
Kuda yang dipacu kencang itu bagai terbang melewati semak dan pepohonan kecil di sepanjang danau.
"KENAPA?" teriak Raden Bagus Saksena sekeras-kerasnya. "KENAPA?"
Suaranya hilang tertelan angin yang mengibarkan rambut dan pakaian.
Ada sepenanak nasi bangsawan Jenggala itu memacu kudanya. Setelah lelah berteriak sepanjang jalan, ia pun menghentikan laju kudanya, lalu melompat turun dan menceburkan dirinya ke tepi danau.
Bagus Saksena membiarkan rambutnya yang panjang sepunggung dan seluruh pakaiannya basah terendam air danau yang dingin.
Ia ingin kepala dan hatinya yang terasa panas terbakar menjadi sejuk oleh dinginnya air danau.
"Dewa Batara ... Jagat Dewa Batara.. jika Citrawani bukan jatukarma hamba, mohon hilangkan perasaan rindu dendam dari dalam hati ini... Jika dia adik seayah hamba, mohon gantilah perasaan cinta lawan jenis dari dalam kalbu ini.. menjadi cintakasih saudara kandung..." rintih Bagus Saksena.
Danau ini terpencil dan sepi.
Tidak akan ada yang melihat kesengsaraan bathin seorang Bagus Saksena yang tertumpah di tempat ini. Airmatanya mengalir, dahinya berkerut dan rahangnya mengeras. Kedua tangannya terkepal di dalam air yang sebening kaca .
Di dalam suasana hati hancur lebur, Bagus Saksena tidak menyadari sepasang mata yang mengamatinya dari balik semak.
Sepasang mata bening itu berkaca-kaca. Tangis dan raungan Bagus Saksena yang keluar dari dasar hati, menyentuh rasa iba dan haru pemilik mata bening itu.
Galuh Citrawani atau Kalyana Candradewi, mengikuti kuda yang dipacu Bagus Saksena secara diam-diam.
Sebenarnya, Citra mencurigai Ratu Liku yang menaiki sebuah kereta kuda keluar gerbang kota, senja ini. Ia mengenakan pakaian ringkas dan cadar untuk mengikuti Ratu Jenggala itu dengan kuda secara diam-diam.
Ratu Liku menuju sebuah kuil tua di pinggiran hutan yang jarang disembahyangi oleh orang-orang. Di sana telah menunggu Patih Agung bersama beberapa orang berpakaian serba hitam, dengan sesajian lengkap di dalam kuil.
Setelah menyaksikan pembukaan upacara ritual kelompok kecil itu, Citra segera menarik diri. Ia tidak ingin kecolongan lagi menyaksikan ritual terakhir mereka yang bagaikan pesta **** bebas.
Citra memacu kudanya menuju ibukota Jenggala kembali, ketika ia melihat seekor kuda yang ia kenali sebagai milik Bagus Saksena, mondar-mandir di sekitar danau kecil.
Gadis itu segera turun dari kuda, mengintai ke danau dari balik semak-semak .
Lalu ia melihat pemandangan memilukan pangeran mahkota Jenggala .
Citra Kartika mengusap matanya yang berembun.
Dengan ketetapan hati, ia melangkah diam-diam menuju kudanya dan menaiki kuda itu kembali .
"Dulu aku benci padamu, Kanda Bagus Saksena..." gumam Citra kepada dirinya sendiri.
"Tetapi sekarang aku kasihan kepadamu. Engkau bukanlah orang jahat. Engkau hanya tidak beruntung terlahir dari seorang ibu yang tidak bisa memberikanmu jalan yang benar."
.
.
.
Bagus Saksena tiba di istana, disambut dengan laporan dari para pelayan istana putri.
"Tuanku, Putri Siluh Candrani meninggalkan istana tanpa pemberitahuan."
"Dia pergi?" tanya Bagus Saksena dengan wajah keruh.
"Benar, tuan." kata para pelayan ketakutan.
Bagus Saksena diam saja.
__ADS_1
Biarlah gadis itu pergi. Mungkin itu lebih baik baginya, daripada menyaksikan pertunangan orang yang dicintainya dengan orang lain.
