
Di istana Daha, Galuh Citrawani menuruti petunjuk yang diberikan adiknya dengan teliti.
Ia melakukan meditasi untuk membersihkan jalur energinya. Setelah itu ia menyalurkan energi penyembuhan pada Raden Suryapaksi, dengan dituntun mata bathin Nareswara.
Seminggu berlalu. Raden Suryapaksi terlihat sehat seperti semula.
Saat itulah utusan raja datang , membawa berita rahasia tentang hilangnya dua pusaka, kepada Adipati Daha dan Raden Suryapaksi.
"Aku harus kembali ke kotaraja, Paman !" putus Raden Suryapaksi ketika berunding dengan Adipati Daha, Citrawani dan Nareswara.
"Sebaiknya memang begitu, Raden. Jika perlu, bawalah Nareswara bersamamu untuk menyelidiki hilangnya pusaka itu ," Adipati Daha menyarankan.
"Kalau dimas Nareswara menyertai kakanda ke istana, biarlah hamba tinggal di Daha sementara waktu, sampai Ibu benar-benar sembuh ," Citrawani memandang Raden Suryapaksi dengan tatapan memohon.
Suaminya balas memandang. Dua mata saling mengunci dengan seribu bahasa. Akhirnya Raden Suryapaksi mengangguk setuju.
"Baiklah. Dinda boleh tinggal di sini selama seminggu untuk merawat bibi. Setelah itu, aku akan mengirim pengawal untuk menjemputmu kembali ke istana ."
"Terimakasih, kakanda !" Tanpa disadari, Citrawani memegang tangan suaminya erat-erat, didorong oleh rasa terimakasih.
Raden Suryapaksi mengangguk. Ia melihat pada tangan halus dan putih Citrawani yang menggenggam tangannya.
"Situasi di istana sedang tidak baik. Ayahanda pasti sangat cemas dan gelisah. Aku harus pulang secepatnya, hari ini juga. Dimas Nareswara, berkemaslah secepatnya. Kita akan berangkat siang ini juga !"
"Baik, Raden !"
Kediaman Adipati Aryawisena sibuk mempersiapkan kepergian Raden Suryapaksi dan Nareswara. Sebagian besar pengawal ikut kembali bersama mereka.
Pada siang yang terik itu, rombongan Raden Suryapaksi berangkat bergegas menuju kotaraja.
****
Jauh di pinggiran hutan, di dusun tepi hutan terpencil, seorang perempuan muda terikat kaki tangannya di sebuah pondok. Mulutnya disumpal dengan kain.
Dia adalah Puspasari, si Corah Caturupa simpanan Bagus Saksena.
Beberapa orang lelaki berpakaian hitam berkacak pinggang di hadapan perempuan yang terlihat lemah itu.
"Racun mayat pelemah tulang yang kami berikan itu, tidak akan membunuhmu. Racun itu hanya cukup untuk menghilangkan semua kemampuanmu. Kamu tidak akan bisa lagi mengerahkan tenaga dalam. Ilmu meringankan tubuhmu yang hebat itu juga sudah punah. Kamu sekarang hanya perempuan lemah biasa." Si pemimpin pasukan hitam itu menerangkan dengan suara dingin.
"Uughh..." Puspasari melenguh seraya menatap lelaki itu dengan mata menyala.
"Sudah begini kamu masih sombong!" Salah satu di antara delapan lelaki itu membentak.
"Meskipun kamu cantik, itu tidak cukup untuk modal menjadi selir pangeran penerus tahta Jenggala. Pendamping Raden Saksena, meskipun cuma selir, haruslah gadis bersih dan berasal dari trah bangsawan."
"Lah, kamu siapa? Kamu hanya seorang perempuan dari kalangan rakyat jelata, pekerja seni di rumah bordil, pelayan para lelaki hidung belang ! Meskipun kamu adalah maling terkenal itu, Corah Caturupa, yang konon bisa menyamar menjadi apa saja. Kamu tetap tidak lebih hanya seorang perempuan lacur !"
Puspasari menatap orang yang terakhir bicara itu dengan kaget. Suara orang bertopeng hitam itu, adalah suara perempuan ! Badannya yang tinggi itupun terlihat lebih ramping daripada kawanannya yang rata-rata bertubuh tegap dan gempal.
"Ugh, ugh..."
__ADS_1
"Raden Saksena masih berbelas kasihan padamu ! Mengingat jasamu, beliau masih mengampuni nyawamu. Tetapi ingat, jangan pernah berani untuk menampakkan wajah jalangmu itu di hadapan Raden Saksena ! Sekali saja kami bertemu kembali denganmu, itu artinya mati !" Perempuan bersuara galak itu membalikkan tubuhnya.
"Kalian yang tertarik dengan tubuh perempuan itu, silahkan nikmati ! Kacaukan saja benih Raden yang sudah telanjur ditumpahkan di rahim busuknya itu !"
