Jatukarma

Jatukarma
Bab 52


__ADS_3

Tigabelas tahun lalu. Merlyn, anak dari Bi Liyah, pembantu Pak Soni, datang dari desa. Gadis bertubuh tinggi dan bongsor itu baru berusia dua belas tahun, tetapi perawakannya seperti gadis yang telah duduk di bangku SMA.


Ia dijemput dari desa sepeninggal neneknya. Anak tunggal Bi Liyah itu tidak punya siapa-siapa lagi, sehingga Bi Liyah memohon kepada Pak Soni untuk mengijinkan anaknya tinggal bersamanya di rumah majikannya itu.


Ijin diberikan. Bahkan, Pak Soni membiayai sekolah Merlyn dan disekolahkan di tempat yang sama dengan Bagas. Kebetulan mereka hanya beda setahun.


Saat itu Bagus masih duduk di bangku kelas tiga SMA, Merlyn kelas satu SMP dan Bagas kelas dua SMP. Merlyn yang ramah dan periang kepada dua anak lelaki itu, segera dekat dan disayangi oleh Bagus. Tetapi Bagas lebih sering menjahili Merlyn.


Ketika Bagus mulai kuliah, Merlyn resmi menjadi pacar cinta monyetnya. Hubungan mereka tidak mendapatkan restu dari ibu dan ayah Bagus, sehingga mereka terpaksa kucing-kucingan dan pura-pura saling menyayangi sebagai saudara.


Dan mereka mulai resmi mengumumkan hubungan mereka sejak setahun lalu, ketika Pak Soni memergoki mereka tinggal bersama di Singapur. Kedua orangtua Bagus tidak bisa berbuat banyak, karena Bagus mengancam tidak akan menikah selamanya jika Merlyn tidak direstui bersamanya.


Karena kecewa pada Merlyn, Bi Liyah dipulangkan ke kampungnya oleh Nyonya Soni. Tetapi hal itu bukan masalah besar bagi Bi Liyah.


Tabungannya telah cukup untuk memulai hidup di desa. Belum lagi uang yang diberikan Merlyn kepadanya, digunakan untuk membuka sebuah usaha penggilingan padi dan toko serba ada di kampung, serta beberapa petak kebun.


Begitulah kisah hidup Merlyn, dari versi dan sudut pandang Bagus .


Dan beginilah perjalanan seorang Merlyn, dari laporan Beny kepada Bagus.


Saat itu keluarga Beny baru datang dari berlibur di Singapur. Mereka mengalami kecelakaan mobil di jalan tol dari bandara. Ibu Beny dan Betty, adik Beny, dirawat di RS karena cedera parah. Sementara Beny dan ayahnya, Pak Roni, hanya menderita lecet-lecet.


Pak Roni bolak-balik kantor dan RS untuk menunggui istri dan anaknya. Beny dan ayahnya untuk sementara tinggal di rumah Pak Soni agar lebih dekat dengan RS.


Saat itu Merlyn baru berusia tigabelas tahun. Ia ditugaskan untuk melayani keperluan Pak Roni selama tinggal di rumah Pak Soni. Mengambil pakaian kotor dari kamarnya, merapikan lemari, menyiapkan kopi pagi.


Suatu hari ketika Beny baru pulang dari sekolah, ia mendapati rumah dalam keadaan sepi. Beny yang baru saja dipulangkan dari sekolah karena rapat guru. Ia naik taxi pulang, tidak menunggu supir yang biasanya menjemput mereka .


Beny masuk ke kamarnya di lantai atas. Ketika keluar kamar, ia melihat pintu kamar ayahnya tidak tertutup rapat. Rupanya ayahnya masih ada di rumah, belum berangkat ke kantor atau RS.


Beny membuka pintu kamar ayahnya, bermaksud mengajak ayahnya untuk pergi ke RS.


