Jatukarma

Jatukarma
Bab 17


__ADS_3

Para prajurit pengawal Citrawani memang benar-benar pasukan tangguh. Mereka sangat efisien merobohkan lawan yang jumlahnya sepuluh kali lipat jumlah mereka.


Apalagi Ki Parwata. Sepak terjangnya benar-benar menggiriskan. Dalam waktu sekejap ia telah merobohkan sepuluh orang penyerang. Gerakannya gesit, sambil sesekali memberikan perintah untuk tetap melindungi para wanita .


Citrawani dan Mayani ikut terjun dalam pertarungan. Bersenjatakan pedang, serangan-serangan mereka tidak kalah dengan si kepala pengawal. Telah banyak musuh yang mereka robohkan. Sabetan pedang mereka ditakuti oleh lawan.


Pemimpin gerombolan pencegat itu rupanya telah menyiapkan siasat kedua. Ia membunyikan tanda suara bersuit panjang tiga kali.


Citrawani dan Mayani tengah bersemangat mengejar musuh yang mundur-mundur jerih, tidak keburu menyadari sambaran sebuah benda hitam yang melesat ke arah mereka.


"Tuan Putri, awaaasss !" Ki Parwata berteriak memperingatkan.


Citrawani melihat kelebatan benda yang berdesing ke arah mereka, meloncat tinggi-tinggi sambil berseru pada adiknya.


Tetapi ia terlambat. Benda itu sebuah jaring lebar, terhampar menyelubungi ia dan adiknya, kemudian ditarik. Ketika Citrawani memotong jaring itu dengan pedang, ternyata tali-temalinya sangat lemas dan molor, tidak bisa ditebas oleh pedang.


Ki Parwata mengejar orang yang menarik jaring dengan marah. Tiga orang bertopeng hitam menjatuhkan sebuah bola ke tanah.


BUMM!!


Asap hitam beracun meledak. Ki Parwata dan anak buahnya terpaksa meloncat menghindar.


Mereka menunggu hingga asap beracun itu menghilang. Saat udara telah bersih kembali, orang-orang bertopeng beserta tuan putri mereka telah lenyap.


Ki Parwata dengan cemas bercampur geram memerintahkan anak buahnya untuk melakukan pengejaran. Tetapi hingga sore hari, mereka merambah menyelidiki seluruh hutan, tidak ditemukan jejak-jejak para penyerang.


Ki Parwata akhirnya memerintahkan beberapa orang pengawal kembali ke istana bersama para pelayan untuk melaporkan penculikan Citrawani kepada Raden Suryapaksi. Ia sendiri bersama sebagian pengawal tetap melakukan pencarian dan penyelidikan.


***


Di Jenggala, Raden Bagus Saksena masih menyesalkan tindakan ibunya melenyapkan Puspasari begitu saja. Sore itu sang pangeran menghadap ibunya untuk mencurahkan unek-uneknya.


"Kenapa Ibunda mengusir Puspasari? Dia adalah orang yang cukup berguna bagi kita !" Protes Bagus Saksena begitu berhadapan dengan wanita yang telah melahirkannya.


"Berguna katamu? Perempuan lacur itu tiap hari memeras sari-sari energi mudamu !" ketus ibunya.


"Tapi ibu, hamba belum mendapatkan keris Ki Jagaroang milik Adipati Daha !"


"Buat apa kamu mengumpulkan benda-benda tua itu? Yang kita butuhkan hanya pusaka Ki Jagasatru dan patung Ganesha emas ! "


"Ibu, hamba mohon beritahu hamba di mana Puspasari? Hamba masih membutuhkan kemampuannya. Hamba berjanji jika urusan hamba dengannya sudah selesai, Ibunda boleh melakukan apa saja kepadanya !" Bagus Saksena berlutut di kaki ibunya.


"Sampai sebegitunya kamu terpikat pada perempuan ****** itu, anakku?" Ibunya menggeleng-geleng.


"Tidak. Hamba belum pernah terpikat pada perempuan manapun. Tidak pada Puspasari juga. Hamba hanya masih membutuhkan kemampuannya sebagai Corah Caturupa."


Ratu Liku, ibunda Bagus Saksena menunduk memandang anaknya yang masih berlutut.


"Sayang sekali, anakku. Kamu tidak akan bisa menemuinya lagi. Perempuan hina itu sudah dihukum karena kelancangannya kepadamu. Jasanya tidak sebanding sama sekali. Masih banyak orang berbakat di negeri kita yang bisa kamu gunakan kepandaiannya." Ratu Liku menepuk pundak anaknya.


