Jatukarma

Jatukarma
Bab 41


__ADS_3

Tiga hari terakhir di padepokan Bagawan Lalitaswara membawa kebahagiaan tersendiri bagi beberapa orang.


Bagus Saksena gembira karena bisa melihat Galuh Citrawani di depan matanya setiap hari. Meskipun gadis itu tidak pernah mau didekati olehnya, tetapi bisa memandang si cantik itu pun telah cukup membuat hatinya mekar oleh sukacita.


Sluh Candrani melayani semua keperluan Bagus Saksena dengan baik, lebih dari siapapun.


Bagus Saksena sang pembawa berita kebahagiaan. Bahagia campur bangga, karena ternyata ia adalah seorang putri kerajaan yang terhormat.


Ayah kandung yang selama ini ia rindukan, dan selalu ditanyakan pada ibunya. Ayah yang ia sangka telah meninggal, ternyata adalah raja yang masih hidup dan berkuasa.


Meskipun ibunya belum mengatakan apapun padanya, tapi ia telah mengerti. Ibunya masih membutuhkan waktu untuk berterusterang padanya.


Ibunya juga masih membutuhkan waktu untuk menjawab permohonan Bagus Saksena. Yang ingin memboyong mereka ke istana Jenggala atas perintah Raja Jayengrana.


Meskipun dadanya terasa mau meledak oleh berbagai rasa campur aduk. Antara bahagia, bangga, cemas, penasaran, ingin tahu. Siluh Candrani tetap sabar untuk menunggu keputusan ibunya.


Citra Kartika dan Surya Kencana beberapa kali membahas tentang Bagus Saksena dan Siluh Candrani.


"Tidak diduga, ternyata Raden Bagus Saksena masih memiliki seorang adik tiri dari Dewi Sekarwangi .." Kata Citra Kartika.


"Galuh Putrika Sundari bukanlah satu-satunya putri mahkota. Masih ada seorang putri dari istri pertama yang syah .."


"Dan putri itu ternyata adalah Siluh Candrani.."


"Sungguh jauh berbeda wajah Bagus Saksena dan Galuh Candrani..."


"Tentu saja, kakak. Mereka bukan saudara kandung. Ibu mereka berbeda, jelas wajahnya juga tidak mirip..."


"Tetapi wajahmu dengan si kembar cukup mirip, adik. Meskipun ibu kandung kalian berbeda..."


Citra Kartika tertawa.


"Itu karena kami sama-sama memiliki lesung pipi, Kakak. Sebenarnya wajah kami tidak begitu mirip, terutama mata dan bibir."


Benar juga. Jika diingat-ingat, si kembar Mayani dan Wasanti memiliki mata sipit tapi tajam jeli dan bibir tipis yang manis sekali.


Sementara mata sayu dan bibir sexy Galuh Citrawani lebih terlihat menggoda, terlihat lebih mempesona.


'Ya Tuhan, apa yang kupikirkan? Dia adalah adik sepupuku,' bathin Surya Kencan.


"Kalau dilihat-lihat, wajah Siluh juga tdak mirip ibu Dewi Sekarwangi ya dik?" cetus Surya Kencana.


"Begitulah jadinya percampuran darah, kakak. Belum tentu orangtua yang berkulit putih melahirkan anak yang berkulit putih juga." kata Citra Kartika.


Siluh Candrani yang mereka percakapkan tengah menyiapkan hidangan dengan bahagia.

__ADS_1


Ibunya akan menjawab permintaan Raja Jenggala hari ini.


Siluh Candrani yakin. Ibunya sangat menyayanginya. Ibu pasti akan bersedia untuk memberikan masa depan terbaik baginya. Memberi ia kesempatan untuk mendapat haknya sebagai putri Raja .


Tapi, kenyataan berbicara lain.


Pagi itu ibunya menolak untuk diboyong ke istana Jenggala.


Dewi Sekarwangi berjanji akan mengunjungi istana selambat-lambatnya 3 bulan lagi. Tetapi bukan untuk menetap di istana.


"Aku akan datang untuk menjawab permohonan ayahandamu, nak. Tetapi aku tidak bisa tinggal di sana. Setelah ayahandamu merasa beban kesalahannya telah dimaafkan, aku akan kembali ke padepokan," demikian tutur Dewi Sekarwangi .


Siluh Candrani merasa kecewa. Kepalanya berdenyut-denyut .


Kenapa ibu tidak memberi kesempatan padaku untuk merasakan kehidupan di istana kerajaan?


Kenapa ibu tidak membiarkan aku menikmati hak sebagai putri kandung raja yang sah?


Suara hatinnya meronta.


Rasa kecewa juga dirasakan oleh Bagus Saksena.


