
Galuh Citrawani memandangi sosok lelaki yang berdiri menjulang di depannya. Wajah lelaki itu tidak mampu dikenalinya. Pandang mata Citrawani kabur, seperti ada kabut yang menghalanginya.
Lelaki itu menghampiri Citrawani lalu berjongkok dengan satu kaki ditekuk. Satu tangannya menyentuh dagu gadis itu dan mengangkatnya, hingga tatapannya yang tajam tepat menghujam manik mata sayu Citrawani .
"Bagus Saksena ! Ternyata memang kau dalang di balik penculikan ini .." desah Citrawani dengan suara lemah.
Lelaki itu tersentak mundur, hingga tubuh lemah Citrawani ikut tersentak bersamanya. Tetapi lelaki itu segera menguasai diri. Ia meraih tubuh Citrawani. Mengangkatnya, lalu dipondong dan dibaringkan ke atas ranjang batu.
"Sungguh seorang gadis yang tidak bisa ditandingi !" Desis Bagus Saksena. Senyum tersungging di wajah tampannya.
" Bukankah kita belum pernah berjumpa? Bagaimana kau bisa menebak diriku dengan tepat?"
"Aroma rempah kayu cendana.."
"Apa?" Bagus Saksena tidak mengerti.
"Tubuhmu mengeluarkan aroma rempah kayu cendana. Kau tidak menyadarinya? Hanya lelaki bangsawan yang bisa memiliki minyak dan pasta rempah cendana. Dan hanya negeri Panjalu yang memiliki hubungan baik dengan negeri-negeri timur penghasil rempah cendana."
Prok, prok, prok.
Bagus Saksena bertepuk tangan saking kagumnya. Matanya berseri-seri memandangi wajah cantik tawanannya.
"Dirimu sungguh pintar, tuan putri. Sudah sepantasnya andai menjadi permaisuriku. Sungguh sayang sekali, mengapa kau mau menjadi istri kedua dari iparku tersayang?"
Citrawani ingin mendengus. Tapi yang keluar dari hidungnya hanya helaan nafas lirih.
Tenaganya serasa terkuras. Ia paham apa yang terjadi dengan meridiannya. Diam-diam Citrawani menghimpun energi di bawah pusarnya untuk disalurkan ke titik-titik penting di sepanjang meridian.
"Apakah kau masih mencintai Adi Suryapaksi?" tanya Bagus Saksena dengan tatapan menyelidik.
"Ini pertama kalinya kita berjumpa secara langsung dan pribadi .." desah Citrawani..
" Lalu?"
" Kau menganggap dirimu punya hubungan dekat denganku? Bisa-bisanya bertanya masalah pribadiku ." Desis Citrawani.
Girang ia menyadari hawa panas yang mengalir dari titik energi di bawah pusarnya yang mulai menyebar ke seluruh meridiannya.
"Kau tawananku. Jangankan cuma bertanya. Lebih dari itu juga aku berhak !" Bagus Saksena tersenyum.
"Hak darimana? Bagus Saksena, kau di negara kami hanya seorang tamu. Beraninya kamu menyandera putri Adipati, kemenakan tersayang Raja ! Apakah kau terlalu dimanjakan oleh suamiku, sehingga kau berani menginjak-injak harga diri kerajaan kami?"
"Suami? Hahaha... Suami ?"
Bagus Saksena melangkah perlahan mengelilingi ranjang batu. Dia berhenti tepat di atas kepala Citrawani, lalu dengan kurang ajar ia membungkuk, hingga wajahnya hampir menyentuh wajah Citrawani.
Ia memejamkan mata untuk menghirup aroma kulit Citrawani yang harum.
"Hmm....aroma melati... " Bagus Saksena mendongak sambil tertawa.
"Kau tahu, tuan putri jelita. Kecantikanmu, kecerdasanmu, keharumanmu, kemolekan tubuhmu tiada artinya bagi orang yang kau sebut suami. Jika dia mencintaimu. mungkinkah dia mengangkat adikku sebagai permaisuri?"
"..."
"Jika dia cukup menghargaimu, mungkinkah ia hanya memberimu gelar istri kedua? Hahaha, lucu sekali. Seorang putri cantik semolek dan sepintar ini bukan saja hanya meraih kedudukan sebagai istri kedua, tetapi juga belum pernah disayang suaminya. Hahaha .."
Citrawani enggan menggubris ucapan lelaki itu. Ia pura-pura lesu dan bersikap lemah. Tetapi ia terus berusaha membobol sumbatan-sumbatan di titik penting meridiannya, yang kini telah menunjukkan hasil.
Hawa panas dari dasar tubuhnya naik ke jantung, kemudian menyebar ke seluruh meridian, berusaha membobol hingga plong sumbatan bius yang melumpuhkannya.
