Jatukarma

Jatukarma
Bab 51


__ADS_3

Langit remang-remang di jantung kota Singapur menyambut Bagus. Ia turun dari taxi dan memberi tips yang besar kepada supir. Ia sengaja tidak memberitahu asistennya di Singapur untuk menjemput.


Kejutan untuk Merlyn harus benar-benar menjadi kejutan.


Bagus tersenyum.


Ia tadi melakukan videocall dengan Merlyn dari dalam taxi. Kekasihnya itu sudah pulang kantor dan kini tengah berada di apartemen. Ia memamerkan dada yang polos tanpa pakaian. Mungkin baru selesai mandi.


Gadis itu pasti tidak menyangka jika Bagus sudah berdiri di depan apartemen .


Dengan tidak menimbulkan suara, Bagus memasukkan card. Pintu ia buka pelan-pelan, lalu melangkah ke dalam dan menutup pintu lagi dengan hati-hati.


Ruang depan terlihat lengang. Apartmen ini hanya memiliki dua kamar tidur, tetapi yang dipakai hanya satu.


Kamar tidur mereka dalam keadaan terbuka. Ada suara musik yang lumayan keras. Merlyn yang agak penakut memang biasa menyalakan musik keras-keras ketika ditinggal sendiri.


Bagus mendekat dengan berjingkat. Ia mengernyitkan keningnya ketika mendengar suara lelaki dan perempuan. Itu suara Merlyn yang biasa ia dengar ketika mereka sedang memadu kasih.


Apakah Merlyn tengah menonton video biru? Dalam hati Bagus tertawa geli. Sudah lima bulan ia tidak pernah mengunjungi Merlyn karena sibuk.


Sudah lima bulan pula mereka tidak pernah tidur bersama. Tentu Merlyn kesepian dan butuh pelampiasan. Hal ini sudah sering mereka bahas. Bahkan Merlyn berterus terang bahwa ia memakai alat bantu ketika gairah dan rasa rindunya pada Bagus sudah memuncak.


Dengan jahil, Bagus memasang kamera video gadgetnya. Mengendap memasuki pintu yang terbuka, bermaksud untuk mengejutkan Merlyn. Ia akan mentertawakan tampang Merlyn yang sedang pingin. Kemudian berpelukan dan langsung bercinta dengan romantis.


Tetapi nyatanya, ia lah yang terkejut.


Ia yang fokus melihat ke arah kamera video, melihat pemandangan yang tidak disangka sama sekali. Merlyn memang tengah terbaring tanpa mengenakan sehelai benang pun. Tetapi ia tidak sendirian.


Bagus yang terperangah tak percaya, mengalihkan fokus dari kamera. Dan tetap sama. Apa yang ditangkap oleh kamera, kini ditangkap langsung oleh matanya.


Merlyn tidak terbaring sendirian. Ia dikungkungi oleh sesosok lelaki yang sangat dikenal oleh Bagus. Itu Beny, sepupunya.


Oh, Beny tidak sendirian pula.


Ada seorang lagi, lelaki bertubuh tinggi besar gempal bak Rahwana, dengan bulu-bulu pirang di dadanya yang tidak tertutup pakaian.


Itu seorang lelaki bule yang ikut ambil bagian dalam permainan itu. Keroyokan, bertiga.


Bagus menggertakkan giginya, murka.


Betapa tidak bermoralnya mereka !


Dengan geram, Bagus tetap diam. Video shoot terus berjalan. Ketiga mahluk Tuhan yang tengah mencecap syurga dunia itu tidak menyadari aksi mereka tertangkap kamera. Hawa panas telah sampai di ubun-ubun, sehingga membutakan mata dan menulikan telinga.


Merlyn menjerit-jerit.


Tercabik rasa hati Bagus. Itu pekik yang sudah ia kenal selama bertahun-tahun, sejak Merlyn ia bawa ke Singapur dua tahun lalu. Kini wanita cantik itu menggunakan pekik yang sama. Untuk lelaki yang berbeda.


Jahan*am !


Beny yang telah mendapatkan kembali kewarasannya, hendak membersihkan diri di kamar mandi. Saat itulah ia terkesiap melihat Bagus di ambang pintu.


Dengan panik, Beny menyambar pakaiannya dan berlari ke kamar mandi. Kemudian ia ngumpet di sana, tidak berani muncul lagi. Dibiarkannya kedua manusia berlainan jenis yang masih belum menyadari adanya penonton.


Kedua orang itu akhirnya menyudahi kegiatannya beberapa waktu kemudian.


Merlyn cekikikan ketika lelaki asing itu menggodanya dengan kata-kata rayuan yang manis.


Prok, prok, prok.

__ADS_1


Sebuah tepuk tangan membahana.


Merlyn cuek saja, karena mengira Beny yang bertepuk tangan. Ia bermalas-malasan di ranjang karena merasa lelah.


"Masih kurang ?" Bagus bertanya dengan kalem.


Tapi akibatnya, Merlyn terlonjak bagai disengat kalajengking. Ia meraih kimono yang teronggok di sudut ranjang dan memakainya asal-asalan.


"Mas Bagus ?" Merlyn terbata-bata. Hatinya diserang oleh rasa takut dan panik. Duuh, alasan apa yang harus dikemukakan ? Ia telah tertangkap basah !


Kenapa Bagus harus datang di saat seperti ini?


Sejak kapan Bagus berdiri di situ?


