Jatukarma

Jatukarma
Bab 18


__ADS_3

Di dalam istananya yang megah, Galuh Putrika Sundari menyusut airmatanya.


Kakaknya yang baru tiba, mendengarkan keluhannya dengan seksama, kemudian mengusap kepala adiknya untuk menyabarkan.


Telah berbulan-bulan Raden Suryapaksi tidak pernah lagi muncul di kediaman Sundari. Sundari bahagia ketika mendengar berita suaminya kembali ke istana tanpa Citrawani.


Ia berharap Suryapaksi akan segera mengunjunginya untuk melepaskan rindu yang membara. Tapi kenyataannya, hingga saat ini ia masih diabaikan.


"Wajar dinda, jika saat ini dia menjadi sangat gelisah dan sibuk ! Ada banyak sekali hal yang harus dia urus. Ayahnya yang tiba-tiba sakit, kakaknya yang tidak peduli dengan urusan kerajaan, dan hilangnya Citrawani."


"Hm...apakah hilangnya Citrawani ada hubungannya dengan kakanda?" Galuh Sundari mengamati mimik muka kakaknya. Senyum misterius tersungging di sudut bibir Bagus Saksena.


"Kakanda menculiknya?" bisik Sundari. Ia sangat hapal dengan gerak gerik dan air muka saudara tuanya itu. "Kakanda, jangan mencari masalah ! Lenyapkan saja dia tanpa jejak. Jika kakanda main api dengannya, itu akan sangat berbahaya! "


"Dinda, dengarkan penjelasanku." Bagus Saksena merinci rencana yang telah ia susun matang-matang kepada adiknya. Sundari mendengarkan dengan tercengang, lalu setelah Bagus Saksena selesai bicara, tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Rencana yang hebat.Tetapi pelaksanaannya benar-benar harus akurat tanpa sedikit pun celah kesalahan, Kakanda! Nyawa kakanda taruhannya. Aku tidak akan bisa hidup lagi kalau kakanda kenapa-kenapa!"


"Semua hal sudah aku persiapkan dengan sempurna dan pertimbangan yang matang. Dinda tidak perlu mencemaskanku. Citrawani hanya akan memiliki dua pilihan terakhir. Hidup terhina sebagai mantan istri yang terusir dari istana, atau mati bunuh diri sebagai perempuan ****** !" sorot mata Bagus Saksena menyipit dengan sadis.


"Bagus sekali .." Sundari ikut tersenyum sadis. "Dengan begitu, kecurigaan tidak akan terarah kepada kita. Semua kesalahan dilimpahkan kepada Citrawani !"


Untuk menghadirkan alibi, Bagus Saksena sengaja berdiam diri di Panjalu.


Ia pura-pura ikut sibuk membantu Raden Suryapaksi yang membagi pasukan khusus intel istana menjadi dua.


Satu untuk menyelidiki raibnya pusaka kerajaan. Satu lagi untuk mencari jejak hilangnya Citrawani.


Nareswara dan Ki Parwata sendiri yang memimpin pasukan. Sementara Suryapaksi tetap tinggal di istana untuk menggantikan tugas-tugas ayahandanya yang tengah sakit.


********


"Kamu?!" mata Citrawani membulat memandang lelaki bertubuh agak kurus tinggi yang berdiri di hadapannya. "Prajala. Pemimpin partai Kelelawar Hitam. "


"Ingatan tuan putri memang sangat baik. Kita cuma berjumpa sekali saja tahun lalu, anda masih mengingat saya! Tuan putri adalah wanita bangsawan paling cerdas dan paling jelita yang pernah Prajala temui !"


"Bermulut manis pada tawananmu, apa gunanya? Toh yang berkuasa di sini adalah kamu." ucap Citrawani tenang. "Tentunya bukan uang tebusan yang kamu inginkan."


"Memang," Prajala terbahak. "Ada sebuah rencana besar yang lebih penting untuk masa depan, selain uang. Anda tentu tahu, bukan? Yaitu kekuasaan ! Kami menginginkan kekuasaan."


"Kekuasaan apa? Kamu tahu, aku hanya seorang istri kedua yang tidak berharga dan tidak dicinta. Kekuasaan apa yang bisa ditukar dengan keberadaanku?" Citrawani tertawa tawar.


"Ohoo, anda tidak akan bisa mengorek keterangan dariku, tuan putri. Mulut Prajala terkunci rapat !" Prajala memperagakan gerakan mulut dijahit. Ia duduk di atas salah satu kursi di depan Citrawani.

