Jatukarma

Jatukarma
Bab 11


__ADS_3

Ibunda Citrawani sakit parah. Berita itu dibawa oleh seorang utusan ke istana. Raja Aryaiswara mengijinkan Citrawani untuk menengok ibundanya.


Dititahnya Raden Suryapaksi untuk menemani sang istri pergi ke Daha.


Di istananya, Galuh Sundari mengamuk tidak jelas. Membanting barang, memarahi para pelayan, mengeluh tentang makanan. Para pelayan tidak ada yang berani mengangkat mukanya.


Biasanya ada Bagus Saksena yang bisa mengendalikan amarah sang adik. Tetapi sudah sebulan ini Bagus Saksena tidak pernah terlihat di istana.


"Kenapa suamiku harus pergi ke Daha? Bukan Citra satu-satunya istrinya ! Aku juga istrinya ! Kenapa aku dibiarkan sendirian ???"


Sari menunduk. Bahkan ia pun sebagai dayang tersayang, tidak berani bersuara ketika majikannya sedang murka.


Sejak gadis, Putrika Sundari adalah putri kesayangan ayahandanya. Segala keinginannya selalu terpenuhi. Menikah dengan Suryapaksi pun adalah atas keinginannya sendiri.


Ketika ia melihat pangeran itu di arena pertaruhan untuk pertama kalinya, ia telah jatuh cinta. Ia lah yang mendesak kakaknya untuk menantang dan membuat dirinya menjadi syarat pertaruhan. Ia pula yang memaksa kakaknya untuk memasukkan ramuan guna-guna ke dalam minuman Suryapaksi.


Selama ini ia telah berhasil mempengaruhi dan menguasai lelaki idamannya itu. Selama bertahun-tahun Sundari menikmati kasih sayang dari suaminya.


Ia tidak rela Suryapaksi membagi cintanya kepada Galuh Citrawani.


Galuh Sundari menutup pintu ruangannya. Pada Sari ia berpesan agar tidak ada seorangpun yang diijinkan memasuki ruangan.


Ia mengeluarkan selembar kain putih . Dilepasnya semua pakaian dan perhiasan. Ia hanya memakai kain putih menutupi dada dan setengah pahanya. Rambutnya dibiarkan terurai panjang.


Di sebuah ruangan khusus, ia duduk dengan bersimpuh. Tangannya membentuk mudra , lalu ia pun merapalkan mantra. Ia melakukan praktek pranayama menutup jalur nafas. Pusat keinginannya difokuskan pada wajah Suryapaksi. Ketika ia merasakan hawa panas mulai menguasai sekujur tubuhnya. Sundari pun menundukkan wajahnya dan membiarkan rambutnya tergerai ke depan, menutupi seluruh wajahnya.


*****


Sejak turun dari kereta kuda dan menyapa ayahandanya, Citrawani telah berlarian memasuki istana kadipaten. Ia tidak mempedulikan para pelayan yang menyambutnya di depan pintu gerbang. Suryapaksi hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan istrinya.


"Maafkan kelakuan Citrawani, Nanda Raden." Kata Adipati Aryawisena kepada menantunya.


"Tidak apa-apa, Paman Adipati. Mungkin dia terlalu kuatir dengan kesehatan Bibi."


"Mari silahkan masuk, nanda Raden. Sebaiknya nanda beristirahat dulu, sebelum kami hidangkan santapan siang."


Raden Suryapaksi duduk di ruangan dalam, ditemani oleh beberapa pengawal pribadinya. Adipati Daha sibuk memerintahkan pelayan untuk membereskan semua barang bawaan dari istana.


"Paman, aku akan menemani Dinda Citrawani menginap di sini. Paman tidak usah menyediakan ruangan terpisah untuk kami. " kata Suryapaksi.


Sebenarnya itu adalah titah dari Raja dan Ratu Panjalu yang juga disebarkan pada semua pengawal dan pelayan yang menyertai ke Daha. Ratu Pujawati telah mewanti-wanti semua bawahan untuk melaporkan padanya jika Suryapaksi meminta kamar terpisah selama di Daha.


"Baiklah, Raden," sahut Adipati Aryawisena dengan wajah berseri.


