
Tubuh perkasa yang terbaring di tempat tidur itu, ditancapi jarum akupuntur di banyak titik. Suryapaksi meringis. Ia tidak merasa sakit, hanya tenaganya yang terasa sangat lemah, seperti orang yang hilang semangat. Airmata meleleh di pipi, dan segera dihapusnya dengan heran. Sekar dan tabib yang ditugaskan merawatnya, duduk menunggui sambil sesekali menyeka keringat di dahi sang Raden.
Citrawani ditemani ayah dan kedua adik kembarnya, tengah mendengarkan penuturan Nareswara. Si anak hilang telah kembali kemarin sore, disambut dengan hangat dan bahagia oleh seluruh keluarganya. Meskipun ia tidak menyukai Suryapaksi, tetapi Nareswara tidak tega melihat tatapan kosong dan kuyu di mata Suryapaksi.
"Ini bukan sakit biasa, kakak," bisik Nareswara. "Tatapan matanya kosong, seperti cermin jiwa yang tengah berusaha dikuasai oleh sesuatu di luar dirinya. Ada aura kegelapan yang pekat berusaha untuk membelenggunya makin dalam.. "
Nareswara menatap mata seluruh keluarganya, satu persatu. Menciptakan sensasi horor yang dalam di mata mereka, terutama Wasanti.
" Tepatnya, ini seperti kiriman ilmu hitam, ilmu guna-guna !"
Suara-suara terkesiap keluar dari tenggorokan para wanita, kecuali Citrawani yang hanya menutup mulutnya dengan jemari.
"Guna-guna?" gumam Citrawani. "Supaya apa?"
"Aku tidak tahu untuk apa, kakak. Hanya si pengirim yang tahu. Tetapi yang jelas, siapapun pengirimnya, dan apapun tujuannya, Raden Suryapaksi akan semakin jauh dari jati dirinya. Semakin lama, ia akan semakin terpengaruh, dikendalikan oleh yang mengiriminya guna-guna."
"Nares, apakah kamu yakin dia terkena guna-guna?" tanya Citrawani dengan ragu-ragu.
"Dari ciri-ciri yang terlihat, memang iya. Tetapi kalau kakak ingin lebih meyakinkan, nanti malam kita buktikan," Nareswara tersenyum misterius.
"Baiklah, nanti malam kita buktikan. " Adipati Aryawisena memutuskan.
"Apa saja yang harus kita siapkan?"
"Sebenarnya tidak ada yang perlu disiapkan. Tetapi boleh disiapkan wewangian yang dibakar, untuk membersihkan udara..."
Citrawani memandang adiknya. Baru dari kemarin ia melihat adik lelakinya ini. Seorang pemuda berusia 18 tahun, lebih muda setahun darinya. Kulit putih dan sorot matanya yang polos seperti anak-anak, membuat penampilannya kelihatan lebih belia lagi. Tidak disangka, pemuda belia ini ternyata menyimpan kemampuan khusus yang tentu dipelajarinya selama minggat.
Mayani sangat girang dan lebih ceria semenjak kepulangan sang kakak bersama pengawalnya ini. Ia tidak mau membiarkan kakaknya sendirian, kecuali untuk mandi dan tidur.
Sang Ibu juga berangsur-angsur sembuh, berkat perawatan Citrawani , ditambah kepulangan anak lelaki satu-satunya.
"Aku yang akan menyiapkannya, kanda!" Mayani dengan gembira menyahut. "Apalagi yang harus disiapkan?"
"Ubi jalar yang dibakar dan diolesi madu .." seloroh Nareswara sambil mengacak rambut adiknya.
"Itu untuk obat perut kanda ya, kanda sudah menjadi orang gunung sekarang, suka ubi bakar," balas Mayani.
Citrawani tersenyum. Selama ia tinggal di rumah orangtuanya, baru kali ini ia melihat senyum lebar di bibir Mayani.
"Baiklah, Wasanti, Mayani. Kalian temani ibu dulu di ruangannya, ya. Kanda mau membicarakan sesuatu dengan Kakak dan Ayah." usir Nareswara.
Kedua gadis itu menurut. Mereka beranjak menuju ke kamar perawatan sang ibu.
"Apa yang ingin kamu sampaikan, Nares? Sepertinya hal yang sangat penting?"
"Ayah, Kakak ! Beberapa hari yang lalu, kami bertemu dengan seseorang yang sangat mencurigakan. Sepertinya orang itu berasal dari arah Jenggala menuju jalur tercepat ke arah Panjalu !"
"Bukan hal yang aneh, jika ada orang yang pergi ke arah Panjalu, Nares. Panjalu adalah negeri makmur. Wajar jika ada orang Jenggala yang ingin mengunjungi Panjalu."
"Ayah, orang itu bukan orang sembarangan. Dia orang yang berilmu tinggi, gerakannya lebih cepat daripada orang-orang berkepandaian tinggi masa sekarang ini. Jika dibandingkan dengan Raden Bagus Saksena dan Raden Suryapaksi, ilmu meringankan tubuh dan ilmu lari mereka masih kalah dari orang ini."
