Jatukarma

Jatukarma
Ban 56


__ADS_3

Prasetya Karisma memasuki rumahnya tergesa. Rasa lelah yang mendera membuat ia ingin cepat-cepat membersihkan diri lalu segera beristirahat.


Wanda, istrinya tengah menerima telepon ketika Prasetya membuka pintu kamar. Wanita berusia 47 tahun itu tampak kaget . Ia segera menutup panggilan telpon .


"Kok tumben pulang awal, Pi?"


"Papi capek sekali, hari ini ingin cepat-cepat istirahat !"


"Ya udah, Papi mandi aja dulu ya . Mami ada janji ketemu sama teman-teman arisan !"


Prasetya menatap istrinya heran.


Hari sudah gelap menjelang malam. Mau ke mana istrinya?


"Mami mau ke mana?"


"Mau ke Banten, Pi. Ada pertemuan arisan di situ. Mungkin mami menginap semalam di situ ya Pi. "


"Kok jauh ?"


"Tempatnya memang ganti-ganti kan Pi. Papi aja yang nggak pernah merhatiin sih. Udah ya, Mami berangkat dulu ya Pi !"


Prasetya hanya bisa terpana melihat kepergian istrinya yang berbeda usia 10 tahun dengannya. Istrinya masih terlihat cantik menawan bak seorang gadis, dengan kulitnya yang putih mulus dan badan yang langsing tapi padat berisi.


Entah kenapa, setahun belakangan ini istrinya terlihat sibuk sekali dengan group arisan, group alumni sekolah dan group-group lainnya. Seolah-olah suami dan kedua anaknya yang telah dewasa tidak ada dalam agenda hariannya.


Tetapi Prasetya tidak pernah mempermasalahkan tingkah laku istrinya. Setidaknya dia juga punya andil di dalam membentuk watak istrinya yang cuek dan mementingkan diri sendiri itu.


Sebagai seorang suami, ia terlalu sibuk dengan bisnis dan politik, sehingga tidak memiliki banyak waktu untuk Wanda. Wajar bagjnya jika Wanda kemudian memilih untuk memiliki kesibukan sendiri.


Ia tidak berhak untuk marah ataupun protes. Toh selama ini ia juga tidak pernah menerima protes ataupun keluhan dari istrinya.


Pernah. Tapi itu dulu sekali. Dulu di tahun-tahun awal pernikahan mereka, Wanda selalu minta waktu lebih banyak dari suaminya yang sibuk . Hingga seringkali mereka bertengkar hanya karena salah paham.


Ketika akhirnya Prasetya benar-benar khilaf . Dan mengakui kesalahan fatalnya sebagai seorang suami. Ia mengakui memiliki seorang perempuan lain yang lembah lembut dan tak berdosa, Gayatri. Saat itu Wanda mengamuk dan meminta untuk memilih antara dirinya ataukah Gayatri.


Saat itu Wanda pernah sangat murka. Ia sempat pulang ke rumah orangtuanya. Tetapi ia balik kembali ketika mengetahui istri kedua Prasetya telah meninggal ketika melahirkan putrinya.


Sejak saat itu, Wanda tidak pernah protes atau mengeluh lagi. Ia cuek kepada suami dan anak-anaknya. Hidupnya diisi dengan berbagai kegiatan bersama segudang group sosialitanya.


Prasetya berendam di bath tub untuk meregangkan ketegangan di tubuhnya. Ia menghela nafas dalam-dalam.

__ADS_1


Telepon genggamnya berdering. Bergegas ia meraih benda itu setelah mengeringkan tangannya dengan handuk.


"Halo Ayah," suara manis putrinya membuat mood Prasetya naik secara tiba-tiba .


"Iya sayang, ada apa?"


"Ayah, Pak Soni memintaku untuk pindah ke apartemen milik beliau. Tapi aku kan tidak berencana untuk tinggal terlalu lama di sini, Ayah. Setelah proyek E-Lite deal, aku berencana balik kembali ke Malang. "


"Terus siapa yang akan meneruskan jadi pemimpin proyek dari pihak kita?"


"Bagaimana kalau Kak Heru aja ?"


"Nggak bisa, nak. Kakakmu sibuk dengan bisnis yang dia rintis sendiri. "


"Kalau begitu terserah Ayah, mau tunjuk siapa. Aku nggak sanggup berada di dunia bisnis. Ini bukan duniaku, Ayah."


"Nanti kita bicarakan lagi Sayang. Sekarang Ayah sedang mandi, baru pulang kerja. "


"Baiklah. Selamat beristirahat Ayah !"


Telepon ditutup oleh Citra . Prasetya menghembuskan nafasnya dalam-dalam.