Puspasari terbelalak, ketika tujuh lelaki bertopeng yang bertubuh besar dan gempal itu mendekatinya.
Si perempuan bertopeng duduk dengan tenang di luar pondok. Senyum kejam tersungging di bibirnya ketika ia mendengarkan suara-suara aneh yang dikeluarkan oleh ketujuh rekannya. Ia hapal dengan kelakuan teman-temannya. Mereka pasti menggarap perempuan tawanan di dalam pondok itu dengan beringas.
Hari telah hampir pagi, ketika akhirnya pasukan orang-orang bertopeng hitam itu meninggalkan pondok di tepi hutan itu. Meninggalkan Puspasari yang tergolek pingsan dengan pakaian terkoyak di sana sini dan darah mengalir dari luka-luka di sekujur tubuhnya.
******
Dusun yang dimasuki Raden Surya Kencana hanyalah dusun kecil terpencil. Gurunya memberi perintah untuk turun gunung setelah selama dua minggu dia digembleng untuk menerima pembukaan jalur tenaga dalam yang lebih tinggi.
Seharian perjalanan yang telah ditempuh, dia lalui dengan makan buah hutan seadanya.
Memasuki dusun kecil itu, Raden Surya Kencana yang merasa lapar, mencari sebuah warung . Akhirnya ia menemukan sebuah kedai makan kecil yang sangat sederhana di tengah dusun.
Pemilik warung dan orang-orang dusun melihat kedatangan Raden Surya Kencana dengan seksama. Dari atas ke bawah, mereka meneliti pemuda tampan yang berpakaian lumayan bagus untuk ukuran orang dusun, meski sebenarnya Raden Surya Kencana memakai pakaiannya yang paling sederhana.
Tanpa mempedulikan tatapan mata orang-orang dusun itu, Surya Kencana duduk di bangku sederhana dan memesan makanan yang paling mahal.
Nasi putih yang masih panas mengepul dengan daging ayam kampung ungkep dan lalapan sayur bayam rebus ditambah sambal terasi pedas terhidang di depan Raden Saksena. Tanpa basa basi lagi, Surya Kencana menyikat semua hidangan itu hingga ludes. Setelah itu ia duduk santai menyandar pada dinding papan warung sembari sesekali meneguk wedang jahe.
Anak gadis pemilik warung dengan malu-malu membereskan bekas makan Surya Kencana. Wajah gadis itu bersemu merah ketika pemuda tampan itu tersenyum padanya sambil mengucapkan terimakasih.
"Nona, berapakah semua harga makanan ini?" Surya Kencana bertanya. Gadis manis itu menyebut harga. Surya Kencana menyodorkan sejumlah uang yang jumlahnya jauh melebihi harga makanan yang disebut gadis itu.
"Ini terlalu banyak, tuan !" si gadis hendak mengangsurkan kembali sebagian uang itu ke tangan Surya Kencana, tetapi ditolak oleh pemuda itu.
Si nona mengucapkan terimakasih dengan tersipu-sipu.
Beberapa pemuda yang juga tengah makan minum di situ, kasak kusuk. Salah seorang yang nampaknya paling keren di antara mereka, bangkit berdiri dan menyapa Surya Kencana dengan menganggukkan kepala.
"Maaf saudara siapa, berasal dari mana dan hendak ke mana?" Pemuda itu bertanya pada Surya Kencana. Nada suaranya kasar, meskipun kata-katanya sopan.
"Hehehe, saya hanyalah pengembara yang kebetulan lewat... Saya bukan orang penting," jawab Surya Kencana cengar cengir.
"Saudara, ini adalah wilayah dusun kami. Keamanan dusun ini adalah tanggungjawab kami ! Jadi tolong saudara menjawab pertanyaan kami, atau saudara kami curigai hendak membuat kekacauan di dusun kami !"
Surya Kencana tercengang. Sedetik kemudian ia tertawa geli.
"Kerusuhan macam apa yang bisa dilakukan pemuda biasa seperti saya? Baiklah, kalau memang harus berkenalan. Nama saya Surken, saya berasal dari ibukota Panjalu. Habis mengembara ke mana-mana dan sekarang mau pulang kembali ke Panjalu. Cukup segitu perkenalannya? Atau mesti dikenalkan juga nama orangtua dan kakek nenek serta tetangga saya?"
Para pemuda itu saling pandang. Mereka mengacuhkan kelakar pemuda itu. Seorang pemuda tampan yang berasal dari kota besar, berkeliaran di dusun terpencil seperti dusun mereka, benar-benar mencurigakan.
"Saudara Surken, sebaiknya saudara mengikuti kami ke rumah kepala keamanan dusun ini! Kami ada beberapa hal yang ingin ditanyakan kepada saudara, karena di dusun ini telah terjadi suatu kasus tepat saat anda muncul di sini !"
"Wah, repot ini !" Surya Kencana menggaruk kepalanya yang tidak gatal. " Benar-benar sial ini ! Seharian cuma makan buah hutan, begitu bisa makan enak, eehh malah ketemu kasus .... nasib, nasib..."
