
Galuh Citrawani bukan gadis bodoh.
Ia tahu, setelah Bagus Saksena berani menampakkan diri, lelaki itu pasti telah memiliki rencana. Tiga hari lalu lelaki itu urung mengganggunya. Bukan berarti pangeran licik itu akan membatalkan aksinya.
Pasti akan ada aksi lanjutan. Mungkin dosis obat bius itu yang ditingkatkan, atau lelaki itu akan memakai kekerasan untuk memaksanya.
Dilihat dari gelagatnya. Bagus Saksena belum akan menggunakan kekerasan. Dia tidak akan membuang waktu begitu lama jika ia akan memaksanya dengan kekerasan.
Dengan teliti, Citrawani memilih-milih makanan yang disajikan padanya. Beberapa hidangan sayur dan daging dilewatkannya begitu saja. Hidangan-hidangan itu menguatkan dugaan Citrawani akan rencana busuk Bagus Saksena.
"Hmm...daun ganja, dicampur daun ubi kayu. Ini untuk menguatkan efek obat-obatan mereka. Dan ini daging rusa kesturi. Rupanya aroma musk dari rusa ini sudah diperah oleh mereka untuk campuran aprodisiak. Hmm....sungguh usaha yang keras... " renung Citrawani.
"Untuk orang biasa, ramuan yang kemarin sudah cukup untuk membuat seorang wanita bertekuk lutut pada lelaki itu, lalu memohon untuk digeluti. Hm, laki-laki busuk itu !" maki Citrawani.
"Tentu rencana dia ini ada hubungannya dengan statusku sebagai istri kedua Jayanti Suryapaksi. " Citrawani menggigit bibir bawahnya dan memicingkan mata.
"Agar aku menyerahkan diri secara sukarela padanya. Untuk mempermalukan diriku. Jika sesuai kebiasaan orang-orang jaman dulu, Galuh Citrawani asli pasti akan jatuh harga dirinya. Mungkin dia akan bunuh diri. Dengan begitu, tidak ada saingan untuk Putrika Sundari di istana keputrian. Dengan kata lain, Bagus Saksena hanya ingin menyingkirkan istri kedua Suryapaksi. "
Citrawani menyeringai.
"Sayangnya, aku bukanlah orang jaman dulu. Baiklah, orang kuno. Kita akan lihat, siapa mempermainkan siapa !"
Sore itu menjelang senja., Citrawani tiba-tiba memanggil penjaga perempuan di depan sel nya.
"Sampaikan pada junjunganmu, Raden Bagus Saksena. Aku ingin membicarakan suatu penawaran yang sangat penting. "
Penjaga itu mengerutkan keningnya.
" Aku minta padamu, tolong sampaikan pada junjunganmu sekarang juga., atau kau akan menyesal nanti jika dia murka padamu. Karena apa yang akan aku sampaikan ini sangat ditunggu-tunggu olehnya. "
.
****
Tidak menunggu waktu lama, bangsawan itu muncul di sel tahanan Galuh Citrawani . Raut penasaran dan ingin tahu tidak disembunyikan dari wajah tampannya.
"Tuan Putri jelita ini, hal apakah gerangan yang sangat aku tunggu-tunggu?" tanpa basa-basi, Bagus Saksena duduk di hadapan gadis yang menyambutnya dengan senyum manis.
Bagus Saksena terpaku memandang senyum di wajah menawan itu, hingga ia terbengong untuk beberapa saat.
"Sudah?" sindir Galuh Citrawani. "Sudah puas melihat kecantikanku? Apa aku sudah boleh mulai bicara ?"
__ADS_1
"Ah.." Bagus Saksena menyeringai. "Katakanlah!. Aku sudah tidak sabar ingin mendengarkan suara tuan putri yang indah."
" Urungkan niatmu untuk membunuh karakterku ."
"Apa?!" Bagus Saksena terperangah. Ia memandang wajah santai Galuh Citrawani dengan bingung.
"Apa maksudmu?"
"Kau tidak perlu mengeluarkan banyak usaha dan trik. Dengan ramuan pelemah sukma yang mengandung aprodisiak dosis tinggi untuk melemahkan pertahananku. Kamu berharap aku akan jatuh ke dalam perangkapmu, menyerahkan diri dan kepolosanku padamu. "
"Setelah itu, aku yang telah ternoda akan dicampakkan oleh Raden Jayanti Suryapaksi. Dengan demikian, adik terkasihmu Putrika Sundari akan menjadi istri tunggal pangeran mahkota Panjalu. Dan kelak akan menjadi Ratu, ketika Kanda Suryapaksi naik tahta. "
"Perlu kamu tahu, aku bukan orang biasa. Level pengetahuanku akan obat-obatan dan racun jauh melampaui para tabib andalanmu. Jadi usahamu hanya akan sia-sia saja untuk menggunakan segala macam obat dan racun padaku."
"Dan setelah trik pertamamu gagal, kamu akan mulai menggunakan trik lain. Salah satunya, akan langsung menggunakan kekerasan untuk memaksaku !"
Senyum santai Galuh Citrawani membuat Bagus Saksena membeku. Tiba-tiba bangsawan Janggala itu merasa, mata lebar dan teduh Citrawani menjadi jauh lebih memukau. Bagus Saksena terhentak oleh sengatan rasa waspada.
Gawat. Aku harus hati-hati pada gadis tangguh ini.
Galuh Citrawani menatap mata Bagus Saksena dalam-dalam.