__ADS_1


Gadis itu sama sekali tidak beranjak menjauh. Citrawani malah menantang pandang mata lelaki yang memandanginya naik turun dengan mata mengilar.


"Tuan putri cantik sekali .." Prajala menelan liurnya sendiri yang hampir menetes memandang kemolekan Citrawani. "Jauh lebih cantik dari semua wanita yang pernah Prajala tiduri."


Citrawani waspada. Meskipun posturnya masih duduk santai dan tersenyum , ia sebenarnya telah bersiap menyalurkan tenaganya pada tali kulit panjang yang mengikat tangannya.


Bagi profesional sekaliber Citra, dalam keadaan darurat, tali panjang itu bisa digunakan seperti cambuk dan rantai untuk menyerang lawan dalam jarak dekat .


Tetapi lelaki itu hanya memandanginya dengan mata berkilat, tanpa berusaha menyentuh atau menjamah apapun. Setelah puas berbicara macam-macam menyuarakan kata hatinya yang tergila-gila pada kecantikan putri Daha itu, Prajala pun keluar.


Citrawani menjalani hari-harinya di penjara itu dengan gelisah memikirkan nasib adiknya, Mayani.


Untuk dirinya sendiri ia tidak pernah cemas dan kuatir, karena ia sudah biasa menghadapi bahaya apapun.


Tetapi adiknya adalah seorang gadis muda belia yang jarang menghadapi dunia luar. Entah bagaimana guncangan bathin yang dihadapi adiknya, Citrawani sangat mencemaskannya.


Ia berusaha mengorek keterangan dari dua orang penjaga wanita, tetapi mereka sana sekali tidak mau berbicara lagi.


Ketika Prajala muncul lagi beberapa hari berikutnya, Citrawani mengajaknya bicara dengan ramah.


"Prajala, aku tidak tahu apa sebenarnya rencana kalian. Tetapi aku tahu pasti akulah yang menjadi target kalian. Aku minta pada kalian, apapun rencana kalian padaku, tolong jangan ganggu adikku. Ia hanya seorang gadis kecil yang belum terlalu banyak melihat dunia. Tolong beri dia kesempatan untuk diperlakukan dengan terhormat."


Prajala memandangi bibir yang bergerak tenang dan pelan itu dengan pandangan memuja. Bibir yang sangat ranum dan menggairahkan.


"Saya tidak bisa menjamin hal itu, tuan putri. Adik anda juga sangat jelita dan menawan. Prajala kuatir tidak bisa menepati janji untuk tetap menjaganya polos dan terhormat...," seringai setan muncul di bibir lelaki itu.


Citrawani memaki di dalam hatinya. Tetapi mukanya tetap terlihat tenang dan tabah. Dengan tersenyum, ia mengunci pandangan Prajala.


"Dengar, Prajala. Aku adalah putri Daha, istri putra mahkota, menantu sekaligus kemenakan tersayang raja ! Meskipun suamiku tidak mencintaiku, tetapi seluruh keluarga kerajaan sangat mengasihiku dan adikku ! Belum lagi Sri Begawan Wistara yang kesaktiannya tidak ada tandingannya di bumi Panjalu ini, beliau adalah kakak tertua ayahku yang sangat peduli pada kami. Jika terjadi sesuatu pada diriku atau adikku, mereka tidak akan tinggal diam." Citrawani tersenyum manis, tapi dingin menggiriskan.


"Kamu boleh melarikan diri dan bersembunyi hingga di lubang tikus, mereka akan tetap mengejarmu dan menghukummu dengan cara yang paling tidak bisa kamu bayangkan .."


Prajala mengerutkan keningnya. Para prajurit Panjalu di bawah Panglima Jayasendra mungkin tidak ia takuti, karena keberadaan Kelelawar Maut yang misterius belum pernah dapat diendus oleh pihak Panjalu atau Daha.


Tetapi Begawan Wistara, pewaris trah Prabu Panditawatara yang sakti dan memiliki pandangan mata bathin, tidak bisa dipandang remeh.


Diam-diam Prajala bergidik. Ia terpengaruh oleh ucapan mengintimidasi Citrawani. Tetapi ia pura-pura tertawa meremehkan.


"Tuan putri, Prajala tidak takut, karena rencana ini sudah sangat matang. Tidak mungkin ada kebocoran rahasia keluar, karena semua penjaga kami adalah prajurit yang berada di bawah pengaruh racun yang penawarnya sangat langka, hanya kami yang memilikinya. Mereka tidak akan berbicara apapun, tidak akan berkhianat, karena hidup mati mereka beserta seluruh keluarganya ada di tangan kami."