Meskipun sambil menggerutu, Surya Kencana menurut diajak ke rumah kepala keamanan. Toh dia tidak tergesa untuk kembali ke ibukota.
__ADS_1
Dibiarkannya petugas keamanan dusun menginterogasinya dengan berbagai pertanyaan, hingga akhirnya Surya Kencana mengeluarkan stempel Daha yang pernah diberikan Nareswara.
"Sebenarnya saya adalah petugas dari Daha. Saya diutus oleh Adipati Daha untuk mencari dan mengawal putranya yang hilang. Jika kalian masih menahan saya di dini, jangan salahkan jika saya bertindak !" gertak Surya Kencana.
Dia terpaksa berbuat begitu, karena penduduk dusun itu tidak membiarkannya pergi.
Para petugas keamanan dusun beserta para pemuda dan penduduk yang berkumpul, tersentak kaget. Dengan sedikit gemetar, kepala dusun meminta maaf atas sikap mereka, lalu menjelaskan kenapa mereka bersikap begitu curiga terhadap pendatang.
"Kemarin ditemukan seorang perempuan muda yang nampaknya telah diperkosa dan disiksa, lalu dibuang di tepi hutan. Karena dusun ini terpencil, terletak di tengah hamparan sawah dan kebun yang luas, berbatasan dengan hutan. Maka bisa disimpulkan bahwa perempuan itu memang sengaja dibuang di sini agar tidak bisa diusut oleh pihak yang berwajib.." kepala dusun menjelaskan.
"Perempuan muda disiksa?" Raden Surya Kencana mengerutkan keningnya.
"Benar, tuan. Keadaannya sungguh memprihatinkan. Kini dia sedang dirawat di rumah kami," kata kepala dusun.
Surya Kencan memutuskan untuk melihat keadaan perempuan itu.
Ketika mereka sampai di rumah kepala dusun, Surya Kencana melihat perempuan yang masih pingsan dengan kondisi mengenaskan itu. Tangan kanan dan kakinya patah, wajahnya bengkak, sekujur tubuhnya dibalut kain dan masih terlihat bekas-bekas penyiksaan yang diterimanya.
Surya Kencana menggeleng-geleng tidak tega.
Ditotoknya beberapa jalan darah perempuan itu. Diambilnya obat penyambung tulang dari buntalan yang selalu dibawanya kemana-mana. Ia meminta seorang pemuda mencarikan bilah kayu yang lurus. Setelah membalurkan obat penyambung tulang di tangan dan kaki yang patah, disangga dengan kayu dan dibebat kain bersih.
Kepada istri dan anak gadis kepala dusun, Surya Kencana memberikan beberapa obat .
"Ini obat minum untuk mencegah peradangan dan demam. Jika obat ini habis, tolong dibuatkan obat rebus sesuai resep ini. Apakah desa ini memiliki tanaman rempah-rempah?" Surya Kencana menyebutkan beberapa nama obat yang diiyakan oleh para penduduk .
Sampai sore Surya Kencana masih sibuk mengobati perempuan pingsan itu. Hingga akhirnya perempuan itu siuman.
Perempuan nahas itu menatap orang yang mengobatinya dengan pandangan yang sulit diartikan. Airmata menetes di sudut matanya yang bengkak.
"Te..rima..kasih..." katanya terbata-bata.
"Sama-sama, saudari. Anda terluka parah. Siapakah yang melakukan hal ini kepada anda? Biar kami laporkan pada pihak yang berwenang," Surya Kencana berkata.
Perempuan itu terdiam. Hanya air matanya yang masih menetes-netes jatuh ke pipi.
"Saya...saya...ti ..dak .i..ingat ..tuan.."
"Oh, begitu.." Surya Kencana mengerutkan dahinya. "Siapakah namamu? Apakah kamu masih ingat? Dan darimana asalmu?"
Perempuan muda itu berusaha menggeleng . Gerakannya kaku dan nampak ia meringis kesakitan .
"Kasihan sekali..." gumam Surya Kencana. Gadis anak kepala dusun datang membawakan semangkok bubur encer. Dengan sabar, gadis itu menyuapi perempuan yang terlentang di tempat tidur.
Perempuan itu, Puspasari, menelan bubur yang disuapkan padanya dengan getir. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Terlebih lagi hatinya.
Tidak pernah ia sangka, Bagus Saksena begitu keji kepadanya. Menyuruh bawahannya untuk menyiksa dan membuangnya, setelah misinya selesai.
Lelaki yang ada di depannya, memandangnya dengan tatapan kasihan.
Si perempuan makin merasa terpuruk.Ia yang seumur hidup dipuja dan dirindukan para lelaki petinggi dan pejabat Hujung Galuh, kini tergeletak tak berdaya dan terhina.
__ADS_1
Hatinya sangat terluka .
****