"Dan sekarang, kamu baru merasa bahwa aku berbahaya untuk diajak bermain-main, bukan?" tandas gadis itu.
Dia telah disekap di sini selama beberapa bulan bersama adiknya, tetapi tak sedikitpun gadis itu memperlihatkan sikap gentar.
Kekuatan dan kepercayaan diri yang tinggi terpancar dari cahaya wajahnya yang gemilang.
"Kamu memang tangguh ." Bagus Saksena mengakui dengan jujur kata hatinya. "Tetapi kamu telah aku tahan di sini berbulan-bulan. Dan tidak ada yang bisa menemukanmu. Adikmu juga ada di tanganku. Ingat itu."
"Aku tahu. Karena itu aku tidak melarikan diri, karena aku tidak mau meninggalkan adikku. Kamu tahu, dengan kemampuanku yang tinggi, belenggu kulit binatang ini bukanlah apa-apa bagiku."
Citrawani menggerakkan tangannya. Beberapa saat kemudian, tangannya telah terbebas dari belenggu yang masih kokoh itu. Bagus Saksena terbelalak sampai melangkah mundur dua tindak karena sangat terkejut.
Citrawani tersenyum mengejek sambil mengibas-ngibas tangannya.
"Sekarang aku hanya ingin menawarkan sesuatu padamu. Bebaskan adikku, aku menjamin bahwa aku tidak akan kembali ke istana Panjalu. Aku akan meminta ayahandaku untuk membatalkan pernikahanku dengan Kakanda Suryapaksi. "
Galuh Citrawani berkata sungguh-sungguh.
Bagus Saksena menyimak dengan serius. Ia memegang dagunya dan memandang wajah gadis cantik itu dalam-dalam.
__ADS_1
"Apa jaminannya bahwa kata-kata tuan putri bisa dipercaya?" Katanya pelan dan waspada.
"Jika aku melepasmu, bukankah kamu akan segera melaporkanku pada Adi Suryapaksi?"
" Kata-kataku bisa dijadikan jaminan. Aku tidak akan mengingkari janjiku !" sergah Citrawani .
"Hahaha.." Tawa Bagus Saksena mengumandang.
"Tuan putri memintaku untuk percaya pada kata-kata musuh? Bukankah tuan putri juga paham, berbohong pada musuh bukanlah kejahatan. Jadi kalau kemudian hari kamu mengingkari janjimu padaku, bukankah itu hal yang wajar?"
Galuh Citrawani memandang jauh ke depan. Ia sudah tahu Bagus Saksena tidak akan menyetujui tawarannya dengan mudah.
" Bawalah aku ke Janggala. " kata gadis itu perlahan.
"Apa?!?"
Bagus Saksena nyaris terlompat saking kagetnya.
"Bawa aku ke Janggala. Tahan aku di negaramu, jika itu membuatmu merasa yakin pada ucapanku. Di sini, kamu bebas mengarang cerita tentangku pada Kakanda Suryapaksi. Dengan dua syarat."
Citrawani menatap langsung pada Bagus Saksena yang melihat padanya dengan pandangan tak percaya.
"Satu, kamu lepaskan dan antarkan kembali adikku dengan selamat tak kurang apapun juga dan tanpa diganggu, ke istana ayahandaku. Kedua, kamu tidak menyebarkan fitnah tentang keluargaku. Kamu boleh memfitnahku, membunuh karakterku, terserah kamu. Tapi jangan coba-coba menyentuh keluargaku!"
Tatapan mata yang intens di antara mereka berdua, entah kenapa membuat dada Bagus Saksena makin berdebar tak menentu. Tangannya sedikit bergetar dan itu tidak luput dari kerlingan mata jeli Citrawani.
" Aku tahu, ilmu kesaktianmu sangat tinggi, Raden Bagus Saksena ! Tetapi aku belum tentu kalah olehmu ." Senyum mengintimidasi Citrawani malah membuat Bagus Saksena mabuk kepayang.
"Tuan putri...Kepercayaan dirimu boleh juga . Kenapa kamu yakin aku akan menerima tawaranmu?"
Galuh Citrawani mendekat. Dengan gemulai ia menengadah pada Bagus Saksena yang berdiri di depannya. Tangan halus gadis itu meraih sebuah tusuk kundai emas yang ia pakai, dan memperlihatkannya pada Bagus Saksena.
"Ini adalah salah satu tanda perjodohan yang pernah aku terima dari Kakanda Suryapaksi. Jika kamu setuju pada penawaranku, benda ini boleh pindah tangan padamu sebagai jaminan dariku ."
"Aku tahu, kepentinganmu hanyalah seputar tahta Ratu di Panjalu ! Asal kamu tahu, aku sama sekali tidak tertarik menjadi Ratu !" Citrawani berkata tajam.
" Kalian orang-orang yang hanya memandang tahta, harta sebagai hal terpenting dalam hidup. Aku sama sekali tidak berminat dengan hal-hal itu ! Fucken **** ! Jika aku boleh menukarkan hal-hal itu dengan kebebasanku, aku sama sekali tidak keberatan !"
Hampir ternganga Bagus Saksena mendengar kata-kata tandas Citrawani. Benarkah ini isi kepala yang cantik itu? Jika memang semudah ini merebut kedudukan tunggal untuk Sundari, buat apa ia merencanakan hal-hal serumit penculikan ini untuk menjatuhkan Citrawani?
*******
__ADS_1
*********