Perlahan, Bagus Saksena berdiri. Dengan lesu ia berpamitan pada ibunya.

__ADS_1


Memikirkan bahwa ia harus melepaskan keinginan untuk memiliki keris Ki Jagaroang membuat langkahnya lunglai. Setibanya di kediamannya, Darpa telah menunggu untuk menyampaikan laporan.


"Tuan muda, Prajala mengirimkan berita, tuan putri Citrawani telah berhasil ditawan !" kata Darpa sambil menghaturkan hormatnya.


"Bagus !" Wajah Bagus Saksena seketika berseri-seri. Lenyap seketika semua mendung kekecewaan atas menghilangnya Corah Caturupa.


"Di mana gadis itu disekap oleh orang-orang Prajala?" tanyanya dengan penuh semangat.


"Di lembah Karang Suwung, Raden. "


"Bagus !" Bagus Saksena tertawa terbahak-bahak. "Itu tempat yang sempurna ! Biarkan dulu gadis itu di sana, tunggu perintah selanjutnya dariku."


"Baik, Raden !" Darpa segera mengundurkan diri.


Raden Bagus Saksena tersenyum-senyum sendiri. Saingan adiknya untuk menguasai putra mahkota Panjalu telah berada di tangannya. Gadis licik dan licin seperti belut itu akhirnya bisa juga ditangkap masuk ke dalam perangkapnya.


"Akan kukoyak-koyak harga dirimu, Citrawani ! Akan kubuat kamu menyesal telah berani menjadi madu adikku ! Mari kita lihat, setelah kutanamkan benihku kepadamu, masihkah kamu berani mengangkat wajahmu di depan muka Suryapaksi?" Bagus Saksena menyeringai.


Ia merasa puas dengan rencana yang telah lama disusunnya.


Awalnya, ia ingin melenyapkan madu adiknya itu dari muka bumi ini. Tetapi ternyata beberapa kali rencananya gagal.


Setelah dipikirkan kembali, melenyapkan Citrawani bukanlah pilihan bijak. Pihak istana dan Daha akan dengan mudah melacak Galuh Sundari sebagai pihak yang berkepentingan untuk melenyapkan saingannya.


Menculik Citrawani dan menodainya adalah saran dari Prajala. Bajingan perusak wanita itu kadang-kadang otaknya bisa diandalkan juga, meski sarannya tetap tidak jauh-jauh dari seputar dada dan ************.


"Citrawani bukan perempuan sembarangan, Raden. Dia sangat tangguh. Diperlukan peralatan dan racun khusus untuk menundukkannya !" Pesan Prajala. "Tanpa itu, hamba menyerah!"


"Sebenarnya bukan hanya masalah biaya, Raden. Tetapi juga teknik ! Ijinkan hamba menyarankan rencana terbaik untuk tuanku, agar nanti tuduhan dari istana tidak tertuju kepada pihak Raden."


"Hmm, katakan !" Bagus Saksena memandang dengan cara yang meremehkan. Prajala pernah gagal menjalankan tugas. Tetapi Bagus Saksena ingin tahu rencana apa yang tersusun di kepala pimpinan partai Kelelawar Maut ini.


"Biarkan kami menculik Citrawani sekali lagi. Kami sekap dan siksa hingga dia merasa putus asa. Lalu Raden datang sebagai pahlawan. Kami akan cekoki dia dengan guna-guna , sehingga ketika Raden datang kepadanya, dia luluh asih kepada Raden ," Prajala tersenyum-senyum.


"Lalu?" Bagus Saksena mengerutkan keningnya. Saran dari seorang manusia mesum memang tidak bisa diandalkan !


"Pokok rencana, Raden harus menanamkan benih di rahimnya. Rencana cabang satu. Jika Citrawani benar-benar kasmaran kepada Raden, saat dia telah berbadan dua, Raden bisa mengatur agar Raden Suryapaksi menuduh Citrawani yang sengaja menyerahkan diri kepada Raden. Kemudian biarkan seluruh keluarga Daha dan Jenggala memohonkan ampun untuk Citrawani demi sang jabang bayi trah penerus tahta Jenggala yang berada di rahimnya !" Prajala tersenyum puas.


" Berdasarkan tradisi kerajaan, seorang bayi adalah suci, tak berdosa, sehingga tidak patut untuk menghukum mati wanita hamil ." Gumam Bagus Saksena, mulai tertarik. "Lalu Suryapaksi akan menceraikan Citrawani "


"Rencana dua," beber Prajala penuh semangat melihat reaksi Bagus Saksena. " Jika Citrawani kebal terhadap guna-guna, Raden tidak usah pedulikan itu. Tidak usah ada kisah asmara yang manis. Perkosa saja dia sampai bunting." Prajala tertawa kejam.