Dan di sanalah, untuk pertama kalinya ia melihat pemandangan tak senonoh antara Merlyn dan Pak Roni. Perbuatan yang semestinya hanya dilakukan oleh sepasang suami istri. Bukan oleh seorang gadis berusia tiga belas tahun dengan seorang lelaki dewasa berusia empat puluh dua tahun.


Dengan shock, Beny membekap mulutnya. Ia terpana menyaksikan adegan itu untuk beberapa saat, kemudian diam-diam ia menutup pintu.


Beny gemetar oleh rasa takut dan juga amarah.


Takut jika ia ketahuan oleh ayahnya, marah jika ia mengingat betapa tega ayahnya melakukan perbuatan terkutuk itu di saat ibunya tengah terbaring sakit.


Karena telah pernah memergoki mereka, Beny jadi sensitif pada gerak-gerik ayahnya atau Merlyn. Dari hasil penyelidikan dan pengamatannya, akhirnya Beny tahu bahwa mereka telah sering melakukannya.


Beny sering mengintip ketika ayahnya dan Merlyn diam-diam selalu bertemu. Di balkon atas yang sepi, di perpustakaan, di taman atas, di kamar Merlyn. Dan yang paling sering adalah di kamar Pak Roni sendiri.


Remaja seusia Beny akhirnya kehilangan kepolosannya. Ia yang setiap saat disuguhi pemandangan tak pantas itu, akhirnya tergiur untuk ikut mencicipi Merlyn.


Dengan sedikit intimidasj dan ancaman untuk membongkar rahasianya, Merlyn akhirnya bersedia untuk melayani Beny secara cuma-cuma.


Ketika Bagus melanjutkan kuliah S2 di Amerika, Merlyn menangis dengan airmata buaya. Hatinya sedang galau, karena Merlyn mendapati dirinya berbadan dua. Dia sendiri tidak tahu benih siapa yang dia kandung.


Untuk membuat Bagus mengaku sebagai ayah dari janinnya juga tidak mungkin, karena saat itu Bagus belum pernah menjamahnya.

__ADS_1


Dengan kepergian Bagus ke Amerika, akhirnya datang kesempatan untuk menggugurkan kandungan.


Pak Roni mengira Merlyn hanya pernah berhubungan dengannya . Dia bersedia menikahi Merlyn secara siri.


Tetapi Merlyn menolak. Di dalam hatinya tentu saja lebih memilih untuk menjerat Bagus yang jauh lebih muda, tampan dan masa depannya menjanjikan.


Pak Roni bersedia untuk membiayai pengguguran janin tak berdosa di perut Merlyn.


Setelah itu, Merlyn menjadi lebih lihai. Dia tidak pernah lupa untuk menggunakan pengaman.


"Dia seorang maniak," kata Beny. "Dia melakukannya dengan siapa saja, bahkan pak Herman Gatot pernah mencicipinya. "


Bagus membelalakkan mata.


Pak Herman adalah mantan sopir Pak Soni yang telah pensiun. Dia bertubuh tinggi besar sehingga dijuluki Pak Herman Gatotkaca. Tetapi usianya sudah lanjut. Saat pensiun tiga tahun lalu, usianya mencapai 70 tahun.


"Oh ..My . " Bagus mengusap wajahnya frustasi .


Dia sudah tidak sanggup lagi mendengar lebih banyak.


"Apakah perempuan ini pernah terjangkit penyakit kelamin?" tanya Bagus .


" Untungnya, tidak. Karena sejak kasus dia hamil di usia 16 tahun, dia menjadi pintar. Dia tidak pernah lupa memakai pengaman, dan selalu chek up ke dokter kulit dan kelamin."


"Dan, asal kamu tahu, Bagus ! Dua tahun lalu, sebelum kamu membawanya ke Singapur, Papaku mengantar Merlyn untuk melakukan operasi pemasangan selaput dara di Bangkok !"


Bagus mengernyitkan alisnya, jijik.