Citrawani manggut-manggut.
"Bagaimana dengan Raden Surya Kencana, dimas? Kira-kira siapa yang lebih cepat?"
"Eeh?"Nareswara melengak kaget. "Darimana kakak tahu kalau Raden Surya Kencana larinya cepat?"
" Dia sering adu lari cepat dengan kakak," Citrawani tersenyum, lalu melanjutkan dengan jujur , "Aku kalah satu tingkat dari dia."
__ADS_1
" Hah? Sejak kapan kakak menguasai ilmu meringankan tubuh?" Nareswara makin tercengang.
"Sudah sejak setahun ini, Nares. Ada banyak kejutan dari kakakmu yang akan membuatmu kejang-kejang. Makanya, kamu tidak usah pakai minggat segala, jadinya ketinggalan berita !" Citrawani mengolok-olok adiknya.
Nareswara masih bengong memandang kakaknya.
Kakaknya yang penakut, yang biasanya selalu berlindung di belakangnya ketika mereka belajar olah raga bersama para anak bangsawan. Benarkah gadis bermata terang dengan senyum tabah ini adalah kakaknya?
"Jadi, siapa yang lebih cepat, Nares?" Citrawani memukul pundak adiknya yang terbengong memandangnya.
"Oh, sepertinya kalau diadu, Raden Surya Kencana masih menang, Kak !"
"Berarti, tingkat ilmu lari orang itu setara denganku," Citrawani tersenyum . "Lalu, apalagi hal mencurigakan dari orang itu?"
"Suara hatiku mengatakan, orang itu tidak beres kakak. Auranya penuh dengan kegelapan. Karena itu aku menghadap pada Rama Guru. Guru menyarankan agar aku pulang ke Daha dan berjaga-jaga di kediaman kita. Karena arah energi orang itu akan menuju ke Daha juga, setelah Panjalu !"
Citrawani mengerutkan keningnya.
" Setelah Panjalu?" Aryawisena bertanya.
"Guru menyarankan agar penjagaan di sekeliling kediaman diperketat, Ayah !"
"Lalu bagaimana dengan Panjalu? Haruskah aku mengirim utusan untuk memperingatkan Yang Mulia Raja?"
"Atas dasar apa, Ayah?"
"Atas dasar saran dari Kakanda Begawan Wistara, tentu saja !"
"Tetapi Rama Guru tidak meminta hamba untuk memperingatkan Panjalu. Kalau memang tindakan itu diperlukan, tentu Guru sudah memerintahkan hamba, atau memperingatkan Raden Surya Kencana ."
Citrawani dan Aryawisena membenarkan pendapat Nareswara.
Selama ini mereka tidak tahu Nareswara dan Surya Kencana ternyata berguru pada paman mereka sendiri, wiku sakti Begawan Wistara.
Awas kalau nanti kita bertemu lagi, geram Citrawani dalam hatinya.
"Baiklah, kalau begitu biarlah kamu memberi petunjuk pada para pengawal untuk perketat penjagaan, Nares." Putus Adipati Aryawisena.
***
Malam itu, bulan purnama menyembul besar di ufuk timur. Sandikala baru saja berlalu, Mayani dan Wasanti telah menyiapkan wangi-wangian yang dibakar di ruangan Suryapaksi.
Siang tadi setelah ditusuk jarum terapi, Suryapaksi merasa badannya lebih bertenaga. Tetapi memasuki sandikala, ia merasa lemah dan lemas kembali.
Mereka berkumpul di ruangan besar itu. Adipati Aryawisena, Citrawani, Mayani , Wasanti, Subrata pengawal Nareswara dan Kartala, pengawal Suryapaksi.
Sekar dan Gentini menjaga di depan wewangian. Nareswara duduk di kursi, di kepala tempat tidur di mana Suryapaksi terlentang dengan mata terpejam.
Nareswara mencakupkan kedua tangannya. Ia memanjatkan doa kepada Sang Maha Kuasa, memohon perlindungan dan kekuatan. Beberapa saat kemudian ia menyentuh dahi dan kepala Suryapaksi. Semua yang hadir menonton dengan jantung berdebar, ketika mereka melihat tubuh Suryapaksi mendadak bergetar.
Getaran itu makin lama makin keras, hingga tubuh Suryapaksi seperti dihentak-hentak oleh tangan yang tak terlihat.
"Lepaskan !" Tiba-tiba sebuah suara yang nyaring melengking keluar dari tenggorokan Suryapaksi.
"Lepaskan, bedebah ! Kenapa kamu membakarku? Ini sangat panasss...panaaassss..."
Wasanti yang ketakutan berlindung di belakang Ayahnya, sedangkan Mayani menutup mulutnya yang ternganga dengan tangan.
"Lepasss...lepassskaaann...." Suryapaksi terus meronta, menggeliat sambil menjerit-jerit melengking.
__ADS_1
"Aku bunuh kamu, bajingaan ...aku bunuh kamu !!! Aaarrghhh... panaasss... panaass..."
