Jatukarma

Jatukarma
Bab 44


__ADS_3

Dewi Sekarwangi, permaisuri Jenggala tengah mengandung. Raja Jenggala merasa bahagia untuknya, karena istri tercinta akhirnya akan memiliki buah hatinya sendiri setelah menikah puluhan tahun.


Tetapi tidak demikian dengan Galuh Liku, istri kedua Raja Jenggala. Putri Malawapati ini merasa cemas. Jika putra permaisuri lahir, semua perhatian dan kasih sayang Raja akan tercurah untuknya.


Kedudukan putra mahkota akan jatuh ke tangan putra permaisuri. Karena status Bagus Saksena hanyalah anak seorang selir, meskipun ia terlahir sebagai anak pertama.


Meski di luar ia menampakkan perhatian yang tulus dan nampak berbahagia atas kehamilan madunya. Tetapi di dalam hati ia sibuk merancang rencana untuk menggulingkan permaisuri .


Dengan bantuan Patih Agung, Galuh Liku menjatuhkan fitnah. Mereka membayar seorang pengawal muda untuk ikut bermain sandiwara.


Kisah cinta perselingkuhan fiktif itu dirancang demikian sempurna.


Pakaian Raden Jalada yang dicuri oleh pengawal, diletakkan di ruangan pribadi Dewi Sekarwangi.


Ketika masalah ini dibesar-besarkan oleh Patih Agung dan dibawa ke dalam pengadilan istana. Sang pengawal pun ikut memberi kesaksian palsu, dibenarkan oleh Galuh Liku.


Kesaksian Dewi Sekarwangi, Raden Jalada dan istrinya serta para pelayan mereka, diabaikan .


Dewi Sekarwangi dijatuhi hukuman buang ke hutan, dengan diiringi 2 pelayan setia dan 2 pengawal.


Dewi Sekarwangi ditemukan oleh Bagawan Wistara yang saat itu masih menjadi seorang pertapa pengembara. Kaget bukan alang kepalang Sang Bagawan menyaksikan putri dari saudara seperguruannya yang tengah hamil terlunta-lunta di hutan.


Bagawan Wistara mengantarkan Dewi Sekarwangi pulang ke pertapaan Bagawan Lalitaswara dibantu oleh keempat pengiring.


Suatu malam, ketika hujan badai mengamuk di hutan, Dewi Sekarwangi berjuang untuk melahirkan bayinya. Perjuangan yang sulit itu akhirnya berakhir. Ketika tangis sang bayi menggema di langit malam, cuaca berubah seketika.


Langit cerah. Bulan purnama menampakkan cahayanya yang lembut.


Dengan senyum bahagia bercampur airmata, Dewi Sekarwangi menamai putri cantik itu Galuh Kalyana Candradewi. Seorang putri jelita yang lahir di bawah cahaya bulan.


Bulan demi bulan berlalu. Tepat dua bulan usia sang bayi, ketika Dewi Sekarwangi menyerahkan bayinya kepada Bagawan Wistara .


Demi keselamatan sang putri mahkota dari incaran Galuh Liku dan Patih Agung, Dewi Sekarwangi berusaha sekuat tenaga untuk mengikhlaskan putrinya.


"Biarlah hamba tidak pernah melihat dan mendengar tentang putri hamba. Yang penting jejaknya tidak bisa dilacak oleh pihak-pihak yang menginginkan kematian kami," demikian kata Dewi Sekarwangi dengan berurai airmata.


"Percayalah, ketika putrimu telah dewasa, Romo akan membawanya kembali padamu. Biarlah putrimu ini kelak yang akan menyatukan Janggala dan Panjalu," demikian janji Bagawan Wistara yg disambut suara petir menggelegar .


Dewi Sekarwangi melanjutkan kehidupan dengan mempelajari ilmu pengobatan.

__ADS_1


Bagawan Wistara, dengan kesaktiannya menempuh perjalanan menuju Kadipaten Daha dalam waktu singkat.


Istana Daha sedang dirundung duka. Dewi Borawati mengalami guncangan bathin karena putrinya yang baru berusia sebelas hari, meninggal karena infeksi.


Istri adipati Daha itu tidak mau makan dan minum. Ia menangis berhari-hari meminta anaknya kembali.


Ketika Bagawan Wistara datang dengan seorang bayi perempuan, Dewi Borawati segera menggendongnya dengan gembira.


"Citrawani anakku...Citrawani anakku .." panggil Dewi Borawati bahagia.


Ia mengira putrinya telah kembali.


Setelah Dewi Borawati melahirkan Nareswara, lama kelamaan ia tersadar. Bahwa Galuh Citrawani yang asli telah meninggal dunia. Dan yang diasuhnya adalah Galuh Kalyana Candradewi, putri Jenggala.


"Maafkan kami, nanda. Karena engkau adalah putri mahkota Jenggala yang sesungguhnya, maka kami pernah memaksakan perjodohanmu dengan Suryapaksi.." Adipati Daha mengakhiri cerita yang dikisahkan oleh kakaknya.


