Jatukarma

Jatukarma
Bab 43


__ADS_3

Penyerbuan yang dipimpin oleh Raden Nareswara dan Panglima Warawi ke perbatasan Jenggala - Malawapati, berhasil memporak porandakan pasukan pendam yang disembunyikan oleh kelompok Kelelawar Maut.


Prajala melarikan diri bersama beberapa pimpinan perkumpulan. Meninggalkan anak buahnya yang hancur binasa.


Penyerbuan selama seminggu itu lalu dilanjutkan hingga ke perguruan Pasir Hitam di pantai selatan. Perguruan yang sejatinya dikendalikan oleh Panglima Narjuman, mantan panglima Malawapati yang menyamar menjadi tuan tanah itu hancur.


Para prajurit kocar-kacir. Tuan Narjuman beserta menantu dan besannya gugur di medan perang di tangan Naresawara.


Sorak sorai pasukan yang menang perang terdengar sampai jauh .


Panglima Warawi dan Raden Nareswara melarang para prajurit melakukan pengerusakan di sepanjang desa yang mereka lewati. Para prajurit bersikap santun . Tidak ada yang mengganggu gadis dan wanita muda di daerah yang kalah perang.


Hal itu menerbitkan rasa simpati di hati rakyat. Sepanjang jalan mereka menunduk hormat ketika pasukan prajurit Panjalu - Daha melewati desa.


Di perbatasan kadipaten Daha, pasukan berpisah. Pasukan Panjalu melanjutkan perjalanan, sedangkan pasukan Daha kembali ke markas masing-masing.


Nareswara mendapat cuti untuk sementara waktu. Kedua orangtuanya sudah mendesaknya untuk segera melangsungkan pernikahan dengan putri perdana menteri Panjalu, Dyah Harini.


Saat itu bertepatan dengan kehadiran Bagawan Wistara, Surya Kencana dan Citrawani di Daha. Kedatangan mereka disambut meriah dan gegap gempita.


Setelah ritual penyambutan selesai, Bagawan Wistara mengajak adik dan iparnya untuk berbicara enam mata di ruangan yang tertutup, untuk membicarakan sesuatu yang penting.


Citrawani dengan gembira bercakap-cakap nersama adik-adiknya, ditemani oleh Surya Kencana.


"Jadi pernikahanmu akan dilangsungkan beberapa bulan lagi, Nares?" goda Citrawani.


"Aku mengenal Dyah Harini. Dia gadis yang cantik dan pemalu. Kakak tidak bisa membayangkan, adikku yang pendiam bertemu Harini yang pemalu .. " tambah Citra.


"Kakak .." Nareswara benar-benar tersipu malu. Pipinya bersemu dadu.


"Duh, kakak. Jangan goda kanda Nares lagi.." celetuk Wasanti kasihan. "Lihat wajahnya sampai merah begitu."


"Seorang panglima gagah perkasa yang membunuh banyak musuh di medan perang, tetapi hatinya pemalu..." Citra Kartika masih menggoda adiknya. "Duh, duh... kasihan. Tapi tidak apa-apa Nares, lelaki pemalu adalah ciri-ciri lelaki setia. Sungguh beruntung Diah Harini mendapatkanmu sebagai suami nanti."


Ketika ketiga putri Daha itu menggoda satu-satunya saudara lelaki mereka. Di sebuah ruangan tertutup, Resi Wistara berunding dengan Adipati Daha dan Dewi Borawati.


Mata Dewi Borawati memerah karena jejak tangis yang berkepanjangan. Adipati Daha menunduk.


"Demi untuk menyatukan dua kerajaan warisan leluhur, kita harus rela membeberkan kenyataan sebenarnya ! " Pungkas Bagawan Wistara.

__ADS_1


"Jadi pernikahan nanda Surya Kencana dengan Galuh Citrawani, Nareswara dengan Diah Harini , Galuh Wasanti dengan Panji Wicaksana akan kita laksanakan dalam waktu bersamaan, setelah segala urusan ini selesai."


Yang disebutkan terakhir, Panji Wicaksana adalah Adipati Madhura yang baru saja dilantik, menggantikan ayahandanya yang wafat di medan perang.


"Tidak bisakah pernikahan ini dilangsungkan tanpa harus ada pembicaraan dengan Jenggala, Kanda Bhagawan?" gumam Dewi Borawati sedih .


"Justru kenyataan ini harus diketahui oleh mereka. Bahwa takdir dari Ida Sang Hyang Widhi tidaklah dapat kita hindari, meskipun sekuat apapun usaha mereka para duratmaka (pengkhianat) untuk menyembunyikan dan memutarbalik kebenaran !"


"Jenggala terlalu lama dicengkeram oleh Ratu Liku, didukung sekte Bhairawa Kalacakra aliran kiri. Sudah saatnya kita meluruskan kembali roda pemerintahan sesuai garis trah leluhur wangsa Isyana. Jangan sampai masa kegelapan jaman leluhur kita, sinuhun Hyang Bhatara Shri Paduka Airlangga yang diusak-asik oleh Rangda Walunateng Dirah, kembali diulang oleh Ratu Liku dan sektenya !"


