
"Kenapa ibunda memaksa hamba untuk menikahi putri dari Jonggrang Wesi?" protes Bagus Saksena. "Hamba tidak akan menikah dengan orang yang tidak hamba cintai".
"Kamu adalah putra mahkota dan calon pewaris tahta, nak. Setidaknya kamu harus memiliki seorang istri dan beberapa selir untuk meneruskan keturunan ."
"Tidak, Ibunda. Hamba hanya akan menikahi Galuh Citrawani. Percuma hamba berhasil memisahkan dia dari suaminya, jika hamba tidak berhasil menikahinya !"
"Adikmu akan dinikahkan dengan putra Adipati Bojonegoro ! Apa kamu rela dilangkahi adikmu untuk kedua kalinya?"
"Silahkan ! Asalkan dinda Sundari setuju, hamba akan mendukung dia dengan segenap ketulusan hati, Ibunda !"
Bagus Saksena memegang tangan ibunya . Lalu ia bangkit dari tempat duduknya, memandang sekilas pada Patih Agung yang duduk bersila di lantai.
" Paman Patih !" katanya.
"Aku akan menghadap Ayahanda untuk minta ijin keluar dari istana. Kuminta Paman perintahkan Panglima Banyak Sukan menggantikan aku mengawasi pasukan prajurit pendam yang aku tinggalkan di bawah gunung !" Perintah Bagus Saksena.
"Baik, Raden !"
Bagus Saksena mohon ijin mengundurkan diri pada ibunya, lalu melangkah keluar . Langkahnya yang tegap diawasi oleh Patih Agung dengan pandang mata bangga dan bahagia.
Pemuda itu memasuki pesanggrahan ayahnya. Raja Jayengrana yang telah berusia lanjut lebih banyak menyerahkan urusan kerajaan pada para menteri dan Patih Agung.
Bagus Saksena mengetuk pintu, lalu memasuki ruangan besar tempat ayahnya beristirahat. Seorang pelayan pribadi tengah melayani raja tua itu mengurut kakinya yang sakit.
"Ayahanda, hamba menghadap.." Bagus Saksena berlutut di kaki Raja Jayengrana. Dipijitnya sebentar kaki yang sudah mulai keriput itu dengan penuh hormat dan kasih sayang.
"Anakku, beginilah keadaan ayahandamu yang sudah tua dan sakit-sakitan. Mungkin usia ayahanda tidak akan panjang lagi .." kata Raja Jayengrana sambil mengusap kepala Bagus Saksena.
"Ayahanda, jangan berkata seperti itu.. Hamba masih sangat membutuhkan bimbingan dari ayahanda.." tercekat kata-kata Bagus Saksena. "Ampuni hamba yang belum bisa membuat ayahanda bahagia..."
"Kebahagiaan ayahanda hanya satu, saat melihatmu telah menikah, lalu duduk di singgasana tahta Jenggala, anakku..."
"Hamba pasti akan menikah, ayahanda tunggu dengan sabar ya. Mohon doakan agar hamba secepatnya bisa menyunting gadis yang hamba cintai!"
"Gadis mana yang telah menjatuhkan hatimu, nak?"
"Dia adalah putri adipati Daha, Galuh Citrawani..."
"Mantan madu dari adikmu?" Raja Jayengrana terperanjat.
__ADS_1
"Hamba mencintainya, Ayahanda.. dan hamba hanya ingin menikah dengannya. Hanya jika dia tidak ada lagi di dunia ini, barulah hamba rela menikah dengan orang lain !" kata Bagus Saksena tegas.
"Cinta..." kata Raja Jayengrana lirih. "Ah, cinta lah yang memporak porandakan kehidupan, dan menjungkirbalikkan kehidupan... "
Raja tua itu memberi isyarat pada pelayan agar meninggalkan mereka berdua di dalam bilik. Setelah pelayan itu pergi. Raja Jayengrana meminta anaknya untuk duduk di atas bangku di sudut ruangan.
"Anakku, Ayahanda ingin menceritakan sesuatu padamu. Tentang perjalanan cinta seorang Jayengrana. Duduklah di sini dan dengarkan dengan baik."
Bagus Saksena heran. Selama ini ayahnya tidak pernah menceritakan apapun tentang masa lalu kepadanya. Maka ia duduk dan mulai mendengarkan cerita ayahnya dengan seksama.
Dahulu, ketika masih muda, Raja Jayengrana menikahi putri seorang pendeta dari Gunung Kelud. Putri brahmana itu bernama Dewi Sekarwangi. Pendeta brahmana itu adalah guru spiritual bagi para pemuda bangsawan yang belajar di padepokannya.
Raja Jayengrana begitu mencintai Dewi Sekarwangi yang cantik jelita tiada tandingan. Ia bersaing dengan banyak pemuda bangsawan yang jatuh cinta kepada bunga gunung itu .
Ketika akhirnya Raja Jayengrana berhasil memenangkan hati Dewi Sekarwangi, mereka pun menikah dan istri cantik itu diboyong ke istana Jenggala.
Kebahagiaan benar-benar dirasakan dari pernikahan yang dilandasi cinta itu. Bertahun-tahun mereka hidup rukun penuh kasih sayang, meskipun tak kunjung dikaruniai buah hati.
Tepat dua puluh tahun mereka menikah, ketika ayahanda dari Raja Jayengrana sakit parah. Sebelum meninggal, sang ayahanda mewasiatkan Raja Jayengrana yang telah berusia empatpuluh tahun untuk menikah lagi dengan putri Raja Jonggrang Wesi yang bernama Galuh Liku.