Kini Citrawani telah mampu menggerakkan tubuhnya, tetapi ia masih berpura-pura lemas. Menunggu tenaganya pulih sepenuhnya, ia akan berusaha mengulur waktu.
__ADS_1
Bahkan Bagus Saksena yang jeli pun tidak menyadari perubahan itu. Ia masih tetap mengoceh dan merendahkan Citrawani.
"Daripada menjadi istri kedua, bukankah lebih baik menjadi permaisuriku?" Lelaki itu memegang dagu Citrawani dan menghadapkannya ke atas. Mata besar dan teduh Citrawani menatap mata tajam Bagus Saksena dengan sorot tidak suka.
"Lepaskan tanganmu dari wajahku ." Kata Citrawani dengan tenang.
"Kenapa? Apakah kamu tidak suka melihat wajahku yang tampan ini, tuan putri?" Bagus Saksena cengengesan.
"Tampan apanya. Wajahmu jelek seperti lutung hitam ekor pendek." ejek Citrawani pelan sambil menyunggingkan senyum sinis.
Bukannya marah, Bagus Saksena malah tertawa geli.
"Memang hebat obat pelumpuh semangat dari para tabib Janggala. Bahkan wajahku yang setampan Arjuna jadi sejelek lutung. Sialan para tabib itu !" Bagus Saksena mengumpat dalam hati.
Tangan pangeran mahkota kerajaan Janggala yang kuat dan kekar itu mengelus pipi Citrawani dengan lembut. Senyum mesumnya berubah menjadi senyum kagum merasakan kulit yang halus dan kenyal kemerahan seperti kulit bayi itu.
"Baiklah. Hari ini cukup sampai di sini. " Bagus Saksena menjauhkan diri dari Citrawani. Ia berdiri dan melangkah menuju pintu goa.
"Sialan. Para tabib sialan itu harus meracik ramuan yang lebih bagus. Atau aku hukum mati mereka semuanya ! Bisa-bisanya membanggakan diri sebagai peramu nomer satu di Panjalu ! Melumpuhkan semangat seorang gadis muda saja tidak berhasil !" Gerutu lelaki muda itu geram.
Melihat Bagus Saksena menghilang di kejauhan, Citrawani menarik nafas lega.
Bangsawan Janggala itu tidak tahu, bukan obatnya yang bermasalah. Bukan ilmu para dukun Janggala yang tidak tinggi. Tetapi dia lah yang terlalu tangguh buat dilumpuhkan dengan obat-obatan dan ilmu sihir.
Dengan tenang, gadis itu duduk bersila dan menarik nafas panjang untuk memulai meditasi pembersihan bathin dari pengaruh sihir.
*****
"Aku berikan waktu 3 hari ! Berikan aku obat bius yang lebih mumpuni, atau kalian semua mati !" Bentak Bagus Saksena marah. Tiga orang tabib yang berlutut di lantai gemetar ketakutan.
" Yang sudah kami persembahkan waktu itu, adalah obat bius super dari daun bius dan bunga bakung terbaik yang tumbuh di pegunungan, dicampur mawar hutan dan bunga jeruk merah untuk pembangkit gairah ..." Tabib tertua memberanikan diri menjawab.
" Lakukan apapun yang bisa kalian lakukan, untuk melindungi leher kalian !" kata Bagus Saksena tajam.
"Tapi...tapi .."
"Tapi apa?"
"Kami belum pernah memberikan dosis tinggi ini pada siapapun sebelumnya. Kami khawatir ada efek samping yang tidak diinginkan..."
"Apa efek sampingnya? Apakah akan ada kerusakan pada kesuburannya?"
" Bukan itu, Tuan ! Kemungkinan akan terjadi kerusakan pada saraf jika korban tidak mendapatkan penyaluran setelah gairahnya dibangkitkan.... Kemungkinan juga akan terjadi penurunan mental untuk jangka panjang..."
"Hahahaaa.... aku tidak peduli. Apapun yang akan terjadi padanya kemudian, aku tidak peduli. Yang penting, dia menyerahkan diri secara sukarela padaku ! " Senyum terbit di sudut bibir lelaki itu.
Para tabib saling pandang dengan bingung. Selama menjadi tabib istana pangeran, sudah banyak mereka mendapat perintah ekstrim. Pelanggaran kode etik ketabiban bukanlah hal yang aneh lagi bagi mereka.
Sebulan lalu mereka mendapat perintah untuk meramu obat pelumpuh semangat sekaligus pembangkit gairah. Untunglah semua bahan obat itu dibawa serta kemanapun mereka pergi mengikuti tuannya.