Merinding bulu kuduk Dewi Borawati. Kisah Rangda Dirah sudah sering diceritakan orang sejak dulu.


Rangda walunata ing Dirah (Janda penguasa di Dirah) atau yang lebih populer dengan sebutan Rangda Dirah adalah ibu dari Ratna Manggali .


Rangda Dirah sakit hati karena pernikahan putrinya dengan Shri Paduka Airlangga dibatalkan.


Putri tunggalnya yang cantik jelita tiada banding di seluruh kerajaan. Yang memiliki perilaku baik dan mulia. Dibatalkan untuk menjadi permaisuri, hanya karena desas-desus tentang kesaktian ilmu hitam sang ibu.


Murka Rangda Dirah adalah murka seorang ibu. Sekaligus murka seorang ratu sekte Bhairawa.


Sebagai ahli desti terangjana (ilmu hitam tingkat tinggi yang cukup dikirim dengan pandang mata), dengan mudah Rangda Dirah menyebar wabah penyakit di seantero kerajaan.


Wabah mereda ketika Shri Paduka Airlangga menerima nasehat Mpu Baradah untuk melamar Ratna Manggali. Gadis cantik itu dinikahkan dengan Mpu Bahula, sang murid terkasih .


Dewi Borawati menganggukkan kepala.


"Baiklah, kanda. Jika memang ini yang terbaik untuk kerajaan dan rakyat kita, hamba lascarya ..."


"Terimakasih, Dinda. Semoga Ida Sang Hyang Widhi memberkati kita semua. " Bagawan Wistara tersenyum.


"Panggilkan keempat putra putri Daha kemari," titah sang Bagawan kepada seorang pelayan.


Beberapa waktu kemudian, keempat putra dan putri Adipati Daha muncul dengan wajah penuh tanda tanya.


Ada apa ini? Begitu kira-kira isyarat wajah Galuh Mayani kepada kembarannya yang disahuti dengan mengangkat kedua alis.


"Kalian pasti bertanya-tanya kenapa dipanggil kemari .." kata Adipati Daha.


"Benar, Ayahanda. Ada apakah gerangan ?" Mayani yang paling cemas setiap dipanggil menghadap, bertanya dengan sopan .

__ADS_1


"Anak-anakku, kalian semua sudah dewasa. Sudah saatnya kalian melangkah ke tahapan kehidupan selanjutnya, yaitu grahasta, tahapan membina rumah tangga," Bagawan Wistara tersenyum.


"Nanda Nareswara sudah ditunangkan dengan Diah Harini, demikian pula nanda Wasanti telah ditunangkan dengan Panji Wicaksana. Dan untuk nanda Citrawani ..."


Bagawan Wistara mengalihkan tatapannya pada Citra yang sejak tadi menunduk. Gadis itu mengangkat kepalanya sejenak, memandang Romo Bagawannya dengan tatapan bertanya-tanya.


"Citra, mungkin nanda memang tidak mengetahui, tetapi takdir memang tidak pernah salah. Jatukarma nanda adalah Raden Surya Kencana yang sudah digariskan untuk menyatukan kerajaan Janggala dan Panjalu."


"??"


Seribu tanda tanya bermekaran di benak kermpat anak muda itu. Wasanti dan Mayani saling berpandangan, demikian pula Nareswara dan Citrawani.


"Bagaimana bisa, Romo? Kakak


adalah putri Daha, bukan putri Jenggala... " kata Nareswara ragu.


Citrawani sendiri mengerutkan dahi dengan bingung.


"Yaah...memang ini adalah suatu hal yang selama ini ditutup rapat-rapat dan tidak akan pernah dibuka kepada khalayak, jika saja bukan demi kedamaian seluruh rakyat."


Sang Bagawan menghela nafas panjang.


"Maafkan kami jika selama ini sudah menutupi hal ini. Nanda Citrawani, sesungguhnya engkau adalah putri Jenggala. Putri Jenggala yang sebenarnya, yang terlahir dengan nama Galuh Kalyana Candradewi... "


Jika ada petir menyambar di langit seketika itu juga, mungkin Citra dan keempat adiknya tidak akan seterkejut ini.


"Putri...putri Jenggala ?" gumam Citra Kartika.


'Oh, please... apalagi ini. Tidak cukup pergi ke masa lalu dan menjadi putri Daha. Sekarang konon jadi putri Jenggala what so ever lah...' keluh bathin Citra Kartika.


"Putri Jenggala?" ulang Nareswara dengan tak kalah terperanjat.


Begawan Wistara mengangguk.


Adipati Daha menggenggam tangan sang istri yang mulai menitikkan airmata.


"Ayahanda...Ibunda ..apakah ini benar?" tanya Citrawani dengan tabah .


Kedua orangtuanya mengangguk tanpa sanggup berbicara.

__ADS_1


"Biarlah romo yang akan mengulang kembali cerita masa lalu ini. Kalian duduklah dan dengarkan baik-baik..."


........


__ADS_2