Tentu saja, sebenarnya ia tidak kekurangan orang-orang profesional kepercayaannya untuk menghandle proyek. Tetapi ia sengaja mendidik putrinya untuk mengambil andil penting di dalam perusahaannya.


Berbeda dengan putri satu-satunya yang selalu hidup bersahaja dalam asuhan kakek nenek dari pihak ibunya. Putrinya tidak pernah mendapat kasihsayangnya, tidak pernah terdaftar dalam ahli warisnya.


Setidaknya ia bisa mewariskan sebuah posisi penting dan salah satu perusahaannya untuk sang putri.


Tapi Citra Kartika memiliki dunianya sendiri. Entah cara apa lagi yang bisa dia lakukan untuk mengamankan posisi dan masa depan putrinya. Ia harus berbicara pada sahabatnya. Soni Prawira.


****


"Aku sangat setuju . Tergantung putrimu yang cantik itu, mau atau tidak menerima perjodohan ini. " kata Soni Prawira sambil menghembuskan asap cerutunya santai.


Hari Minggu pagi ini mereka habiskan dengan bersantai di klub golf mereka .


Prasetya meneguk jus detox dengan enggan. Ia melirik sahabatnya yang asyik dengan cerutu kuba itu.


"Hati-hati dengan jantungmu ! " katanya mengingatkan.


"Hahaha, hanya di klub ini aku bisa menikmati cerutu. Sebulan sekali nggak apa-apa , bukan?" kekehnya.

__ADS_1


Prasetya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dari kejauhan ia bisa melihat putrinya yang tengah bermain golf ditemani Bagus Saksena.


"Kau lihat anakku," Soni menunjuk dengan dagunya. "Ia tergila-gila pada anakmu. Aku harus bilang apa lagi? Kita tinggal menunggu anakmu memberi signal setuju, setelah itu kita jadi besan."


"Andai bisa semudah itu .." gumam Prasetya. "Aku sangat mengenal anakku, meski dulu hanya bisa mengawasinya dari kejauhan. Ia keras kepala dan tidak gampang dipengaruhi. Saat SD dulu, pernah ia mengambek karena aku tidak bisa datang ke acara penobatan juara di olimpiade yang ia ikuti. Sejak saat itu ia tidak pernah lagi memintaku untuk datang. "


"Meskipun kamu selalu susah payah mengatur waktu untuk datang padanya secara diam-diam di setiap acara penting sekolahnya !"


"Dia tidak tahu. Karena aku tahu jika dia melihatku, dia akan mengubah ekspresinya menjadi dingin dan tak peduli."


"Ayah yang kasihan... !" ledek Soni Prawira.


"Itu sudah nasibku, itu semua akibat dari kesalahanku juga.. "


"Sudahlah, terpenting sekarang dia sudah dewasa dan membuat seorang keturunan Prawira bertekuk lutut padanya. Lihat !" Soni memberi tanda dengan dagunya.


Di kejauhan, tampak Bagus Saksena mengelus kepala Citra Kartika. Lalu mereka terbahak-bahak, entah apa yang mereka tertawakan dengan begitu gembira. Kedua bapak mereka memperhatikan dari jauh sambil ikut tersenyum sumringah .


"Sepertinya ada harapan," celetuk Soni Prawira.


"Ya, tidak sia-sia aku membujuk Citra menemaniku ke sini," senyum Prasetya.


Kedua bapak-bapak yang berbahagia itu mengintai anak-anak mereka yang masih asyik bercanda di kejauhan. Mereka tersenyum bahagia tiapkali kedua muda-mudi itu tertawa lepas. Terkadang Citra Kartika memukul lengan Bagus Saksena, yang diikuti dengan pekik girang Pak Soni .


"Citra udah mulai main fisik !" Yess !" serunya kocak .


"Apaan ? Cuma dipukul doang kok..." gumam Prasetya pesimis.


"Eeh, eh, dibales dengan cuwilan di dagu oleh Bagus...!" seru Soni lagi.


"Apaa? Berani-beraninya menyentuh dagu anak gadisku?" seru Prasetya.


"Lah, kan kita mau besanan !' protes Soni


"Oh iya yaa..."


"Hehehe.."


Mereka terus tertawa-tawa bahagia.


Mereka sama sekali tidak tahu bahwa Citra Kartika dan Bagus Saksena tertawa dan bercanda karena seorang cady yang terkenal sebagai fans berat Bagus, terlihat cemberut sepanjang hari. Bahkan cady itu pura-pura terpeleset hingga bola yang dia pegang nyaria terlontar ke kepala Citra.

__ADS_1


Bukannya marah, Citra Kartika malah tertawa geli. Dia menggoda dan meledek Bagus Saksena hingga tawanya ikut meledak.


***


__ADS_2