Jatukarma

Jatukarma
Bab 54


__ADS_3

"Aku serius !" kata Bagus Saksena. "Sepertinya aku cocok untuk sering berada di sisimu. Hatiku terasa adem ayem."


"Memang kamu dulu dan sekarang nggak ada bedanya. Selalu gombal padaku ." Citra terus menerus tertawa geli.


"Tuh, kan. Kamu juga bahagia terus di sampingku. Dari tadi kamu tertawa ."


"Itu gara-gara kamu juga yang konyol !" sergah Citra Kartika.


"Ya, deh ! Yang penting Tuan putri bahagia !"


DEG !


Hati Citra Kartika mendadak bergemuruh. Kenangan lama itu melintas begitu saja ketika Bagus Saksena menyebutnya tuan putri.


Ditatapnya wajah ganteng itu. Wajah itu memang tiada bedanya dengan Raden Bagus Saksena. Bahkan nama mereka sama. Tetapi kenapa wajah Citra Kartika berbeda dari Galuh Citrawani?


"Citra?"


Panggilan Bagus Saksena menyadarkannya.


"Hm?"


"Giliran kamu yang bengong menatapku. Wajahku bikin duniamu teralihkan?"


"Ya. Wajahmu tidak ada bedanya dengan dulu. Cuma, dulu kamu playboy. Sekarang? Who knows."


"Sekarang aku lelaki baik-baik , calon suami ideal ."


"Baiklah, aku percaya!" kekeh Citra Kartika.


"Jadi, kapan kamu mau menikah denganku?" kejar Bagus Saksena.


"Hah? Kenapa harus aku?"


"Apakah kamu bukan wanita single?"


" Aku wanita single. Tapi belum tentu aku mau menikah denganmu, kan?"


"Hemmm...kenapa sepertinya aku pernah mendengar kamu ngomong begini sama aku yaa. Apakah ini dejavu lagi?" ujar Bagus Saksena setengah termenung.


" Aku memang sering menolakmu di masa lalu." Citra Kartika nyengir lucu.


"Hah? Serius?"


"Iya."


"Tapi kenapa kamu menolakku, Citra? Apa aku kurang ganteng?"


"Kamu termasuk salah satu cowok terganteng di masa itu, Bagus !" Bahkan di masa inipun kamu termasuk paling tampan, batin Citra Kartika.


"Tetapi sayangnya, kamu dulu terlalu nakal. Bahkan cenderung jahat. Udah ah, panjang ceritanya. Yuk, makan dulu, makanan udah datang tuh."


Mereka menyantap makanan dengan pelan. Diam-diam Citra Kartika heran, kenapa ia begitu mudah bercerita pada Bagus Saksena. Padahal kepada ayah dan adiknya sekalipun ia tidak pernah membuka rahasia pengalaman masa lalunya.


Ketika mereka meninggalkan restoran untuk kembali ke kantor, Citra Kartika menyentuh pergelangan tangan Bagus Saksena sekilas .


"Bagus Saksena, tolong keep cerita masa laluku ini dari siapapun ya. Sebenarnya aku tidak pernah menceritakan hal ini pada siapapun juga. Entah kenapa, hari ini aku bocor kepadamu !"


Bagus Saksena menatap Citra Kartika sejenak. Lalu ia tersenyum.


"Baiklah. Aku janji ."

__ADS_1


.....


Pak Soni telah menunggu di kantor ketika Bagus Saksena dan Citra Kartika kembali dari rumah makan. Orangtua itu menatap Citra dengan heran.


"Selamat siang, Pak Soni !" Citra menyalami ayah Bagus Saksena dengan sopan.


"Selamat siang. Bukankah ini Citra,si cantik putri Pak Pras, ya?"


"Benar, Pak. Saya yang mewakili Ayah untuk meeting dengan Prawira LTD."


"Oh begitu. Bagaimana kabar Ayahmu?"


