
Sawitra membawa Sekar dan Gentini ke dalam bilik, dibantu adik dan ibunya. Setelah itu ia menidurkan Galuh Citrawani di bilik satunya. Ia lalu membunyikan sebuah tanda.
Matahari telah condong ke barat. Semburat warna merahnya membuat siluet panjang pada bayangan yang berkelebat cepat memasuki pondok di atas bukit. Seorang lelaki memakai pakaian ringkas, berdiri mengawasi sesosok gadis berambut panjang terurai yang dibaringkan di atas balai-balai bambu.
Galuh Citrawani nampak tertidur pulas karena bius yang kuat. Ia sama sekali tidak bereaksi ketika sosok laki-laki itu menghampirinya. Pintu pondok terbuka. Sawitra muncul di ambang pintu.
"Prajala, kau taklukkan gadis itu , lakukan dengan cepat dan rapi. Kau boleh bermain-main dengannya hingga puas, dia tidak akan terjaga sampai besok malam ! "
Laki-laki itu tertawa.
"Kau tidak usah mengajariku, Darpa! Sekarang kau sudah boleh pergi. Laporkan pada tuan muda, tugasmu sudah beres ! Sisanya serahkan padaku!"
"Baiklah. Aku akan pergi sekarang ! Ingat, jangan sampai dia mati. Pastikan kau rusak dia hingga tidak ada harga diri sama sekali. Lalu baringkan di atas punggung kuda. Antarkan mereka kembali ke Panjalu, dalam keadaan memalukan !" Sawitra yang nama aslinya Darpa mundur lalu menutup pintu.
Prajala meraih sebuah bumbung yang masih tergantung di bilik. Ia mencium-cium aroma nira manis yang ada di dalamnya.
"Huh, kejam sekali kau Darpa ! Sedikit lebih kuat lagi obatnya, gadis ini bukan terbius lagi. Tapi mati ! Hmm..."
Prajala memandangi gadis itu dari kepala hingga ujung kaki. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menelan ludahnya.
"Gadis yang sangat cantik ! Kenapa bukan Darpa sendiri yang menikmatinya? Apakah ia terlalu takut pada istrinya? Kalau benar begitu, berarti aku yang beruntung. Bisa mendapatkan gadis secantik ini, meski hanya untuk satu malam, hahaha...."
"Hmm, kulitnya halus sekali, pantas menjadi saingan paduka Galuh Putrika Sundari ! Paras ayu, tubuh yang menggiurkan! Prajala, Prajala...nasibmu mujur benar kali ini !" Prajala menggosok-gosok tangannya. "Sabar ya, gadis cantik ! Aku pasti akan melayanimu dengan baik. Sayang kamu dalam keadaan terbius. Andai kamu sadar dan bisa mengimbangi aku, kamu pasti akan aku buat bahagia..."
Prajala mencopoti pakaiannya sendiri. Ia hanya menyisakan pakaian dalamnya. Gairah telah menguasai dirinya hingga ke ubun-ubun. Dengan tidak sabar ia melempar dirinya ke atas bale-bale bambu, hendak menerkam si gadis cantik.
Yang tidak disangka Prajala adalah, gadis itu tahu-tahu berguling ke samping, sambil sekaligus mengirim tendangan kilat. Laki-laki itu terlempar hingga ambruk menimpa dinding bilik. Dinding rapuh itu melesak dan berlobang besar, memperlihatkan dua orang pelayan Citawani yang masih terbius di ruang sebelah.
"Rupanya kamu bukan gadis sembarangan!" desis Prajala. Ia bangkit perlahan sambil menepuk pinggang dan lengannya yang kotor kena tanah.
"Heh, kamu kan si rambut kelimis !" Citrawani tercengang. "Oh, rupanya kamu masih satu kelompok dengan para seniman palsu itu ya? Bagus. Beraninya kalian merencanakan perbuatan kotor terhadap istri Raden Suryapaksi ! Aku tidak akan membiarkan kalian lolos!"
"Tidak usah banyak cakap, tuan putri cantik. Di sini tidak ada siapa-siapa. Kamu tidak akan membiarkan aku lolos? Hahaha... yang ada, kamulah yang tidak akan lolos dari pelukan Prajala, tuan putri!" Prajala berkacak pinggang. Dada telanjangnya yang berotot berkilat-kilat dan ditepuk dengan jumawa.
"Dengan kemampuanmu yang seperti itu ingin menangkapku dalam pelukanmu? Hmm, mimpi ! Kamu pikir aku benar-benar terjatuh dalam tipu muslihat kalian? Aku hanya sengaja ingin melihat siapa kalian dan sampai di mana kalian berani bertindak !"" Galuh Citrawani melangkah tenang. Ia menyelinap ke ruang sebelah, menepuk beberapa titik di tengkuk dan punggung serta perut kedua pelayannya. Kedua gadis itu terbatuk-batuk, lalu muntah-muntah.
