
Perjalanan ke padepokan gunung Kelud ini dilalui dengan mudah oleh Surya Kencana dan Citra Kartika. Pangeran pengelana dari Panjalu itu sudah pernah beberapa kali menyambangi gunung Kelud ketika ia remaja.
Sekali dua kali untuk menyampaikan surat dari gurunya. Bagawan Wistara.
Sesekali untuk mendapatkan bimbingan ilmu-ilmu tinggi dari sang Bagawan.
Mereka disambut hangat oleh Bagawan Lalutaswara dan putrinya. Brahmana yang sangat sepuh itu rambutnya putih bagai salju.
Putrinya juga nampak telah menua, dengan rambut yang mulai memutih.
Bagawan Lalitaswara sudah tidak pernah lagi mengambil dan mendidik murid baru. Murid terakhir beliau telah lulus dan berpamitan sejak puluhan tahun lalu.
Di padepokan kini hanya tersisa sang Bagawan beserta putri, cucu dan beberapa orang pelayan .
Padepokan menjadi sunyi dan tenang. Mereka sangat tekun melaksanakan tapa brata dan yadnya bakti kepada Hyang Widhi.
Kedatangan Surya Kencana, Citra Kartika bersama beberapa pengawal membawa kehangatan tersendiri di tempat tenteram ini.
Beberapa hari mereka menginap di sana. Mengikuti meditasi dan ritual persembahyangan pagi dan sore bersama para pelayan.
Hingga akhirnya mereka menghadap pada Bagawan Lalitaswara untuk menyerahkan surat dari Bagawan Wistara.
Dewi Sekarwangi, putri sang brahmana sangat senang melihat Citra Kartika. Dari awal bertemu ia telah menyukai gadis cantik dan lincah itu.
".Kamu sangat cantik, nanda ! Dan masih sangat muda, sebaya dengan anakku !" Dewi Sekarwangi pernah berkata padanya.
"Bibi pernah menikah dan punya anak?"tanya Citra Kartika. Sebelumnya ia berpikir kalau wanita itu adalah seorang brahmacaria (brahmacari \= tidak menikah dan fokus pada ajaran dharma).
"Tentu saja, nanda. Anak bibi sudah dewasa, sepantaran denganmu. Dia sekarang sedang pergi ke dusun untuk mengobati penduduk. Tetapi, ah..sudahlah.. " Dewi Sekarwangi tidak meneruskan.
Hatinya yang telah membeku, tidak mau lagi mengingat-ingat luka lamanya. Dibuang oleh suami dan dituduh berjina, ketika ia sedang mengandung anaknya.
Hari ini Dewi Sekarwangi memandangi Citra Kartika yang duduk tepat di sebelahnya. Tak bosan-bosan wanita itu memandangi fitur wajah cantik gadis itu.
Di sudut ruangan, Surya Kencana masih berbicara dengan sang Begawan tentang surat yang dikirimkan oleh gurunya.
Bagawan Lalitaswara membuka gulungan lontar yang dikirim saudara seperguruannya. Ia membaca surat itu. Wajahnya nampak tercengang. Tak lama kemudian sang bagawan nampak terkejut, lalu memandang sejenak pada Citra Kartika.
Setelah itu ia melanjutkan membaca surat itu hingga selesai.
Dihelanya nafas panjang, lalu bergumam.
"Karmapala...karmapala..."
"Sekarwangi !" panggilnya pada sang putri.
"Ya, Romo?"
"Coba lihatlah nanda Galuh Citrawani. Tidakkah engkau merasa ada yang terasa akrab padanya?" tanya Bagawan Lalitaswara.
"Tentu saja, Romo. Karena nanda Galuh adalah seorang gadis muda. Sebaya dengan Siluh.." Dewi Sekarwangi tersenyum hangat.
"Bukan itu. "
Sang Bagawan tersenyum kepada Citra Kartika.
"Nanda Galuh, apakah nanda ada memiliki sebuah liontin berwarna biru terang?" tanya Bagawan Lalitaswara. Ia mengeluarkan sebuah permata biru berbentuk tetesan air sebesar telur puyuh dari balik jubahnya.
"Permata itu mirip sekali dengan milik hamba," seru Citra Kartika. Ia membuka kalung dengan liontin biru miliknya lalu diserahkan pada Bagawan Lalitaswara.