"Ayah masih sibuk dengan urusan negara. Maklum, sekarang bulan-bulan konferensi, Pak ."


"Mudah-mudahan kamu betah di Jakarta ya. Kata Pak Pras, putrinya paling susah kalau disuruh tinggal di Jakarta. Betah di kota yang dingin katanya ya."


"Ohya? Ayah saya bilang begitu?" Citra Kartika takjub. Ia sama sekali tidak menyangka ayahnya akan membicarakan dia dengan partner bisnisnya.


"Ayahmu sangat bangga padamu, Nak. Dia sering bercerita tentang dirimu pada saya, sahabatnya. Kami telah bersahabat sejak jaman sekolah dulu. Hubungan kami tidak hanya sebatas bisnis."


"Oh." Bibir Citra membulat, dengan wajah tercengang.


Ini pemahaman baru baginya.


Bukan tentang Ayahnya bersahabat dengan Pak Pradetya. Tapi perhatian dan kebanggaan ayahnya padanya, yang sama sekali tidak pernah diketahuinya.


Di matanya, sejak dulu ayahnya hanya bangga kepada Heru dan Harris , anak laki-lakinya.


Diam-diam, Citra Kartika rasanya ingin menghambur ke pelukan ayahnya dan minta maaf.


"Kok aku nggak tahu hal ini dari dulu ya Pa?" Bagus Saksena menyela. "Aku menyesal, kenapa sama sekali nggak pernah mendengar nama Citra Kartika dari dulu."


Bagus Saksena mengerutkan alisnya pertanda protes.


"Nggak gitu, Pa. Aku terlalu sibuk kuliah dan bekerja. Nggak ada waktu untuk yang lain."


"Tapi ada waktu untuk mengurus yang semacam inisial M." sindir papanya .


"Sekarang aku kan udah tobat, Pa. Jangan disebut-sebut lagi lah dosaku," protes Bagus Saksena.


"Kamu tuh kebanyakan protes. Tuh lihat Citra, kata ayahnya dia gadis yang sangat kuat dan mandiri, nggak pernah manja. Nggak pernah protes ! " puji Pak Soni.


"Citra memang gadis yang hebat, Pa. "Bagus Saksena ikut-ikutan memuji.


"Saya jadi malu," Kata Citra Kartika. "Saya nggak sehebat itu . Ohya, nanti masih ada meeting lagi jam tiga ya. Bersama Bagus, Pak Soni dan Pak Alan. Kalau begitu saya permisi mau ke toilet wanita dulu."


Ketika Citra Kartika menjauh, Pak Soni memukul lengan anaknya pelan.


"Jangan sia-siakan kesempatan yang diberikan Om Pras padamu, Gus ! Dia itu putri satu-satunya kecintaan ayahnya, dan kini dipercayakan padamu untuk mendekati. Pepet dia !"


"Huh, ternyata Papa dan Om Pras ada main di belakang !" dengus Bagus Saksena. "Tapi aku nggak sudi, Pa !"


"Nggak sudi menolak?" ketus papanya .


"Begitulah !" jawab Bagus Sakena sambil menyeringai.


"Oh iya, tadi Papa cuma pura-pura heran saat melihat Citra? Padahal Papa dan Om Pras yang merencanakan semua ini?" tuduh Bagus Saksena.


"Begitulah !" Pak Soni meniru jawaban Bagus Saksena.


Mereka tertawa bersama.

__ADS_1


"Papa minta kali ini kamu kejar gadis yang benar, Gus. Ingat , feeling orangtua itu kebanyakan benar. Lagipula, Mamamu dan Papa hanya ingin yang terbaik untukmu. Kamu ngerti, kan?"


"Iya, Pa. Aku ngerti. Kali ini aku akan menuruti permintaan Papa. Bukan karena aku anak penurut ya Pa ." Bagus Saksena menyeringai lagi .


"Tapi karena dia memang sesuai dengan seleraku."


