
Citra Kartika mengerahkan kemampuan untuk mendengarkan. Keempat orang itu bicara dengan lirih, seolah menjaga agar tidak ada satupun pelanggan kedai makan yang mencuri dengar percakapan mereka.
Mereka tidak tahu, pemuda tampan yang terlihat lemah gerak-geriknya itu ternyata mampu menyimak bisikan mereka.
"Adipati Wilanggiri masih belum setuju sepenuhnya, karena dihalangi oleh anaknya , Wisanggeni. Karena itu Kakang Prajala mengutus kita untuk diam-diam menghadang pemuda itu besok, ketika mereka melintasi hutan bambu. Biarlah penghalang itu kita singkirkan buat selamanya."
"Tuan tanah di kota M, tuan Narjuman, dialah penghubung kita untuk kelompok pesisir selatan. Nanti kita singgah untuk menyampaikan surat dari kakang Prajala !"
Kening Citra Kartika berkedut. Firasatnya mengatakan urusan keempat orang ini dengan Prajala, pimpinan pemberontak Kelelawar Maut, tidaklah sederhana.
Kelelawar Maut merupakan pecahan dari partai Pasir Hitam. Kedua kelompok besar itu dibangun dan dibiayai oleh mantan bangsawan kerajaan Malawapati yang telah pecah.
Kini Malawapati hanyalah sebuah kerajaan kecil yang tunduk di bawah kekuasaan Panjalu. Kerajaan kecil ini berada di antara segitiga Panjalu dan Jenggala.
"Aku harus menyelidiki para utusan Prajala ini," gumam Citra Kartika.
Tapi wajah 'pemuda' itu tidak menunjukkan suatu perubahan. Dengan santai ia mengunyah nasi dan menyinduk kuah mangut. Kemudian menyeruput air nira dengan nikmat .
Suatu kebetulan baginya, ketika ia selesai makan, keempat orang itu juga sudah selesai makan.
Rupanya si gadis cantik genit itu masih penasaran dengan pemuda tampan itu.
Ketika Citra Kartika berjalan menuju meja kasir untuk membayar makanannya, si gadis genit maju mendekatinya.
"Saudara yang berwajah bagus, simpanlah uangmu untuk membiayai perjalananmu. Biar kami yang membayarnya," ujar Kania.
Tanpa malu-malu ia menatap wajah 'jantan' Citra Kartika. Air liurnya hampir menetes memandangi mata sayu dan teduh 'pemuda' itu yang baginya sangat memabukkan.
Citra Kartika hanya tersenyum. Ia tetap mengangsurkan sejumlah uang pada pemilik rumah makan, lalu langsung melenggang pergi.
" Iiihhh...sombongnya ..." Kania mengeluh . Kalisang yang marah melihat adik seperguruannya diremehkan, diam-diam melemparkan sebuah senjata rahasia jarum beracun .
"Kalisang..." seru Tandika.
Tandika hendak mencegah perbuatan adiknya, tapi terlambat. Jarum beracun itu berdesing menyambar tengkuk si 'pemuda'.
Anehnya, pemuda itu tiba-tiba terhuyung, seolah lantai yang dipijaknya bergelombang. Sebelah tangannya terangkat untuk menjaga keseimbangan.
Tandika yang sebelumnya bermaksud mencegah Kalisang, terpaku. Dengan gerakan seolah tak sengaja, pemuda itu telah terhindar dari serangan jarum beracun.
Bahkan jarum itu kini tersampok angin dan berbalik arah menuju ke kening Kalisang !
Tandika terkejut sekali.
Tring !
Secepat kilat Tandika menggunakan pedangnya untuk meruntuhkan jarum beracun itu sebelum menancap di dahi Kalisang.
"Astaga !" kata Tandika.
__ADS_1
"Kau lihat itu Kalisang ! Gara-gara kamu sembarangan menyerang orang, hampir jidatmu sendiri dimakan oleh jarum beracun !" tegurnya marah.
"Pemuda itu terlalu sombong, Kakang.. . Beraninya ia meremehkan Kania..." Kalisang masih membantah.
"Dia memang memiliki kemampuan untuk sombong, Kalisang ! Kau bukalah matamu, Kalisang ! Pemuda yang terlihat lemah itu bukan orang sembarangan ! Dengan sekali gerak telah sanggup mengembalikan jarum ! Lain kali hati-hati, jangan sembarangan main tangan. Mengerti?" sergah Tandika.
"Baiklah Kakang..." Kalisang menunduk.
Ketika mereka telah selesai membayar, pemuda bercaping itu sudah tidak terlihat di manapun.
"Ah sayang sekali ..padahal aku ingin berkenalan dengannya .." sesal Tandika.
Sebenarnya Citra Kartika tidak pergi jauh. Ia sengaja menitipkan kudanya pada penginapan kecil di sebelah kedai makan. Setelah itu ia mencari tempat tersembunyi untuk mengintai keempat orang itu.
Mereka berempat tidak membawa kuda.
Sebuah kereta kuda kecil menunggu mereka di depan kedai. Kereta itu dihela dengan lambat menuju ke sebuah penginapan terbesar yang terdapat di tengah kota kecil itu.
Setelah mengetahui penginapan mereka, dengan tersenyum simpul Citra Kartika kembali ke tempat penitipan kuda.
.
.
.
