
Ada ribuan orang yang datang ke kota M dalam satu minggu ini. Semua penginapan telah penuh. Sehingga orang-orang yang tidak kebagian penginapan, memilih untuk menginap di pondok-pondok kayu yang disediakan tuan Narjuman.
Sebagian besar orang yang datang bukanlah untuk ikut sayembara. Mereka lebih banyak datang sebagai penonton dan penggembira saja untuk menikmati keramaian yang jarang terjadi.
Ada juga yang datang berkelompok besar untuk menyemangati jagoannya masing-masing.
Siang itu tuan Narjuman menyambut beberapa ketua partai persilatan yang telah diundang sebagai saksi. Di antara murid-murid partai itu juga terdapat beberapa jagoan muda yang tertarik untuk ikut sayembara.
Ia ditemani oleh beberapa kerabat dan murid-muridnya. Para pegawai nampak sibuk hilir mudik untuk membawakan minuman dan makanan ringan.
"Selamat datang, selamat datang," dengan gembira tuan Narjuman menyoja pada wakil pimpinan partai Gunung Kemukus, partai yang cukup tersohor di Jenggala.
Nyai Bawani, wakil pimpinan Gunung Kemukus tersenyum simpul. Wanita tua berpenampilan unik itu terlihat cukup menyeramkan. Matanya yang cekung berwarna kemerahan, tetapi sorot matanya tajam. Keriput yang dalam memenuhi wajah dan lehernya. Anehnya, tangannya terlihat mulus seperti seorang wanita muda.
"Terimakasih atas sambutannya, tuan Narjuman. Hari ini aku mengantarkan beberapa muridku sebagai penggembira."
Nenek itu mengambil tempat duduk di depan, yang diperuntukkan bagi para pimpinan partai atau perkumpulan. Murid-muridnya yang kesemuanya wanita duduk di bagian belakang.
Tamu berikutnya adalah seorang pendekar berusia hampir setengah abad. Ia adalah sahabat tuan Narjuman sejak muda.
Orang ini adalah penguasa pulau Bidara yang berada jauh di timur laut pulau Jawadwipa. Meskipun mereka bersahabat, tetapi mereka selalu suka saling ejek dan saling nyek.
"Abirangga... akhirnya kau datang juga !" tuan Narjuman memeluk lelaki itu sambil tertawa ceria.
"Mana anak gadismu yang akan disayembarakan?" tanya Abirangga mencari-cari.
"Kau gila ya? Tentu saja anakku masih dipingit, belum boleh dilihat orang !"
" Ah...jangan-jangan anak gadismu buruk rupa !" ejek Abirangga.
"Heh, pantatmu yang burik !" tuan Narjula memukul pundak sahabatnya.
Saat itu di bagian belakang terjadi sedikit keributan. Putra Abirangga yang bernama Abimana bertengkar dengan murid-murid wanita Nyi Bawani.
"Kalian para perempuan buat apa ikut-ikutan? Apakah kalian juga ingin mencari suami?" Pemuda nakal itu menggerak-gerakkan alisnya untuk mengejek sekumpulan wanita berpakaian putih itu.
Pada awalnya para murid kebatinan itu diam saja. Tetapi Abimana dengan kurang ajar mencolek dagu salah satu murid yang termuda.
Murid itu awalnya cuma menoleh pada Abimana dengan tatapan galak. Tetapi pemuda nakal itu bukannya berhenti. Ia pura-pura hendak memeluk dan mencium gadis itu. Sontak si gadis bangkit dari tempat duduk dan menampar Abimana.
" Kenapa menamparku?" protes Abimana. Dengan tampang polos ia memegang pipinya yang merah bekas tangan gadis itu.
"Huh !" hanya itu yang diucapkan gadis itu. Tangannya siap menghunus pedangnya jika pemuda berandalan itu masih mengganggunya.
"Heh, Abimana ! Kenapa kau ganggu gadis-gadis itu? Mereka adalah para murid dari yang mulia Nyi Bawani !" Abirangga tertawa.
Nyi Bawani hanya tersenyum sinis.
Memang kenakalan Abimana menurun dari ayahnya yang terkenal semasa mudanya sebagai pendekar ugal-ugalan.
Untunglah Abimana tahu diri. Di sini bukanlah pulau Bidara, wilayah kekuasaannya. Ia tidak bisa berbuat seenaknya . Maka ia pun duduk dengan manis sambil menebar senyum.
Hingga sore hari, hampir semua tamu undangan telah datang.
Tuan Narjuman pun mengutus para pegawainya untuk mengantarkan para tamu beristirahat di pondok yang telah disediakan untuk mereka.
Untuk para pimpinan partai, dipersilahkan untuk menginap di rumah tuan Narjuman sendiri yang sangat besar dan luas.
__ADS_1
.
