
"Kenapa ? Kaget aku bisa menemukanmu di sini?" Bagus Saksena melipat tangannya di depan dada.
"Aku tidak menyangka, kamu berhasil melacak jejakku sampai di sini ." Citra Kartika menggeleng-gelengkan kepala .
"Sebenarnya aku tidak sengaja melacakmu. Tampaknya kita memang berjodoh. Takdir menyatukan kita di hutan, " goda Bagus Saksena.
"Tidak usah besar kepala ! " Ketus Citra Kartika.
Ia hendak melangkah lagi. Bagus Saksena sengaja menghalangi, dengan berdiri di tengah-tengah jalan setapak sambil senyum-senyum senang.
"Minggir, pangeran edan !" Hardik Citra Kartika. "Malas banget deh gue lihat tampang lu.."
"Duh, putriku bicara apa ? Bahasamu aneh, tetapi sungguh merdu di telinga Kakanda !"
"Raden Bagus Saksena, jangan mencari masalah denganku ! Kamu mau menculikku sekali lagi? Jangan mimpi !" kata Citra Kartika sinis. "Ilmu silatku belum tentu kalah darimu. Dan perlu kamu tahu, di padepokan depan sana ada kakak sepupuku yang jauh lebih lihai dariku. Juga ada kakak seperguruan dari pamanku yang sakti mandraguna !"
"Demi memperjuangkan cintaku, bahkan lautan api akan aku seberangi..." kata Bagus Saksena lembut.
"Dinda Galuh Citrawani, tidak adakah kesan sedikitpun di hatimu untukku? Kurang apakah diriku? Apa aku kurang tampan, kurang kaya, kurang berkuasa? Apakah aku masih tidak memenuhi syarat untuk menjadi suamimu?"
"Begitulah ."
"Kenapa? Kurang apa aku di matamu?"
"Kurang diajar !" Cetus Citra Kartika dingin.
"Itu dulu. Sekarang aku sudah berubah. Jika Dinda bersedia menerimaku, aku berjanji akan menuruti semua kata-katamu. Aku akan menjagamu, melindungimu,
menghormatimu, segalanya akan aku lakukan untukmu !"
Bagus Saksena menatap wajah Citra Kartika dengan sayu.
"Hmm... apapun yang kamu katakan, tidak akan bisa mengubah kenyataan bahwa kita adalah orang-orang yang berasal dari dua kubu yang berbeda !" tegas Citra Kartika.
"Pandangan politik negara kita memang berbeda, dinda. Tetapi kita adalah dua pribadi tersendiri yang memiliki kebebasan untuk memilih kata hati. Tidak bisakah kita menyeberangi perbedaan ini untuk menjalin hubungan yang lebih jauh?"
"Tidak bisa."
"Kenapa tidak bisa?"
"Karena aku tidak mau !" cetus Citra Kartika cuek.
"Galuh Citrawani..." kata Bagus Saksena sedih.
"Jika aku tidak bisa mendapatkanmu, maka orang lain pun tidak akan kubiarkan memilikimu !"
Sorot mata Bagus Saksena tiba-tiba berubah menjadi tajam .
"Kamu egois?" Rutuk Citra Kartika.
"Hm? " Bagus Saksena memiringkan kepalanya sedikit dengan bingung.
"Apa itu egois?"
"Mau enak sendiri, mau menang sendiri, pokoknya kurang ajar !"
__ADS_1
"Demi dirimu, semua lelaki yang berani mendambakanmu akan aku hancurkan ! Semua lelaki yang berani menikahimu akan aku bunuh !"
"Dasar psikopat !"
"Kata-kata apa lagi itu? Aku tidak peduli. Hinalah aku ! Maki-makilah aku, aku tidak ambil peduli !" Bagus Saksena mulai emosi. "Yang penting kamu harus menjadi istriku !"
"Mana mungkin..." Citra Kartika tertawa. "Aku punya kaki tangan dan suara untuk menolakmu. Aku rasa, kamu akan mati lebih dulu karena bosan berusaha membuatku tunduk !"
Bagus Saksena memandang Citra Kartika dengan sedih.
"Aku bersumpah, suatu saat nanti aku akan membuatmu jatuh cinta padaku , Citrawani !"
"Aku akan menunggu, kalau kamu memang bisa !" Ejek Citra Kartika.
"Baik !" Tekad Bagus Saksena. "Tunggulah hari di mana kamu akan bertekuk lutut di hadapanku dan memohon-mohon untuk dicintai olehku !"
Citra Kartika tertawa.
Ia melangkah maju, dan kali ini Bagus Saksena tidak menghalanginya.
Bangsawan Jenggala itu membiarkan gadis itu melewatinya. Tidak lama kemudian ia menyusul di jalan setapak yang sama. Arah ke padepokan gunung Kelud yang ia tuju sama dengan arah yang ditempuh Citra Kartika.
Hari telah gelap ketika Citra Kartika sampai di padepokan, disambut oleh Surya Kencana dengan heran.
"Kenapa adik lama sekali baru sampai?"
"Aku bertemu Bagus Saksena di hutan, kakak.."
"Apa?" Surya Kencana terkejut.
"Mau apa Pangeran Aryapati Jenggala itu masuk ke hutan ini?"
"Kurang ajar !" Surya Kencana mengepalkan tangan dengan marah.
"Kalau sampai dia berani memaksamu di sini, aku akan memberinya pelajaran yang tidak akan pernah dia lupakan !'
"Dia tidak akan nekad melakukannya, kakak ."