Itulah jawabnnya, kenapa ia selalu mengira Merlyn adalah seorang gadis yang polos dan suci . Karena itu ia rela membela harga diri Merlyn di depan orangtuanya.


.... .


Bagus memasuki kantornya dengan wajah dingin.


Seorang satpam membukakan pintu masuk. Bagus mengangguk membalas sapaan hormat dari beberapa karyawannya.


"Selamat pagi, Pak Bagus Saksena Prawira !" sebuah suara manis menyapanya dari belakang.


Bagus Saksena membalikkan tubuh.


Sebuah senyum yang mampu menjungkirbalikkan dunia, terbit di wajah yang indah itu.


Citra Kartika. Itu gadis misterius, yang pernah menebak namanya dengan telak, di Rumah Sakit tempat ayahnya dirawat dulu. Lima bulan lalu .


"Selamat pagi, nona Citra Kartika Karismaputri."


Gadis itu tertawa renyah.


"Ternyata namaku masih bisa diingat."


"Namaku juga masih diingat olehmu ."

__ADS_1


"Beda kasusnya. Kamu sudah lupa lagi dengan memorymu. Aku masih ingat dengan semua pertemuan kita sebelumnya, semua detailnya. Namamu mungkin sudah pernah kusebut ribuan kali sebelumnya."


"Ohya?" mata Bagus Saksena menyipit sebentar.


"Kamu serius, Citra?"


"Aku sangat serius. "


"Lalu, di mana kita pernah bertemu sebelumnya?"


Citra Kartika mendekatkan wajahnya ke telinga Bagus Saksena. Pemuda itu dengan serius mendengarkan bisikan Citra .


"Di dalam mimpi." desis Citra Kartika.


Bagus Saksena memandang Citra Kartika yang tertawa renyah. Pemuda itu sedikit meragukan kewarasan otak Citra.


Sambil menggeleng-gelengkan kepala, Bagus Saksena melangkah .


Sayang, cantik-cantik kok gila... batin Bagus Saksena.


Di ruangannya, Bagus Saksena memanggil Adit untuk menyiapkan keperluan meeting siang.


"Loh, ternyata betulan toh bos udah balik dari Singapur..." celoteh Adit ketika sudah berada di ruangan.


" Memangnya kapan aku pernah bercanda untuk masalah kerjaan ?"


"Nggak pernah sih. Cuma aku bingung aja, katanya tiga hari lagi baru balik. Ini kok baru pergi kemarin sudah datang lagi..."


"Siapkan saja semua keperluanku, tidak usah banyak tanya ."


Adit menyerahkan semua berkas yang sudah ia siapkan .


"Ini bos, mestinya Pak Roni dan Bagas yang memimpin meeting. Tapi karena kamu sudah datang, ya nggak jadi dipimpin mereka.."


"Ohya Gus, wakil baru perusahaan E - Lite sudah datang tadi. Sekarang nona Citra Kartika sudah menunggu di ruang meeting ."


"Siapa namanya tadi?"


"Nona Citra Kartika."


"Dia?!! Putri Pak Prasetya Karisma?"


Pantes tadi ketemu di lobby kantor. Ternyata dia lah wakil baru yang dibicarakan Adit kemarin.


"Betul, bos. Wah kamu cepat sekali kalo sudah berkenaan dengan gadis cantik. "


"Tutup mulutmu. Dit. Brazil masih ada lowongan manager."


Adit segera ngacir keluar.


Ruangan rapat yang luas dan sejuk telah ramai orang. Pak Roni, Bagas, Adit dan beberapa wakil dari rekanan perusahaan telah hadir. Citra Kartika terlihat duduk di depan, diapit oleh beberapa manager dari perusahaan Papanya.

__ADS_1


Bagus Saksena menghela nafas panjang untuk mengusir beban di hatinya, sebelum melangkah masuk.


******


__ADS_2