Jika Bagus Saksena bisa memilih, ia juga tidak ingin hadir dalam setiap upacara yang dilakukan untuk mengukuhkan Galuh Citrawani sebagai putri Jenggala. Yang diikuti dengan rangkaian upacara lainnya untuk pernikahan gadis itu dengan Surya Kencana.
Andai ia bisa memilih, ia tidak ingin menjadi putra Raja Jenggala. Dengan begitu ia tidak perlu menjadi kakak Citrawani.
Semua orang berbahagia dan bersuka cita. Kecuali dia dan Siluh Candrani.
"Tuanku?" tanya para pelayan dengan ragu-ragu
"Biarkan saja dia pergi. Jika itu bisa membuat dia bahagia ." bentak Bagus Saksena ketus.
Para pelayan mundur dengan mengkerut ketakutan.
.
Rangkaian upacara penobatan putri Jenggala dan pernikahan Citrawani dengan Raden Surya Kencana berlangsung selama satu bulan tujuh hari.
Puncak upacara yang megah dan mewah itu dipimpin oleh tujuh orang pendeta Siwa dan Budha sekaligus.
Citrawani dan Surya Kencana dirias dengan payas pengantin agung, duduk di hadapan para pendeta yang sedang menguncarkan doa.
Asap dupa dan pasepan yang dibubuhi serbuk wangi mengepul di udara. Suara genta yang merdu dari para pendeta Siwa dan percikan air suci bercampur bunga meneduhkan hati semua yang hadir.
Raja Jayengrana duduk berdampingan dengan Dewi Sekarwangi di sebelah kiri Raden Surya Kencana. Raja Aryaiswara bersama Ratu Pujawati dan Adipati Daha didampingi Dewi Borawati duduk di sebelah kanan Citrawani.
Bagawan Lalitaswara dan Bagawan Wistara berada di barisan tujuh pendeta yang memimpin upacara.
Seluruh hadirin bersukacita, ditimpali suara gamelan yang merdu, seolah-olah gamelan itu ditabuh oleh para asparas (\=bidadara) dari surga.
Galuh Liku duduk di belakang Raja Jayengrana bersama Galuh Sundari dan Bagus Saksena. Di belakangnya lagi, duduk Patih Agung dengan kumisnya yang tebal dan garang.
Galuh Liku merengut karena kedudukannya sebagai permaisuri atau Ratu dicabut. Status itu dikembalikan kepada Dewi Sekarwangi.
Galuh Sundari merasa tidak bahagia karena musuh yang dibencinya ternyata adalah saudara sendiri, yang statusnya bahkan lebih tinggi darinya.
Demikianlah keempat orang di belakang Raja Jayengrana itu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
.
.
Di suatu tempat yang jauh dari ibukota Jenggala, seorang gadis memasuki sebuah dusun. Dusun yang luas itu terletak di tepi sungai Berantas , di lembah yang subur.
Menurut keterangan para penduduk, di dusun ini sedang terjadi wabah penyakit. Banyak orang yang menghindar memasuki daerah itu untuk menghindari tertular wabah .
Gadis itu bertekad akan memasuki dusun. Kudanya dipacu semakin dekat memasuki dusun yang terlihat cukup makmur itu.
Jalan-jalan cukup besar, diperkokoh dengan batu-batu sungai di pinggirnya. Hamparan sawah yang luas membentang di kiri kanan jalan. Sebuah dermaga kecil di tepi sungai menjadi tempat menyandar bagi perahu nelayan maupun perahu dagang, hingga daerah ini cukup ramai sebelum terjadinya wabah.
Gadis yang tak lain adalah Siluh Candrani itu menambatkan kudanya di sebuah warung yang tutup. Kepada seorang warga yang nampak berlalu lalang di jalan, Siluh Candrani menanyakan keadaan dusun.
"Maaf, nisanak ini siapa? Daerah kami sedang tertimpa wabah, sebaiknya nona tidak datang kemari agar tidak tertular..." kata lelaki tua itu kuatir.
"Saya adalah seorang tabib ," kata Siluh Candrani . "Tolong tunjukkan kepada saya orang-orang yang membutuhkan bantuan tabib.."