Mereka terlibat dalam pembicaraan yang panjang. Suryapaksi sering berkunjung ke Daha ketika dia masih kecil dan remaja. Ia bertanya-tanya kenapa tidak melihat Nareswara, adik kandung Citrawani , kepada pamannya.


Adipati Aryawisena menghela nafas berat.


"Nanda, adikmu itu tidak berada di istana. Ia telah mengembara untuk menambah pengalamannya sejak setahun lalu." Hanya itu yang disampaikan kepada sang menantu.


"Setahun lalu?"Suryapaksi mengerutkan keningnya. "Semenjak pernikahanku dengan Citrawani? Pantas aku tidak melihat dia. Apakah, hmm, apakah dimas Nareswara tidak menyetujui pernikahan kami, Paman?"


"Eh, mengenai hal itu, Paman tidak ambil perhatian, nanda. Karena nanda tahu sendiri bagaimana perangai Nareswara yang keras kepala."


"Paman tidak mengutus orang untuk mencarinya?"


"Sudah beberapa kali. Dan selalu kembali dengan tangan hampa. Tetapi paman yakin, suatu saat nanti dia pasti akan pulang."


Percakapan terhenti ketika para pelayan menghidangkan santapan. Adipati Daha mempersilahkan semua orang untuk melepas lelah dan menikmati suguhan.


Di ruangan dalam, Galuh Citrawani memandang ibundanya yang terbaring lemah. Dua orang pelayan menunggui ibundanya bersama seorang gadis berusia kira-kira 16 tahun.


"Kakak Citra!" Gadis manis itu menghambur memeluk Citrawani erat-erat. Citrawani tahu dia adalah salah seorang dari sepasang gadis kembar, adik tirinya. Tetapi ia tidak tahu gadis yang mana yang memeluknya. Ia membalas pelukan itu sambil memberi isyarat mata pada Sekar.


"Tuan putri Galuh Wasanti," sapa Sekar sambil memberi hormat.

__ADS_1


Galuh Citrawani melepaskan pelukan, lalu mengamati gadis itu. Wajah bulat telur dengan sepasang lesung pipi yang tajam ketika ia tersenyum. Lesung pipi yang juga dimiliki Citrawani. Tetapi gadis ini memiliki mata sipit yang jeli dan bibir tipis yang manis sekali.


Aku akan mengingat wajahnya, tekad Citrawani.


"Adik Wasanti, bagaimana kabarmu? Setahun tidak bertemu, kamu jadi makin tinggi dan cantik," Citrawani mengusap anak rambut yang lebat di kening gadis itu. Wasanti tertawa lebar. Sejak kecil dia paling suka dengan kakak perempuannya. Berbeda dengan adik kembarnya yang selalu mengikuti Nareswara bermain kemana pun.


"Kakak, aku sangat merindukanmu. Bagaimana kehidupan kakak di istana?" Wasanti balas mengamati wajah kakaknya. "Kakak bahagia, kan?"


"Tentu saja aku bahagia, adik."


Seorang gadis lain memasuki ruangan. Ketika Citrawani menoleh, ia hampir menepuk jidatnya.


Ya ampun, ini pasti Galuh Mayani. Bagaimana aku bisa membedakannya? Wajahnya identik banget !


"Kakak Citra, selamat datang di rumah ," gadis yang nampak lebih pendiam ini memberi hormat pada kakaknya.


"Adik Mayani, wajahmu sama persis dengan Wasanti ! Bagaimana aku bisa membedakan kalian?" seru Citrawani.


"Kakak, kenapa lupa dengan tahi lalatku !" Mayani pura-pura merengut. Citrawani mengamati, memang ada tahi lalat kecil sekali di antara alis Mayani.


"Ohya, kakak lupa...maaf ya," Citrawani tersenyum. Mayani mengangguk, lalu duduk di kaki pembaringan sambil memijat telapak kaki ibu tirinya.


"Ibu sakit karena memikirkan kakak...ya kan Ibu?" Wasanti memegang tangan ibu tirinya penuh kasih sayang. "Sekarang kakak sudah ada di sini, cepatlah sembuh, Ibu !"