Apa daya mereka sebagai bawahan yang setiap saat menghadapi ancaman hukuman, jika tidak menuruti perintah dengan baik .
Ketiganya menyembah dengan takjim sebelum mengundurkan diri dari ruangan.
Bagus Saksena mengelus-elus dagunya yang kokoh . Dahinya berkerut ketika memikirkan kembali keadaan fisik Citrawani yang tidak sama dengan orang biasa.
Istana Janggala terkenal dengan tabib dan dukun mumpuni yang menghasilkan berbagai obat rempah sekaligus ilmu sihir tingkat tinggi.
Entah bagaimana Citrawani bisa membentengi diri, sehingga berbagai trik sekaligus yang telah diterapkan padanya tidak mampu melumpuhkannya?
Gadis itu sama sekali tidak menyerah kepadanya, apalagi memohon-mohon. Dia masih setegar gunung, meskipun tubuhnya lemas dan kehilangan tenaga.
__ADS_1
Dia memang bukan gadis biasa, batin Bagus Saksena.
Terbayang kembali di matanya, tubuh molek gadis muda yang sempat membuat badannya serasa panas dingin. Kulitnya yang halus mulus, matanya yang mempesona, bentuk bibirnya yang menggairahkan.
Berdebar-debar dadanya ketika membayangkan bagaimana rasanya jika tubuh lembut gemulai itu berada dalam rangkulan lengannya yang kokoh.
Gila. Padahal ini bukan pertama kalinya dia berdekatan dengan seorang wanita. Dia pria dewasa , bangsawan tinggi kaya raya yang biasa mendapatkan wanita manapun dengan mudah.
Kenapa jantungnya bertalu-talu ketika membayangkan gadis cantik yang masih begitu muda itu?
Bayangan gadis itu tersenyum, bahkan kini tercetak jelas di matanya yang menerawang menembus meja di depannya.
Sialan !
Bagus Saksena mengepalkan tinjunya dan menghantam meja itu hingga terbelah dua. Piring porselen dan buah-buahan di atasnya berhamburan dan jatuh di lantai .
Seorang pelayan muda tergopoh mendatangi. Pelayan berwajah cantik yang hanya mengenakan sehelai kain tipis dililit sekenanya, terperanjat melihat buah yang berserak di lantai.
"Apa yang terjadi, Tuan?" tanyanya bingung.
Bagus Saksena tidak menjawab.
" Hamba akan suruh pelayan lain membersihkannya. Tuan silahkan masuk ke peraduan... Nanti hamba menyusul..." dengan manja, pelayan itu memegang lengan Bagus Saksena .
Pelayan yang berani itu terkejut ketika Bagus Saksena mengibaskan lengannya. Si gadis pelayan nyaris terpelating. Dengan bingung gadis itu berpegangan pada kursi kayu di dekatnya.
"Tu...tuan...?"
"Pergi !"
" Tapi...tapi..."
"PERGI !!"
Ketakutan, pelayan itu berlari keluar lewat pintu samping.
Bagus Saksena sama sekali tidak mengacuhkan gadis yang telah menemaninya semalam. Baginya, gadis seperti itu hanyalah sampah tebu, yang tinggal disepah setelah dinikmati manisnya.
Gadis-gadis itu saja yang bodoh, selalu berharap lebih . Mereka selalu berharap dijadikan sebagai selir. Atau setidaknya, gundik piaraan yang dihujani limpahan materi.
Mereka tidak pernah belajar melek. Selama ini Bagus Saksena tidak pernah memakai seorang pelayan atau gadis lain lebih dari semalam.
Pernah dia memelihara Puspa untuk jangka waktu cukup panjang. Itu pun karena ia membutuhkan keahlian wanita sakti itu. Jika bukan karena ibundanya yang gerah melihat kedekatannya dengan wanita itu, mungkin sampai saat ini Puspa masih menjadi gundik simpanannya.
Tetapi ia tidak pernah merasa seperti ini. Pada Puspa pun tidak pernah. Jantung berdebar, dada bergetar, dengan mata selalu terbayang seorang gadis yang meringkuk tak berdaya di dalam tahanannya. Galuh Citrawani.
Oh, Galuh Citrawani.
Apakah bius pelemah sukma itu justru terbalik mengenai hatiku?
Keluh Bagus Saksena galau.
Hari-hari berikutnya, dengan gelisah Sang Aryapati Janggala itu menunggu obat racikan para tabib.
Ketika akhirnya ramuan itu dipersembahkan, Bagus Saksena baru bisa menarik nafas lega. Tak sabar ia menunggu senja dimana ia akan melancarkan aksinya untuk mengganggu Galuh Citrawani yang telah merusak ketenangannya.
*******
*******
.......
__ADS_1