Jatukarma

Jatukarma
Bab 7


__ADS_3

Raden Bagus Saksena mengepal tinjunya.


"Brengsek ! Darpa, tugas seperti ini saja kau bisa gagal !"


"Ampun, paduka Raden. Prajala gagal merusak gadis itu karena ternyata ia seorang yang kebal racun. Hamba telah memberi racun pembius kepadanya. Rupanya ia hanya pura-pura terbius. Lagipula ia dilindungi oleh para pengawal bayangannya yang lihai."


Darpa berlutut di hadapan majikannya. Kepalanya tertunduk malu, karena ia gagal menunaikan tugas. Bagus Saksena menggeleng-gelengkan kepala.


"Tidak kusangka, gadis muda itu memiliki kemampuan sehebat itu. Sepertinya, harus aku yang turun tangan langsung."


Kebo Prakasa, pengawal bayangan Bagus Saksena memasuki ruangan. Ia membisikkan sesuatu pada majikannya, lalu ia keluar lagi dengan cepat.


"Huh, saat ini mereka sengaja tidak melakukan tindakan apa-apa. Juga tidak melapor kepada Raja atau Suryapaksi. Rupanya mereka ingin menyelidiki masalah ini diam-diam !" Bagus Saksena mengelus dagunya. Ia memutar otak, memikirkan strategi apa yang kira-kira sedang dirancang pihak Galuh Citrawani. Dan bagaimana taktik untuk menghadapi gadis itu.


Darpa terdiam. Ia merasa menyesal karena telah mendelegasikan tugas kepada Prajala yang mata keranjang. Lelaki itu terlalu memandang rendah perempuan, sehingga berhasil dikelabui Galuh Citrawani. Sekarang menyesalpun tidak ada gunanya. Ia hanya bisa pasrah menunggu perintah dari majikannya.


"Darpa, kau kembalilah ke pos pasukan pendam kita di balik gunung. Katakan pada Ki Sandang Kriya agar jangan melakukan gerakan mencurigakan apapun untuk sementara ini!"


"Baik, tuanku !"


Bagus Saksena beranjak pergi. Ia melangkah tergesa menuju ke kediaman adiknya. Di depan lorong yang menikung, ia ditabrak oleh seorang dayang yang keluar sambil membawa air.


Si dayang terpelanting, jembangan airnya tumpah menyiram wajah dan pakaian sang raden .


"Kurang ajar ! Apa yang telah kau lakukan?" bentak Bagus Saksena marah. Pakaiannya basah kuyup.


"Maaf, Raden...hamba tidak sengaja," si pelayan wanita meringkuk di lantai dengan ketakutan. Ia sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya.


Bagus Saksena bertolak pinggang.


"Coba angkat wajahmu," katanya pada si pelayan.


Dengan seluruh tubuh gemetar, pelayan itu mengangkat wajahnya.


"Siapa namamu?"


"Hamba bernama Srimpi, tuan.."


"Kamu melayani siapa?"


"Hamba melayani di ruang mandi paduka permaisuri Galuh Sundari..."


"Bagus. Nanti malam kamu datang melayani aku mandi di ruanganku. Aku yang akan mengatakannya pada permaisuri !"


"Ba ..baik tuan..."


Bagus Saksena berjalan melewati pelayan yang masih meringkuk itu dengan acuh tak acuh. Si pelayan belia itu masih gemetar hingga bayangan Bagus Saksena lenyap di balik lorong.


Beberapa pelayan wanita yang melihat kejadian itu menghampiri Srimpi yang merangkak bangun. Seorang yang sedikit lebih tua dari Srimpi membantunya membereskan jembangan air yang pecah.


"Srimpi, nanti malam kamu sudah dititah untuk melayani Raden Saksena. Jika kamu beruntung, kamu bisa saja disayang dan diangkat menjadi selir, lalu diboyong ke Janggala..." kata pelayan itu dengan tatapan iri.


"Tapi jika kamu tidak bisa menyenangkan hati tuan Saksena, nasibmu bisa berakhir menyedihkan, " pelayan yang paling tua mengingatkan dengan nada kuatir. "Sebaiknya kamu persiapkan dirimu, hati-hati dan bertindaklah dengan sopan dan patuh, penuhi semua keinginan tuan ."

__ADS_1


Srimpi yang masih berusia 16 tahun itu makin ketakutan. Ia menahan-nahan airmatanya ketika mengangguk patuh.


"Mumpung ada waktu, hayo ikut denganku. Aku akan mengajarimu beberapa hal..." pelayan tertua itu menarik tangan Srimpi dan membawanya pergi.