"Ibu, kenapa harus menunggu 3 bulan lagi? Bukankah ibu dan adik bisa berangkat bersama hamba menghadap ayahanda sekarang juga? Setelah ibu merasa cukup tinggal di istana, hamba sendiri yang akan mengiringi ibu kembali ke padepokan ." Bagus Saksena mengusulkan.


Ia benar-benar tidak ingin mengecewakan sang ayah yang tengah terbaring sakit.


"Baiklah ibu, hamba percaya kepada janji ibu. Hamba tunggu kedatangan ibu di istana Jenggala. Kalau begitu hari ini juga hamba mohon diri untuk kembali ke istana. "


Bagus Saksena berpamitan kepada semua orang. Kepergiannya diantarkan oleh Dewi Sekarwangi, Surya Kencana dan Citra Kartika hingga ke jalan setapak di depan padepokan.


Melihat anak tirinya pergi dengan kecewa. Dewi Sekarwangi merasa iba.


"Kelihatannya dia anak yang berbakti. Semoga kanda Prabu Jayengrana berbahagia di sisa hidupnya, " kata mantan ratu Jenggala itu sendu.


Keesokan paginya, Bagawan Lalitaswara memanggil Surya Kencana dan Citra Kartika untuk masuk ke ruangannya. Surat balasan untuk Bagawan Wistara telah tersedia di dalam gulungan .


Surya Kencana menerima surat itu dengan hormat.


"Kalau begitu kami juga mohon diri .." kata Surya Kencana.


Di luar terdengar suara ribut-ribut para pelayan dan Dewi Sekarwangi .


"Romo .." panggil Dewi Sekarwangi dengan suara cemas.


Mereka bertiga keluar dari ruangan. Nampak para pelayan yang panik sedang saling berbicara.

__ADS_1


"Ada apa ini, nduk?"


"Romo, Siluh Candrani menghilang ..." cetus Dewi Sekarwangi panik.


"Pelayan mengatakan, sejak siang hingga sore Siluh tidak terlihat di manapun. Para pelayan mengira Siluh pergi ke hutan untuk mengambil jamur atau buah hutan. Tadi malam saat ia tidak muncul di dapur, mereka menyangka ia sudah tidur. Ternyata pagi ini kamar tidurnya kosong, tidak ada tanda-tanda ia menempatinya tadi malam..."


"Romo... Siluh Candrani mengikuti Bagus Saksena ke istana Jenggala, ia meninggalkan surat pendek untuk kita..." tutur Dewi Sekarwangi cemas.


Ia menyerahkan goresan tangan Siluh di atas daun lontar. Mengabarkan bahwa gadis itu akan pergi untuk melihat ayah kandungnya.


Ia mengatakan bahwa dirinya tidak bermaksud untuk memberontak pada keputusan ibunya. Hanya saja ia merasa berhak untuk melihat ayah kandung yang telah membuatnya ada di dunia ini.


"Romo melihat raut wajahnya yang kecewa saat engkau menolak pergi ke Jenggala, nduk. Kemungkinan ia ingin pergi melihat istana Jenggala itu seperti apa .."


"Oh Gusti .. Kenapa Siluh tidak bertanya kepada kita, Romo? Kenapa ia memutuskan untuk pergi sendiri ? Kita harus bagaimana menyusul dan mencegahnya, Romo? Ia tentu telah pergi jauh .."


"Sabarlah, nduk. Biarlah Siluh menikmati suasana ibukota di istana Jenggala dulu. Kelak kita akan menyusulnya "


Dewi Sekarwangi mengangguk pasrah.


Kadangkala Siluh Candrani bisa berbuat nekad di luar logika. Apakah ia telah salah mendidik dan terlalu memanjakannya?


Begawan Lalutaswara berpaling kepada Surya Kencana yang sejak tadi termangu.


"Nanda Surya, segeralah sampaikan surat untuk Bagawan Wistara. Sampaikan juga apa yang terjadi hari ini di sini. Katakan bahwa Siluh Candrani telah memaksa pergi ke istana, jadi situasinya agak darurat !"


"Baik, Romo!"


Berangkatlah Raden Surya Kencana bersama Citra Kartika dan para pengawalnya.


.


.


.


Pagi kemarin.


Siluh Candrani mencegat Bagus Saksena di bawah gunung.


Gadis itu menggunakan jalan pintas yang hanya diketahui olehnya, kakek dan ibunya.


Oleh karena itu ketika Bagus Saksena hendak memacu kudanya, ia telah menghadang di depan.


" Bawalah hamba pergi untuk menemui paduka Raja Jenggala, Raden.." katanya dengan sedih .

__ADS_1


"Siluh ? " Bagus Saksena terperanjat.


"Iya, hamba ingin melihat ayah kandung yang telah menurunkan hamba ke dunia ini. Bolehkah Raden membawa hamba ke istana bersama?"


__ADS_2