Dewi Borawati memandangi Citrawani. Bibirnya tersenyum, tapi airmatanya berlinang.


"Ibu, Ibu sakit apa? Apa yang dikatakan oleh tabib?"


"Ibu mengalami serangan panas, kakak. Pencernaan Ibu terganggu. Semua yang dimakan oleh ibu, termuntahkan kembali. Ini sudah berlangsung lama. Kumat, sembuh. Kumat lagi, sembuh lagi. Begitu seterusnya." Wasanti menjelaskan.


Citrawani memeriksa nadi ibunya. Ia mengangguk-anggukkan kepala. Ini penyakit maag kronis yang telah menekan jantung. Ini bukan penyakit yang bisa dipandang ringan, tetapi juga bukan kasus yang tidak bisa ditangani.


"Dengan perawatan intensif 3 bulan, penyakit ibu pasti akan bisa disembuhkan. Kakak yang akan memberikan resep herbal dan cara merawat Ibu. Nanti adik yang langsung mengawasi perawatan Ibu, kan?"


Citrawani dengan cekatan melakukan terapi akupuntur pada ibunya. Dibantu oleh Sekar yang bertugas mengoleskan cairan desinfektan herbal.


"Apa ini?" sebuah suara berat di pintu. Adipati Aryawisena hendak memasuki ruangan bersama tabib. Adipati Daha itu tertahan langkahnya karena terkesiap melihat tindakan Citrawani .


"Ayah, kakak adalah seorang tabib hebat," Wasanti memberitahu ayahnya.


"Hah? Apa benar begitu, Citra?" Adipati Aryawisena bertanya terheran-heran.


Citrawani tidak menjawab. Ia tengah berkonsentrasi untuk menusukkan jarum-jarumnya ke titik-titik pertemuan meridian. Setelah semua titik penting ditusuk untuk membuka jalur energi, Citrawani menghembuskan nafas lega.


Dewi Borawati merasa nafasnya lebih ringan . Ia mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Citrawani.


"Anakku sayang, bagaimana kabarmu? Apakah kamu baik-baik saja di istana?" tanyanya pelan .


" Ibu, Citra baik-baik saja, " Citrawani merasakan kasih sayang besar mengalir lewat sentuhan tangan sang ibu. Tatapan mata seorang ibu yang lembut penuh cintakasih, membuat hatinya tergetar.


Ternyata, begini rasanya disayangi oleh seorang ibu.


Nyaris airmatanya meleleh. Seumur hidup di dunia modern, ia tidak pernah mengenal kasih sayang ibu yang telah meninggalkannya untuk selamanya.


"Citra...jangan menangis, nak..." Tangan lemah itu mengusap bulir airmata yg tergenang di sudut mata Citrawani.


Akhirnya, bendungan itu bobol sudah. Citra modern biasa menghadapi penjahat. Biasa menghadapi tembak menembak dengan bandar senjata atau bandar narkoba. Tetapi ia tidak terbiasa disayang dengan tulus, kecuali oleh almarhum kakek neneknya.


Entah kenapa, melihat sorot mata teduh penuh cinta dan perlindungan dari ibu pemilik tubuhnya ini, air bah membanjiri matanya.


Citrawani terisak-isak.


Perlahan, pipinya diusap oleh tangan ibunya. Bahunya dipeluk oleh ayahnya. Para pelayan dan tabib mematung di tempat masing-masing.


Di depan pintu, Raden Suryapaksi terpaku.

__ADS_1


Ia memandang tertegun pada bahu lembut Citrawani yang terguncang. Bulir-bulir bening yang menganak sungai di pipi pucat itu. Bibir merah yang digigit menahan sedu sedan. Baru kali ini ia melihat gadis lincah dan nakal itu menangis.


Raden Jayanti Suryapaksi terpesona.


****


Malam hari, kediaman adipati Daha telah dilingkupi kesunyian. Hanya para penjaga yang masih terjaga, berkeliling meronda di seluruh kediaman. Udara malam yang dingin membuat semua orang lebih suka bergelung dengan selimut daripada berkeliaran di luar.


Suryapaksi mencuri pandang pada Citrawani yang tengah memasang pembatas di atas ranjang. Bantal-bantal ditumpuk di tengah pembaringan yang besar, memberi jarak untuk dirinya dan suaminya.


