
Dewi Sekarwangi menyusut airmata.
Siluh Candrani ikut mendengarkan semua penuturan Bagus Saksena. Ia hanya diam mendengarkan. Reaksinya sama dengan Surya Kencana dan Citra Kartika.
Terperangah.
'Jika ibu adalah istri pertama raja Jenggala, berarti aku ..aku... adalah putri Raja ?' bathin Siluh Candrani.
Ia menunggu percakapan berikutnya dengan jantung berdebar-debar.
"Nanda Bagus Saksena, Romo tidak akan ikut campur atas jalan hidup anak dan cucuku. Biarlah mereka sendiri yang akan mengambil keputusannya."
Bagawan Lalitaswara memandang putrinya yang masih terdiam.
"Nduk, beritahukanlah kepada Romo, kepada kami semua dan terutama kepada nanda Bagus Saksena. Perihal permintaan Prabu Jayengrana untuk membawamu dan anakmu kembali ke istana Jenggala. Apakah nanda bersedia memenuhinya?"
"Romo... Setelah berpuluh tahun hamba hidup tenang, melupakan semua derita. Setelah sekian lama kami dibuang dan dilupakan. Tahu-tahu hari ini diberitahu bahwa hamba tidak berdosa. Mendadak hamba dikehendaki untuk dibawa kembali ke istana..."
"Hamba masih bingung, masih tidak tahu harus bagaimana."
Dewi Sekarwangi memandang Bagus Saksena dengan sendu.
"Nanda, untuk saat ini aku masih belum bisa menjanjikan apapun kepadamu. Biarlah aku memikirkan hal ini dengan lebih mendalam. Nanda boleh kembali ke istana untuk melaporkan kepada ayahandamu. Katakan bahwa aku sudah memaafkan beliau sejak lama. Kami telah hidup dengan damai dan bahagia di sini..."
"Ibu.." Bagus Saksena memanggil dengan ragu. " Ayahanda benar-benar sangat menyesali diri. Beliau bahkan mengatakan tidak akan bisa pulang ke suargaloka jika belum bertemu dan meminta maaf langsung kepada ibu dan adik .."
Bukan main sedih hati Dewi Sekarwangi mendengarkan penuturan anak tirinya.
Meskipun suaminya telah memberi mereka luka paling dalam di kehidupan ini, tetapi raja Jenggala itu tetaplah suaminya, ayah dari anaknya. Rasa cinta dan bakti kepada lelaki yang mengikat benang suci di tangannya itu, tidak pernah benar-benar hilang dari lubuk hati.
"Jika nanda berkenan, tinggallah beberapa hari ini di padepokan. Aku akan berbicara kepada Romo. Juga mengheningkan cipta, memohon petunjuk kepada Ida Sang Hyang Widhi. Biarlah sisa hidupku ini kuserahkan pada kehendak beliau semata," kata Dewi Sekarwangi.
"Semoga Hyang Widhi memberkatimu, nduk..." ucap Bagawan Lalitaswara.
"Kalau begitu ijikan hamba bermalam beberapa hari di sini, Romo.. Untuk menunggu keputusan dari ibu." Kata Bagus Saksena.
Hati pewaris tahta Jenggala itu girang. Beberapa hari ini ia bisa berdekatan dengan Citra Kartika jika ia tinggal di sini.
Dahi Surya Kencana berkerut menyadari kegembiraan yang menyeruak dari mata dan senyum Bagus Saksena.
"Tentu saja Romo mengijinkanmu, Nanda ! Nanti pelayan akan menyiapkan kamar untukmu dan untuk kedua pengawalmu. "
__ADS_1
"Terimakasih, Romo !"
Setelah itu Dewi Sekarwangi dan Bagawan Lalitaswara mengundurkan diri. Beliau masuk ke ruangan khusus untuk memulai meditasi, meminta petunjuk kepada Hyang Maha Kuasa.
Siluh Candrani merasa jantungnya berdebar-debar. Ia berulangkali mencuri pandang kepada Bagus Saksena sebelum beranjak untuk meminta pelayan menyiapkan kamar dan keperluan para tamu.
"Jangan coba-coba berbuat onar di sini, atau aku tidak akan mengampuni!" kata Surya Kencana tegas kepada Bagus Saksena.
Tangannya tanpa sengaja memegang pundak Citra Kartika dengan posesif. Gadis itu juga tengah memandang pada Bagus Saksena dengan sinis, sehingga tidak menyadari lengan Surya Kencana yang menumpang di pundaknya .
"Hmm... di mana kamu letakkan tanganmu, Raden Surya Kencana?" Bagus Saksena emosi. "Apa statusmu sebagai sepupu memberimu hak untuk memeluk-meluk dinda Citrawani?"
Surya Kencana tersadar. Ia buru-buru menurunkan tangannya dengan jengah.
