
Mulai hari itu, Raden Suryapaksi menjalani hidup damai di padukuhan pamannya.
Begawan Wistara mengajarkan banyak hal padanya. Pelajaran tertinggi tentang rahasia kehidupan.
Pangeran mahkota yang terbiasa hidup mewah, kini memilih untuk hidup sederhana.
Makan sekedarnya dari hasil kebun dan sungai di sekitar padukuhan. Hidup seperti rakyat jelata, setiap pagi berangkat ke kebun dan menggarap ladang bersama para murid lainnya.
Menjelang sore barulah ia pulang bersama murid-murid lainnya, membawa hasil kebun untuk dimasak. Seperti ubi, waluh, ketela pohon, sayur-sayuran, buah-buahan dan beberapa bumbu dapur .
Kadang-kadang beberapa murid menangkap ikan di sungai untuk dimasak jadi lauk makan.
Kadang ada waktunya mereka menangkap beberapa ayam hutan untuk dipanggang di belakang padukuhan pada sore hari.
Raden Suryapaksi tidak melarang para murid memanggilnya Raden. Tetapi untuk kehidupan sehari-hari ia membaur dengan mereka. Ia menolak untuk diistimewakan.
Memacul ladang, menyirami kebun, menyiangi rumput sama-sama mereka lakukan .
Demikian juga memasak makanan dan mempersiapkan persembahyangan, selalu mereka lakukan bersama.
Tidak ada perbedaan gusti dan kawula.
Kulitnya yang dulu putih bersih cenderung pucat, sekarang menjadi kecoklatan dan berkilat sehat. Otot-otot lengan dan perutnya makin terbentuk seiring kerja keras yang dilakukan setiap hari.
Tetapi hatinya tentram dan damai.
Meski kadang-kadang ia masih suka menyendiri di malam hari, memandangi bulan yang bersinar redup di balik rerimbunan pohon hutan.
******
Citra Kartika tersenyum . Ia baru saja menyelinap keluar dari gerbang istana. Langkahnya ringan mengendap-endap di atas tembok pembatas kota larangan, sembari mengawasi para penjaga yang terkantuk-kantuk di gerbang kota.
Dilemparkannya bom pembius dosis tinggi ke arah para prajurit. Bom itu meledak di tanah, mengagetkan para penjaga. Belum sempat melakukan apapun, asap telah masuk ke pernafasan mereka.
Tak menunggu waktu lama, para prajurit terkapar pingsan.
Citra Kartika meloncat turun. Ia melirik sekilas pada para prajurit penjaga gerbang yang berjumlah tak kurang dari dua puluh orang itu.
Gadis itu menepuk buntalan berat yang ia panggul. Alangkah baiknya jika ia mendapat seekor kuda untuk mengurangi beban beratnya.
Maka dengan girang, Citra Kartika menghampiri kuda para prajurit yang masih tertambat di pos penjagaan.
Dilepasnya salah satu kuda terbaik berwarna hitam. Dengan sigap, Citra naik ke punggung kuda, lalu memacunya pergi.
"Selamat tinggal Jenggala... Hahaha..." katanya sambil tertawa kecil.
Tak sia-sia ia mengumpulkan bahan-bahan bom bius selama berbulan-bulan dengan sabar.
Bahan-bahan herbal ia dapatkan dari taman istana dan dari hutan kota, tempat yang diijinkan oleh Bagus Saksena untuk dikunjungi. Karena tempat-tempat itu terjaga oleh banyak pengawal bayangan.
Sedangkan bahan-bahan yang sulit ia dapatkan, ia minta dari Bagus Saksena, dari Ragaparna, bahkan dari Perdana Menteri dan Raja sendiri !
Mereka tidak akan pernah menyangka bahan-bahan obat dan kecantikan itu ternyata merupakan bahan baku pembuat bom bius .
__ADS_1
Dua minggu lalu, Bagus Saksena datang ke istana putri. Pangeran mahkota itu berpamitan untuk mengunjungi adiknya ke Panjalu.
"Yah kok sudah mau pergi...aku kan belum meracunimu .." seloroh Citra Kartika sambil tertawa-tawa.
" Sembarangan ! Jika aku mati, siapa lagi yang mau menikahimu?"
"Ih, amit-amit ! Lebih baik aku jomblo seumur hidup daripada menikah dengan yey .." gerutu Citra Kartika.
"Bicara apa toh, Gadis Cantik? Aku tidak mengerti," jemari Bagus Saksena dengan luwes mencolek dagu Citra Kartika, yang dibalas gadis itu dengan gebukan di lengan.
"Sekali lagi Pangeran lancang colak-colek, aku benar-benar akan bikin racun untukmu !" ancam Citra Kartika galak.
Bagus Saksena hanya mengangkat alisnya.
"Kalau begitu aku harus minum penawar racun setiap hari, agar calon istriku yang galak ini tidak berhasil meracuniku !"
"Siapa calon istrimu!" Citra Kartika mencibir.
"Kenapa mendadak ingin pergi ke Panjalu? Apakah adikmu yang sedang hamil tua itu sudah melahirkan?" tanya Citra Kartika serius .
"Begitulah. Perjalanan lumayan jauh, mungkin minggu depan kami baru sampai di perbatasan Panjalu. "
"Bukankah kamu berjanji setelah adikmu melahirkan penerus tahta Panjalu, maka aku bebas pergi?" tuntut Citra Kartika.
"Iya."
