
Di sebuah rumah sakit di Singapura, seorang dokter dan beberapa perawat tengah memantau pasien yang terbaring di ruang ICU. Monitor jantung dan otak masih memperdengarkan bunyi yang monoton dan stabil.
Sang pasien telah terbaring koma selama satu tahun dan masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan hingga saat ini. Dua orang perawat pribadi yang ditugaskan oleh keluarga pasien menjaganya siang dan malam.
Pasien itu seorang gadis cantik yang nampak seperti putri tidur. Kulitnya yang putih terlihat pucat. Bibirnya sedikit tertarik ke atas seperti orang yang tersenyum kecil.
Ayahnya adalah seorang pengusaha kaya dan pejabat penting di Indonesia. Orang itu rutin menjenguk putrinya seminggu sekali.
Setiap kali datang, ia akan menunggui sang putri beberapa jam, berusaha mengajak putrinya berbicara. Kadang-kadang lelaki itu akan bercerita apa saja tentang kesehariannya.
Dan setelah tiga jam, ia akan terbang kembali ke Jakarta. Begitulah rutinitas pejabat itu selama setahun.
Operasi pengangkatan proyektil yang bersarang di kepala putrinya berlangsung dengan keberhasilan tinggi. Tetapi setelah operasi, dokter terheran-heran karena pasien tidak kunjung sadarkan diri.
Dokter akhirnya menyimpulkan, untuk membangunkan atau menyadarkan pasien kembali adalah dengan membangkitkan semangat hidup dan keinginan pasien sendiri.
Karena kata-kata dari dokter, ayah sang pasien berusaha untuk hadir setidaknya seminggu sekali di sela-sela kesibukannya yang super padat. Ia selalu menyuntikkan semangat dengan berbicara pada putrinya, meminta maaf, menyatakan kasih sayangnya dan sebagainya.
Pagi ini, Shanti sang perawat pribadi, terkesima ketika melihat jari kelingking pasien bergerak sedikit. Ia mencoba memberi rangsangan dengan menggelitik telapak tangan yang halus dan pucat itu.
Jari kelingking pasien bergerak makin intens. Dan kini dibarengi dengan pergerakan jari-jarinya yang lain.
Shanti girang bukan kepalang. Selama setahun ini, ia sudah jatuh sayang pada pasien cantik ini dan menganggapnya seperti adiknya sendiri.
Dengan lembut ia berbisik di telinga si pasien.
"Gadis cantik, hai si gadis cantik, ayo bangun sayang. Matahari telah terbit. Cahayanya yang hangat menunggumu untuk memandikan kulitmu yang pucat menjadi cerah kemerahan.."
Dokter yang datang untuk memeriksa kondisi pasien, mencatat perkembangan yang semakin membaik. Mereka menyuntikkan nutrisi pada selang makanan yang terhubung langsung ke lambung pasien.
Berjam-jam kemudian, Shanti terpana.
Jari jemari pasien mengepal lembut, kemudian terbuka, dan mengepal kembali.
Kelopak mata pasien berkedut-kedut, lalu kelopak mata yang dilindungi bulu mata lentik itu pelan-pelan terbuka.
"Dokter, pasien membuka matanya !" seru Shanti pada dokter yang tengah memeriksa monitor.
Maka gemparlah ruang ICU privat VIP 1 itu.
Sebuah keajaiban dan kuasa Tuhan terjadi, membangkitkan seorang pasien dari tidur panjangnya.
Para dokter hilir mudik untuk membantu pemulihan pasien atas nama Citra Kartika. Yang bangun dari koma tepat setahun.
.....
Citra Kartika memandang sekelilingnya dengan bingung.
Tembok dengan cat warna peach bergradasi hijau muda, dengan gorden-gorden modern. Orang-orang yang hilir mudik di sekitarnya dengan bicara bahasa Inggris. Mimpi kembali ke zaman modernkah dia?
Seorang gadis yang lebih tua darinya memandangnya dengan senyum haru.
"Selamat datang kembali, Citra Kartika Karismaputri .."
Citra Kartika mengerjap. Gadis yang berpakaian seperti orang modern ini memanggilnya dengan nama lengkap yang tertera di akte kelahirannya?
Gadis itu menyuapinya sesendok air putih.
Setelah tenggorokannya basah, Citra Kartika membuka mulutnya dan berusaha untuk bicara.
