Jatukarma

Jatukarma
Bab 48


__ADS_3

Galuh Citrawani diboyong ke istana Panjalu sebagai permaisuri Raden Surya Kencana. Sekali lagi mereka melakukan upacara pernikahan di istana Panjalu, bersamaan dengan pasangan Nareswara - Harini dan Wasanti - Panji Wicaksana.


Dewi Sekarwangi dan Prabu Jayengrana tidak menyertai mereka ke Panjalu. Kehadiran kedua orangtua itu diwakili oleh Bagus Saksena , Ragaparna dan beberapa menteri.


Sekali lagi Raden Bagus Saksena mengantarkan saudarinya untuk menjadi Ardanareswari Panjalu.


Dahulu ia pernah mengantarkan Galuh Sundari. Tetapi adiknya itu ternyata bukanlah jatukarma sejati untuk menjadi Ardanareswari.


Setelah hingar bingar perhelatan mewah itu selesai. Bagus Saksena menghadap kepada Prabu Aryaiswara.


Di dalam ruangan nampak Bagawan Wistara duduk dengan senyum teduhnya .


"Adapun maksud hamba menghadap kepada paduka Raja adalah untuk mengakui semua dosa yang pernah hamba lakukan. " kata Bagus Saksena.


Ia mengeluarkan sebuah kotak yang terbuat dari kayu besi berwarna hitam yang terlihat sangat kokoh. Dipersembahkannya kotak itu kepada Raja Panjalu.


"Apakah ini, nanda Bagus Saksena?" tanya Prabu Aryaiswara sambil menimang kotak yang terasa cukup berat.


"Paduka, itu adalah keris pusaka Ki Jagasatru dan simbol Ganesha Emas yang telah hamba curi."


"Hah?!?!"


Prabu Aryaiswara melengak kaget.


Bagawan Wistara menatap ke arah Bagus Saksena sambil tetap tersenyum.


Bagus Saksena hanya merunduk dengan pandang mata tetap tenang. Ia telah siap untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.


Prabu Aryaiswara menyerahkan kotak itu kepada Bagawan Wistara . Brahmana itu membuka kotak dengan hati-hati, lalu meneliti kedua benda yang tersimpan di situ .


Sebuah keris terbuat dari batu baja bintang luk sembilan berwarna hitam, dengan gagang terbuat dari kayu cendana berhiaskan permata putih bercahaya lembut di bagian ujungnya. Itulah keris Ki Jagasatru yang legendaris.


Benda kedua adalah sebuah patung Ganesha dari emas dengan pahatan yang halus. Patung simbol kerajaan yang telah diwariskan turun temurun sejak dari leluhur mereka Paduka Bhatara Shri Samarawijaya.


"Ini memang dua pusaka kerajaan yang telah lama hilang. Pusaka ini dijaga dengan sangat ketat. Bagaimanakah nanda bisa mencurinya?" tanya Bagawan Wistara.


"Hamba mengirim seorang Corah terkenal untuk mencurinya. Tetapi corah itu sekarang sudah tiada."


"Mencuri pusaka kerajaan adalah dosa besar. Apakah nanda sudah siap dengan segala resikonya?"


"Dulu hamba tidak pernah berpikir tentang dosa, karena hati dan pikiran hamba digelapkan oleh nafsu serakah akan kekuasaan. Tetapi kini hamba sudah menyadari, takdir tidak akan pernah salah, hak dan kewajiban berjalan searah," tutur Bagus Saksena.


"Sekarang dua pusaka sudah kembali kepada yang berhak, dan hamba juga sudah siap untuk menerima hukuman !" kata pemuda itu dengan tegas .


Prabu Aryaiswara berpandangan dengan Bagawan Wistara . Prabu Aryaiswara menganggukkan kepala, disambut senyum khas sang brahmana.