"Ah, nona...kalau begitu tolonglah anak kami, nona ..tolong anak kami .. Saya sudah berjalan kesana kemari dari pagi untuk mencari bantuan..." Lelaki tua itu tiba-tiba bersujud.
"Paman tua.. jangan bersujud ! Bangun, paman ! Saya akan coba menolong anak anda ! Ayo tunjukkan saja di mana tempatnya !"
__ADS_1
Lelaki tua itu bangkit berdiri. Dengan tergopoh-gopoh ia menunjukkan jalan menuju rumahnya, di antara pohon-pohon yang teduh.
Pondok itu sangat kecil, hanya ada dua bilik yang ditempati oleh dua orang yang sedang sakit.
Di bilik yang pertama, seorang wanita tua sedang memegangi perutnya sambil merintih kesakitan. Di bilik satunya, seorang gadis sebaya Siluh Candrani sedang sekarat dengan mata membeliak. Nafasnya terengah-engah.
Siluh Candrani bekerja dengan cepat.
Ditotoknya beberapa titik di punggung dan tengkuk gadis itu, hingga gadis itu terbatu-batuk lalu memuntahkan cairan hitam.
Siluh Candrani menotok beberapa titik di bagian perut dan telapak kaki gadis itu. Kini gadis itu membuka matanya dan bernafas dengan lebih lega .
"Bopo... " panggil gadis itu lemah.
"Biyung..."
"Iya nak, sabar yaa...ini Nona tabib sedang mengobatimu .." lelaki tua itu mengusap dahi anaknya yang bercucuran keringat.
"Kisanak, tolong ambilkan semangkuk air," pinta Siluh Candrani.
Dari dalam buntalan pakaiannya ia mengeluarkan kantong kain kecil. Beberapa butir pil kering ia ambil lalu dicampur dengan semangkuk air yang disodorkan oleh si pemilik rumah.
Ramuan obat itu ia minumkan pada gadis itu.
Setelah itu ibu dari si gadis yang sedang merintih-rintih juga diberi ramuan yang sama .
Beberapa saat kemudian, ibu tua itu sudah tidak merasakan sakit lagi di perutnya.
"Pak e... perutku sudah tidak sakit lagi .." katanya .
Tertatih ia menghampiri suaminya yang sedang menunggui putri mereka.
"Oh bu e, segala puji bagi Hyang Widhi.. anak kita juga sudah bisa tidur dengan nyenyak..." lelaki tua itu berucap dengan bahagia.
"Di manakah nona yang telah mengobati kami, pak e?"
"Nona tabib, beliau sedang meramu obat di dapur..."
Nona tabib yang mereka bicarakan itu datang membawa semangkuk besar ramuan yang baru ia buat.
Sebagian ramuan ia berikan kepada sepasang suami istri itu. Untuk diminumkan kepada anak mereka setelah gadis itu bangun.
Setelah itu ia berkeliling dusun itu untuk mengobati para penduduk yang sakit.
Merawat begitu banyak orang sakit membutuhkan waktu yang lama.
Sang kepala dusun yang telah mendengar 'kesaktian' tabib wanita muda itu menyediakan rumahnya sebagai tempat berteduh bagi Siluh Candrani.
Tak terasa sebulan sudah gadis itu berkeliling dusun untuk mengobati para penduduk.
Wabah yang menyebar itu setidaknya telah merenggut nyawa beberapa orang sebelum kedatangan Siluh Candrani. Kini semua penduduk yang sakit telah berangsur sembuh dan wabah berhenti menyebar.
Nama Siluh Candrani pun menjadi terkenal di seantero daerah tepi sungai Berantas. Nona Tabib Siluh Candrani yang bertangan ajaib.
Tabib muda itu tidak memperdulikan semua puja-puji yang ia terima.
Keluar masuk dusun, menjelajahi daerah yang jauh. Itu semua ia lakukan untuk menenangkan hati.
Jika ia tidak bisa menyembuhkan hatinya sendiri, biarlah ia menyembuhkan orang-orang malang lain yang menderita sakit parah.
__ADS_1
.....