Merlyn bersimpuh di kaki Bagus. Jika Bagus baru saja datang dan memergokinya, mungkin masih ada kesempatan dia memohon ampun. Dan mengkambinghitamkan si bule dan Beny.


"Mas Bagus, tolonglah aku mas ..." tangis Merlyn dengan airmata yang menderas tiba-tiba.


"Kamu kenapa, Merlyn?" tanya Bagus dengan suara masih pelan dan kalem.


"Beny...Beny menjebakku..." Merlyn tersedu.


Beny yang mendengar dirinya disebut, langsung membuka pintu kamar mandi dan melongo memandang sandiwara Merlyn.


"Apa? " seru Beny tidak terima.


"Hmm ... kamu dijebak, Sayang ?" tanya Bagus dengan lembut. Ia sama sekali tidak berpaling pada Beny yang memandangnya tak percaya.


" Iya Mas, aku dijebak Beny.. dia memberiku obat perangsang..."


"Lalu bule itu siapa?"


"Aku tidak tahu...mungkin Beny menjualku juga padanya..." Merlyn menangis makin pilu.


" Tapi aku tadi mendengarmu menyebut namanya Anthony... Kamu kenal padanya?" tanya Bagus dingin.


Mati aku ! Batin Merlyn. Ia memutar otaknya, kalau begitu Bagus sudah melihat lebih awal !


"Mas Bagus... Aku memang tahu namanya Anthony, karena Beny membawanya ke acara kantor ! Dia adalah rekanan kantor kita. Tapi aku tidak menyangka bahwa aku akan dijual padanya..."


Anthony memakai pakaiannya dengan santai, lalu menenggak minuman beralkohol yang tersedia di meja. Ia melihat perdebatan itu seperti menonton drama yang menggelikan dan tak masuk akal.


"Oh, please . Why do you acting like a drama, Babby.. ? Is this funny?" Bule itu menyeringai pada Merlyn.


"Itu bohong, Sayang... Aku tidak pernah melakukannya dengan siapapun. Ini yang pertama, ini pun karena aku dijebak .. " Merlyn menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


"Beny ?" panggil Bagus dengan suara dingin. Ia menatap lurus pada Beny yang langsung tertunduk ketakutan.


"Ya..." gemetar suara Beny.


"Jawab aku dengan jujur ."


"Baik..."


"Kapan pertama kalinya kamu melakukan ini dengan Merlyn?"


Beny terdiam.


"Jawab aku, Beny !" bentak Bagus.

__ADS_1


" Sejak... sejak lima bulan lalu..."


Bagus menatap langsung ke bola mata Beny. Sepupunya tidak berani menentang pandang mata Bagus. Ia menunduk dalam, hal yang selalu dilakukannya jika dia merasa bersalah.


" Siapa yang memulainya?"


"Merlyn...dia..dia yang mulai menggodaku ."


"Benar kalian baru melakukannya sejak lima bulan lalu?" cecar Bagus. Beny menunduk makin dalam.


"Beny, jawab pertanyaanku !"


"Sebenarnya....eh, sejak...Merlyn SMP kelas satu... "


Merlyn menjerit-jerit dan membantah dengan keras.


"Diam !"


Bagus membentaknya.


Seumur hidup, baru kali ini dia dibentak kasar oleh Bagus. Merlyn pun langsung menggigil di pojok lantai.


"Bagus sekali, Merlyn !" kata Bagus Saksena dingin. "Aku tidak pernah menyangka dirimu memiliki sisi seperti ini. "


"Aku tidak mau lagi melihatmu di sini atau di kantor. Besok pagi kamu datang ke kantor untuk mengurus pengunduran dirimu. Dan kamu Beny, aku masih memberimu satu kali kesempatan !"


"Sekarang kalian semua pergi !"


**********


Cafe di dalam hotel itu terlihat sepi. Hari masih terang. Hanya lelaki itu yang duduk di sudut, minum beberapa gelas cairan putih bening.


Matanya menerawang jauh, seakan menatap masa lalu yang sudah tak bisa digapai.


Beny menghampiri lelaki berkemeja kusut itu dengan langkah ragu. Ia baru berani duduk ketika orang itu menyuruhnya duduk.


"Bagus... kenapa kamu menyuruhku kemari?" tanya Beny pelan.


"Ada satu hal yang ingin kukatakan padamu," Bagus Saksena tersenyum pahit. "Aku tidak pernah mendapatkan barang sisa, seumur hidupku. Dan sekarang kamu membuatku mendapatkan sisamu. Apa yang akan kamu lakukan untuk memperbaiki kedaaan inj?"


Beny terdiam sejenak.


"Apa yang kamu inginkan, Bagus ?"


" Aku tidak ingin apa- apa !" Bagus memukul meja di depannya.


Bartender yang tengah sibuk di balik meja, mendongak kaget. Lalu pura-pura sibuk kembali, tidak berani menegur sang owner.


"Aku hanya jijik pada kalian. Bisa-bisanya kalian memainkan sandiwara busuk itu ! Di depanku, kamu tersenyum padaku, Ben . Di belakangku, kamu masuk ke dalam selimut pacarku !"


"Tapi Merlyn bukan gadis baik- baik, Bagus.."


" Kenapa kamu tidak memperingatkan aku dari dulu, Ben ? "


" Karena.. karena Merlyn mengancam akan memberitahu Mamaku ..."


"Memberitahu apa?"


" Kalau dia pernah ada skandal dengan Papaku !"

__ADS_1


Bagus terkejut.


******"


__ADS_2