
Gadis cantik itu mengenakan pakaian mewah layaknya seorang putri Raja. Rambutnya digelung ke atas dan dihias dengan bunga-bunga emas.
Dua orang dayang-dayang selalu siap untuk melayani segala kebutuhannya di istana Jenggala.
Sejak dibawa masuk istana dan diperkenalkan sebagai putri Raja Jayengrana dan Dewi Sekarwangi, Siluh Candrani benar-benar merasakan kesenangan dan kemewahan hidup di dunia.
Ketika bertemu dengan Raja Jayengrana, hal yang pertama ditanyakan oleh raja tua itu adalah ibunya, Dewi Sekarwangi.
"Ibu Dewi telah berjanji akan datang kemari tiga bulan lagi, Ayahanda. Karena itu Ayahanda harus tetap bersemangat dan makan minum yang banyak, agar segera sehat kembali dan bisa meminta maaf langsung kepada Ibu Dewi Sekarwangi..."
Kata-kata Bagus Saksena membuat semangat sang ayah bangkit kembali.
Raja Jayengrana bersedia untuk dirawat dan selalu meminum obatnya dengan teratur. Makanan yang dihidangkan pun selalu dimakan dengan lahap. Dalam waktu dua bulan saja, Raja Jayengrana telah pulih kembali.
Siluh Candrani diperlakukan dengan baik oleh Raden Bagus Saksena. Bahkan pangeran itu memanjakannya seperti terhadap Galuh Sundari, adik kandungnya.
"Berkat kedatanganmu, adik, Ayahanda berangsur sembuh," puji Bagus Saksena suatu hari.
Mereka sedang berada di padang rumput untuk melatih berkuda. Kuda-kuda yang kelelahan sehabis berlatih sedang ditambatkan. Mereka duduk di bawah pohon rindang, beralas batu gunung di atas rumput tebal yang empuk.
Siluh Candrani yang selalu tinggal di istana dan mendapat perawatan terbaik nampak makin cantik dan menawan .
Kulitnya yang gelap terbakar matahari menjadi lebih terang dan bersih berkat mandi lulur yang dilakukan oleh para dayang istana secara teratur.
"Semua ini adalah kehendak Hyang Widhi, kanda. Hamba senang melihat ayahanda pulih kembali seperti sedia kala." kata Siluh Candrani tulus.
"Kemarin ada utusan dari Panjalu yang datang. Mereka mengirim surat dari Raja Aryaiswara yang mendahului kedatangan mereka bulan depan untuk menjalin perjodohan dua kerajaan, antara Surya dan Candra ." kata Bagus Saksena.
"Apa maksudnya itu, Kanda?" tanya Siluh Candrani polos.
"Mereka akan meminang putri pertama Jenggala untuk dinikahkan dengan putra pertama Panjalu, Raden Surya Kencana..."
"Artinya, Raden Surya Kencana akan dinikahkan dengan....hamba?" tanya Siluh Candrani dengan mata terbelalak.
"Benar."
"Apakah ayahanda menyetujuinya?"
"Tentu saja, Dinda. Karena ibu Dewi Sekarwangi telah menyetujui pinangan ini. Bahkan ibu Dewi juga akan ikut bersama rombongan mereka ."
"Ooohh..."
Merah padam wajah Siluh Candrani, membayangkan perjodohannya dengan Raden Surya Kencana yang sangat dipuja dan dikaguminya.
"Apakah adik setuju dengan pinangan ini?" tanya Bagus Saksena.
"Hamba terserah pada Ayahanda dan kanda saja, bagaimana baiknya," kata Siluh Candrani malu-malu.
Seorang pengendara kuda mendekat ke arah mereka, lalu berhenti dan turun.
__ADS_1
"Raden Bagus, Ibu Ratu memanggil Kanda Raden untuk menghadap beliau di istana ratu." Kata Ragaparna, sepupu Bagus Saksena.
"Aku sedang menemani adikku di sini, Ragaparna."
"Biarlah hamba yang mengiringi dinda putri Candrani . Begitu titah Ibu Ratu," Ragaparna menyampaikan pesan bibinya.
Bagus Saksena bangkit berdiri . Ia memandang Siluh Candrani .
"Adik, mau ikut bersama kanda ke istana ratu? Ataukah melanjutkan melatih kuda bersama Ragaparna?"
Siluh Candrani tidak pernah merasa nyaman dengan pandang mata Ratu Liku. Oleh karena itu ia memilih untuk sesedikit mungkin berinteraksi dengan ibunda Bagus Saksena tersebut.
"Hamba akan kembali ke istana sebentar lagi, kakanda. Biarlah kanda Ragaparna menemani hamba melatih kuda."
"Baiklah. Ragaparna, jaga adikku baik-baik," kata Bagus Saksena sebelum beranjak, dengan tatapan menghujam tegas pada Ragaparna, yang dijawab dengan sopan.
"Tentu saja, Raden !"
"Kanda Ragaparna, sejak kapan tinggal di istana?" tanya Siluh Candrani berbasa-basi. Selama tinggal di istana, ia jarang bertegur sapa dengan pemuda ini, meski Ragaparna selalu berusaha untuk menarik perhatiannya.
"Kanda tinggal di sini sejak kecil, dirawat oleh Ibu Ratu. Karena ibu kandung Kanda telah meninggal sejak melahirkan kanda," kata Ragaparna.
"Oh, kasihan .." gumam Siluh Candrani. Ia melihat ke arah pemuda itu yang menundukkan pandangannya dengan sopan.