Pada pagi hari, seorang gadis memasuki rumah penginapan.
Pada pelayan, ia meminta dicarikan kamar yang bagus dan bersih.
"Kamar yang tersedia saat ini hanya satu saja, nona. Yaitu kamar yang paling belakang. Meskipun begitu, kamar itu bersih dan cukup luas," kata si pelayan .
Tidak ada pilihan, gadis itu menurut.
" Nona terlambat, penginapan ini telah habis diborong," cerocos si pelayan sambil mengantar gadis itu ke kamar yang dimaksud.
"Ada yang memborong kamar? Untuk apa orang berbondong-bondong datang ke kota kecil ini?" tanya si gadis.
"Minggu depan akan ada pertandingan di kota sebelah, nona. Kota M. Tuan tanah terkaya di sana mengadakan sayembara untuk mencari suami buat putri tunggalnya. Suami yang diinginkan oleh sang putri bukanlah seorang hartawan, atau pejabat, tetapi pendekar pilih tanding !"
" Hmm ...begitu yaa ..aku tidak tahu paman ! Aku hanya seorang pengembara," kata gadis itu.
"Siapakah nama tuan tanah itu, paman? Dan apa hadiahnya bagi pemenang sayembara?"
"Bagi pemenang sayembara itu, akan dinikahkan dengan putrinya yang cantik jelita dan akan menjadi pewaris sang tuan tanah kelak. Nona orang baru di sini, tentu saja tidak tahu. Tuan tanah sangat terkenal di sini, namanya adalah tuan Narjuman."
"Oh, begitu. Ya sudah. Mungkin nanti aku akan menonton pertunjukan menarik, paman !"
" Ooh itu pasti, nona. Panggung untuk sayembara itu sudah mulai dibangun sejak dua bulan lalu nona. Letaknya di ujung lapangan kota. Banyak orang yang bahkan sudah mulai menonton pembuatan panggung itu dari awal !"
__ADS_1
Gadis hitam bermata besar yang bukan lain penyamaran Citra Kartika itu mencatat semua informasi itu di dalam otaknya.
Ketika ia berbaring di atas ranjang malam ini, Citra Kartika memutuskan untuk menyelidiki hal ini pelan-pelan.
Pada pagi hari, Citra yang menyamar sebagai gadis hitam manis itu memilih untuk sarapan di kedai depan penginapan.
Ketika ia sedang menyantap bubur gurih dengan kuah ayam dan sayur urap kesukaanya, ia mendengar suara yang tak asing lagi memasuki kedai makan.
Kania dan ketiga saudara seperguruannya mencari tempat duduk tepat di belakang Citra Kartika. Dengan belagu, Kania memilih tempat duduk terjauh .
"Huh, ada monyet jelek. Kedai makan ini jadi bau !" gerutu Kania. Suaranya sengaja dibuat berisik agar didengar oleh semua orang dalam kedai.
Citra Kartika memperlambat makannya.
Dengan sudut matanya diam-diam ia memperhatikan gerak-gerik keempat orang itu.
Kania mencibir sinis pada gadis yang dianggapnya buruk rupa itu. Ia merasa bangga pada dirinya sendiri yang berwajah cantik dan berkulit sawo matang, kecantikan khas Jenggala.
Memang sebagian lelaki, terutama yang muda di kedai itu diam-diam mengerling pada gadis genit. Apalagi lagak lagunya memang disengaja dibuat semenarik mungkin.
Meski demikian, tak ada satupun yang berani menatap terang-terangan. Karena ketiga lelaki yang menemaninya terlihat seperti tiga jagoan pilih tanding.
Tentu tiga jagoan itu akan ikut meramaikan sayembara, demikian pikir mereka.
Seorang pemuda memasuki kedai. Pemuda itu memakai caping khas petani. Begitu pemuda itu duduk, Kalisang langsung menegakkan kepala.
Tandika menahan lengan adiknya.
"Diamlah, jangan membuat huru-hara !" bisiknya.
Dengan geram Kalisang mengepalkan tinju di bawah meja.
Pemuda bercaping yang tidak tahu apa-apa itu memesan sarapan pagi. Banyak sekali yang ia pesan, seakan untuk makan tiga orang sekaligus.
Anehnya, meskipun pemuda itu makan dengan pelan dan tanpa melepas caping dari kepalanya. Seluruh hidangan yang banyak itu ludes juga olehnya.
"Aahhh kenyangnyaa .. " Pemuda itu melirik sekilas ke arah empat orang yang makan minum sambil ribut berbincang. Seolah rumah makan ini milik mereka. Sekali-kali gadis yang nampak genit itu tertawa merdu dibuat-buat.
Melihat si caping itu beranjak ke meja kasir, Tandika memberi tanda ke Darun. Bergegas Darun juga menuju ke meja kasir untuk membayar makanan mereka.
Ketika si pemuda bercaping melangkah keluar kedai, empat orang itu juga segera bangkit dan melangkah meninggalkan kedai.
Semua itu diawasi oleh Citra Kartika.
Setelah membayar, gadis itupun keluar kedai.
Terjadi hal yang aneh.
Seorang pemuda bercaping diikuti oleh Tandika bersaudara dengan diam-diam.
__ADS_1
Tandika bersaudara dibayang-bayangi oleh Citra Kartika, tanpa disadari sama sekali oleh mereka .
***