.
.
Harya Wisanggeni menginap di salah satu pondok berbaur dengan para prajuritnya. Tidak ada satupun dari pihak tuan Narjuman mampu mengenali pemuda yang menyamar itu.
Nila Warsiki atau Citra Kartika mengajari Wisanggeni untuk menyamar menjadi seorang lelaki paruh baya berkumis tebal. Para prajuritnya juga telah disamarkan seperti sekumpulan pemuda desa biasa.
Hari yang telah ditunggu-tunggu oleh semua tamu dan undangan akhirnya tiba.
Pagi itu setelah acara sarapan bersama, para tamu dipersilahkan untuk berkumpul di arena. Mereka menempati tempat duduk sesuai dengan pangkatnya masing-masing.
Nila Warsiki, Surya Kencana dan Harya Wisanggeni duduk di barisan belakang. Di belakang mereka berdiri para prajurit Wisanggeni berbaur dengan para penduduk desa sekitar.
Acara dibuka oleh tarian selamat datang yang dibawakan oleh beberapa gadis muda dan cantik. Para penonton riuh bertepuk tangan dan bersuit-suit ketika para gadis itu menaburkan bunga wangi ke arah mereka.
Setelah tarian berakhir, tuan Narjuman muncul bersama istrinya. Mereka menuntun seorang gadis yang cantik jelita, berkulit bening bagai kristal, dengan senyum semanis madu.
"Ijinkan kami untuk memperkenalkan putri tunggal kami, Wulandari ... Dialah calon pewaris kami. "
Gadis cantik itu mencakupkan kedua tangannya, lalu memberi hormat pada penonton. Gemuruh tepuk tangan kembali membahana.
Istri tuan Narjuman menuntun putrinya masuk kembali. Ketika mereka menghilang dari panggung, para penonton mendesah kecewa.
Sambil tersenyum, tuan Narjuman pun mengumumkan tatacara sayembara.
" Yang diperbolehkan mengikuti sayembara ini, pertama adalah para pemuda yang belum menikah, dengan usia tidak lebih dari tigapuluh tahun. Kedua, sehat lahir bathin. Ketiga, memiliki ilmu silat yang tinggi dan mampu meloloskan diri dari para penantang. Keempat, para penantang tidak boleh saling membunuh. Jika salah satu penantang sudah menyerah, pertandingan dianggap selesai. Para pemenang akan diadu sesama pemenang. Yang keluar sebagai pemenang terakhir akan langsung menjadi pemenang sayembara !"
Para penonton riuh bertepuk tangan.
Seorang pemuda melompat ke atas panggung sambil memamerkan kepandaiannya. Ia bersalto di udara sebanyak tiga kali sebelum menjejak panggung. Tepuk tangan membahana membuat dia membungkuk dengan gembira .
Seorang pemuda dari sebuah partai turut meloncat ke panggung. Setelah saling menghormat, mulailah mereka bertarung . Saling serang untuk unjuk kebolehan masing-masing. Ternyata pemuda kedua dapat dikalahkan dalam waktu singkat.
Beberapa pasang petarung unjuk kebolehan, hingga tengah hari itu telah didapat enam orang pemenang sesi pertama .
Abimana meloncat ke atas panggung. Dengan sombong ia menunjuk pemuda yang berdiri sebagai penantang ketujuh.
"Eh, kamu turun sekarang dan mengaku kalah. Kalau tidak, nanti kaki tanganmu aku patahkan !"
Pemuda bertubuh tinggi besar itu bengong. Ia bukan lain adalah pemimpin pengawal Wisanggeni yang disuruh maju oleh majikannya.
"Apa maksudmu? Bukankah kita harus bertarung secara adil?"
"Aku hanya kasihan kalau otot-otot lengan dan kakimu yang dibentuk dengan susah payah itu patah. Kan sayang, " Abimana terkekeh.
Pemuda kekar yang diejek itu diam saja. Ia mulai menyerang dan dibalas Abimana dengan santai.
Pertarungan terjadi cukup sengit dan lama, jauh lebih lama dari pertarungan yang telah lewat. Lama kelamaan pemuda kekar kalah nafas dan kalah cepat, juga kalah tenaga dalam.
Nila Warsiki melihat kekejian dari Abimana yang selalu menyerang bagian-bagian lemah dan mematikan. Tetapi serangannya halus dan keji, tidak akan terlihat kerusakan organ penting dalam jangka waktu pendek, sehingga tidak melanggar ketentuan sayembara.
Tetapi mata jeli Nila Warsiki tidak dapat tertipu. Pukulan-pukulan yang dilancarkan Abimana memang terlihat pelan tetapi sangat berbahaya. Pemuda kekar berulangkali menerima pukulan di dada dan rahangnya, sehingga darah mengucur dari lukanya yang terbuka .