"Lalu kenapa kamu tidak melepaskan aku pergi sekarang?"
"Karena anak itu lahir dalam keadaan mati. " Datar sekali suara Bagus Saksena.
"Oh Tuhan... Semoga bayi tak berdosa kembali padaMu dengan sempurna..." gumamnya memanjatkan doa sambil menunduk.
Beberapa saat kemudian, gadis itu mengangkat kepala. Ia menatap Bagus Saksena yang memperhatikannya sejak tadi.
"Terus ..apa rencanamu terhadap diriku?" tantang Citra Kartika
"Mau tidak mau, kamu masih harus tinggal di sini, Citra ! Hingga adikku memiliki anak yang kedua."
"Hmm... dan setelah itu harus menunggu sampai anak itu besar, diangkat jadi putra mahkota, lalu diangkat jadi raja? " kata Citra sarkastis.
"Kamu pikir aku putri keabadian, yang akan selalu muda dan panjang umur, bisa kamu tahan di sini beratus-ratus tahun?"
"Kalau kamu tidak mau jadi tua di sini, menikahlah denganku ! " kata Bagus Saksena seenaknya.
"Huh! Bicaralah dengan dinding !"
Citra Kartika membalikkan tubuhnya dan pergi dari hadapan Bagus Saksena yang hanya tersenyum.
Akhirnya rombongan Jenggala dalam jumlah besar bergerak menuju Panjalu.
Sedangkan Citra Kartika cepat-cepat menyelesaikan bom bius yang telah lama diraciknya.
Ini adalah kesempatan baik yang ia tunggu-tunggu, saat Bagus Saksena bersama sebagian pengawal bayangannya yang tangguh pergi meninggalkan istana.
__ADS_1
Dengan menggunakan pakaian laki-laki dan rias wajah serta rambut. Citra Kartika yang ahli menyamar semasa jadi polisi, kini berubah menjadi seorang pemuda yang tampan.
Hari ini ia bisa meraih kebebasan, keluar dari 'penjara' yang mewah dan megah, mengandalkan bom bius dan keahlian ilmu bela dirinya yang tinggi.
Bagai burung yang bebas dari sangkar emas, Citra Kartika menggebyah kuda tunggangannya dengan riang gembira. Mendaki bukit, melewati dusun demi dusun, menyeberangi sungai dan lembah .
.
.
.
Suatu sore, di pinggiran sebuah kota kecil di perbatasan Panjalu. Seorang pemuda bercaping memasuki rumah makan yang terlihat bersih dan luas.
"Silahkan duduk, tuan muda ! Mau pesan makanan apa?" seorang pelayan yang masih muda dan cantik menghampiri.
"Saya mau makan yang panas-panas dan berkuah serta gurih pedas," kata pemuda itu.
Ia duduk di sebuah bangku yang terlihat menyendiri di sudut belakang.
"Oh, kami ada kuah ikan pindang pedas, ada juga kuah ayam kampung pedas, mangut ayam berkuah pedas, sayur bebek campur ares pedas..."
"Saya pesan mangut ayam pedas, sayur bebek ares, nasi satu saja... Minumnya saya minta air nira manis..."
Si pelayan menyampaikan pesanan tamu muda itu ke belakang.
Pemuda itu membuka capingnya dan menaruhnya di samping meja. Terdengar suara terkesiap tertahan dari para gadis yang tak sengaja melihat ketampanan pemuda itu.
Wajah itu tampan sekali, kulitnya putih bersih. Matanya sayu, menimbulkan rasa terpukau di dalam hati para gadis.
Bekas jenggot dan kumis yang dicukur bersih meninggalkan warna kebiruan di atas bibir dan dagu pemuda itu. Menambah kejantanan wajahnya.
Seorang gadis dan tiga orang pemuda yang duduk di bagian depan sejak tadi telah mengawasi pemuda itu.
Si Gadis yang berwajah cantik genit berkali-kali melirik ke arah si pemuda sambil menggigit bibir bawahnya. Ketika si pemuda tak sengaja mengarahkan pandangan padanya, gadis itu tersenyum manis dan mengedipkan mata.
Tiga pemuda yang bersamanya merasa kesal. Gadis itu adalah adik seperguruan mereka. Sepanjang perjalanan, adik mereka bersikap cuek pada mereka bertiga yang berlomba-lomba memanjakannya.
Sekali melihat pemuda tampan di kedai makan, sang adik perguruan langsung bersikap genit dan menggoda.
"Kania, jangan senyum pada sembarang orang. Nanti orang bisa salah paham padamu," Kakak ketiganya yang bernama Kalisang menegur.
"Aku hanya mengaguminya, kakang. Dia sangat tampan .." Kania tersenyum pada Kalisang.
"Jangan memikirkan pemuda tampan melulu, Kania. Tugas yang diberikan guru pada kita belum kita selesaikan, " tukas sang kakak pertama, Pandika.
Kakak keduanya, Darun, yang sifatnya paling dingin hanya mendengarkan sambil sesekali mendengus.
Mereka berempat meneruskan bicara sambil makan minum.
Mula-mula pembicaraan mereka tidak menarik minat pemuda tampan yang duduk di belakang itu.
Tetapi ketika tanpa sengaja si gadis genit mengucapkan nama Prajala, seketika pemuda tampan yang tak lain adalah Citra Kartika itu memasang kupingnya yang tajam, mendengarkan pembicaraan keempat saudara seperguruan itu.
__ADS_1
**********