Dua orang pelayan yang masih berdiri di situ memandangi dua orang yang berlalu dari hadapan mereka.


"Srimpi akan diajari apa ya oleh Nyi Luweng?"


"Apalagi kalau bukan isi kitab Olah Asmara Dunya," yang lebih tua terkikik genit.


"Beruntungnya si Srimpi, bisa melayani tuan Saksena yang tampan dan gagah perkasa..."


"Seperti si Sari ya...ia beberapa kali melayani tuan. Tapi tidak diangkat jadi selir.. apalagi diboyong ke Jenggala..."


"Itu karena si Sari kurang cantik, tidak secantik aku .."


"Cantik apanya? Buktinya tuan tidak pernah melirikmu! "


"Kamu juga tidak pernah dilirik !"


"Kan aku tidak pernah bilang kalau aku lebih cantik dari yang lain..."


Percakapan mereka akhirnya terhenti ketika seseorang melintas.


Darpa melangkah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tuannya memang terkenal suka bermain wanita. Tapi entah kenapa, sampai melewati usia 26 tahun, tuannya masih belum memiliki seorang selir pun, apalagi istri sah .


Prajala sahabatnya, sang pemimpin sekte Kelelawar Maut pun, setali tiga uang dengan sang junjungan. Tidak tuan, tidak bawahan, sama-sama mata keranjang dan gemar mempermainkan perempuan.


"Suatu saat ketika mereka bertekuk lutut oleh perempuan yang mereka cintai, baru tahu rasa, jadi budak cinta , " gerutu Darpa dalam hati.


*****


"Kanda juga tidak pernah menyangka, Sundari. Entah tipu muslihat apa yang dia gunakan sehingga racun bius yang diberikan Prajala tidak mampu melumpuhkannya."


"Lalu apa yang harus kita lakukan, kanda?"


"Untuk sementara ini kita tidak bisa bergerak dulu, dinda. Pihak pengawal Citrawani sedang gencar menyelidiki masalah ini. Mereka memang tidak berkoar-koar dengan tujuan mengurangi kewasapadaan kita. Tetapi kanda tidak bodoh."


"Kanda memang tidak bodoh, hingga hampir setahun Citrawani menikah di sini, kanda belum mampu berbuat apa-apa padanya," sindir Galuh Sundari.


"Dia bukan wanita sembarangan, dinda. Dia anak dari Adipati Daha. Selain menantu, dia juga kemenakan raja. Sedangkan aku di sini hanya utusan perdamaian dari Jenggala. Jika kita melakukan tindakan serampangan dan gegabah lalu gagal, bukan hanya kedudukanmu, tetapi juga keamanan kerajaan kita terancam."


Galuh Sundari terdiam. Ia menyadari kebenaran dari ucapan kakaknya. Ia menikah ke Panjalu untuk perdamaian antara negaranya dengan negara Panjalu.


Dari jaman dahulu kala, negara Janggala dan Panjalu selalu berperang memperebutkan kekuasaan dan pengaruh . Pada awalnya Janggala dengan panglima-panglima perang yang tangguh selalu berhasil memenangkan perang. Dongeng masa kecil anak-anak Janggala dipenuhi kisah-kisah heroik para panglima dan prajurit-prajuritnya yang perkasa.


Tetapi kemenangan itu hanya tinggal cerita. Dari masa ke masa, akhirnya tentara Panjalu lah yang paling sering memenangkan perang. Perang tak henti-henti yang menewaskan begitu banyak pahlawan dari kedua negara.


Hingga suatu hari, Raden Jayanti Suryapaksi yang memimpin perang, berduel dengan Raden Bagus Saksena. Mereka bertaruh, yang kalah duel harus memperistri putri terkemuka dari negara lawan untuk dijadikan sebagai permaisuri tertinggi.


Mereka ternyata memiliki kesaktian dan olah kanuragan yang seimbang. Tetapi Raden Bagus Saksena lebih licik sehingga berhasil memenangkan tanding dengan sedikit tipu daya. Raden Suryapaksi menerima kekalahan karena ada aturan boleh menggunakan cara apapun untuk menang.


Karena pernikahan inilah, perjanjian damai disepakati oleh kedua belah pihak kerajaan.

__ADS_1


"Aku bingung, Kanda. Saat ini kakanda Suryapaksi memang tunduk di bawah kakiku, karena pengaruh ilmu guna-guna yang diajarkan bibi Limbur padaku... tetapi jika pengaruh ilmu itu punah, dia tidak akan menghiraukan aku lagi ...."