"Selera? Untuk mendapatkan seorang calon ibu yang baik untuk calon penerus Prawira LTd, tidak cukup hanya mengandalkan selera, Bagus Saksena ! Kamu harus juga melihat bibit, bebet, bobot nya, agar tidak terulang lagi kesalahan kamu yang sama ! Untung aja, putri Om Pras-mu itu selain cantik, juga pintar, baik, mandiri. Makanya kamu itu harus ...."


"Ampun, Pa. Tobat. Ceramahnya nanti aja di rumah ya !"


"Iya kalau kamu mau pulang ke rumah ! Mamamu aja sudah protes-protes, kamu tidak pernah mau pulang. "


Percakapan hangat antara ayah dan anak yang terjadi di dalam ruangan kantor Bagus Saksrna itu terhenti ketika Adit memasuki ruangan.


"Pak Bos, para peserta meeting sudah memasuki ruangan meeting ," lapornya sopan, karena ada Pak Soni.


"Okey, kamu siapin aja berkas-berkasku di meja, Dit. Aku nyusul bentar lagi ."


"Siap, Pak Bos !"


Dengan penuh syukur karena terbebas dari omelan ayahnya, Bagus Saksena mengajak Pak Soni untuk berjalan bersama ke ruang meeting.


..........


Tiga jam kemudian, ketika meeting selesai. Pak Soni menghampiri Citra Kartika yang masih didampingi manager dari kantor ayahnya.


"Nak Citra masih tinggal di hotelnya Om, tha? Gimana servis para pegawai di sana?"


"Sempurna Pak Soni. Semuanya the best !"


"Tapi nggak terganggu dengan tamu hotel lainnya?"


"Nggak juga, Pak. Saya cuma numpang tidur dan mandi aja di hotel. Selebihnya udah kerja."


Senyum manis nan sopan terbit di wajah Citra, dideteksi oleh Bagus Saksena yang segera terbang mendekat bak kumbang tertarik dengan madu bunga.


"Lagian saya di sini cuma kira-kira dua mingguan, Pak. Setelah proyek E- Lite deal, saya kembali ke Malang."


"Tadi Om bicara di telepon dengan Ayahmu. Nanti setelah proyek ini deal, yang akan menjadi wakil dari PT Kharisma kemungkinan adalah dirimu, nak Citra. Kalau jadi, berarti nak Citra sebaiknya pindah ke hunian yang lebih nyaman dan private. Misalnya, apartemen. Kebetulan ayahmu punya apartemen yang dekat dengan daerah sini."


"Iya, Pak. Saya sih gampang aja, " lagi-lagi senyum manis itu muncul.


"Masalahnya, saya belum bisa memutuskan. Apakah saya bisa menetap di sini untuk jangka waktu lama, ataukah kembali ke Malang. "


"Mudah-mudahan nak Citra memutuskan untuk menetap di sini," Pak Soni tersenyum . Sebelum pergi, ia menjabat tangan Citra dan menepuk-nepuk lembut pundak anak sahabatnya.


"Semoga kamu betah di Jakarta, Citra!" Bagus Saksena berbisik ketika mereka tinggal berdua .


"Asalkan nggak diganggu kamu, aku pasti betah," balas Citra Kartika.


"Apa dulu aku suka mengganggumu?"


"Bukan suka lagi, tapi udah jadi bad habit. Kayanya, kalo kamu nggak ganggu aku, hidupmu nggak terasa lengkap .."


"Kalau begitu aku minta maaf ya, Citra ! Meskipun aku nggak tahu apa yang terjadi dulu, aku minta kamu nggak benci pada Bagus Saksena yang sekarang. "


"Dari dulu aku memang sudah memaafkan Bagus Saksena, kok. " Sekarang senyum manis dan tulus itu terkembang lagi .


Girang sekali lelaki itu. Hatinya seolah ikut mengembang, berbunga-bunga melihat senyum bidadari ini.


*****

__ADS_1


__ADS_2