"Lalu?"


"Rayu dia agar mau meminta cerai dari Suryapaksi. Kalaupun dia tebal muka, pura-pura tidak terjadi apa-apa dan kembali ke sisi Suryapaksi, maka anak siapapun yang kelak menjadi penerus tahta Panjalu, jika anak Citrawani maka itu adalah anak anda , jika anak tuan putri Sundari itu keponakan anda !"


"Kalau dia pura-pura keguguran?"


"Nanti tuan atur dengan Tuan Putri Sundari, agar Suryapaksi tidak pernah menidurinya ! Dengan begitu, Suryapaksi akan memahami bahwa anak yang dikandung Citrawani sengaja digugurkan karena bukanlah darah daging suaminya."


"Kalau dia masih keras kepala dan mengancam akan melaporkan kita pada Raja?"

__ADS_1


"Lenyapkan saja dia ketika perutnya telah besar, dan sebarkan rumor bahwa dia bunuh diri karena malu dengan aib perselingkuhan !"


"Rencanamu menarik !" Bagus Saksena manggut-manggut. "Tidak jauh-jauh dari maksiat. Dasar otak busuk !"


Prajala terbahak-bahak.


Bagus Saksena sepakat dengan rincian rencana Prajala. Tanpa ragu ia menyerahkan uang dalam jumlah besar untuk memuluskan rencana mereka.


Tiga bulan berjalan, akhirnya Prajala berhasil juga menculik si licin Galuh Citrawani.


"Selicin-licinnya belut, akhirnya kena jaring juga," gumam Bagus Saksena sarkastik. Tunggu saat paling sial dalam hidupmu, Citrawani. Ketika Sang Aryapati Jenggala menghabisi apa yang menjadi kebanggaan dan kehormatanmu.


****


Lembah di lereng gunung itu banyak memiliki jurang dan goa yang jarang didatangi orang, karena tanahnya berkarang dan tidak subur.


Tidak ada seorangpun yang tahu, di sebuah jurang terdapat goa yang lebar dan datar. Dari luar, mulut goa sangat kecil, hanya cukup dimasuki satu orang. Tetapi semakin ke dalam, ruangannya semakin luas dan datar, cukup untuk menampung ratusan orang.


Untuk memasuki jurang itu, terpasang tangga yang terbuat dari tali tambang yang kuat. Tangga itu digantung di pohon dan diturunkan hanya jika dilewati oleh para penghuninya.


Di dalam goa ada banyak sekat-sekat ruangan terbuat dari bilah bilah papan kayu kasar. Lantai dan dinding gua keras dan bersih karena strukturnya terbuat secara alami dari batu karang putih.


Ada lima bilik yang dipisahkan sekat di bagian tengah goa, sementara bagian depan dan belakang dibiarkan kosong.


Galuh Citrawani dan Mayani dipenjara di tempat yang berbeda.


Citrawani terikat kaki dan tangannya dengan tali yang kuat dan luwes, terbuat dari kulit binatang yang dipantek ke lantai batu dengan pasak besar. Di ruangannya ada sebuah dipan kecil bertilam kain tebal yang cukup empuk. Ada juga sebuah meja dan dua kursi kayu.


Ada dua orang penjaga perempuan yang selalu siaga di luar bilik. Mereka membantunya jika ia ingin ke kamar kecil di sebelah ruangannya. Setiap pagi, siang dan malam kedua orang itu menyuguhkan makanan di atas meja, lalu keluar bilik lagi.


Meskipun dalam keadaan tertawan, Citrawani masih mampu mengagumi sistem ruangan di dalam goa ini.


Kamar kecil di sebelah ruangannya, memiliki kakus yang langsung terhubung ke jurang di belakangnya. Ada aliran air dari pipa bambu dari sumber mata air agak di sebelah atas goa, yang mengisi sebuah gentong tanah liat dan airnya terus mengalir keluar lewat parit kecil.


"Di mana adikku?" itu pertanyaan pertama Citrawani ketika ia sadarkan diri.


"Dia ditahan."


"Apa dia baik-baik saja, ataukah ada terluka?"


"Dia baik-baik saja."


"Oh."


Ketika kedua wanita itu mengantarkan makanan untuk pertama kalinya, Citrawani kembali bertanya.


" Siapa yang menculik kami? Apakah kalian ingin tebusan yang besar?"


Saat itulah seseorang masuk, tertawa-tawa.


"Selamat berjumpa kembali. Tuan putri Citrawani ."

__ADS_1


******


__ADS_2