
"Baiklah. Aku tahu suatu tempat tidak jauh dari sini !"
Raden Surya Kencana membawa Citra Kartika ke sebuah reruntuhan kuil kuno. Kuil ini terletak di pinggir hutan, di bawah bukit dan dekat dengan hamparan sawah yang luas.
Di sana Citra Kartika menceritakan semua kisahnya, dari awal ia diculik hingga kisahnya menguping rahasia di kedai makan.
Selama hampir dua jam lamanya Citra Kartika bercerita, Raden Surya Kencana selalu terbelalak tegang. Sesekali ia mengepalkan telapak tangannya. Terkadang ia menarik nafas panjang.
Ketika Citra akhirnya selesai bercerita, Raden Surya Kencana menggeleng-gelengkan kepala.
"Jadi sudah selama enam purnama kamu melarikan diri dan malang melintang di luar tapi tidak pulang juga ke Daha atau Panjalu? " ulang Surya Kencana.
Citra Kartika mengangguk dengan tampang nakal.
"Dasar anak nakal ! "
"Aku hanya ingin bebas, kakak. Aku tidak ingin tinggal di sangkar emas lagi seperti di Panjalu !"
"Eh, anak nakal, dengarkan dulu kakakmu bercerita !" Dengan dongkol Raden Surya Kencana menjitak kening Citra Kartika .
Kini ia lah yang bercerita tentang keadaan di istana Panjalu.
"Asal kamu tahu, Galuh Sundari telah dibawa pulang oleh kedua orangtua dan kakaknya !"
"Hah?" Citra Kartika melongo.
"Tapi kenapa Kakak? Bukankah dia dan Kanda Suryapaksi saling mencintai?"
Raden Surya Kencana tersenyum miring.
"Cinta? Cinta hanya sepihak, mana bisa disebut cinta? Itu namanya bertepuk sebelah tangan."
" Tapi kanda Suryapaksi menikahi dan memanjakan Galuh Sundari, apa itu bukan cinta?" Citra Kartika terheran-heran.
"Kudengar dari Nares, kalian di Daha pernah mengobati Adi Suryapaksi dari serangan ilmu hitam. Dari sana kamu mestinya mengerti, adik, apa yang menimpa Suryapaksi."
"Ooh..ilmu hitam itu. Jadi, cinta Kanda Suryapaksi ke Galuh Sundari pun karena pengaruh ilmu hitam?"
" Yah begitulah .."
Raden Suryapaksi bercerita, bahwa beberapa bulan setelah Raden Suryapaksi melakukan yasa di gunung, Galuh Sundari dijemput oleh orangtuanya.
Mereka kembali ke Jenggala dengan membawa kemarahan, karena merasa putri mereka ditelantarkan dan disia-siakan.
Sejak saat itu hubungan antara Jenggala dan Panjalu kembali memanas.
"Begitulah, adik. Kau enak-enak mengembara, Suryapaksi juga enak-enak tinggal di gunung. Aku lah yang sibuk mengurus rakyat!" gerutu Surya Kencana.
"Lalu kenapa hari ini berkeliaran hingga di desa yang jauh ini, kakak?" cibir Citra .
"Aku mendapat kabar dari para telik sandi bahwa ada beberapa titik yang dicurigai sebagai sarang pemberontak. Salah satunya adalah kota M. Karena itu aku datang ke mari."
"Sayembara yang dilakukan oleh tuan Narjuman sepertinya bukanlah sayembara biasa, kakak !"
__ADS_1
"Aku juga memiliki firasat begitu, adik. Sepertinya sayembara ini adalah kedok terselubung untuk mengumpulkan para jagoan mereka tanpa terendus pihak kerajaan !"
"Kalau begitu kita akan mengawasi sayembara ini."
"Tentu !"
"Dan nanti malam kita harus mencegah pembunuhan terhadap Harya Wisanggeni ."
"Baiklah, adik. Tetapi sekarang perutku lapar. Aku mau makan ! Ayo kita cari rumah makan terdekat !"
Demikianlah pagi hingga siang itu mereka bersama-sama. Setelah selesai makan, Citra mencarikan penginapan untuk kakak sepupunya, tidak jauh dari penginapannya.
"Eh, ngomong-ngomong, penyamaranmu menjadi gadis keling boleh juga. Wajahmu jadi lain sama sekali. Teknik pengubah suaramu juga bagus sekali. Kapan-kapan ajari aku teknik penyamaran ini ya ?" kata Surya Kencana .