Pemuda kekar itu berulangkali mencoba untuk memberi tanda menyerah, tetapi dengan licik Abimana selalu menghalangi. Terakhir, ia melayangkan sebuah pukulan mengarah dada kiri pemuda kekar .
__ADS_1
Nila Warsiki diam2 menyiapkan sebuah kerikil kecil. Disentilnya kerikil itu mengenai sambungan siku Abimana dengan kecepatan tinggi, hingga pemuda ugal-ugalan itu tersentak dan berteriak kesakitan.
Kesempatan itu dipergunakan pemuda kekar untuk menjura tanda menyerah, lalu cepat-cepat ia meloncat turun dari panggung .
Abimana yang melihat lawannya bisa melepaskan diri merasa gusar. Ia jelalatan melihat ke kanan kiri untuk menemukan orang yang telah menyentil sikunya. Tetapi ia tidak dapat menemukan orang yang mencurigakan. Dengan kesal ia pun meloncat turun dari panggung .
Harya Wisanggeni dan kawan-kawannya menyambut si pemuda kekar. Kepala pengawal itu dibawa ke pondok untuk diobati oleh beberapa rekannya.
"Kakak, pemuda gila itu sungguh keji sifatnya !" bisik Nila Warsiki pada Surya Kencana. "Siapa dia?"
"Dia Abimana, putra Abirangga penguasa pulau Bidara," Wisanggeni yang menjawab.
"Ternyata mereka penguasa pulau Bidara?" bisik Surya Kencana. "Orang-orang yang ditakuti oleh para nelayan dan pelaut?"
"Betul, Kakang Surkan !" balas Wisanggeni .
"Hmm .." Surya Kencana pun mencatat informasi itu dalam hati . Siapa saja yang bersekutu dengan tuan Narjuman, berarti bersekutu pula dengan kelompok partai Kelelawar Maut dan Pasir Hitam.
Pertarungan babak pertama akhirnya selesai, setelah didapatkan sepuluh pemenang. Dengan majunya Abimana, tidak banyak lagi pemuda yang berani untuk mengadu nasib.
Para penonton disuguhi makan siang. Diam-diam Nila Warsiki meminta pada semua rekannya untuk tidak mengkonsumsi makanan apapun yang dihidangkan.
Setelah istirahat makan, pertarungan babak berikutnya berlangsung seru dan hebat. Para pemenang dikerucutkan menjadi lima. Setelah itu dikerucutkan lagi menjadi tiga orang.
Tiga orang pemenang, yaitu Abimana. Lalu seorang pemuda gempal dari gunung yang berkulit kemerahan dan berambut gimbal. Dan seorang lagi bernama Loka Wijaya, putra dari ketua partai persilatan Lodaya di barat.
Yang pertama maju adalah si pemuda rambut gimbal.
Melihat pemuda itu maju, Abimana ikut maju menantangnya.
"Heh rambut gimbal, wajahmu sungguh menjijikkan. Lebih baik kamu cepat-cepat minggat dari sini. Melihat kamu di sini saja sudah membuat aku mau muntah !"
"Kita memiliki hak yang sama untuk memperjuangkan si cantik Wulandari !" pemuda gimbal itu tertawa meremehkan.
Abimana bergidik.
"Geli aku membayangkan Wulandari bersisihan denganmu ! Dengar ya gimbal, mukamu itu bahkan masih kelewat jelek kalau disandingkan dengan jari kaki Wulandari !"
"Itu kan katamu ! Tapi syarat sayembara ini tidak ada mengatakan pesertanya harus tampan ! Siapa yang menang, dia yang akan dinikahkan dengan si cantik ! Hahaha..."
Dengan berang, Abimana menyerang si rambut gimbal. Sayangnya, tiap langkah dan gerak pemuda itu selalu dapat dipatahkan oleh si rambut gimbal.
Hingga akhirnya, Abimana mengeluarkan jurus rahasianya, pukulan halus beracun.
Sayang, yang dihadapi kali ini bukanlah pemuda gunung sembarangan.
Si rambut gimbal bermuka kemerahan itu bukan hanya mampu menghalau pukulan beracun Abimana. Malahan membalas dengan serangan lebih berbahaya, hingga akhirnya Abimana tunggang langgang dihajar berkali-kali.
Sudut bibir Abimana mengalirkan darah. Tangan kanannya patah. Maka dengan terpaksa, ia menjura ke arah penonton, yang artinya ia kalah.
Sorak sorai penonton membahana.
Si rambut gimbal menjura berkali-kali, ke arah penonton di depan, kiri kanan. Terakhir ia menjura ke arah belakang, padahal tidak ada penonton di belakang panggung.
Para penonton tertawa.
Nila Warsiki dan Wisanggeni saling lirik sambil tersenyum .
__ADS_1
"