"Dia kakak sepupuku. Dia seratus kali lebih berhak memeluk pundak dibandingkan kamu !" Bela Citrawani. Ia sengaja bergelayut manja di lengan sepupunya.
"Lagipula, Kanda Raden Surya Kencana tidak pernah memiliki pikiran kotor dan tak terpuji," sindir gadis itu tajam sembari melirik Bagus Saksena dengan sudut matanya.
Terbakar rasa hati Bagus Saksena oleh api cemburu.
Tangannya terkepal.
Tetapi bibirnya tersenyum.
" Tidak kusangka seorang tuan putri yang galak bersedia mengalah kepada sepupunya ! Harus kuakui, Raden Surya Kencana memang hebat !" Bagus Saksena memperlebar senyumnya.
"Tapi, tetap saja janur kuning belum melengkung di istana Daha ! Aku tetap masih berhak untuk merebut apa yang belum menjadi milik seseorang, bukan?" tambahnya.
"Jangan mimpi!" desis Surya Kencana.
"Sudahlah kakak, tidak usah dihiraukan !" kata Citra Kartika.
Saat itu Siluh Candrani muncul kembali. Ia tersenyum manis sekali pada pangeran dari Jenggala dan para pengawalnya.
Pangeran yang sama tampan dan gagah perkasa dengan Raden Surya ini adalah kakak tiriku, pikir Siluh Candrani dengan bangga .
"Raden, ruang tidur telah disiapkan. Jika Raden ingin mandi, air hangat juga sudah tersedia di bilik mandi," kata Siluh Candrani riang.
"Terimakasih," Bagus Saksena memandang gadis desa yang berkulit hitam manis itu. "Apakah kamu pelayan di sini?"
"Aah? Hamba...hamba Siluh Candrani...putri dari ibuku .." kata Siluh Candrani gugup.
__ADS_1
"Iya. Aku juga putra dari ibuku," Bagus Saksena tersenyum geli.
"Ma...maksud hamba, Dewi Sekarwangi adalah ibuku..."
"Hah?!" Bagus Saksena terperanjat. Ia memandang Siluh Candrani dari atas ke bawah dengan mata terbelalak.
"Jadi ..jadi...kamu adalah adikku?"
......
Bagawan Lalitaswara menutup surat yang dikirimkan oleh Bagawan Wistara .
"Wistara memintaku untuk memberitahukan kebenaran. Untuk mencegah terjadinya perang besar antara Jenggala dan Panjalu. Tetapi, kita belum meminta pendapat Adipati Daha."
"Romo, hamba tidak sanggup untuk mengatakan kebenaran ini...hamba tidak sanggup..."
Airmata Dewi Sekarwangi mengalir berlinang-linang.
"Bukankah kehendak Hyang Widhi telah terjadi... Engkau harus membuka kebenaran ini demi mencegah malapetaka , nduk... Bukankah dulu engkau begitu kuat dan tabah demi negeri leluhur kita.. Sekarang kuatkanlah hatimu, tunaikan baktimu, nduk..."
"Romo, hamba tidak sanggup. Mohon Romo kirimkan surat kepada Bagawan Wistara, biar beliau yang mewakili kita untuk menyampaikan kepada Prabu Aryaiswara dan Adipati Arya Wisena ..."
Bagawan Lalitaswara mengangguk.
"Baiklah. Biar Wistara yang mengungkap kebenaran atas ijin dari kita..."
"Terimakasih, Romo..."
"Lalu apa jawabanmu kepada pangeran dari Jenggala tersebut? Bagaimana keputusanmu, nduk?"
"Hamba tidak sanggup untuk kembali ke istana, Romo. Tempat hamba bukan di sana lagi. Hamba tidak mampu hidup berdampingan dengan Galuh Liku..."
"Kamu tidak kasihan kepada Prabu Jayengrana?"
Dewi Sekarwangi termangu.
"Hamba...hamba .."
"Romo sangat tau dan paham isi hatimu, nduk ! Setelah kita menyelesaikan masalah ini, datanglah ke Jenggala bersama anakmu. Meskipun kamu tidak ingjn tinggal di sana. Setidaknya lihatlah suamimu, biarkan anak dan ayah bertemu ! Biarkanlah anakmu mengetahui siapa ayah kandungnya ! Setelah itu, belum terlambat bagimu untuk kembali ke padepokan !"
"Apakah Romo berkenan menyertai hamba?" tanya Dewi Sekarwangi .
__ADS_1
"Ragaku telah tua, nduk. Biarlah nanda Surya Kencana yang menemanimu. Dia memiliki ilmu dan kebijaksanaan yang langka di muka bumi ini !"
"Baik, Romo. Biarlah hamba menjawab pada nanda Bagus Kencana, bahwa hamba dan adiknya akan mengunjungi istana Jenggala setelah mendapat balasan surat dari Romo Wistara!"