
Tamu yang telah ditunggu-tunggu oleh Raja Jayengrana akhirnya tiba.
Rombongan kerajaan Panjalu yang megah, dengan kereta-kereta yang mewah, pasukan gajah dan pasukan berkuda, memasuki Jenggala.
Bagus Saksena memimpin para gadis dan pemuda Jenggala mengadakan acara penyambutan di alun-alun .
Percikan air dingin pegunungan yang direndam bunga-bunga harum menyejukkan para tamu yang lelah.
Makanan dan minuman segar pelepas dahaga dihidangkan segera, sementara tari penyambutan dibawakan oleh sekelompok gadis-gadis muda yang energik.
Setelah acara penyambutan yang meriah itu, para tamu dipersilahkan untuk beristirahat .
Dewi Sekarwangi disambut secara khusus oleh Raja Jayengrana. Dengan mata berkaca-kaca, sang Raja memohon diampuni segala kesalahannya di masa yang lalu.
Dilakukan ritual cuci kaki oleh para pelayan, sementara Raja Jayengrana memercikkan air suci ke dahi istrinya.
"Dinda Sekarwangi.. Kanda sangat menyesal. Banyak sekali kesalahan yang telah kanda lakukan kepadamu... Semuanya mutlak kesalahan kanda. Karena itu, kanda mohon ampun kepadamu dari lubuk hati yang paling dalam.." kata Raja Jayengrana dengan terbata-bata.
Ia terharu melihat istri yang telah dibuangnya lebih dari dua puluh tahun lalu itu. Istri yang dulu muda dan cantik, yang menemaninya puluhan tahun dengan setia. Orang yang pernah dicintai dan mencintainya tanpa syarat.
Istrinya itu kini telah tua, tetapi roman wajahnya nampak mulia dan agung, menerbitkan rasa hormat dan suka.
Raja Jayengrana begitu terharu, hingga tak terasa airmata menetes di pipinya yang keriput.
Dewi Sekarwangi menerima permohonan maaf dari suaminya.
Pertapa wanita itu mengulurkan tangan, meraih tangan suaminya lalu ditaruh di atas kepalanya.
"Hamba bersumpah dari hati yang tulus iklhas, lascarya, hamba sudah memaafkan semua kisah hidup kita sejak dulu. Di hati hamba yang tersisa hanyalah asa untuk melihat kebahagiaan bagi kanda dan anak-anak kita..." kata wanita tua itu dengan suara bergetar.
Raja Jayengrana menarik tangan dari kepala istrinya.
Ia menggenggam tangan istrinya, sambil menatap mata Dewi Sekarwangi ia mengajukan permohonan.
"Dinda Sekarwangi, kembalilah ke sisi kanda. Mari kita hidup berdampingan di istana werda, setelah menyerahkan tahta pada anak,-anak kita," katanya penuh harap.
"Hamba tidak berjanji untuk hidup di istana selamanya, Kanda. Karena kehidupan yang tenteram di desa dan pegunungan telah mengisi hati hamba, " Tolak Dewi Sekarwangi halus.
Ia telah lama memutuskan untuk menjalani kehidupan sebagai pertapa, mendampingi ayahandanya.
"Kalau begitu, biarlah kanda mengikutimu untuk menjadi pertapa, setelah anak-anak mengambil alih tampuk pemerintahan," putus Raja Jayengrana.
__ADS_1
.
.
Keesokan hari, setelah cukup istirahat dan beramah tamah, rombongan Panjalu mengutarakan maksud untuk menjalin perjodohan di antara putra Panjalu dan putri Jenggala.
"Jadi kedatangan kami bukan lain adalah untuk merekatkan kembali hubungan persaudaraan di antara dua kerajaan yang telah lama renggang," tutur Bagawan Wistara selaku pinisepuh keluarga Panjalu.
"Dengan ini kami mengajukan pinangan terhadap putri mahkota Jenggala yang telah lama hilang, untuk putra pertama Panjalu, yang akan segera dinobatkan menjadi putra mahkota, Raden Surya Kencana."
Di deretan belakang raja , Siluh Candrani yang duduk bersama Bagus Saksena, menundukkan kepala malu-malu.
Dari awal bertemu di pertapaan Bagawan Lalitaswara, ia telah jatuh cinta kepada Raden Surya Kencana.
Bagaikan tertimpa bulan, semua keberuntungan berpihak padanya secara bertibi-tubi.
Bertemu ayah kandung dan saudara seayah, tiba-tiba menjadi putri raja yang terhormat.