"Sekar, Gentini, lekas minum ini !" Galuh Citrawani memberikan dua butir pil yang segera ditelan oleh kedua pelayannya. Semua gerak-gerik Citrawani ditonton Prajala sambil mencibir.
"Percuma kamu membangunkan kedua pelayanmu, tuan putri. Kamu tidak akan bisa lari. Tempat ini telah dikepung oleh anak buahku ! Kamu tidak tahu siapa aku, bukan?" Prajala menepuk dadanya lagi. "Aku kepala perkumpulan Kelelawar Maut! Hmm, kamu terkejut, bukan?"
Citrawani mengedikkan bahu, pura-pura tidak peduli. Padahal ia pernah mendengar tentang perkumpulan tersohor itu dari kepala pengawalnya, Ki Parwata.
"Kenapa kamu memperkenalkan nama dan perkumpulanmu, Prajala? Kamu tidak takut jika identitasmu terungkap lalu para prajurit kerajaan akan dengan mudah menangkapmu?" Galuh Citrawani tersenyum. "Atau kamu cuma menggertak menggunakan nama Kelelawar Maut?"
__ADS_1
"Bagaimana mungkin prajurit bisa menangkapku, putri? Yang tahu identitasku hanyalah kamu ," Prajala balas tersenyum setelah ia sempat terpesona dengan kilau senyum gadis itu.
Keadaan mereka sungguh aneh, jika dilihat oleh orang lain. Mereka seperti dua orang kenalan lama yang bercakap-cakap dengan tenang sambil saling tersenyum.
"Yang tahu identitasku hanya kamu, putri !" Prajala menekankan kembali.
"Bukankah kamu berencana mengantarkan aku kembali ke istana dalam keadaan memalukan? Dan saat aku telah kembali ke istana, aku akan melaporkanmu kepada Raden Suryapksi dan raja. Jadi?" Citrawani menatap kepala gerombolan pengacau itu dengan intens.
"Itu rencana pertama, putri !"
"Hmm, jadi jika kamu gagal dengan rencana pertama, kamu akan melenyapkanku beserta semua bukti dan saksi?" Citrawani memicingkan matanya.
Prajala mendongak dan tertawa keras.
"Kamu memang benar-benar bukan gadis sembarangan, tuan putri. Aku sampai sekarang masih penasaran dengan keberanianmu, ternyata kamu memang ada isinya," Prajala memandang Citrawani dengan penuh minat.
"Daripada kamu mati dalam usia muda, putri, aku menawarimu sebuah kedudukan penting. Mungkin menjadi istri alit calon raja Panjalu memang lebih bergengsi. Tetapi menjadi istriku, pasti lebih terjamin dan lebih bahagia, putri. Karena kamu akan menjadi istri ketua Kelelawar Maut satu-satunya yang tercinta."
Citrawani tertawa geli.
"Oh ya? Tawaranmu boleh juga. Boleh dibuang ke laut!" Gadis itu menoleh pada kedua pelayannya dan memberi tanda. "Sekar !"
Sekar mengangguk. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya. Dilemparnya benda itu yang segera mencuat ke atas dan meledak.
Duar ! Duar !
"Aku tidak ingin membuat kulitmu ini lecet, tuan putri ! Selihai-lihainya, kamu cuma seorang gadis ! Kamu pasti aku tangkap !" Prajala masih membual di sela-sela terjangan Citrawani.
"Coba saja ! Kamu kira aku sebodoh itu berkeliaran tanpa pengawal rahasia?"
Baru saja Citrawani selesai berbicara, dari segala arah bermunculan para prajurit pengawal, dikepalai Ki Parwata. Prajala yang melihat gelagat buruk, segera bersuit keras, memberi tanda pada anak buahnya yang sejak awal bersembunyi di semak-semak untuk segera mundur .
"Suatu saat nanti, kita pasti bertemu kembali. putri.." sambil tersenyum penasaran, Prajala meloncat mundur dan menghilang di keremangan senja.
.....
Ki Parwata mengiringkan Citrawani dan kedua gadis pelayan kembali ke istana.
Citrawani telah memesan kepala pengawalnya untuk merahasiakan hal ini untuk sementara waktu dari pihak istana. Ia ingin menyelidiki kelompok Kelelawar Maut terlebih dahulu dan mengungkapkan keterlibatan permaisuri Sundari dalam insiden pembiusan itu.
"Sesampainya di istana, bersikaplah seperti biasa, seolah-olah tidak terjadi sesuatu. Aku ingin menyelidiki dan menangkap mata-mata yang menyusup ke pihak kita. " kata Citrawani ketika ia mengajak Ki Parwata dan Sekar bicara di ruang perpustakaan pribadinya.
"Tuan putri, anda yakin pihak permaisuri Sundari yang menjadi dalang dalam peristiwa ini?" Tanya Ki Parwata.
