Jatukarma

Jatukarma
Bab 23


__ADS_3

Para pelayan di istana permaisuri Galuh Putrika Sundari panik. Mereka bingung mencari buah kecapi yang diidamkan oleh tuan mereka.


Jika keinginannya tidak terpenuhi, Galuh Sundari marah dan membanting apa saja di dekatnya.


Hal ini terjadi sejak kehamilan Galuh Sundari terdeteksi sebulan lalu.


Ia hanya sempat merasa bangga ketika ia mengumumkan kehamilannya pada sidang keluarga. Raja dan Ratu menyambut berita kehamilan menantu mereka dengan bahagia.


Sebaliknya Raden Jayanti Suryapaksi, ayah si jabang bayi malah menunjukkan muka datar dan bingung.


Hari-hari berikutnya dilalui Galuh Sundari dengan kesepian dan tertekan. Suaminya seperti sengaja menghindar untuk bertemu dengannya.


Jangankan memberi perhatian selayaknya pada istri yang sedang mengandung. Bahkan sekedar bertanya kabar pun tidak.


Galuh Sundari galau.


Bagus Saksena yang mengunjunginya untuk berpamit, sempat menegur kecerobohannya.


"Bukankah guna-guna itu akan musnah jika dinda mengandung sebelum lima tahun menikah?" Bagus Saksena menyesalkan.


"Dinda alpa, dinda sungguh bodoh .." airmata Galuh Sundari berlinang.


Terenyuh hati Bagus Saksena melihat adiknya. Ia mengelus puncak kepala Galuh Sundari dengan sayang.


"Sudahlah, semua sudah terlanjur. Sekarang dinda sudah memiliki calon keturunan. Kedudukan dinda sudah dikuatkan oleh penerus tahta Panjalu yang ada di rahim dinda. Jadi tenanglah, dinda. Tidak ada lagi yang akan mengancam kedudukan dinda."


Galuh Sundari mengusap airmatanya dengan saputangan sutra.


"Tetapi Kanda Suryapaksi mengabaikan hamba. Dinda telah kehilangan kasihsayangnya. Apa yang akan hamba lakukan tanpa cintakasih seorang suami," Galuh Sundari merengut.


"Dinda adalah permaisurinya. Istri pertama dan satu-satunya. Ibu dari calon pewaris tahta kerajaan ini. Apalagi yang kurang, Dinda? Untuk mengembalikan perhatian dan kasihsayang Adi Suryapaksi, nanti akan kakanda carikan cara untukmu," bujuk Bagus Saksena.


Galuh Sundari memeluk kakaknya.


" Benarkah itu, kanda?"


"Benar. Karena itu hiduplah dengan tenang di sini. Kakanda akan kembali ke Janggala. Jika urusan kanda telah selesai, kanda akan mengunjungi dinda lagi ."


"Baik, kanda. Dinda akan menikmati hidup dengan tenang dan nyaman di sini....!"


Galuh Sundari tersenyum . Tak lama kemudian ia teringat sesuatu.


" Pelayan, mana rujak kecapiku?" teriaknya gaduh.


Bagus Saksena menggeleng-gelengkan kepala.


Hari ini para pelayan sibuk memeriksa di kebun-kebun istana untuk mencari buah kecapi. Sebagian dari mereka berkeliling dari pasar ke pasar.


Tentu saja tidak ada sebutir buah kecapi pun yang ditemukan, karena belum musimnya.


*******

__ADS_1


Raden Jayanti Suryapaksi menerima tusuk kundai emas yang dikembalikan oleh Adipati Aryawisena. Benda berharga itu salah satu pusaka keluarga turun temurun yang digunakan sebagai hadiah perkawinan untuk Galuh Citrawani.


"Jadi Dinda Citrawani membatalkan pernikahan kami dengan mengembalikan pusaka ini ..." gumam Suryapaksi.


Entah kenapa, ada sesuatu yang terasa mencelos di lubuk hatinya. Ada sesuatu yang terasa terbang, melayang, sehingga hatinya serasa kosong.


Digenggamnya tusuk kundai itu dengan tangan bergetar.


Raja Aryaeswarya memandang putranya dan Adipati Aryawisena bergantian.


" Jika itu memang kehendak dari nanda Galuh, engkau harus lascarya, nanda Raden. Nanda harus ikhlas. Nanda tidak boleh memaksakan kehendak demi kebahagiaan nanda sendiri di atas penderitaan orang lain." Raja Panjalu menasihati putranya.


Raja Aryaeswarya sangat mengasihi Galuh Citrawani yang telah dianggapnya anak sendiri sejak kecil.


Selama ini ia bisa melihat bagaimana perlakuan Suryapaksi pada galuh Citrawani.


Jika memang Galuh Citrawani harus bercerai dari Suryapaksi agar terbebas dari tekanan bathin, ia akan memberi restunya.


Berbeda dengan Sang Ratu. Ibunda Suryapaksi tidak bisa menerima pernikahan anaknya yang berharga hancur.


Meski ia bersikeras menuntut agar Galuh Citrawani dikejar dan ditemukan kemanapun gadis itu lari . Raja tetap dengan keputusannya untuk mengumumkan status kebebasan Galuh Citrawani dari ikatan pernikahan dengan Raden Jayanti Suryapaksi.


