
Pemuda tampan itu, memandang gadis yang terkesima di depannya.
"Anda mengenal saya?" tanyanya heran.
"Tidak mungkin...tidak mungkin .." gumam gadis itu, terlihat seperti kebingungan. Wajahnya sendu.
"Bagus Saksena....apa itu benaran kamu... kamu... Kenapa kamu mengikutiku sampai ke dunia modern?" kata gadis itu dengan ekspresi yang benar-benar sulit untuk ditebak.
Pemuda itu termangu. Sebelum ia sempat mengatakan apapun, Prasetya telah mendahului bicara.
"Bagus, kenalkan ini adalah Citra Kartika, putri Om yang baru sembuh dari sakit..."
"Oh .." Pemuda itu mengangguk paham, sambil memandangi gadis itu intens.
Dia gadis yang sangat cantik. Terlihat sekilas mirip seperti wajah sang ayah dalam versi wanita. Ayu, anggun, berwibawa. Sayang sekali, sepertinya psikisnya agak terganggu.
"Citra Kartika," gadis itu mengulurkan tangan. Entah kenapa, gadis itu terlihat kesal.
Dijabatnya tangan halus itu. Tenyata, gadis itu memiliki genggaman tangan yang cukup kuat.
"Bagus Saksena Prawira. " Pemuda itu menyebutkan namanya sambil tersenyum. Meskipun gadis itu tidak membalas senyumnya, dan terus menatapnya dengan pandangan menyelidik.
"Senang bertemu denganmu, Citra!"
"Ah, iya...iyaaa...Aku juga senang bertemu kembali denganmu, Bagus.." kata Citra sambil tersenyum misterius.
"Kita pernah bertemu?"
"Ya!" jawab Citra Kartika mantap.
Harry dan Prasetya berpandangan. Mereka juga tadi heran ketika Citra tiba-tiba menyebut nama Bagus Saksena. Seingat mereka, Bagus Saksena belum pernah bertemu Citra Kartika.
"Ohya? Benarkah? Alangkah senangnya kalau kita benar pernah bertemu sebelumnya. Kalau begitu saya akan sering-sering bertemu dengan Citra. Boleh kan Om?" Bagus Saksena melemparkan candanya pada Prasetya.
"Oh, boleh, boleh. Datang saja berkunjung kapan saja, Bagus.. Kami akan senang menyambutmu. Bukankah begitu, Citra?"
Citra hanya tersenyum. Dia melirik pada Bagus Saksena yang ternyata sedang memandang padanya.
"Ohya Citra, Om Prasetya, Harry.. Saya harus bertemu direktur Rumah Sakit ini. Saya jalan duluan, ya?" Bagus Saksena berpamitan.
"Silahkan, nak ..."
"Silahkan, Mas..."
"Silahkan !"
Sambil menyusuri lorong rumah sakit, pikiran Bagus Saksena terus melayang pada gadis cantik misterius putri dari Om Pratesya, rekan bisnis ayahnya.
Citra Kartika.
Gadis itu langsung menyebut namanya dengan tepat, bahkan mengatakan bahwa mereka pernah bertemu. Padahal seingatnya ia tidak pernah bertemu gadis itu di manapun.
__ADS_1
Setidaknya, dalam ingatannya. Ataukah mungkin ada hal yang telah terlupa olehnya. Rasanya tidak mungkin.
Tetapi, tatapan gadis itu, senyumnya, suaranya memang terasa tidak asing. Seolah-olah ia sudah terbiasa dengannya, bahkan rasanya sudah sering menyebut nama gadis itu.
Entah kapan dan di mana.
Apakah ini yang namanya dejavu ?
Tanpa sadar, Bagus menoleh ke belakang, ke arah Citra Kartika. Entah kebetulan, gadis itupun sedang menoleh ke arahnya. Menyadari pemuda itu menoleh padanya, Citra tersenyum.
Misterius.
.......................
Lima bulan telah berlalu di Jakarta. Kota yang sibuk.
Setelah ayahnya keluar dari RS, Bagus Saksena memutuskan untuk menetap permanen di Jakarta. Lulusan Harvard University itu sebelumnya tinggal di Singapur untuk mengurus bisnis ayahnya.
Kini kesehatan sang ayah tidak begitu baik dan sering sakit-sakitan, sehingga orangtua itu memintanya untuk menetap di Jakarta.
"Biarlah cabang kita di Singapur diurus oleh Beny ," kata Pak Soni, ayah Bagus. Beny adalah keponakan Pak Soni.
Sebenarnya Bagus kurang setuju menyerahkan tanggungjawab itu pada Beny. Sepupunya itu memang ulet dan pintar, namun terlalu ambisius dan suka main perempuan.
Bagus tak yakin cabang yang baru berdiri selama dua tahun di Singapur dan sedang gencar-gencarnya membangun relasi, bisa ditangani Beny dengan baik.
Tetapi ia juga tidak bisa membiarkan kantor pusat ayahnya di Jakarta tidak dihandle orang yang tepat. Karena ia juga tidak bisa mempercayai adiknya, Bagas. Yang perangainya tak beda jauh dengan Beny.
Pemuda itu menggeliat di tempat tidurnya yang mewah.
Gadgetnya berdering pagi-pagi buta.
"Halo sayang?" kata Bagus setelah melihat nama yang tertera di layar.