"Tetapi jatukarmamu ternyata bukan nanda Suryapaksi, melainkan nanda Surya Kencana..."


"Begitukah?" Galuh Citrawani bertanya. "Jika status hamba sebagai putri Jenggala telah dipulihkan, perdamaian kedua kerajaan bisa tercapai dengan pernikahan?"


"Memang begitulah amanat leluhur kita terdahulu. Jika Surya dan Candra telah bersatu dalam pernikahan, menjadi Ardanareswari, maka kegelapan yang menaungi dua kerajaan akan sirna..."


'Raden Surya Kencana dan Galuh Candradewi..."


Mereka lebih tersentak dan sulit mempercayai kenyataan ini dibandingkan Citra Kartika.


Kakak tertua mereka, Galuh Citrawani yang asli, ternyata telah tiada. Dan gadis ini, yang selama ini mereka cintai dan hormati sebagai kakak tertua, ternyata adalah putri mahkota Jenggala yang terbuang.


"Kakak..." Mayani memeluk Citra Kartika sambil menangis, disusul oleh Wasanti.


Nareswara membeku, dengan ekspresi wajah yang sulit untuk dijelaskan. Ada kesedihan, terharu, duka, kasihan, bercampur jadi satu.


"Ayahanda..Ibunda. ." kata Citra Kartika, ketika pelukan kedua adiknya telah terurai.


"Terimakasih telah merawat dan mencintai hamba bagai anak kandung sendiri .. Hamba tidak akan pernah bisa membalas budi Ayahanda dan Ibunda seumur hidup ini..."


Gadis itu bersujud di kaki kedua orangtuanya.


Setetes airmata turun di pipi Adipati Daha. Dewi Borawati menangis terharu.

__ADS_1


"Anakku...sampai kapanpun kau adalah anakku terkasih..." Dewi Borawati memeluk anaknya sambil terisak.


"Anakku ..meskipun engkau adalah putri Raja Jenggala dengan Dewi Sekarwangi, tetapi di hati kami engkau adalah putri tertua kami...


Meskipun kelak Raja Jayengrana mengakui nanda sebagai putrinya, engkau tetaplah putri kami yang tercinta..." kata Adipati Daha sembari mengelus rambut Citra Kartika.


Bergetar rasa hati gadis itu. Sudah dua kali ia berganti kehidupan, dua kali pula ayah kandungnya 'membuang'nya.


Justru ayah angkatnya yang membesarkan, merawat, mencintai dengan penuh perlindungan seorang ayah sejati.


"Kenapa?"


Luka lama dari dalam hatinya itu tersuarakan lewat suaranya yang lirih.


"Kenapa hamba selalu dibuang dan tidak diakui ?" Airmata menetes satu-satu dengan perlahan-lahan di pipi Citra Kartika.


Betapa jenaka kehidupan ini, mempermainkan nasibnya sedemikian rupa.


"Anakku, Citrawani. Hidup ini adalah suatu perputaran samsara, tidak ada bedanya di antara suka dan duka, selama kita masih terikat di dalamnya. Yang terpenting adalah keadaan kalbu kita, tetap bersih tanpa wasangka dan tetap berserah pada kehendak Ida Sang Hyang Widhi...maka itulah hidup yang diwarnai kasih dan kebahagiaan sejati."


Terdengar sejuk segar nasehat Bagawan Wistara, melapangkan dada Citra Kartika yang tadinya terasa amat berat.


"Anakku, kami semua akan mengantarmu kembali ke Jenggala untuk menghadap ayahandamu. Sekaligus mengantarkan tanda perjodohan untukmu dan nanda Surya Kencana. Bagaimanakah pendapatmu, nanda?"


"Semuanya hamba serahkan kepada Romo, apapun yang terbaik untuk seluruh rakyat, itulah yang terbaik untuk hamba," sahut Citra Kartika pasrah.


"Tetapi hamba tidak tahu apakah kanda Surya Kencana akan setuju dengan perjodohan ini?"


Citra Kartika mengingat kembali semua pergaulannya dengan kakak sepupu yang telah dianggapnya saudara kandung.


Tidak pernah terpikirkan baginya untuk menjalin hubungan yang lebih dari sekedar hubungan persaudaraan.


Tetapi apapun itu, akan ia ikhlaskan, demi untuk kedamaian kerajaan Panjalu, yang telah memberinya kehidupan dan kasih sayang serta martabat.


"Kakandamu telah diberitahu terlebih dahulu oleh kami. Asal nanda tahu, saat ini ia tengah bersiap-siap untuk menemani kita ke Janggala..." kata Adipati Daha.


Pipi Citra Kartika bersemu merah.


Entah kenapa, setelah mengetahui bahwa Surya Kencana bukanlah saudara sepupunya. Citra Kartika merasa hatinya berdebar-debar.

__ADS_1


Surya Kencana adalah jatukarmanya. Jodohnya, yang telah ditentukan oleh takdir, sejak dia belum lahir.


.......


__ADS_2