
Senja telah mulai tenggelam ketika terjadi pertarungan terakhir untuk menentukan sang pemenang .
Si rambut gimbal maju dihadapi oleh Loka Wijaya dari perguruan Lodaya.
Para penonton mengharapkan pertarungan sengit yang akan terjadi, karena ini adalah babak terakhir.
Tetapi yang terjadi benar-benar sungguh di luar dugaan. Si rambut gimbal yang tadi lincah dan berkekuatan besar, sekarang terlihat tidak berdaya melawan Loka Wijaya.
Ia tidak pernah mampu menyerang balik, hanya bertahan dan mengelak. Ketika sebuah pukulan mengenai perutnya, si rambut gimbal pun terhempas hingga jatuh di atas arena.
Bergegas si rambut gimbal menjura ke arah lawan dan penonton, menandakan ia menyerah kalah.
Loka Wijaya tersenyum bangga. Ia memukulkan tinjunya ke udara sambil berteriak kegirangan.
Para penonton pun mengelu-elukan pemuda itu. Tidak ada seorang pun yang memperhatikan si rambut gimbal yang telah turun panggung dan menghilang di antara lautan penonton.
Tuan Narjuman mengumumkan sang pemenang, sekaligus juga asal-usul dan keturunannya. Sebuah untaian bunga dikalungkan di leher Loka Wijaya.
Diserahkan pada pemuda itu sebuah keris kecil dengan sarung dari emas permata sebagai simbol kemenangan.
"Dengan ini kami mengumumkan, pemenang sayembara ini adalah Loka Wijaya, usia duapuluh tiga tahun, dari perguruan Lodaya ! "
Sorak sorai membahana hingga lama .
Riuh rendah suara penonton terdengar hingga kejauhan.
Nila Warsiki dan Harya Wisanggeni membawa si rambut gimbal ke pondok mereka. Nila membantu melepaskan rambut gimbal lalu membersihkan wajah merah itu dengan cairan pembersih muka.
Surya Kencana tertawa-tawa ketika rambutnya yang lurus akhirnya terlihat lagi.
"Sungguh-sungguh gila bakatmu, Dik ! Aku sendiri tidak bisa mengenali wajahku yang merah.." celetuknya.
"Nah, sekarang kakak ingin mencoba peran apalagi?"tanya Nila Warsiki.
"Kembali jadi Surkan yang berkulit keling dan bercaping," kata Surya Kencana.
Mereka sudah mengacaukan sayembara, tanpa ada seorang pun yang menyadari. Si Rambut gimbal sengaja mengalah agar Loka Wijaya lah yang menang.
Perguruan Lodaya yang terletak jauh di ujung barat pulau, selama ini tidak pernah ikut campur urusan politik kerajaan manapun. Jadi biarlah mereka yang memenangkan sayembara tuan Narjuman.
.
.
.
Sudah tiga malam mereka berkemah di sini .
Malam ini pasukan Wisanggeni membuat api unggun di reruntuhan kuil tua. Tenda-tenda mereka terpasang berderet di halaman kuil yang telah mereka bersihkan.
Beberapa ekor ayam dan bebek guling terhidang. Aroma bakaran menguar bersama asap dari nasi putih yang mengepul, membangkitkan selera.
Setelah diberi aba-aba, mereka pun menyerbu hidangan lezat itu.
"Selain pintar menyamar, adik juga jago masak !" puji Surya Kencana.
Mulutnya sibuk mengunyah daging ayam guling yang empuk dan gurih. Suara decap nikmat terdengar dari mana-mana.
"Iya, baru kali ini aku makan hidangan seenak ini," Harya Wisanggeni yang pendiam itupun ikut memuji sambil tak henti-henti menyuap dan mengunyah.
Nila Warsiki tertawa senang.
__ADS_1
"Baiklah, suatu saat nanti aku akan membuka restoran ayam dan bebek guling Nila Warsiki," katanya terkekeh.
"Bagaimana rencana malam ini, adik?"
"Tetap seperti semula ! Racunapi berangkat ke Gadis untuk menyampaikan surat cinta. Nila dan Surkan menunggu bulan sambil tetap mengintai para jejaka muda dan tua. " kata Nila Warsiki.
Kata-katanya adalah sandi yang telah mereka pahami bersama.
Kemarin malam, Nila Warsiki menyamar menjadi pelayan pada acara pertunangan Loka Wijaya dan Wulandari. Ia menyelinap ke beberapa tempat dan mendengar beberapa bocoran rahasia .
"Ratu Limbur, permaisuri Raja Jenggala sering menghadiri upacara Gunung Kemukus... melanggengkan .. dan kekuasaan... Nanti kita berkumpul ..purnama kapat..."
Itulah sepenggal informasi yang didapatkan gadis itu dari percakapan nenek tua dan tuan Narjuman.
Sebuah surat sudah disiapkan oleh gadis itu untuk ayahandanya. Di situ termuat daftar partai dan perkumpulan yang bersekutu dengan para pemberontak.
Surat itu akan diantarkan oleh Harya Wisanggeni dan pasukannya yang menyamar sebagai sekelompok pedagang.
Surya Kencana juga menulis surat untuk dikirimkan oleh para pengawal bayangannya ke perguruan Resi Wistara.
Untuk menyemangati para prajurit, malam ini mereka memasak makanan enak dan membuat api unggun.
Pada pagi hari, semua orang pergi menunaikan tugas masing-masing.
Para pengawal bayangan Surya Kencana berangkat ke perguruan Resi Wistara.
Harya Wisanggeni dan pasukannya bergerak ke Daha.
Nila Warsiki dan Surya Kencana mulai berangkat ke gunung Kemukus dengan santai, karena purnama kapat masih ada tiga minggu lagi.