"Dinda, itulah sebabnya aku dulu bimbang ketika bibi akan menurunkan ilmu itu padamu...karena ilmu semacam itu ada kelemahannya ! Kamu tidak boleh punya anak sebelum 5 tahun menikah. Jika dilanggar, anakmu yang akan menanggung akibatnya ! Sekarang lihat, baru 3 tahun menikah belum punya anak saja kamu sudah dimadu! "


Galuh Sundari terdiam.


"Sekarang suamimu masih tergila-gila kepadamu karena masih dalam pengaruh guna-guna. Suatu saat jika pengaruh itu punah, bagaimana?"


"Kanda, jika kami telah memiliki anak, maka pengaruh guna-guna itu akan makin sulit untuk dipunahkan, apalagi jika anak kami laki-laki..."


"Tetapi kamu masih belum boleh punya anak setidaknya setahun lagi, Dinda. Jika Galuh Citrawani yang lebih dulu berputra, bagaimana?"


"Mana mungkin jalang itu bisa mengandung, kanda, jika tidak pernah disentuh oleh kanda Suryapaksi?"


"Hmmm....kamu yakin selama setahun ke depan Suryapaksi masih akan menjauhi Citrawani?"


"Setiap malam aku akan menemani kanda Suryapaksi. Dengan pesona rayuan dan pengaruhku, aku akan berusaha sekuat tenaga agar kanda Suryapaksi tidak mendekati Citrawani. "


"Dengan kecantikan rupa Citrawani seperti itu, kau yakin Suryapaksi tidak akan tergoda?"


Galuh Sundari memandang kakaknya dengan sedikit mendelik. Ia sangat hapal dengan sifat dan kebiasaan kakaknya.


"Jangan bilang kalau kanda tergoda oleh jalang itu !"


"Galuh Citrawani memang cantik, tubuhnya molek menggiurkan. Lelaki normal mana yang tidak terpesona?" Bagus Saksena menyeringai.


"Kanda ! Jangan bilang kanda telah jatuh cinta pada maduku ! Dia tidak layak untuk kanda !"


"Tidak layak untuk menjadi istri, iya ! Tetapi kalau untuk menjadi mainan ?" Bagus Saksena mengedipkan sebelah matanya.


Galuh Sundara ternganga.


"Kanda...jangan bilang kalau kanda bermaksud menghancurkan kehormatannya dengan tangan kanda sendiri...."


"Yah, memang itulah yang terbersit dalam rencanaku, dinda. Apa salahnya sedikit bersenang-senang sambil menyiksa perempuan itu? Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui..."


"Tapi Galuh Citrawani masih berstatus maduku... Aku memang ingin nama baik dan statusnya hancur, tapi tidak dengan mengorbankan keselamatan kanda !"


"Kakandamu ini bukan bocah kemarin sore. Suamimu saja kalah duel dengan kecerdassn kakanda, apalagi cuma perempuan muda yang belum banyak pengalamana. Dinda tenanglah. Tunggu saha saat perempuan itu diusir dari istana ini," Bagus Saksena tersenyum dengan mata berkilat.


"Aku percaya dengan kemampuan kanda. Apapun itu, keselamatan kakanda adalah yang utama ! Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau terjadi sesuatu dengan diri kanda !"


"Aku janji padamu, adikku ! Aku akan bersenang-senang dan keluar sebagai pemenang."


Galuh Sundari memegang lengan kakaknya, diusapnya lengan besar dan kokoh itu dengan penuh rasa sayang.


"Ohya dinda, sandikala nanti pelayan mandimu yang bernama Srimpi aku pinjam, ya. Dinda perintahkan pelayan lain saja untuk membantu mandi. Aku lihat gadis pelayan itu tangannya halus, cocok untuk meluluri punggungku," Bagus Saksen menyeringai nakal.


"Duh, kakanda.. sampai kapan kanda gemar bermain-main .." keluh adiknya menggerutu. "Ayahanda sampai bosan memintamu untuk memilih seorang selir atau istri !"


"Tunggu kedudukanmu sudah terpatri di sini, barulah kanda merasa aman meninggalkanmu menikah, adikku sayang !" Bagus Saksena mengacak-acak anak rambut Galuh Sundari yang terjuntai di kening.


" Nah, kanda kembali ke kediaman, pelayan kamu yang cantik jelita tentu sudah menunggu kanda di bilik permandian," Bangsawan Janggala itu melangkah pergi sambil tertawa renyah .

__ADS_1


Galuh Sundari menggeleng-geleng kepala sambil mengelus dadanya.


**********


__ADS_2