Pemuda itu berwajah tampan, mungkin karena memiliki darah bangsawan, begitu pikir Siluh Canrani. Dia sangat sopan, bahkan memandang wajahnya pun tidak berani.
Gadis polos itu sama sekali tidak mengerti segala intrik dan seluk beluk hati manusia para penghuni istana .
"Gadis itu sudah dua bulan di istana, dan kau belum juga bisa mendekatinya," kata Ratu Liku.
"Harusnya gadis gunung itu sudah bisa kau buat tergila-gila sehingga rela menjadi budak cintamu ! Sekarang apa yang kutakutkan telah tiba ! Pinangan dari Panjalu untuknya. Oh Dewa Batari, jika gadis itu menjadi ratu Panjalu, maka tipis kemungkinan bagi kita untuk mengendalikan Jenggala !" Ratu Liku mengamuk.
"Ragaparna ! Mulai besok kau harus menebarkan guna-gunamu kepada Siluh Candrani dan rebut kehormatannya untukmu !"
"Baik, bibi !"
Ragaparna tidak berani mengganggu Siluh Candrani terang-terangan karena status gadis itu yang tinggi, bahkan lebih tinggi dari Galuh Sundari.
Apalagi Bagus Saksena juga melindungi dan menyayangi gadis itu, sehingga Ragaparna harus berpikir seribu satu kali sebelum bertindak gegabah.
Diam-diam Ragaparna merapalkan mantra yang diajari oleh bibinya, lalu ia mengangkat wajah dan menatap tajam mata Siluh Candrani.
Inilah kesalahan Siluh Candrani. Gadis polos itu merasa simpati dan memandang mata Ragaparna sejenak.
Saat itu mendadak Siluh Candrani merasa amat sangat kasihan, seolah-olah Ragaparna adalah orang yang paling membutuhkan pertolongan dan uluran tangan di dunia ini.
"Oh, kanda Ragaparna...kasihan sekali dirimu... jadi ibumu adalah saudara kandung Ibu Ratu Liku?" tanya Siluh Candrani lembut dengan tatapan mata sayu.
"Benar. Ibuku adalah saudara termuda dari Ibu Ratu, menikah dengan seorang punggawa Malawapati. Kanda adalah anak satu-satunya. Setelah ditinggal Ibu, kini kanda hanya sebatang kara di dunia ini..."
__ADS_1
Tatapan Ragaparna makin tajam menghujam manik mata Siluh Candrani, maka makin sayu lah pandang mata Siluh Candrani.
"Jangan sedih, kanda. Ada saudara-saudara kanda di sini. Dan ada pula .. Siluh Candrani..." kata gadis itu menghibur dengan mata makin berat, hingga akhirnya terpejam.
Ragaparna mendekat. Ia menggenggam tangan Siluh Candrani lembut.
Entah ilmu apa yang dirapal pemuda itu. Siluh Candrani diam saja ketika tangannya diremas dengan lembut.
Ia juga mandah ketika Ragaparna menariknya dalam dekapan. Bibir pemuda itu mendekat ke arah wajah Siluh Candrani. Bibir ketemu bibir.
Seperti tersambar petir, merasakan bibir yang kenyal dan lembut, Siluh Candrani tersentak dan membuka mata.
Melihat wajah tampan itu dekat sekali dengan wajahnya, bahkan tubuhnya berada dalam dekapan Ragaparna, Siluh Candrani kaget dan menyentak tubuhnya mundur.
Meski dia masih polos dan lugu, tetapi ia adalah anak gemblengan Dewi Sekarwangi, putri Bagawan Lalitaswara.
Ilmu guna-guna semacam itu tidak akan bisa melumpuhkannya dengan mudah.
"Kau...kau menggunakan ilmu apa?!" tanya Siluh Candrani bingung. Ia menatap Ragaparna .
"Kenapa aku merasa sangat...sangat aneh?!" gumam gadis itu.
Kegugupan pemuda tegap dan tampan itu membuat Siluh Candrani curiga .
"Kanda Ragaparna...kau ..kau menggunakan ilmu hitam?" Siluh Candrani bangkit berdiri dengan cepat.
"A..aku..aku .."
"Katakan, kanda ! Ilmu apa tadi itu? Benarkah kanda menggunakan ilmu hitam?!" tanya Siluh Candrani penasaran.
Ragaparna menunduk. Entah kenapa ia tidak berani menatap mata Siluh Candrani yang polos.
"Iya.." kata Ragaparna lemah. "Ini memang ilmu hitam. Tetapi bukan niat kanda untuk melakukannya. Ilmu hitam ini warisan turun temurun, dan keluar dengan sendirinya ketika hati kanda tergugah."
Ragaparna berbohong untuk melindungi bibinya.
Bodohnya, gadis yang lugu itu percaya begitu saja.
"Begitu ya? Kalau begitu, lain kali kanda harus hati-hati, agar ilmu hitam ini tidak menyakiti seseorang," nasehat Siluh Candrani.
"Sudahlah, mari kita kembali ke istana."
Gadis itu menghampiri kudanya.
Ragaparna terkesima.
Ia nyaris tidak percaya untuk dua hal.
Pertama, gadis itu lumayan "berisi" sehingga ilmu guna-guna tingkat tinggi yang diwariskan bibinya, bisa dipunahkan dalam waktu singkat.
__ADS_1
Kedua, putri ini demikian lugu dan polos, gampang dibodohi untuk ukuran seorang gadis lihai yang " berisi".
.....