.
.
.
Putra mahkota Panjalu hampir tidak dikenali oleh para pengawal Surya Kencana. Penampilannya tidak jauh berbeda dengan para petani gunung .
Pakaiannya sederhana, otot-ototnya menonjol dan kulitnya kecoklatan.
Terlebih lagi sorot mata dan senyumnya terlihat teduh dan sabar, tidak lagi angkuh seperti dulu.
"Baiklah Raden, tugas telah kami tunaikan. Sekarang ijinkan kami kembali pada Raden Surya Kencana !"
" Kembalilah !" titah Suryapaksi.
Kedua pengawal itu berlutut, lalu sekejap mata kemudian mereka telah melesat pergi dari hadapan Suryapaksi.
Lelaki itu duduk di atas balai-balai bambu di depan pondoknya. Dibukanya untaian surat dari sang kakak.
Setelah selesai membaca surat itu, air mukanya berubah .
Ia segera masuk ke dalam bangunan kayu untuk memberitahu sang guru, Resi Wistara.
Surat itu digenggam oleh Resi Wistara. Berkali-kali isi surat itu dibaca, isinya tetap tidak berubah.
"Sungguh tidak bisa didiamkan..." Kata sang Guru. " Partai Pasir Hitam dulunya dipimpin oleh Resi Wadangan dari Malawapati. Dia adalah seorang pemuka agama. Romo tidak tahu kenapa dia tersesat sampai sejauh ini. "
"Angger Suryapaksi, pulanglah ke Panjalu. Pimpin pasukan Ayahandamu untuk mempertahankan kedaulatan negeri kita. Pelajaranmu telah cukup sebagai bekal untuk menghadapi para pemberontak."
"Baik. Romo !"
__ADS_1
"Tunggu sebentar !"
Resi Wistara mengambil sebilah mata tombak dari sebuah peti kayu berukir. Mata tombak itu terlihat sudah tua dan tidak terlalu tajam.
"Bawalah ini, Ngger ! Nanti angger minta dibuatkan sebuah tangkai tombak untuk mata tombak ini pada seorang tukang senjata. Ini adalah pusaka peninggalan nenek moyangmu dan sangat bertuah untuk melawan senjata berpenghunj mahluk halus !" kata Resi Wistara .
" Terimakasih, Romo Begawan !"
Hari itu juga Raden Suryapaksi berangkat menuju Panjalu, diiringkan oleh dua pengawalnya yang setia.
.
.
.
Harya Wisanggeni membawa pasukannya memasuki kadipaten Daha. Setelah membersihkan diri di sebuah penginapan, Harya Wisanggeni meminta untuk menghadap Adipati Arya Wisena.
Pagi itu sang adipati baru saja selesai berkuda. Ia tercengang ketika diberitahu Harya Wisanggeni meminta untuk bertemu.
"Baiklah. Bawa Wisanggeni ke pesanggrahan ikan mas. Aku akan segera menemuinya. " Kata sang Adipati .
Yang disebut pesanggrahan ikan mas adalah sebuah aula tertutup yang dibangun di atas kolam ikan mas. Sang Adipati biasa menerima tamu penting yang masih ada hubungan keluarga di situ.
Harya Wisanggeni adalah tunangan anaknya, Galuh Mayani. Oleh karena itu ia dianggap sebagai tamu penting yang masih ada hubungan keluarga.
Harya Wisanggeni duduk sambil melihat keluar jendela. Ketika Adipati Arya Wisena muncul beberapa menit kemudian, sang adipati langsung memeluknya dengan hangat .
"Wisanggeni, apa kabar nak? Bagaimana kabar orangtuamu di Hujunggaluh?" tanya Adipati Arya Wisena.
"Baik-baik saja, Paman. hem..." Wisanggeni merasa kesulitan untuk mulai bicara.
"Begini, paman ..kedatangan hamba kemari adalah karena... hemmm....diutus oleh Galuh Citrawani.."
"Hahh?!?!"
Jika ada petir menyambar, mungkin sang adipati tidak akan seterkejut ini.
"Citrawani? Nanda bertemu dengan Citra, anakku ?" tanya Adipati Arya Wisena dengan suara terbata-bata.
"Benar, Paman. Mungkin berita ini akan sangat mengejutkan paman. Karena itu biarlah hamba menceritakan asal mula pertemuan kami.. dan apa yang telah kami lalui bersama-sama."
Seorang pelayan masuk untuk membawakan minuman dan makanan ringan.
Setelah sang pelayan pergi, Harya Wisanggeni mulai menceritakan pertemuannya dengan Citra Kartika yang menyamar bersama Surya Kencana. Semua pengalaman yang mereka alami diceritakan lengkap, beserta surat yang dititipkan oleh Citrawani untuk ayahandanya.
Berkaca-kaca netra sang ayah membaca surat panjang itu.
Telah tiga tahun putri sulung kesayangannya menghilang. Tanpa pernah ada kepastian atau harapan tentang keberadaannya.
Kini goresan tangan sang putri ada di tangannya, dibaca dengan penuh perasaan.
Selama sepeminuman teh, sang adipati larut dalam perasaannya.
Setelahnya ia tersadar, ada calon menantu yang tengah duduk di hadapannya, menunggu respon darinya.
"Ah, Wisanggeni, aku sungguh bahagia menerima surat dari anakku ini ! Sekaligus juga cemas dengan pergerakan dari para pemberontak yang bersekutu dengan kerajaan sebelah ! "
"Hamba memohon maaf sebelumnya, Paman .." Wisanggeni menundukkan kepalanya.
"Hamba sangat menyesalkan, dan memohon agar Paman bersedia untuk menyadarkan ayah hamba..."
__ADS_1