"Honey, I miss you so much...tapi kamu melupakanku. .." suara manja di seberang menyapa kupingnya.
"Tentu tidak, Merlyn. Lihatlah di rekeningmu. Hari ini anniversary kita, aku telah mengirim hadiah. "
Hening sesaat. Orang di seberang tengah mengecek M-Bangkingnya . Beberapa saat kemudian suara renyahnya kembali menyapa.
"You are so marvelous, amazing, lovely ..!" seru gadis itu girang. "Aku mau beli tas edisi terbaru. Thankyou, Honey...muaachh... Tapi kamu kapan ke sini? I'm really really miss you, Hon..."
"Sabarlah, Merlyn. Begitu urusanku selesai, aku langsung terbang ke Singapur. Mungkin minggu depan. Aku juga rindu kamu." Merindukan tubuh gadis itu, tepatnya.
Tubuh yang selalu mampu memuaskan gairah darah lelakinya. Tubuh yang elok dan sangat terjaga hanya untuknya.
"Tapi kapan. Hon? Kamu mau bikin aku mati kangen yaa..." pekik gadis itu manja.
"Mungkin minggu depan, Mer. Pokoknya kamu tunggu aja, yach..." Bagus tersenyum .
Ia telah menyiapkan kejutan untuk kekasih yang telah ia pacari sejak 11 tahun lalu.
__ADS_1
Merlyn sebenarnya putri dari mantan pembantu di rumah Bagus .
Mereka tumbuh besar bersama, bermain bersama sejak kecil. Meski usia mereka terpaut 5 tahun, mereka selalu akur. Justru dengan Bagas yang seusia dengannya, Merlyn sering diganggu dan diajak bertengkar.
Ketika lulus SMA, Merlyn dibiayai kuliah oleh Pak Soni di Surabaya. Dua tahun lalu ketika Merlyn selesai wisuda, ia langsung dibawa Bagus ke Singapur untuk menjadi sekertarisnya.
Sekertaris, sekaligus kekasih. Sungguh mutualisme yang menyenangkan dan menggairahkan.
Sebenarnya Bagus telah berencana menboyong Merlyn kembali ke Jakarta. Ia akan memberi kejutan menyenangkan pada Merlyn. Menjemputnya ke Singapur, untuk diboyong ke kantor pusat mereka dan memperkenalkannya sebagai calon istri sang Wakil Dirut.
Pasti Merlyn akan sangat bahagia. Bagus membayangkan wajah kekasihnya yang ayu dan manis itu berseri-seri bahagia. Mungkin pula dia akan menitikkan airmata bahagia.
Dari pagi Bagus sibuk memberi instruksi pada Bik Wati, asisten rumahtangganya. Rumahnya sedang didekor sesuai selera Merlyn. Para tukang sudah merehab semua bagian agar sesuai dengan impian Merlyn .
Siangnya Bagus sibuk di kantor untuk mendelegasikan beberapa tugas penting pada bawahannya. Adit, asistennya memberitahu bahwa besok kantor mereka akan kedatangan seorang wakil baru rekanan untuk meeting.
"Aku percayakan padamu, Adit. Kamu atur semuanya. Aku tidak lama di Singapur. Cuma tiga hari ," kata Bagus.
"Ciee, bos mau nyetor setok oli yaa..." goda Adit.
"Ngawur kamu ."
"Aku ngerti kok bos, wong sudah lima bulan ga ganti oli, mesti udah pada ngadat tuh di dalem..." celoteh Adit.
"Sepertinya kamu ngerti banget ya urusan oli ngadat. Atau kamu aku pindahkan ke kantor cabang di Brazil yaa Dit, biar lebih menghayati rasanya." ancam Bagus.
"Duh, ampun deh bos. Kabur dulu deh !" Adit langsung ngacir ke ruangannya di sebelah ruangan Bagus.
Pemuda itu geleng-geleng. Asistennya adalah sahabatnya sendiri sejak jaman SD hingga kuliah, hingga belagunya minta ampun. Untung mereka adalah sahabat kental lahir bathin. Kalau tidak, mungkin asisten nyebelin itu sudah benaran dikirim ke Brazil sejak dulu.
"Ohya bos," tampang cengengesan Adit muncul lagi di pintu ruangan Bagus.
"Wakil baru dari rekanan kita itu baru pindah ke Jakarta. Rencananya beliau untuk sementara akan menetap di hotel kita, karena beliau tidak mau tinggal di rumah keluarganya. Sebelum beliau mendapatkan huniannya sendiri. "
"Oh?" Bagus mengangkat bahunya. " Pokoknya kamu urus semua. Pastikan dia merasa nyaman ."
"Beres, bos ! "
Bagus menggoreskan tanda tangan pada berkas terakhir di mejanya. Ia bangkit dan berkemas-kemas ketika kepala Adit muncul lagi di sudut ambang pintu.
"Bos.."
"Apa lagi?"
"Jangan lupa pake pengaman..."
Sebuah pemberat kertas melayang ke kepala Adit. Lelaki kocak itu sudah kabur lebih dulu untuk menyelamatkan kepalanya dari benjol-benjol.
Bagus memaki asisten yang gemar mengganggunya itu. Dengan tergesa ia mengemasi tasnya, kemudian memerintah sekertaris umum untuk memanggilkan sopir.
Ia harus bergegas mengejar penerbangan sore menuju Singapur .
__ADS_1
*****