"Nanda, karena Nanda sudah siap untuk dihukum, maka hukumannya ada dua. Yang pertama adalah... menikah dengan salah satu putri keraton Panjalu."


Bagus Saksena mengangkat mukanya dengan kaget.

__ADS_1


Dia mengira hukumannya akan lebih berat. Misalnya, menyerahkan sebagian pasukan Jenggala yang berada di bawah kekuasaannya. Atau menyerahkan beberapa daerah di bawah panji-panji Jenggala.


"Panjalu memiliki beberapa putri yang masih belum ada jodohnya. Diah Suryandari , putri bungsu sang Prabu dengan Ratu Pujawati. Galuh Prabasini, putri sulung Panglima Jayasendra. Serta Galuh Mayani, putri bungsu Adipati Daha. Nanda akan mempersunting di antara salah satu putri keraton tersebut." Bagawan Wistara menjelaskan.


Bagus Saksena paham. Pernikahan politik memang sering menjadi pilihan para penguasa untuk mengamankan kerajaan dari kemungkinan perang dan saling mencaplok wilayah kekuasaan.


"Hamba menerima!" kata Bagus Saksena tegas.


"Hukuman kedua. Nanda harus tinggal di padepokan Romo Bagawan untuk belajar kewaskitaan selama waktu sepuluh purnama."


Bagus Saksena mengangkat mukanya lagi.


Hukuman macam apa ini?


Ini bukanlah hukuman, tetapi anugerah.


Siapa yang tidak mengenal Bagawan Wistara? Di seluruh kolong langit, nama brahmana yang bijak dan sakti itu telah begitu melegenda. Beliau meninggalkan tahta kerajaan karena panggilan hati untuk menjadi seorang pertapa.


Orang-orang biasa tidak akan sertamerta diterima menjadi murid beliau, kalau bukan karena berjodoh.


Bagus Saksena berlutut di depan Bagawan Wistara. Disentuhnya kedua kaki orangtua itu lalu dicakupkannya tangan di dada.


"Guru..." kata pemuda itu terharu.


"Ya, sejak saat ini engkau adalah muridku, nanda Bagus Saksena. Setelah menerima semua pengajaranku tentang ilmu bathin, sepuluh bulan ke depan barulah nanda kembali ke Jenggala untuk mempersiapkan pernikahan dengan salah satu putri Panjalu."


Sore itu, Bagus Saksena hendak berpamitan kepada adiknya, Galuh Candradewi atau Citrawani.


Ia meminta kepada pengawal untuk menghadap ke kediaman Surya Kencana dimana kini Citrawani tinggal.


Atas perkenan dari Surya Kencana, Bagus Saksena memasuki ruangan utama tempat menerima anggota keluarga yang datang berkunjung.


Citrawani telah menunggu ditemani oleh Raden Surya Kencana.


"Kanda Bagus Saksena, " sapa Citrawani dengan lembut. Pandang mata gadis itu kepada Bagus Saksena kini berubah lembut dan penuh kasih.


"Dinda Candradewi, kanda datang untuk berpamitan. Romo Guru berkenan membawa kanda ke padepokan Welirang untuk belajar ilmu bathin. Dinda baik-baiklah di sini bersama kanda Surya Kencana. Sepuluh bulan lagi, kanda akan datang menjengukmu di sini," kata Bagus Saksena .


Pemuda itu lalu beralih memandang Surya Kencana.


"Raden, hamba mohon jagalah adik hamba baik-baik. Hamba percaya, Raden akan mencintai dan memperlakukan dinda Candradewi dengan sangat baik, sebagai seorang ratu !" kata Bagus Saksena dengan suara bergetar.


Raden Surya Kencana memeluk Bagus Saksena. Ditepuk-tepuknya punggung pemuda itu lembut dengan penuh rasa persaudaraan.


"Jangan sungkan-sungkan, Raden Bagus. Sekarang kita adalah saudara. Kapanpun Raden datang ke Panjalu, akan kami sambut dengan tangan terbuka ."