Bagawan Lalitaswara manggut-manggut. Setelah memeriksa liontin kalung itu dengan seksama, benda berkilau itu diserahkannya kembali pada Citra Kartika.
"Kenapa permata ini bisa sama, Romo Bagawan?" tanya Citra Kartika penasaran.
__ADS_1
Dari dulu ia penasaran dengan kalung liontin biru yang sudah dipakainya sejak pertama kali ia datang ke dunia ini.
Bahkan Surya Kencana sendiri pernah menunjuk kalung yang berkilau di lehernya itu.
"Tentu saja sama, nanda Galuh. Karena liontin itu dihadiahkan olehku saat kamu lahir..."
"Ohya?" Citra Kartika membelalakkan matanya. " Apakah Romo Bagawan hadir di saat hamba lahir ke dunia ini?"
"Tentu saja, nanda..." sang Bagawan tersenyum manis. " Karena Romolah yang menjadi saksi kelahiranmu dahulu bersama Bagawan Wistara.."
"Wah, Romo... hamba tidak pernah diceritakan tentang hal itu... " Citra Kartika berbinar-binar.
"Pasti seru sekali saat hamba lahir... ditunggui oleh ayahanda, para paman, juga Romo Bagawan Lalitaswara dan Romo Bagawan Wistara..."
Dewi Sekarwangi diam saja. Tetapi wajahnya terlihat sedih. Sementara Bagawan Lalitaswara hanya tersenyum tipis.
Surya Kencana memandangi kedua orang itu dengan kening berkerut. Ada yang tidak beres dengan airmuka kedua orang itu.
"Waaah ada tamu rupanya... " Sebuah suara riang memecah suasana.
Seorang gadis memasuki padepokan dengan keranjang bambu tersampir di punggungnya. Gadis itu melangkah menghampiri mereka dengan tergesa.
Keranjang bambu ditaruhnya begitu saja di atas lantai, lalu ia memeluk Dewi Sekarwangi.
"Ibu...aku rindu..." kata gadis itu.
"Anak manja, baru tidak ketemu tiga hari sudah rindu..." Sang ibu tertawa. "Bagaimana keadaan para penduduk? Apakah mereka sudah sehat?"
"Sudah, Ibu. Sudah beres," katanya dengan suara yang riang.
"Eh, Ibu.. itu siapakah...apakah itu tamu-tamu Eyang?" tanya gadis itu malu-malu. Ia melirik Surya Kencana dan Citra Kartika sejenak, lalu menundukkan wajahnya malu.
"Iya, itu tamu agung dari kerajaan Panjalu, Siluh. Yang gadis bernama Galuh Citrawani, sedangkan pemuda itu Raden Surya Kencana."
"Selamat datang Raden dan tuan Putri. maaf hamba tidak tahu berhadapan dengan siapa," gadis itu mencakupkan kedua tangannya.
"Tidak apa-apa, Dinda. Kami murid-murid Bagawan Wistara, saudara seperguruan Romo Lalitaswara. Di antara orang sendiri tidak perlu terlalu sungkan..." kata Surya Kencana.
"Raden, inilah Siluh Candrani yang telah dewasa.." kata Dewi Sekarwangi memperkenalkan anak gadisnya.
Surya Kencana tersenyum. Anak kecil yang dulu cerewet dan nakal kini telah menjelma menjadi seorang gadis manis yang lincah.
"Salam rahayu..." kata Siluh Candrani pada Surya Kencana dan Citra Kartika.
"Duh... tuan putri cantik sekali..." Siluh Candrani ternganga melihat kecantikan Citra Kartika.
Dalam hati ia juga terkagum-kagum pada ketampanan Surya Kencana, tetapi ia tidak berani mengungkapkannya.
Citra Kartika tertawa kecil.
"Adik manis, jangan memanggilku tuan putri. Panggil saja namaku, Citra, atau panggil aku kakak !"
Siluh Candrani tersenyum malu-malu.
"Baiklah kakak, Siluh senang sekali ada kakak di sini ...Selama ini di padepokan hanya ada orang-orang yang sudah tua..." katanya blak-blakan dengan suara manja.
"Siluh, kamu baru pulang dari dusun. Bersihkan dirimu dulu, lalu istirahat !" tegur ibunya.
" Tapi Siluh masih ingin ngobrol dengan kakak cantik..." dan tampan, kata hati Siluh Candrani.
