
Raden Jayanti Suryapaksi . Lelaki jantan berusia 23 tahun. Tampan dan berkuasa, sebagai putra mahkota Panjalu ia memiliki kekuasaan penuh di bawah Raja. Semua gadis di seluruh pelosok kerajaan bermimpi untuk menjadi selir atau sekedar dayang-dayang istana.
Tetapi seorang gadis belia, istri keduanya, menolak dirinya.
Lelaki itu memandangi wajahnya di depan cermin. Yang terpantul di sana adalah seraut wajah maskulin yang nyaris sempurna. Bagian manakah yang tidak menarik? Ia mengamati wajah dan tubuhnya dengan teliti. Berhari-hari ia melakukan pemeriksaan ini dengan hati penasaran.
"Paduka Raden, pelayan Galuh Permaisuri menghadap." Kartala, pelayan pribadi Suryapaksi melapor.
"Biarkan dia masuk."
Kartala membawa Sari masuk ke dalam. Pelayan itu menghaturkan sembah. Suryapaksi menyuruhnya bangkit berdiri.
"Melapor pada Paduka, hamba membawa pesan dari Paduka Galuh Permaisuri."
"Katakan, Sari. Dinda Sundari membutuhkan apa?"
"Semua kebutuhan di istana Galuh Permaisuri sudah lengkap, Raden. Tetapi Permaisuri meminta hamba untuk menyampaikan pertanyaan, apakah nanti malam Paduka Raden akan bermalam bersama Permaisuri? "
Suryapaksi tidak segera menjawab. Sudah sebulan sejak kehadirannya di istana Citrawani. Sejak saat itu ia belum mengunjungi istrinya yang pertama. Pelayan istrinya sudah beberapa kali dikirim untuk menanyakan hal ini.
"Baiklah. Nanti malam aku akan berkunjung. Kamu boleh kembali dan sampaikan berita ini pada Dinda Sundari."
"Hamba laksanakan, Paduka. Sekarang hamba mohon ijin kembali ke istana Galuh Permaisuri," Sari menyembah, kemudian mengundurkan diri dengan wajah berseri.
Kartala mengingatkan majikannya.
"Paduka, bukankah Tabib Sarwakenak pernah mengingatkan paduka Raden untuk jangan terlalu sibuk dengan kegiatan malam? Agar benih yang dihasilkan adalah yang terpilih dengan kualitas prima..."
"Jadi, menurutmu aku harus menjauhi Dinda Sundari?"
"Bukan begitu, paduka. Tabib mengatakan agar paduka fokus dulu dengan Paduka Galuh Citrawani."
Suryapaksi mendengus. Bagaimana mau fokus dengan dia? Dia saja belum bisa diapa-apakan.
"Aku akan mengunjungi Sundari untuk memberi pengertian padanya, Karta. Supaya dia tidak bertanya-tanya dan kuatir. Apa perlu aku melapor padamu tentang apa yang kulakukan di istana istriku?"
"Ampun, paduka. Tidak perlu begitu," Kartala menahan senyumnya. Majikannya ini sudah diemban dan dikawalnya sejak kanak-kanak. Mereka adalah sahabat dekat, meskipun Kartala tidak pernah meninggalkan tata tertib seorang pelayan.
Suryapaksi masih mengamati cermin di depannya, yang membuat Kartala keheranan. Belakangan ini tuannya sering termenung di depan cermin, mengamati dirinya sendiri.
Terkadang tuannya terbengong dengan pandangan menerawang jauh. Hal ini terjadi sejak sang Ibunda menegur putranya tentang Citrawani yang belum juga ada tanda-tanda kehamilan.
"Kartala!"
"Ya, tuan?"
"Dulu waktu kamu menikah dengan Juiwah, berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk membuat dia mengandung?"
"Mm, sebulan setelah kami menikah, istri hamba langsung telat, tuanku ."
"Secepat itu?!" Suryapaksi tercengang.
"Secepat itu, tuan!"
Suryapaksi memegang dagunya dengan ibu jari dan telunjuk . Pandangannya masih jauh menerawang ke langit.
__ADS_1
"Dewa memberkatimu dengan murah hati, Kartala."
"Hamba sangat bersyukur.. "
"Kenapa istriku belum hamil juga? Sudah 4 tahun aku menunggu. Apakah aku pernah berbuat dosa di kehidupanku yang lalu, sehingga pala karmanya aku petik sekarang..."
