Jatukarma

Jatukarma
Bab 53


__ADS_3

Citra Kartika melirik Bagus Saksena. Sedikitpun konsentrasinya tidak terganggu meskipun lelaki itu fokus memandangnya tanpa berkedip. Ia memaparkan proposal tender kerjasama yang akan disinergikan dengan proposal dari pihak perusahaan Prawira Ltd.


"Untuk pemaparan masalah perijinan, saya serahkan pada legal konsultan kami. " Pungkas Citra Kartika, lalu duduk kembali di kursinya.


Ia meneguk air putih dingin yang disediakan di atas mejanya.


Setelah meeting selesai, Bagus Saksena menghampiri Citra Kartika.


" Presentasi yang hebat ." puji Bagus Saksena sambil memegang gelas air putihnya.


"Terimakasih. Setidaknya, basa-basi dulu lah sebelum memuji."


"Kenapa?"


"Karena sebelum ini, Pak Bagus Saksena sudah kadung menganggap saya kurang waras ."


Bagus Saksena hampir tersedak.


"Kok bisa tahu? " Raut wajah tampan itu tiba-tiba menjadi seperti orang yang lugu dan polos.


Citra Kartika tersenyum geli.


"Tatapan mata anda terlalu terus terang. Anak kecil pun pasti bisa membaca pikiranmu ."


"Sejelas itukah?"


"Hmm."


Citra Kartika melangkah keluar dari ruang presentasi, diekori oleh Bagus Saksena.


Entah kenapa, gadis itu seperti memancarkan medan magnet yang menarik lelaki itu untuk mendekat dan mengikutinya.


"Citra !" panggil Bagus Saksena.


Gadis itu berhenti dan menunggu Bagus Saksena berdiri di hadapannya. Lelaki itu menatap Citra Kartika dengan sungguh-sungguh.


"Aku minta maaf jika sebelumnya pernah berburuk sangka padamu ." kata Bagus Saksena tulus.


"Hmm..memang, aku akui jika perkataanku pasti akan disalahpahami oleh orang-orang . Tetapi, aku mantan pimpinan reserse, dan aku tidak pernah berkata bohong ! " Citra Kartika berkata tegas. "Aku sangat, sangat mengenalmu di kehidupanmu yang dahulu. Jika kamu percaya reinkarnasi, by the way."


Senyum gadis itu tersungging manis.


Bagus Saksena tiba-tiba berpikir, kenapa gadis itu pelit sekali memamerkan senyum yang seindah matahari pagi ini.


"Apakah aku dan kamu adalah orang yang dekat di kehidupan yang lalu?" tanya Bagus Saksena .


"Boleh dibilang, hubungan kita sangat unik di jaman dahulu.."


"Seunik apa? Apakah kita adalah sepasang suami istri?" tanya Bagus Saksena asal-asalan.


"Modus !" Citra Kartika terkekeh. "Aku tidak akan menceritakan hal-hal yang hanya dongeng bagi orang lain. Apalagi, aku sendiri juga tidak mengerti mengapa aku mendapat eksperience tentang masa laluku."


"Kapan kamu mendapat eksperience itu?"


"Saat aku koma. Entahlah, saat itu aku sebenarnya sudah mati ataukah masih hidup. Aku benar-benar merasa hidup di dalam badan orang lain di masa lalu."

__ADS_1


Bagus Saksena percaya dengan kata-kata Citra Kartika.


Entah kenapa, intuisinya mengatakan gadis bermata bening ini layak untuk mendapatkan kepercayaannya.


Dia gadis yang lugas, penuh percaya diri dan tidak manipulatif. Rasa percaya dirinya terpancar dari dalam diri, bukan dari outfit yang dia kenakan.


Tidak seperti seseorang, yang mengandalkan brand dan skincare untuk mendongkrak harga dirinya.


Hufff ! Kenapa pula harus mengingat perempuan maniak sejagat itu. Merlyn Marlina.


"Bisakah kita makan siang bersama, Citra?" Bagus Saksena menawari gadis yang masih berdiri di hadapannya dengan tenang.


"Maaf, Bagus. Aku sudah ada janji makan siang dengan adikku. Apa kamu mau ikut makan siang bersama kami ?" sahut Citra balik menawarkan.


"Tentu saja, kalau Harris nggak keberatan ."


" Aku rasa dia nggak apa-apa kalau kamu ikut gabung."


"Baiklah. Di mana tempatnya?"


"Kampoeng Soenari."


"Kamu ikut di mobilku aja, Citra. Biar nanti pulangnya kita bisa membicarakan kerjasama kita lagi .." Bagus Saksena memandangnya penuh harap.