Meski berat, Dewi Sekarwangi mendorong suaminya untuk menikah lagi. Demi kelangsungan penerus kerajaan Jenggala.
Gadis dari Jonggrang Wesi yang baru berusia limabelas tahun itu menikahi seorang raja gagah perkasa yang jauh lebih tua darinya. Gadis itu hamil setahun setelah menikah, melahirkan seorang putra yang tampan. Bagus Saksena.
Empat tahun kemudian, Galuh Liku hamil kembali. Ternyata berita gembira itu tidak hanya sampai di situ, karena Dewi Sekarwangi juga akhirnya mengandung di usianya yang telah kepala empat.
Saat itu Raja Jayengrana merasa teramat bahagia. Tetapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Galuh Liku yang telah mendapatkan cinta dan kepercayaan dari suaminya, memberi kesaksian bahwa Dewi Sekarwangi memiliki hubungan gelap dengan Raden Jalada, adik Raja Jayengrana.
Galuh Liku menghasut raja. Anak yang dikandung Dewi Sekarwangi belum tentu keturunan raja. Bisa jadi itu anak dari Raden Jalada.
Kesaksian Galuh Liku dikuatkan oleh Patih Agung, beberapa menteri dan pelayan di kediaman Raden Jalada.
Meskipun Dewi Sekarwangi membantah, dikuatkan oleh Raden Jalada sendiri dan istrinya, Raja Jayengrana telanjur murka. Ia menghukum Raden Jalada dan istrinya untuk diasingkan ke desa Keduwi.
Dewi Sekarwangi dibuang ke hutan di lereng gunung Kelud, diiringi dua pelayan dan dua pengawal.
Sekarang, setelah Raja Jayengrana pikirkan kembali dengan hati yang jernih. Dewi Sekarwangi adalah keturunan brahmana yang memiliki sifat setia, sabar dan bijaksana.
__ADS_1
Selama dua puluh tahun mendampingi, Dewi Sekarwangi tidak pernah membantah perkataannya. Ia selalu bersikap lemah lembut kepada siapa saja, termasuk kepada madunya.
Bagaimana mungkin istri yang begitu setia dan penuh cinta bisa berkhianat darinya?
Apalagi ditambah kenyataan, sampai tua Raden Jalada dan istrinya yang tinggal di desa Keduwi. Mereka tidak pernah memiliki anak kandung, dan tabib mendiagnosa Raden Jalada mandul.
"Ayahanda telah berdosa kepada Dewi Sekarwangi. Dan juga kepada adikmu, yang entah lelaki ataukah perempuan, anak yang dikandung Dewi Sekarwangi. Entah mereka masih ada di dunia ini, atau sudah tiada." Kata Raja Jayengrana dengan berduka.
Bagus Saksena termangu.
"Jadi ..hamba masih memiliki seorang adik selain Dinda Sundari?"
"Ya. Jika dia masih hidup, maka usianya sepantaran dengan Sundari."
Melihat duka di wajah tua ayahandanya, diam-diam Bagus Saksena menyesali sikap ibunya yang arogan. Ia percaya Dewi Sekarwangi tidak bersalah seperti dugaan Raja Jayengrana.
Bagus Saksena sangat memahami sifat dan trik-trik ibunya yang terkadang bisa sangat kejam dan di luar batas kemanusiaan.
"Bagus Saksena, bolehkah ayahanda meminta dua hal kepadamu?" tanya Raja Jayengrana .
"Apakah itu, Ayahanda?"
"Pertama, segeralah menikah, agar tahta ayahanda segera bisa dialihkan padamu. Rasanya ayahanda sudah tidak kuat lagi memikul tanggungjawab besar ini .."
"Ayahanda..." Bagus Saksena memandang wajah ayahnya dengan tatapan memohon. "Mohon jangan bicara seperti itu !"
"Kedua," Raja Jayengrana melanjutkan. "Temukanlah adikmu dan ibu tirimu, bawalah mereka kembali ke istana. Berikan mereka kehidupan yang layak dan terhormat. Jika ayahanda sudah tiada lagi di dunia ini ketika nanda menemukan mereka, mintakanlah ampun untuk ayahanda..."
Mata raja tua itu berkaca-kaca.
"Mungkin, nasib Sundari yang buruk adalah palakarma yang harus dipikulnya akibat perbuatan ayahandamu yang keparat .." bisik sang raja tua parau.
"Hamba akan mencari dan menemukan mereka, Ayahanda. Hamba berjanji akan berusaha menemukan mereka.." kata Bagus Saksena terharu.
"Ayahanda akan menunggumu, Bagus. Hati ini akan terasa lega dari beban dosa, andai bisa memohon ampun kepada mereka langsung ..."
"Baik, Ayahanda.. Hamba berjanji akan membawa mereka pulang ! Kebetulan hamba datang untuk memohon ijin keluar istana pada Ayahanda untuk beberapa bulan ! Kalau begitu hamba mohon pamit ..."
Raja Jayengrana mengusap kepala Bagus Saksena. Pangeran mahkota itu berlutut di kaki ayahnya untuk berpamitan.
__ADS_1
Langkah kakinya yang tetap dan yakin menapak lantai terakota istana. Tubuh tegapnya berayun pasti, keluar istana untuk mengejar cintanya.
Sekaligus menunaikan tugas dari sang ayahanda, menemukan adik dan ibu tirinya yang tidak berdosa.