"Paduka Raden masih sangat muda..." Kartala menghibur. "Masih banyak sekali kesempatan. Bukankah Paduka Permaisuri baik-baik saja menurut Tabib Darma?"
"Tabib Darma mengatakan Sundari subur dan aku juga tidak ada masalah. Jadi di mana masalahnya, Kartala. Aku kasihan pada Ibunda yang sudah sangat merindukan cucu."
"Paduka, bolehkah hamba mengajukan sebuah pendapat?"
"Katakan !"
"Bagaimana kalau Raden mendengarkan pendapat tabib lain lagi? Misalnya tabib Sarwakenak dan Tabib Wong... untuk memeriksa Permaisuri. Dengan demikian, ada perbandingan pendapat dengan masing-masing tabib ."
"Hmmmm...usulmu boleh juga, Karta. Coba aku bicarakan dengan Dinda Sundari nanti !" Raden Suryapaksi manggut-manggut.
"Apa yang akan kamu bicarakan dengan istrimu, Nak?"
Ratu Permaisuri memasuki ruangan diiringi dayang-dayang.
"Paduka Ratu Permaisuri!"
Kartala segera berlutut untuk menyembah. Raden Suryapaksi mencakupkan kedua tangan untuk menghormati ibunya. Setelah ibunya duduk di atas dampar, Suryapaksi duduk bersila di atas lantai kayu dekat kaki ibunya.
"Suryapaksi, kamu adalah putra mahkota, nak. Kata-katamu adalah titah kedua setelah Ayahandamu. Apapun yang terbaik untuk istrimu, kamu perintahkan untuk dilakukan. Kamu yang membuat keputusan, bukan Sundari." Ucap Ratu dengan anggun dan berwibawa.
"Hamba mengerti, Ibunda. Hanya hamba ingin memastikan kalau istri hamba merasa nyaman dan tidak terpojok."
"Apakah kamu merasa kalau Ibunda memojokkan Sundari dengan memintamu untuk mengunjungi Citra lebih sering?"
"Ataukah Sundari yang merasa terpojok ? Apakah dia keberatan kalau kamu sering-sering bermalam di istana Citrawani?"
"Tidak, Ibu. Sundari malah sering menganjurkan hamba untuk datang ke istana Citra."
"Dan kamu telah melakukannya, Surya?"
"Sudah, Ibu." Suryapaksi menunduk. Ia tidak ingin membohongi Ibunya. Tetapi ia juga tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya.
"Tetapi Citrawani belum ada kabar baik juga hingga saat ini..." Ratu Pujawati menghela nafas sedih.
"Putraku, kamu harus berusaha lebih keras lagi. Ibu bukannya pilih kasih. Tetapi Sundari telah berusaha selama 4 tahun. Mungkin belum saatnya. Sekarang kamu harus fokus pada Citrawani, mumpung usia pernikahan kalian belum lewat 1 tahun...."
"Baik, Ibunda. Tetapi hamba harus adil juga pada Sundari. Walau bagaimanapun, dia juga istri hamba."
"Ibu tahu Nak, Ibu juga tidak keberatan. Siapapun menantu yang akan memberikan cucu, Ibu sambut dengan gembira. Lebih bagus lagi kalau dua-duanya mengandung bersamaan."
Raden Suryapaksi mengeluh dalam hatinya. Satu saja belum hamil. Ibunda sudah minta dua!
"Citra masih sangat muda dan cantik. Dia tidak kalah jelita dengan Sundari. Ibu tahu apa yang terjadi. Kamu pilih kasih terhadap mereka, Nak. Ke depannya Ibu harap kamu lebih mengutamakan berkunjung pada Citra secara teratur . Bukan karena Ibu tidak menyukai Sundari. Tetapi karena kita harus mencoba memberi kesempatan lebih pada Citra."
Ratu Pujawati berdiri.
"Surya, 4 tahun adalah kesempatan yang cukup untuk Sundari. Selama ini ia telah memonopoli dirimu, nak. Sudah cukup. Ibu harap kamu mengerti. Ini adalah masalah pewaris kerajaan kita !"
__ADS_1
Suryapaksi berlutut dan mencium kaki ibundanya.
"Hamba mengerti, Ibunda! Hamba akan berusaha lebih keras lagi."
Ratu Pujawati meninggalkan kediaman putranya.
Raden Suryapaksi memukul jidatnya sendiri.