__ADS_1
"Aku yakin karena penjahat itu menyebut tuan muda dan tuan putri Sundari. Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan keterlibatan pihak lain yang tidak mendukung pihak kita. Yang masih menjadi tanda tanya bagiku, siapakah tuan muda itu? Apakah Raden Bagus Saksena, kakak Sundari? Tidak menutup kemungkinan, Raden Suryapaksi juga bisa menjadi tersangka."
"Hah?" Sekar terkesiap. Pelayan setia Citrawani itu menutup mulutnya dengan kaget.
"Semua pihak yang berseberangan denganku, yang membenciku, bisa menjadi tersangka ," Citrawani tersenyum maklum. "Tetapi jika perkembangan selanjutnya menunjukkan ketidak terlibatan, namanya bisa dicoret."
"Jika...seandainya paduka Raden memang terlibat, bagaimana nasib tuan putri? Bukankah sebentar lagi beliau akan menggantikan Paduka Raja? Dengan mudahnya beliau bisa melakukan apa saja terhadap tuan putri...aah...hamba benar-benar tidak habis pikir...dulu beliau sangat dekat dan menyayangi tuan putri sebagai sepupu dan calon jatukarma..." airmata Sekar menetes.
"Karena itu aku harus segera menyelidiki hal ini. Sebelum dia diangkat menjadi Raja. Jika ternyata dia dalang dari semua tindakan untuk melenyapkan aku, maka aku akan memohon pada ayahanda Raja dan ayahandaku untuk membatalkan pernikahan."
Ki Parwata tercenung . Ia adalah pengawal terpercaya dari Adipati Daha. Ia telah mengikuti Adipati sejak berusia 14 tahun. Kini usianya menginjak 34 tahun. 20 tahun sudah ia mengabdi dengan setia pada ayahanda dari majikannya ini. Sampai ia tidak sempat menjalani kisah asmara dengan wanita manapun.
Ia telah menyaksikan semua peristiwa penting dalam hidup Adipati Daha. Mulai dari masih lajang, menikah, hingga punya anak. Bahkan Ki Parwata sendiri yang mengawal dan mengawasi Citrawani sejak baru lahir hingga kini.
Ia merasa terpukul, momongannya ini telah beberapa kali mengalami percobaan pembunuhan di depan matanya sendiri. Betapa beraninya ! Siapakah yang memiliki nyali sebesar itu, jika bukan orang yang memiliki latar belakang kekuasaan?
"Hamba akan mengerahkan segenap tenaga untuk membongkar dalang di balik semua ini, tuan putri. Tidak mudah untuk menyelidiki kelompok Kelelawar Maut, karena pusat mereka tidak berada di Panjalu. Mereka awalnya adalah pecahan dari Perguruan Pasir Hitam yang terkenal di pantai selatan. Tetapi kabar angin yang hamba dengar, para pemimpin perguruan itu adalah mantan bangsawan pemberontak dari kerajaan Malawapati."
"Hmm, boleh juga latar belakang si rambut kelimis pesolek mesum itu," gumam Citrawani.
"Tuan putri, saran hamba untuk sementara ini anda jangan bepergian keluar istana dulu. Biarkan hamba yang menyelidik di luar
. Anda silahkan mencari petunjuk di dalam lingkungan istana saja !"
"Baiklah, Ki. Meskipun aku menduga, untuk sementara ini mereka tidak akan bertindak dulu. Mereka pasti akan membaca situasi terlebih dahulu sebelum kembali bergerak."
"Pendapat hamba juga begitu. Tetapi untuk sementara lebih aman bagi tuan putri bersiaga di dalam istana. Hamba akan memperketat penjagaan di sekitar kediaman!"
Ki Parwata keluar dari ruang perpustakaan. Ia bersiul sedikit, kemudian di hadapannya telah muncul sosok Gajah Wana , wakilnya yang kecil dan lincah.
"Bagaimana pengamatanmu tadi?" tanya Ki Parwata.
"Aku melihat kelebatan sesosok mata-mata yang bersembunyi di atas pohon dekat ruang perpustakaan. Ketika aku kejar, sosok itu menghilang di balik tembok tinggi itu." Gajah Wana menunjuk dinding pembatas antara kebun dan wisma para pelayan di belakang kediaman.
"Apakah kau bisa membedakan, itu sosok laki-laki atau perempuan?"
"Badannya kecil, mungkin ada seukuranku, " kata Gajah Wana. "Kalau ia perempuan, berarti ia cukup besar. Kalau ia laki-laki, ia kecil dan lincah seperti aku ."
"Ia menghilang di antara kebun dan wisma pelayan. Bisa jadi ia adalah orang dalam. Atau orang luar yang punya rekan komplotan orang dalam."
"Dugaanku juga begitu."
"Baiklah, Wana. Kau bisa kembali."
__ADS_1
Dalam sekejap mata, wakil kepala pengawal yang lincah itu menghilang dari pandangan.
Ki Parwata memasuki wisma pelayan dengan langkah tegas.