Dan kini, lamaran pernikahan dari pangeran yang ia mimpi-mimpikan siang dan malam, sudah ada di depan matanya.
Pangeran tampan itu duduk di belakang barisan raja Panjalu, bersama para pengawal bayangannya.
Betapa tampannya pemuda bangsawan itu, tubuhnya tinggi menjulang, dengan bahu kekar dan postur kokoh.
Siluh Candrani tersenyum simpul dan tetap menunduk malu-malu.
Bagus Saksena melirik Siluh Candrani yang tersenyum-senyum.
Pemuda itu menyadari, adiknya ini telah jatuh hatinya kepada Raden Surya Kencana sejak pandangan pertama.
"Untuk masalah perjodohan, kami serahkan kepada putri kami untuk memutuskan sendiri. " kata Raja Jayengrana .
"Adik Siluh Candrani, coba katakan kepada ayahanda dan kepada para hadirin, apakah adik bersedia menikah dengan Raden Surya Kencana?" tanya Bagus Saksena kepada Siluh Candrani.
Pandang mata para hadirin terfokus pada gadis itu.
Siluh Candrani mengangkat muka. Wajahnya merah padam seperti kepiting rebus.
Baru saja Siluh Candrani hendak menjawab, tiba-tiba Dewi Sekarwangi berkata dengan suara agak keras.
"Anakku, Siluh Candrani. Tolong dengarkan apa yang akan dikatakan oleh Eyang Bagawan Lalitaswara..."
__ADS_1
Maka para hadirin yang terdiri dari keluarga bangsawan Panjalu dan Jenggala terdiam.
Terdengar suara Bagawan Lalitaswara yang berat dan dalam.
"Kami memohon maaf, dalam hal ini telah terjadi kesalahpahaman akibat kurangnya pembicaraan dari hati ke hati. Untuk itu kami meminta maaf sekali lagi kepada Paduka Raja Jayengrana.
Putri Jenggala yang sejati bukanlah Siluh Candrani. Yang selama ini diasuh oleh Dewi Sekarwangi adalah putri dari sepasang tabib, darimana Dewi Sekarwangi belajar ilmu pengobatan. Orangtua Siluh Candrani wafat sebagai pahlawan, ketika mengobati wabah di sebuah daerah.
Saat ini Siluh Candrani baru delapanbelas tahun. Dia dirawat dan dianggap sebagai anak kandung, dan asal-usulnya belum diberitahukan karena menunggu dia untuk cukup dewasa.
Adapun kesalahpahaman yang terjadi, sehingga Siluh Candrani terbawa oleh Raden Bagus Saksena dan disangka sebagai putri Jenggala, adalah murni kelalaian kami . Dan bukan merupakan tanggungjawab Siluh Candrani.
Putri Raja Jayengrana dengan Dewi Sekarwangi, terlahir dengan nama Galuh Kalyana Candradewi, selama ini telah diasuh dan dibesarkan oleh Adipati Daha, dengan nama Galuh Citrawani Diah Paramhita."
Siluh Candrani dan Bagus Saksena pucat pasi. Kekagetan yang mereka alami, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Siluh Candrani bahkan kehilangan kesadaran karena malu dan shock.
Bagus Saksena yang masih bisa menguasai diri, menyerahkan gadis yang pingsan itu kepada para pelayan untuk dirawat di ruangan dalam.
Pemuda itu kemudian melewati waktu yang sulit untuk mendengarkan semua pembicaraan itu.
Semua yang ia dengarkan bagaikan sarang tawon yang diusik, berdengung dengung tidak jelas.
Hatinya memberontak.
Dari sekian banyak gadis di dunia ini. Kenapa harus dia, Galuh Citrawani yang menjadi adik kandungnya?
Kenapa harus gadis yang paling ia cintai, yang tidak pernah sanggup ia usir dari relung hatinya?
Hatinya seperti diremas-remas, dicincang, diolesi racun.
Hingga pembicaraan itu selesai, Bagus Saksena hanya mampu menunduk, menyembunyikan matanya yang memerah.
.
.
.
Wahai Dewa Batara yang Agung, wahai para leluhur yang Agung.
__ADS_1
Di manakah letak dosa dan kesalahan hamba pada kelahiran yang lampau, hingga hamba harus memgalami takdir seperti ini?
Kenapa dia, gadis yang hamba cintai dengan seluruh jiwa raga, harus menjadi jatukarma orang lain?