"Jagat Dewa Batara ! Berusaha lebih keras bagaimana? Haruskah aku memaksakan diriku pada Citrawani ? "
*****
Langit senja terlihat memerah dengan tenggelamnya sang surya. Jerit burung-burung yang bermigrasi ke barat menyemarakkan udara. Di tengah hutan kecil di belakang istana, Citrawani menggelar tikar kulit macannya untuk latihan yoga. Sekar, Gentini dan beberapa dayang mengikutinya.
Gerakan-gerakan yoga yang dilakukan Citrawani sangat dinamis dan kuat. Ia mempelajari acro yoga, ashtangga, hatha dan kriya yoga dari beberapa master yoga terkenal. Ia meliuk, melipat tubuhnya, jungkir balik dengan kepala di bawah. Dan berbagai gerakan ekstrim lainnya. Sesekali ia memperbaiki pose para pelayannya, yang diselingi gelak tawa.
Suasana riang gembira dan ringan. Selesai latihan yoga, mereka pun melakukan meditasi bersama, dengan mencantingkan suara alam semesta. "Om...Om...Om..."
Sepasang mata tajam mengintai dari balik gerumbul pohon besar yang rimbun. Ia adalah Jayanti Suryapaksi.
Sang putra mahkota tengah mengintip istrinya sendiri.
Ia terheran-heran dengan apa yang dilakukan istrinya. Itu kelihatan seperti sebuah teknik olahraga. Entah olahraga apa. Terlihat sangat dinamis, luwes dan indah. Suatu saat nanti, ia harus mencari tahu.
Banyak kejutan yang ia lihat dari Citrawani. Seingatnya, Citra adalah gadis pemalu. Lemah lembut, manis dan santun .
Belum pernah ia melihat sisi lincah dan indah dari sosok gadis cantik itu, yang bergerak meliuk-liuk, tidak bosan untuk dipandang mata. Diintai, tepatnya.
Sejak kapan lagi aku peduli padanya ?
Bathin Suryapaksi.
*Aku hanya penasaran.
Kenapa dia berubah begitu dashyat? Ia bukan lagi adik sepupu pemalu yang selalu menutupi mukanya dengan kipas dan mencuri pandang dari jauh. Ia sekarang bagaikan gadis asing yang cerdas, pemberani, lincah dan...galak*.
Ingat terakhir kali mengunjunginya, Citrawani malah mempersilahkannya untuk tidur sendiri di ranjang. Gadis itu memilih untuk tidur di lantai.
Dengan berani ia juga mengatakan belum mencintai suaminya. Belum siap untuk menjadi istri seutuhnya. Betapa tabahnya ia mengatakan hal itu dengan lugas. Di hadapan seorang putra mahkota ! Betapa beraninya !
Raden Suryapaksi terkejut ketika melihat, dari kejauhan kakaknya menghampiri Citrawani. Raden Surya Kencana hanya mengawasi gadis-gadis yang tengah duduk hening. Setelah beberapa saat, Citrawani membuka matanya. Ia nampak gembira melihat kehadiran Surya Kencana.
Tanpa sungkan, Citrawani mempersilahkan Surya Kencana duduk di depannya, beralaskan kulit macan yang empuk. Satu alas dengannya. Meskipun tidak berdekatan, karena kulit macan cukup lebar.
Suryapaksi mengepalkan tangannya.
Mereka mengobrol dengan riang gembira. Tertawa-tawa. Sesekali sambil menyesap minuman yang dibawakan oleh pelayan dan memakan buah jeruk besar. Bahagia sekali mereka.
*Ketika bersamaku, Citrawani tidak terlihat sebahagia itu. Apa yang ia pikirkan tentang Kanda Surya Kencana?
Tidakkah ia peka sedikit saja? Tidakkah ia memahami posisinya sebagai istri putra mahkota? Seenaknya ia bercanda dengan lelaki lain*!
Suryapaksi memukul-mukul telapak tangannya sendiri dengan geram. Entah kenapa, ia merasa ada rasa tidak suka menyelinap di hatinya.
Tidak jauh dari gerumbul pohon itu, sepasang mata tajam lainnya tengah mengintai juga. Sepasang mata milik Bagus Saksena. Pangeran Aryapati dari Jenggala itu mengamati semua kejadian sambil tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala.
__ADS_1
"Raden Suryapaksi....Ternyata kamu mulai penasaran..." desisnya . "Aku akan membuatnya jadi terang benderang untukmu. Hemmmm."
***********