"Di... di mana ini?"
__ADS_1
"Kamu ada di Royal Hospital, Citra. Dan kenalkan, aku Shanti. Dan ini Alika." Gadis itu menunjuk seorang gadis lain yang baru saja datang.
"Di mana .. kanda Surya Kencana? Para dayang istana kenapa ..semuanya asing .." ujar Citra terbata-bata.
Kedua perawat pribadi berpandangan dengan bingung.
"Dayang istana?" gumam Alika bingung.
"Kamu koma setelah menjalani prosedur operasi pengangkatan pecahan peluru di kepala, sayang.." Shanti menerangkan pelan-pelan.
"Kami yang menjagamu selama setahun ini .. dan para dokter itu yang merawatmu ."
Citra Kartika menggerakkan kepalanya yang terasa kaku perlahan-lahan, memindai orang-orang yang berdiri di sekelilingnya satu persatu.
"Ah ... pusing .." Citra Kartika mengeluh.
Seorang dokter bergegas menyuntikkan obat di selang infus yang terhubung ke lengan Citra.
Gadis itu mengumpulkan ingatannya yang terasa jauh dan samar-samar.
Ia menatap Shanti , merasa bahwa gadis itu bisa dipercaya. Citra menggenggam erat tangan gadis itu yang tak pernah melepaskan tangannya, lalu berkata lemah.
"Kakak, aku ingin dirawat di Jenggala..."
Ketika melihat gadis itu terheran-heran, Citra meralatnya.
"Maksudku .. di Malang ..."
Maka jadilah hari ini, tiga hari setelah bangun dari koma, Citra Kartika diterbangkan dengan helikopter khusus ke Malang, ditemani oleh ayah dan adik lelakinya. Serta dua perawat pribadi , Shanti dan Alika.
...
Tidak ada seorangpun yang tahu, apa yang membuat Citra Kartika seperti linglung ketika baru bangun dari koma. Ia sering menanyakan hal-hal aneh yang tidak dimengerti oleh orang-orang itu.
"Bagus Saksena?"
"Apakah dia berhasil mengubah dirinya menjadi baik?"
"Bagaimana dengan Galuh Mayani? Dengan siapa dia menikah?"
Citra Kartika terlihat sering sedih . Alam bawah sadarnya masih terbawa pada kenangan yang pernah ia alami di kerajaan Jenggala. Ia sedih jika teringat pada Bagus Saksena dan Siluh Candrani yang bernasib malang.
Berbulan-bulan ia masih sering menyendiri dan merenung.
Ia tidak menyesal meninggalkan Jenggala. Hanya yang ia tidak habis mengerti, apa yang terjadi dengannya selama ia koma ? Apakah itu hanya mimpi panjang? Tetapi kenapa rasanya sangat nyata?
Ataukah semua pengalaman itu adalah refleksi dari kehidupannya sendiri di masa yang lampau? Tetapi mengapa ia harus merasakan sendiri pengalaman itu dalam masa koma?
Citra Kartika juga masih sering bertanya-tanya dalam hatinya kelanjutan nasib orang-orang yang berhubungan dengannya di masa lampau itu.
Apa kabar suaminya, Surya Kencana, yang dinikahi karena jatukarmanya? Apakah lelaki yang dicintainya sebagai saudara itu merasa kehilangan dirinya?
Hingga pada ujung dari kegundahannya, Citra memilih untuk menyerahkan segalanya pada takdir mereka sendiri, jatukarma mereka sendiri. Seperti yang diajarkan oleh Bhagawan Wistara yang weruh dan bijaksana.
'Lepaskan semuanya yang pernah kau alami, dan hiduplah saat ini, detik ini, dengan baik. Karena detik ini adalah anugerah terindah dari Hyang Widhi .'
Selama dirawat di rumahnya di Malang, ayahnya mendatangkan para fisio terapis untuk memulihkan Citra. Mereka membantunya untuk melatih kembali otot-ototnya yang kaku dan mengecil.
Citra Kartika meraba otot lengan dan kakinya yang tidak lagi sekekar dulu, hasil latihan bertahun-tahun. Kulitnya yang putih menutupi otot yang lemah dan lembut seperti otot para wanita pada umumnya. Tidak ada lagi otot-otot yang kuat dan keras bertonjolan di tubuhnya.