"Dan selama nona tidak bisa keluar dari sini, tidak bisa melapor pada kerajaan, semua aman terkendali." Setelah tertawa panjang, Prajala bergegas keluar. Ia tidak mau lagi mendengarkan intimidasi Citrawani yang merusak pikirannya.


"Gadis lihai itu sungguh berbahaya, " gerutu Prajala di luar pintu bilik. "Sebaiknya aku berhati-hati agar tidak terbaca olehnya !"

__ADS_1


****


Para penjaga di goa Karang Suwung membakar sesuatu di depan ruangan Citrawani. Asap berbau wangi yang aneh memasuki ruangan Citrawani .


Gadis yang tengah gelisah memikirkan nasib adiknya itu awalnya tidak menyadari aroma aneh ini. Ketika paru-parunya telah menghisap sebagian besar aroma itu, barulah ia tersadar.


"Aroma apa ini? Sangat asing dan aneh !" Citrawani berusaha mengatur jalan nafasnya.


Tetapi aroma itu telanjur memasuki organ pernafasan dalamnya. Pelan-pelan, Citrawani merasa tubuhnya lemas, tak bertenaga, lunglai. Ia membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Pelan-pelan ia merasa semangatnya terbang meninggalkan tubuhnya.


Ia serasa melihat awan-awan, hamparan sawah yang hijau dengan gemericik air jernih mengalir di sungai kecil berbatu. Citrawani berusaha menyusuri pematang sawah dengan kakinya yang terasa lunglai.


Sebuah tangan yang kuat meraih lengannya dan menuntunnya. Citrawani merasa terlindungi. Ia menyandar pada lengan kokoh yang membimbingnya menyusuri persawahan hijau nan asri.


Angin sepoi membelai wajah dan rambutnya. Citrawani memejamkan mata dengan bahagia. Sosok yang merangkul pundaknya itu, kini mendekatkan diri. Tangannya membelai rambut Citrawani yang terurai.


Tangan itu kemudian meluncur turun, jemarinya menelusuri kening, alis dan hidung Citrawani. Seperti anak kucing yang dibelai majikannya, Citrawani mengeluarkan suara ******* santai dan puas.


Citrawani terlelap dengan bibir tersenyum.


Paginya, ketika terbangun, kepalanya terasa berat dan hampa, pening yang membuat matanya ingin tetap tertutup. Dengan malas gadis itu meneruskan tidurnya hingga para penjaga menghidangkan makanan.


Sepanjang hari, mood Citrawani masih tidak karuan. Ia gelisah memikirkan adiknya yang telah berhari-hari disekap terpisah dengannya.


Ia juga memikirkan mimpi aneh yang terasa sangat nyata, berangkulan dengan sesosok tubuh kekar dan kuat yang terasa sangat mengayomi dan melindunginya.


Diam-diam Citrawani menyelidiki apakah makanan dan minuman yang dihidangkan mengandung obat psikotropika yang membuat ia berhalusinasi. Tetapi ia tidak menemukan apapun yang mencurigakan.


Pada senja hari, lagi-lagi asap beraroma wangi itu membuatnya lemas dan mengalami hal-hal menyenangkan, serasa berinteraksi dan berpelukan dengan sosok yang tidak kelihatan. Tapi terasa nyata.


Rasa dilindungi, disayangi, diayomi yang tertinggal di benaknya membuat Citrawani pagi itu menyimpulkan, dia telah diracuni dengan asap halusinasi pelemah semangat.


Berhari-hari Citrawani memikirkan skenario apa yang tengah dimainkan para penculiknya. Ia disekap berminggu-minggu, dipisahkan dengan adiknya. Diperlakukan dengan baik dan tidak diganggu. Tetapi tiap hari diracuni dengan asap halusinasi . Siasat apa ini?


Di minggu keenam, Citrawani telah terbiasa dengan perasaan diayomi, asap pelemah semangat ditambahkan dengan zat lain.


Zat yang membuat Citrawani terengah-engah dan menggeliat aneh, perasaannya mellow, rindu yang menggebu, ingin disayang dan dicintai segenap jiwa raga.


Nurani Citrawani terkesiap. Hatinya meronta-ronta, menolak pengaruh aneh itu yang menguasai tubuhnya. Ia sadar, ini adalah racun apriodisiak.


Malam itu, Citrawani tergolek di lantai dengan tubuh panas, mata besarnya memandang sayu pada lelaki yang berdiri di ambang pintu biliknya. Lelaki itu balas memandangnya dengan senyum tersungging di bibir.


*****

__ADS_1


__ADS_2