"Terimakasih."


Setelah pewaris Jenggala itu pamit pergi, Citra berkata kepada Surya Kencana.

__ADS_1


"Sungguh kasihan Kanda Bagus Saksena..."


"Kenapa, dinda? Dinda menyesal tidak memberitahunya bahwa dia sebenarnya bukan saudara sedarah dinda? " goda Raden Surya Kencana.


"Tidak. Aku hanya kasihan..."


"Dinda menyesal membiarkan dia pergi?" goda Surya Kencana lagi.


Sebenarnya, ada sebersit rasa cemburu di hati Raden Surya Kencana. Tetapi ia melapangkan dada karena menyadari bahwa Citrawani telah menjadi istri sahnya. Miliknya. Tidak ada lagi yang harus dicemaskan.


Apalagi, Bagus Saksena benar-benar menganggap bahwa Citrawani adalah adik kandungnya seayah.


"Kanda, kita telah sepakat tidak akan pernah memberitahu langsung kepada kanda Bagus Saksena. Aku tidak menyesali itu. Kanda sudah tahu itu.. Jadi jangan menggodaku," tukas Citrawani merengut.


Ketika mereka berduaan, sikap mereka tetap akrab dan bebas seperti dulu. Jika sedang berada di depan pandangan orang lain, barulah Citrawani menggunakan panggilan yang resmi untuk menyebut suaminya dan diri sendiri .


"Aku hanya kasihan padanya karena memiliki seorang ibu seperti Galuh Liku. Andai didikan yang dia terima tidak seperti itu, aku yakin kanda Bagus Saksena akan menjadi kesatria gagah perkasa yang tidak bercela bagi Jenggala." kata Citrawani setengah merenung.


"Semoga didikan yang diberikan oleh Romo Bagawan, bisa mengubah sifatnya menjadi seorang kesatria sejati, untuk mengemban tugas menggantikan Ayahanda Prabu Jenggala !" Raden Surya Kencana mendoakan dengan tulus.


"Semoga demikian adanya ..."


"Ngomong-ngomong, dinda tidak menyesal kan, melepaskan seorang penggemar berat yang sebaik Bagus Saksena?" Raden Surya Kencana menggoda istrinya lagi.


Matanya dikedip-kedipkan dengan nakal.


Citrawani melirik Surya Kencana dengan sebal. Timbul niat isengnya untuk mengerjai sang suami.


"Sebenarnya, aku sedikit menyesal... kalau kupikir-pikir, kanda Bagus Saksena hanyalah statusnya anak dari ayahanda...tetapi darahnya bukanlah darah ayahanda. Jadi sebenarnya, ..." Citrawani melirik-lirik suaminya dengan tatapan penyesalan.


"Sebenarnya kalau kita buka kebenaran ini, kita tidak tahu bagaimana ia akan memperjuangkan cintanya ..iya kan kanda?"


Surya Kencana menatap sayu. Ia tahu istrinya sedang mempermainkannya. Jadi ia memutuskan untuk ikut bermain.


"Iya. Kita tidak tahu apakah dia akan melarikan Candradewi , seperti Rahwana melarikan Sita Dewi mungkin.." tukas Surya Kencana.


"Salah, bukan Rahwana, tapi Rama ..karena dia tampan dan gagah .." celetuk Citrawani .


"Begitu, ya? Jadi dia tampan dan gagah. Jadi di sini, siapa yang jadi Rahwana?" tanya Surya Kencana, pura-pura marah.


"Raden Surya Kencana lah..." Citrawani terkekeh-kekeh.


Ia menghindar dan berlari kecil ketika suaminya hendak meraihnya.


Tak terasa hari beranjak malam.


Sepasang suami istri itu terus bercanda dan bersenda gurau, diikuti oleh sepasang cicak yang saling berkejaran di tiang sudut ruangan.


****

__ADS_1


__ADS_2