Nareswara tidak mempedulikannya. Ia masih terus memegangi dahi Suryapaksi. Satu tangannya sesekali menyentuh pundak, dada, perut , dan Suryapaksi makin kelojotan. Keringatnya membanjir. Tangannya menggapai-gapai lemah, seolah hendak mencekik atau mencakar .
"Apa salahku ..kenapa aku dibakar, ini sangat panassss, panassss....."
"Diam kamu, berisik !" Tegur Nareswara.
"Kamu membakarku ! Kamu mau aku mati di api neraka hah?"
"Kalau kamu tidak tahan panas, maka pergilah.."
"Aku tidak ada urusan di sini ...aku cuma dikirim orang lain... jangan sakiti aku....ampun...ampun...." suara itu makin lama makin melemah.
Nareswara tidak mempedulikan suara menghiba-hiba itu.
Suryapaksi menangis minta ampun, minta dilepaskan. Nareswara dengan cuek berdiri, memencet sela-sela tangan Suryapati. Menusuk ketiaknya dengan satu jari. Mengusap tulang rusuknya. Terakhir memegang kedua telapak kakinya.
Satu jam berlalu. Suryapaksi terlihat lemas, dia sudah tidak mampu lagi mengiba-iba. Tiba-tiba dadanya bergejolak. Ia bangkit terduduk . Nareswara yang mengerti gelagat, meminta baskom tanah liat yang sudah disediakan Mayani. Dengan sigap Mayani mengangsurkan baskom di depan wajah Suryapaksi.
"Hueeeeekkk.....hueeeeekkk....hueeeeekkkk..."
Suryapaksi muntah sejadi-jadinya. Cairan hitam lengket hampir memenuhi baskom hitam. Para hadirin menjauh dan keluar ruangan ketika Nareswara meminta pada Kartala untuk membuang muntahan itu beserta wadahnya ke saluran got pembuangan terdalam.
Citrawani mengangsurkan segelas air putih untuk diminum Suryapaksi. Lelaki itu membuka matanya dengan kepayahan setelah meneguk habis segelas air.
"Apa yang terjadi?" tanyanya lirih. Dadanya yang tadi terasa sesak, kepalanya yang berat seperti dipaku, sekarang terasa sangat ringan dan enak.
"Kakanda tadi muntah-muntah setelah diobati Nareswara," Citrawani menjelaskan. Ia kasihan juga melihat wajah kuyu dan kelelahan Suryapaksi.
"Sekarang Kakanda akan dibantu untuk mengganti pakaian oleh para pelayan pribadi kanda. Setelah itu kakanda harus istirahat . Hamba akan siapkan bubur untuk kakanda. Kami undur diri dulu. "
"Dinda Citrawani...." Suryapaksi menatap Citrawani. "Terimakasih ..."
Citrawani terpana sejenak. Suara lembut ini, benarkah ini Suryapaksi? Lelaki arogan yang biasanya begitu lugas dan sombong itu, mengucapkan terimakasih padanya?
"Iya, Kakanda ..sudah tugas hamba untuk melayani..." Citrawani buru-buru keluar dari ruangan. Ia biarkan para pengawal dan pelayan pribadi Suryapaksi mengambil alih tugas untuk membersihkan badan dan mengganti pakaian sang Raden.
Nareswara yang baru selesai mencuci tangan, berpapasan dengannya di ruang belakang. Adiknya memegang tangan Citrawani .
"Kakak, Raden Suryapaksi memang terkena guna-guna ! Tadi dalam muntahannya, ada darah haid dan rambut juga kuku perempuan !"
"Mengerikan ..." Citrawani bergidik. "Sekaligus menjijkkan!"
"Bukan hanya guna-guna tingkat rendah seperti itu, Kak. Ada lagi beberapa guna-guna tingkat tinggi yang dikirimkan langsung oleh si pengguna-guna. Bayangan hitam pekatnya masih ada di sekitar Raden Suryapaksi."
"Ya Tuhan.. siapa sebenarnya yang berbuat keji begini , Nares? Apa tujuannya?"
" Yang pasti, pengirim guna-guna ini ingin menguasai dan mempengaruhi Raden Suryapaksi. Guna-guna tingkat rendah saja sudah cukup untuk membuat korban bertekuk lutut dan tergila-gila ."
Hm...siapa lagi yang punya kepentingan untuk membuat Suryapaksi tergila-gila? Galuh Sundari. Wajah cantik perempuan itu tiba-tiba saja terbayang di mata Citrawani.
" Nares...kalau guna-guna tingkat rendah itu sudah cukup untuk membuat orang tergila-gila, lalu guna-guna yang lebih canggih, buat apa saja?"
" Tentu saja untuk membuat si korban bagai kerbau dicucuk hidungnya, bodoh, penurut, tidak bisa lagi menggunakan akal sehatnya. Tetapi....."
"Tetapi apa, Nares?"
Nareswara menghela nafas.
__ADS_1
"Jika raga dan jiwanya tidak cukup kuat, dia bisa menjadi gila beneran."
*****"