Masih terngiang-ngiang dalam ingatan putra mahkota Panjalu, bulir bening bagai mutiara yang jatuh berderai di pipi Citrawani. Kenangan yang membuat hatinya merasa tersentuh oleh rasa simpati yang aneh .


"Kamu yakin tidak ingin tidur di kursi panjang itu?" Suryapaksi menunjuk ke sudut ruangan.


"Ini kamar tidur hamba sejak kecil. Kala tuan Raden mau, silahkan tuan yang tidur di sana," dengus Citrawani.


Ia duduk di meja rias, membasuh wajah dan tangannya dengan sebaskom air hangat bertabur bunga. Citra menyeka lembut wajahnya dengan kain sutra. Ia beranjak ke pembaringan. Dengan cuek diambilnya selimut tebal yang terlipat rapi.


"Hmmm...kamu tidur di sebelahku. Mengenakan pakaian tidur dari sutra yang indah. Hm, kamu mau menggodaku?" tanya Suryapaksi.


"Heloooo..." Citrawani memutar bola matanya.


"Apa itu, Helooooo?" Suryapaksi menirukan aksen dan cara Citrawani memutar bola matanya.


Tanpa terasa, Citrawani terkikik geli. Tampang serius dan sok berwibawa Suryapaksi terlihat sangat lucu ketika mencoba meniru gayanya.


"Kenapa kamu tertawa?"


"Anda tidak pantas mengucapkan kata Heloooo..." Citrawani tersenyum geli lagi.


"Kenapa tidak pantas?"


"Karena ...kata-kata itu hanya ucapan populer di antara gadis-gadis. Kalaupun ada lelaki yang nekad mengucapkannya, mungkin dia bencong.."


Raden Suryapaksi mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa ada banyak sekali kata-kata aneh yang sering keluar dari bibir Citrawani.


"Baiklah. Kamu lebih cantik kalau tertawa atau tersenyum, Citrawani. Lebih baik kamu sering tersenyum daripada cemberut kepadaku. Tampangmu yang jelek jadi lebih enak dipandang, sedikit ."


"Ini perintah dari yang mulia paduka putra mahkota Panjalu Raden Jayanti Suryapaksi?" tampang tengil dan badung Citrawani terpasang kembali. Suryapaksi menghembuskan nafas jengkel.


"Wajah jelekmu kembali ."


"Hamba sejak lahir sudah cantik !" tukas Citrawani cuek. "Kalau Yang Mulia punya kelainan mata dan selera, yaaah, bukan salah hamba !"


"Apa katamu?"


"Bukan salah hamba, kalau, yang, mulia, punya, kelainan!" Citrawani berbisik-bisik di balik selimut yang ditarik menutupi kepalanya.


Suryapaksi pura-pura mendengus marah. Padahal diam-diam ia tersenyum.


Gadis ini ternyata lucu juga.


Suryapaksi membaringkan tubuhnya terlentang. Tangannya menyangga kepala. Sesekali ia melirik Citrawani yang berbaring di sebelahnya, dipisah bantal.


Di luar , para penjaga malam membunyikan kentongan sekali, tanda pergantian waktu jaga.


Raden Suryapaksi masih tidak bisa terlelap. Pikirannya melayang ke masa kecil ketika ia masih sering bermain bersama Citrawani. Ketika akhirnya ia terlena dan tertidur, ia bermimpi sedang bermain kejar-kejaran dengan Citrawani. Yang telah dewasa dan cantik jelita.


Dalam mimpinya, mereka berlarian di taman yang penuh bunga dan kupu-kupu. Mereka tertawa dan Citra terus bersembunyi di antara bunga.


Tiba-tiba, muncul Galuh Sundari, memeluk dan menutup mata Suryapaksi dari belakang. Tetapi wajah Sundari tidak secantik biasanya. Ada aura menakutkan dan gelap yang segera diikuti oleh gemuruh awan gelap di langit. Cuaca seketika berubah.


Raden Suryapaksi gelisah. Tubuhnya bermandikan peluh.


******"

__ADS_1


__ADS_2