"Nanda Raden dan Nanda Galuh masih lama di sini, kamu tidak usah cemas !"
"Tidak apa-apa Ibu. Biar Siluh siapkan makan siang istimewa saja, ya?" Dengan gesit Siluh Candrani menghilang ke pawon. (Pawon \= dapur)
__ADS_1
Dewi Sekarwangi hanya tersenyum.
Siang itu. Siluh Candrani benar-benar menghidangkan santap siang istimewa. Ada sayur urap daun pakis muda, pepes jamur hutan dan ikan bakar yang ditangkap olehnya di kolam belakang padepokan.
"Banyak sekali masakanmu, adik manis! Kamu tidak kelelahan?" seru Citra Kartika.
"Kasihan kamu adik manis, capek-capek dari dusun masih memasak dan menangkap ikan," Surya Kencana ikut-ikutan memanggil adik manis .
Siluh Candrani nampak girang sekali .
"Siluh sudah biasa naik turun gunung sejak kecil, kakak ! Siluh benar-benar kuat, lihat ini," Siluh Candrani memperlihatkan kepalan tangannya yang kecil.
Sontak Citra Kartika dan Surya Kencana tertawa geli.
Mereka cepat sekali akrab pada gadis manis itu.
Setelah selesai makan siang, Siluh Candrani mengajak mereka berjalan-jalan masuk ke dalam hutan di belakang padepokan untuk memetik buah-buahan.
Citra Kartika kegirangan melihat begitu banyaknya buah-buahan yang sedang bergelantungan di pohon.
Saat itu sedang musim mangga. Pohon mangga ijogading yang besar dan pendek dipenuhi buah matang di pohon berwarna kuning, membuat gadis itu gemas untuk memetiknya .
Surya Kencana menghampiri pohon juwet yang sedang berbuah ranum. Pemuda itu menggenjot kakinya. Sekejap kemudian ia sudah berada di atas pohon, duduk uncang-uncang kaki di dahan sambil mengunyah daging buah juwet.
Citra Kartika berteriak padanya.
"Kakak, naluri monyetmu kambuh lagi..."
"Diamlah, adik. Buah juwet ini enak sekali. Manis dan berair. Adik mau?" tanya Surya Kencana sambil nyengir.
Nampak gigi dan gusinya yang berubah warna menjadi hitam keunguan akibat terlalu banyak mengunyah juwet ranum.
Citra Kartika dan Siluh Candrani terkekeh-kekeh melihatnya hingga airmata mereka keluar.
Hingga sore mereka asyik berjalan-jalan di hutan. Siluh Candrani memetik jamur yang tumbuh di tanah. Sementara Citra Kartika dan Surya Kencana berusaha mengejar-ngejar ayam hutan yang lincah-lincah.
Tawa mereka berkumandang di tengah hutsn itu.
"Aduh, adik...perutku mulas...." keluh Surya Kencana sambil memegang perutnya.
"Itulah akibat terlalu banyak makan juwet..." kata Citra Kartika tertawa.
"Aku mau kembali ke padepokan, adik... Ayo kita balik," Ajak Surya Kencana.
" Kakak saja yang balik. Aku masih penasaran tangkap ayam hutan," tolak Citra Kartika.
"Baiklah. Tapi jangan lama-lama , sebentar lagi gelap !" kata Surya Kencana.
Pemuda itu kembali ke padepokan, disusul oleh Siluh Candrani yang ingin memasak untuk makan malam.
Citra Kartika masih mengejar-ngejar ayam hutan. Tawanya berkumandang setiap ayam-ayam itu berhasil kabur.
Setelah puas mempermainkan ayam-ayam iru tanpa berhasil menangkap seekorpun, Citra Kartika memutuskan untuk kembali ke padepokan.
Ia melangkah santai menuju arah padepokan.
Seseorang mencegat langkahnya di balik sebuah pohon besar. Orang itu bersandar pada batang pohon dan tersenyum manis sekali padanya
"Kukira diriku yang telah gila dan berkhayal mendengar gema suaramu di hutan ini. Ternyata ini memang engkau, tuan putriku.. pujaan hatiku !" kata orang itu.
Tatapan matanya yang tajam, menyorotkan kerinduan dan rasa cinta yang dalam.
Citra Kartika benar-benar terkejut.
__ADS_1
" Raden Bagus Saksena?"