga yang telah dikeringkan diseduhnya, lalu ia duduk menikmati udara senja yang dingin.
Istana Jenggala selalu terasa sejuk, mungkin karena pusat pemerintahan ayahanda Bagus Saksena ini dibangun tidak jauh dari pegunungan.
Kedua pelayan yang disediakan untuknya, menghidangkan sepiring makanan kecil yang terbuat dari tepung beras.
"Nona Citra, ini kue talam nangka dan kelapa muda, penganan kesukaan pangeran. Pangeran mengirimkan kue ini untuk nona." Kata Kasni si pelayan.
"Terimakasih."
Dengan santai Citra mengunyah kue talam yang lembut dan manis itu. Ia merindukan rasa manis dari brownis dan coklat hangat kesukaannya. Tetapi di dunia kuno ini, mana ada barang-barang seperti itu.
"Boleh duduk di sampingmu?" sebuah suara yang dalam tidak membuat Citra menoleh.
Gadis itu sudah hapal dengan si pemilik suara berat yang khas itu. Ia hanya mengangguk sambil terus mengunyah, lalu meneguk teh herbalnya.
__ADS_1
"Kue talamnya enak." ujar Citra jujur. "Di tempatku dulu, orang bikin kue talam pakai santan kelapa. Di sini pakai kelapa muda. Rasanya lebih manis dan legit."
Semanis dan selegit bibirmu, bathin Bagus Saksena menggila.
"Jika kamu suka, aku akan mengirimkan kue ini setiap hari untukmu."
"Tidak usah. Aku tidak mau makan makanan manis tiap hari. Bisa bikin tubuh cepat melar dan berlemak, kau tahu?" tolak Citra.
"Ohya? Tapi tubuhmu tidak berlemak. Hmm, ada lemaknya sedikit, tapi di tempat-tempat yang tepat. " Tanpa sengaja, mata Bagus Saksena otomatis melirik tempat-tempat yang ia maksudkan.
Wajah Citra memerah karena jengah.
"Perhatikan bahasamu, juga netramu , Pangeran !" tegurnya kalem. Ia merasa jijik, seolah pandang mata Bagus Saksena menggerayangi dada dan pinggulnya.
Bagus Saksena tersadar. Dengan cepat ia memalingkan wajahnya sambil menggumamkan maaf.
Citra menyilangkan kakinya dengan cuek, sambil bertopang dagu ia melihat kejauhan dengan mata menerawang.
"Kebetulan pangeran datang ke sini. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu ."
"Apa gerangan yang ingin gadis jelita ini bicarakan denganku?" Bagus Saksena memutar tubuhnya untuk menatap Citra yang duduk agak jauh di sebelahnya.
"Sudah enam bulan aku di sini, Pangeran. Aku rasa, adikmu sebentar lagi sudah melahirkan seorang penerus untuk Panjalu."
"Ya, dua bulan lagi Sundari melahirkan." Sahut Bagus Saksena.
"Kupikir, Pangeran pasti sudah merasa bahwa kedudukan adikmu sudah cukup aman, bukan?" tanya Citra. Kali ini ia memandang pada wajah Bagus Saksena sambil tersenyum sinis.
Bagus Saksena terdiam. Ia masih mencerna ke mana arah pembicaraan gadis cantik itu. Dibalasnya tatapan Citra dengan lembut
"Hmm, ke mana arah pembicaanmu, gadisku?"
"Berhenti memanggil aku gadismu !" Citra merengut kesal.
Bagus Saksena memang sering menyebutnya dengan panggilan yang bagi gadis itu sangat menggelikan. Gadisku, Tuan putriku, Kesayanganku.
"Kenapa? Bukankah kamu memang tamuku, tuan putriku, gadis kesayanganku yang istimewa !" Bagus Saksena malah tersenyum-senyum menggoda.
"Baiklah, kalau begitu kau pergi saja! Aku tidak jadi berbicara denganmu !"
"Oh, baiklah, baiklah ! Aku menyerah. Nona Citra Kartika yang tegas, apa gerangan yang hendak nona bicarakan denganku?" tanya Bagus Saksena lagi dengan masih tersenyum.
"Aku ingin pergi !" kata Citra pendek. Pandangannya jauh menerawang, menembus pepohonan yang teduh.
__ADS_1
........
********