"Mmm, baiklah. Nanti supir ayah aku suruh balik aja. "


Harris tiba-tiba mengirim chat pada kakaknya. Ia tidak bisa makan bareng karena dosen pembimbing tiba-tiba memintanya untuk meeting.


"Yah, si Harris malah ga jadi ikut makan ..." keluh Citra Kartika.


"Modus !"


Mereka tertawa bersama.


******


Citra Kartika menoleh ketika bajunya tiba-tiba ditarik orang dari belakang di parkiran rumah makan.


"Puas kamu merebut pacar orang?" Teriak orang yang menarik bajunya .


Bagus Saksena membuka pintu mobil, segera bergegas menghampiri.


"Merlyn ! Jangan kurang ajar kamu !" desis lelaki itu dingin.


"Mas Bagus, kamu hempaskan aku demi wanita seperti dia? Kamu campakkan aku karena dia?"


"Udah, kamu ngga usah banyak drama . Ngga usah putar balik fakta juga. Dia bukan gadis manja yang akan termakan sandiwaramu. Lebih baik kamu menyingkir dan jangan permalukan dirimu lebih jauh."


Suara Bagus Saksena yang sedingin es, menciutkan nyali Merlyn.


Merlyn ingin mempermalukan gadis yang berani-beraninya jalan dengan mantan calon suaminya. Tidak disangkanya, gadis itu hanya berkelit sedikit sudah mampu menghindar dari cakaran-cakarannya. Dan hanya menatapnya geli, tanpa terintimidasi sama sekali.


"Awas kamu !" sebelum pergi, Merlyn masih sempat mengacungkan jari tengah pada Citra Kartika.


" Pffttt..." Citra Kartika menahan senyum geli. Gadis berambut pirang itu terlihat lemah dan ringkih, sempat-sempatnya mengancam dirinya.

__ADS_1


"Kamu ngga apa-apa, Citra?" tanya Bagus Saksena.


"Enggak ."


"Maaf ya, aku nggak nyangka wanita itu akan berani menyerangmu."


"Hihihi..."


"Kenapa? Apanya yang lucu?"


"Kamu apain gadis itu ? Hingga sebenci itu pada setiap wanita yang jalan denganmu ?"


"Bukan aku ." bantah Bagus Saksena.


"Lalu?" tanya Citra Kartika.


Mereka telah duduk berhadapan di dalam rumah makan. Citra mengucapkan terimakasih pada pelayan yang menuangkan air putih untuknya.


Gadis yang cukup sopan dan rendah hati. Berbeda dengan Merlyn, yang selalu bersikap elegan di manapun. Batin Bagus Saksena.


"Hei, kenapa bengong? Melotot gitu pula padaku. Ada lalat nemplok di pipiku?" tegur Citra Kartika.


"Hmm... nggak ada sih .."


"Kenapa bengong? Kamu ingat gadis tadi ?"


"Nggak juga. Dia nggak pantas buat dikenang. Kelakuannya minus banget. Berkhianat dengan orang banyak ."


"Oh My God.. Bagus, tahukah kamu? Finally you got your karma !" Citra Kartika terkekeh geli.


"Eh, apa maksudmu? Haloo, Kamu tertawa di atas penderitaan orang lain !" protes Bagus Saksena.


"Maaf, maaf, aku bukannya mentertawakanmu ..." Citra Kartika susah payah menelan tawanya.


Wajahnya memerah dan ada binar-binar cemerlang di mata indahnya. Bagus Saksena terpesona.


"Oke, melihat wajahmu yang cantik, aku maafkan ! " Bagus Saksena tersenyum.


"Dasar !"


"Tapi apa maksudmu mengatakan kalau ini karmaku? Aku belum pernah mengkhianati wanita manapun di dunia ini."


"Di dunia ini memang tidak. Tetapi di dunia masa lalu, kamu adalah seorang playboy tingkat neraka yang telah merusak banyak wanita." kata Citra Kartika serius.


Bagus Saksena melongo.


"Benarkah?"


"Benar. Karena itu jangan terlalu menjudge kesalahan orang lain, karena kita tidak tahu hutang karma seperti apa yang harus kita bayar. Mungkin saja gadis tadi adalah salah satu dari wanita-wanita yang pernah kamu sakiti di kehidupanmu yang lalu. Jadi, jangan terlalu benci padanya !"


Bagus Saksena terpana menatap Citra Kartika. Ia takjub ketika merasakan beban kebencian di dalam dadanya, pelan-pelan terangkat oleh kata-kata Citra Kartika.


"Suhu, tolong angkat aku jadi muridmu !" katanya kocak.


"Jangan konyol ah !" Citra Kartika melengos sambil menahan tawa.

__ADS_1


*****


__ADS_2