Langit mendung menjadi saksi ketika Raden Suryapaksi mengucapkan pembatalan pernikahan dan mengembalikan status putri Galuh Citrawani pada istana Daha.


Penyerahan gadis itu secara simbolis diterima oleh Adipati Daha dan Raden Nareswara beserta segenap punggawa Daha dengan diiringi rintik-rintik hujan mulai menyirami pertiwi.


Derai airmata pun membanjir, isak tangis Ratu, para wanita istana, para putri dan dayang-dayang.


********


"Tidak bisa !" kata pengawal dengan tegas. " Ki Kartala telah memerintahkan kami agar tuanku Raden tidak diganggu !"


"Tapi aku diperintah langsung oleh permaisuri Galuh Sundari ! Lebih tinggi mana kedudukan permaisuri ataukah Ki Kartala?" protes Sari sang pelayan.


"Aku tidak berani membantah. Karena perintah Ki Kartala berarti perintah langsung dari tuanku."


"Huh !"


Sari berbalik kembali ke istana permaisuri untuk melapor.


Sepenanak nasi kemudian, Galuh Sundari tiba di istana pangeran diiringi oleh para dayang dan pengawalnya.


Dengan angkuh, tanpa mengindahkan larangan penjaga pintu gerbang, Galuh Sundari melenggang masuk.


Raden Suryapaksi tengah memeriksa sebuah benda di ruang belajar ketika Galuh Sundari tiba-tiba masuk.


Pangeran mahkota itu mengangkat muka dan mengerutkan keningnya tanda tak suka.


"Siapa yang mengijinkanmu masuk ?" tanya Suryapaksi .


"Kanda, kenapa dinda tidak boleh masuk? Dinda hanya ingin menghibur kanda." dengan manja Galuh Sundari duduk di kursi panjang.

__ADS_1


Ia meletakkan wadah minuman herbal panas di atas meja. Dituangnya secangkir untuk Suryapaksi.


"Ini hamba bawakan minuman untuk mencegah masuk angin. Kanda terlalu sibuk bekerja sehingga lupa makan lupa minum."


"Aku sedang sibuk, dinda. Sebaiknya dinda keluar."


Betapa datar nada suara suaminya. Tengkuk Galuh Sundari terasa dingin seperti disiram air.


"Dinda tahu kanda merasa sedih atas pengembalian status dinda Citrawani. Dinda juga merasakan kehilangan. Selama ini dinda Citrawani telah dinda anggap saudara. Betapa teganya Dinda Citra meninggalkan kita..." keluh Galuh Sundari.


"Hamba tidak menyangka jika dinda Citra memiliki niat hati untuk pergi... jika dinda tahu dari awal, dinda akan berusaha mencegahnya..."


Jayanti Suryapaksi membeku di kursinya. Kata-kata Sundari yang pura-pura sedih bagaikan garam yang dituangkan di atas luka hatinya.


Telah berminggu-minggu sejak titah pengembalian status putri Galuh Citrawani ke Daha. Suryapaksi tidak pernah meninggalkan kediamannya.


Urusan pencarian dua pusaka yang hilang telah diserahkan pada Raden Surya Kencana dibantu Raden Nareswara.


Bahkan urusan kerajaan pun telah diambil alih kembali oleh ayahandanya yang sudah berangsur sembuh.


Setiap hari Raden Suryapaksi mengurung diri di kediamannya. Ada rasa kecewa, kehilangan semangat, sedih yang ia sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Hari ini ditambah lagi dengan rasa kesal dan terganggu melihat kehadiran Sundari.


"Dinda, pergilah. Kanda sedang ingin sendiri !" pungkas Suryapaksi. Ia merapikan meja kayu jati di hadapannya.


Ketika dilihatnya Sundari masih duduk tenang, Suryapaksi menghela nafas. Jengkel, ia pun berdiri. Lalu melangkah keluar dengan marah.


Galuh Sundari bergegas berdiri.


Ia mengejar suaminya keluar sambil memanggi-manggil. Tetapi bayangan Suryapaksi sudah tidak nampak lagi.


Dengan menahan tangis, Sundari menghambur menuju kediamannya


Sejak saat itu, selama beberapa minggu ke depan Galuh Sundari tidak pernah bertemu lagi dengan suaminya. Suryapaksi tidak mengunjunginya. Galuh Sundari pun tidak berhasil menemukan suaminya di manapun ia mencari.


Ke mana perginya Suryapaksi?


Ternyata ia pergi ke istana Galuh Citrawani yang masih dijalankan oleh para pelayan sesuai perintah darinya.


Ia selalu duduk menyendiri di ruang kesehatan milik Galuh Citrawani. Setiap pagi ia datang, duduk di situ untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Kadang ia berjalan-jalan di kebun murbei, memandang daun-daun hijau subur yang menjadi makanan ulat sutra peliharaan Citrawani.


Kadang ia duduk di pinggir bak mandi besar milik Citrawani.


Di matanya selalu terlihat bayangan Citrawani. Seolah gadis lincah itu masih ada di istana. Mengajari akupuntur pada para pelayannya.


Berolahraga jungkir balik yang sampai sekarang pun belum sempat ditanyakan namanya oleh Suryapaksi.


Di bak mandi itu, seolah terlihat kembali bayangan Citrawani berendam air bunga sambil bernyanyi.


Sudut bibir Suryapaksi membentuk seulas senyum. Senyum getir.

__ADS_1


********


*********


__ADS_2