Dua terapis dan dua perawat dengan telaten merawat dan melatih Citra, hingga dalam waktu sebulan saja Citra telah mampu melakukan semua aktivitas sehari-hari sendiri.
__ADS_1
Kini ia menghabiskan waktunya untuk mengurus kebun belakang rumah peninggalan nenek kakeknya di Malang. Memberi makan ayam, menggunting daun-daun tanaman yang menguning. Bercanda dengan Mbah Tuti, adik bungsu kakeknya yang tinggal di sebelah rumah.
Beberapa mantan rekan kerjanya di Jakarta sudah menjenguknya, terutama Sherly dan Yudis. Mereka yang banyak membantu Citra untuk mengajukan pensiun dini dengan kondisi khusus.
Ayah kandung Citra, Prasetya Karisma, kerap datang bersama Harry, adik tiri Citra Kartika. Seminggu sekali mereka terbang dari Jakarta demi memberikan dorongan moril untuk satu-satunya anak perempuan Prasetya.
Kehadiran ayah dan saudara tirinya banyak memberikan kemajuan positif pada diri Citra Kartika. Ia yang awalnya terpukul, sedih, sering merenung karena terkenang pada kehidupan di masa lalu , kini telah mulai bisa tersenyum kembali.
Kedua perawat cantik sudah tidak menemaninya lagi di kediaman. Mereka hanya datang sebulan sekali untuk menemani Citra check up ke rumah sakit.
.
.
.
Setahun telah berlalu.
Ini hari terakhir Citra Kartika untuk melakukan check up di rumah sakit di Jakarta. Kali ini ia dijemput oleh Harry yang selalu setia menemaninya. Prasetya tidak mengantarkan anaknya karena tengah sibuk meloby rekan bisnisnya yang baru datang dari luar negeri.
Mereka tengah duduk untuk menunggu hasil pemeriksaan ketika telepon genggam Harry berdering. Pemuda tampan yang baru berusia 20 tahun itu melihat nama ayahnya tertera di layar.
"Halo Ayah?"
"Halo nak, bagaimana hasil check up Citra?"
"Kami sedang menunggu hasilnya, ayah."
"Kalian sedang ada di ruang tunggu Royal Jakarta?"
"Benar, Ayah. "
"Sebentar lagi ayah ke sana. Ini ayah sedang mengantarkan rekan bisnis ayah yang tiba-tiba pingsan."
"Oh?!?"
Beberapa menit kemudian Prasetya benar-benar menghampiri kedua anaknya.
"Bagaimana keadaan rekan bisnis Ayah?" tanya Harry.
"Dia sudah siuman. Kadar gulanya terlalu rendah. Sudah ada putranya yang datang untuk mengurusnya. Jadi ayah bisa menghampiri kalian."
Prasetya duduk di sebelah Citra setelah mengelus rambut gadis itu.
"Hai, my girl !" Sebuah ciuman mendarat di kening anaknya.
"Hai, ayah." sahut Citra datar.
Selama setahun ini hubungannya dengan sang ayah telah membaik. Tetapi Citra Kartika belum bisa bersikap manja selayaknya anak gadis kepada ayahnya.
Begini saja sudah cukup membuat Prasetya bahagia. Yang penting anak gadisnya telah kembali dari cengkeraman maut, dan mau mengakuinya sebagai ayah.
Setelah hasil pemeriksaan Citra keluar, mereka pun mendapat penjelasan dari dokter. Kondisi Citra telah pulih seratus persen, sehingga check up bulanan bisa diperpanjang menjadi enam bulan sekali.
Dengan bahagia , ketiga anak beranak itu keluar dari ruang konsultasi dokter. Di lorong mereka nyaris bertabrakan dengan seorang pemuda yang keluar dari sebuah ruangan.
"Maaf, maaf ..eh.. Om Pras !" Pemuda yang nyaris menabrak bahu Citra itu terkejut ketika melihat Prasetya. Ia lebih-lebih terpana ketika pandangannya bersirobok dengan gadis cantik yang berdiri di dekat Prasetya.
Gadis itu juga terperanjat.
Ia terbelalak, tangannya menutup bibir yang ternganga.
__ADS_1
"Kau ..kau ..Bagus... Bagus... Saksena....?!?! " sebuah suara yang lirih namun jelas terdengar oleh orang-orang, terloncat keluar dari bibirnya.