Percakapan mereka terhenti. Siluh Candrani memanggil mereka untuk makan malam.
Setelah makan malam selesai, padepokan kedatangan tamu yang bukan lain Bagus Saksena dan dua pengawalnya.
Citra Kartika dan Surya Kencana turut menyambut ketiga tamu itu di pendapa. Mereka terperangah.
"Mau apa Raden Bagus Saksena datang kemari?" tanya Surya Kencana dengan suara tak ramah.
"Apa kabar Raden Surya Kencana? Lama tidak bersua," sapa Bagus Saksena ramah. Ia tidak peduli dengan sorot benci di mata orang.
"Kami baik-baik saja. Hanya heran, angin apa yang membawa Raden Bagus Saksena untuk membuntuti kami sampai di sini?"
Bagus Saksena tersenyum. Ia menyoja pada Bagawan sepuh yang duduk dengan tenang .
"Saya tidak membuntuti siapapun. Kedatangan saya kemari adalah untuk menghadap Bagawan Lalitaswara !"
"Saya Bagawan Lalitaswara. Silahkan duduk ." Kata brahmana tua itu lembut.
__ADS_1
"Terimakasih ."
Dengan sopan, ketiga laki-laki itu duduk di atas bangku.
"Ada keperluan apakah gerangan anak muda datang ke padepokan kami?" tanya Bagawan Lalitaswara pada mereka bertiga.
"Pertama-tama, ijinkan saya bertanya kepada Bagawan. Apakah benar Bagawan memiliki seorang putri yang bernama Dewi Sekarwangi?"ujar Bagus Saksena perlahan.
Wajah Dewi Sekarwangi berubah. Wanita tua yang duduk di sebelah Citra Kartika itu tampak melengak kaget.
"Betul. Saya memang memiliki seorang putri . Dan dia bernama Dewi Sekarwangi .." kata Bagawan Laliaswara. Tangannya menunjuk pada putrinya.
Bagus Saksena mengikuti arah tangan sang Bagawan. Ia melihat pada wanita tua yang masih menyisakan garis-garis kecantikan di wajahnya.
Jadi inilah ibu tirinya. Istri pertama dari ayahandanya.
"Ibu, terimalah hormat saya," Bagus Saksena mencakupkan kedua telapak tangannya yang dibalas Dewi Sekarwangi dengan ragu.
"Siapakah nanda, anak muda ini? Dan berasal dari mana?"
"Nama saya Bagus Saksena, saya adalah putra Raja Jayengrana dari Jenggala..."
"Aaahh??!"
Belum selesai ia berucap, Dewi Sekarwangi terpekik kecil. Wajahnya pias. Tangannya gemetar karena terkejut.
"Adapun maksud kedatangan saya kemari adalah menjalankan perintah ayahanda. Untuk mencari dan menemukan Ibu Dewi Sekarwangi dan... adik tiri saya, sekiranya dia masih ada .. "
Bagus Saksena masih mencakupkan tangan.
"Hemm...," Bagawan Lalitaswara berdehem. Brahmana yang telah matang dalam olah bathin ini sama sekali tidak gugup atau terkejut.
Dengan tenang ia bertanya.
"Apa buktinya nanda putra dari Jenggala ? Dan apa buktinya perintah ini berasal dari Raja Jenggala?"
Raden Bagus Saksena mengembangkan tangannya ke arah Surya Kencana dan Citra Kartika.
"Bagawan boleh bertanya pada mereka. Mereka sangat mengenal saya," katanya sambil tersenyum. Tetapi diam-diam hatinya sakit melihat Citra Kartika yang duduk begitu dekat dan akrab dengan Surya Kencana.
"Benar, Romo Bagawan. Dia memang pangeran terhormat, putra mahkota Jenggala Raden Bagus Saksena," kata Surya Kencana.
Bagawan Lalitaswara manggut-manggut.
"Dan ini buktinya bahwa perintah ini berasal dari ayahanda." Bagus Saksena menyerahkan sebuah stempel tanda kekuasaan kerajaan Jenggala.
Bagawan Lalitaswara menerima stempel tersebut untuk memeriksa keasliannya.
"Baiklah. Romo percaya. Sekarang katakan, apa maksud dan tujuan nanda mencari dan menemukan Dewi Sekarwangi?"
"Saya tidak pernah ingat dan tidak pernah tahu bahwa ayahanda pernah memiliki istri lain. Ayahanda memberitahu saya belakangan ini, saat beliau sakit dan merasa menyesal atas tindakan cerobohnya di masa lalu..." Bagus Saksena mulai bercerita.
"Beliau menceritakan semuanya kepada saya. Beliau sangat menyesali kenapa dahulu tidak menyelidiki lebih lanjut, kenapa tidak berpikir lebih dalam sebelum memutuskan hal yang sekarang disesali. Beliau merasa sangat berdosa kepada Ibu dan adik yang waktu itu masih di dalam kandungan... Andai Ibu dan adik masih ada, Ayahanda ingin bersujud memohon maaf .. Lalu beliau meminta agar Ibu dan adik berkenan kembali ke istana..."
Wajah pias Dewi Sekarwangi telah dipenuhi airmata. Ia menangis tanpa suara.
__ADS_1
Berpuluh tahun sudah ia menjalani semua takdir dengan ikhlas. Ia tidak menyangka jika hari ini luka lama yang telah tenggelam oleh waktu itu dibangkitkan kembali ke permukaan.
Bagawan Lalitaswara menghela nafas panjang .