"Petani bercaping ini juga boleh, Kak ! Cuma meski ditutup caping, wajahmu tidak berubah, masih sama saja terlihat b..o ..d..o..h.." canda Citra.
Tawa mereka pecah .
Malam itu, setelah berhasil menyelamatkan nyawa Wisanggeni, mereka semua memutuskan untuk tinggal bersama-sama. Untuk saling membantu dan menjaga.
Bergiliran mereka berjaga di luar tenda.
Citra mengeluarkan sebungkus minuman herbal hangat yang kemudian ia seduh dan bagi-bagikan untuk semua yang mendapat giliran berjaga.
Malam itu Citra dan Surya Kencana membicarakan rencana mereka selanjutnya bersama Harya Wisanggeni.
Sementara empat prajurit masih melakukan ronda ke sekitar tenda mereka.
Malam itu terjadi peristiwa yang cukup ganjil.
Demikian juga Citra dan Surya Kencana yang masih berjaga di depan api unggun.
Angin bertiup semakin dingin. Terdengar lolongan anjing hutan dari kejauhan, menegakkan bulu kuduk.
Suara binatang malam seperti jangkrik dan kodok, tiba-tiba senyap.
Mereka berempat yang berjalan di belakang tenda, tahu-tahu merinding .
Netra mereka menangkap beberapa titik nyala api di kejauhan.
Nyala api itu dengan cepat melayang menuju ke perkemahan dan apinya membesar, dengan ekor api yang panjang.
"Astaga...apa itu?" teriak para prajurit bersahutan dengan kaget.
Teriakan mereka terdengar oleh Surya Kencana dan Citra Kartika .
Merasa ada yang tidak beres, kedua orang itu bergegas mendatangi para prajurit di belakang tenda.
Nampaklah beberapa nyala api menyambar dari kejauhan, dan dalam sekejap mata meledak di belakang tenda.
Surya Kencana segera menyuruh para prajurit ronda untuk duduk diam di dekat api unggun.
Ia sendiri kemudian komat-kamit sambil melingkari perkemahan. Membuat pembatas gaib.
__ADS_1
"Ada apa ini, Raden? " Harya Wisanggeni yang mendengar keributan, langsung terbangun dan keluar tenda.
"Ada serangan gaib. Kamu tidurlah kembali, Wisanggeni. Biar lukamu tidak meradang. Biarkan Raden Surya Kencana dan aku yang menangani semua ini !"
"Oh!" Harya Wisanggeni kaget sekali. "Se..serangan gaib?"
"Ya, serangan ilmu hitam yang dikirim lewat udara. Kamu tenanglah, atas ijin Hyang Widhi, kami pasti bisa menanganinya !"
Mana mungkin bangsawan Hujunggaluh itu bisa tidur .
Seumur hidup baru kali ini ia melihat serangan ilmu hitam dengan mata kepalanya sendiri .
Dengan dada berdebar, Wisanggeni duduk bersila bersama empat prajurit di dekat api unggun. Tubuh keempat prajurit itu bergetar. Mereka tidak pernah gentar jika dihadapkan dengan serangan musuh..
Tetapi serangan api meledak-ledak ini, baru kali inilah mereka menyaksikannya !
Setelah dipagari oleh Surya Kencana, nyala api yang datang bertubi-tubi meledak di luar lingkaran, agak jauh dari kumpulan tenda.
Surya Kencana berkata pada Citra Kartika.
" Adik, kamu tinggal di sini ya. Kamu jaga perkemahan ini. Duduklah dengan hening, kemudian lakukan pembukaan cakra seperti yang pernah diajarkan oleh Nares. Setelah itu biarkan cahaya gemilang dari Hyang Widhi melindungimu dan seluruh perkemahan ini !"
"Baik !"
Citra Kartika melakukan semua yang diajarkan oleh kakak sepupunya. Dia duduk dengan tenang, menejamkan mata, lalu memusatkan seluruh perhatiannya pada cakranya.
Cahaya gemilang mulai memasuki ubun-ubunnya. Citra merasakan perasaan hangat, terlindungi dan nyaman. Dibiarkannya perasaan hangat itu menyelimuti seluruh dirinya.
Kemudian dari lubuk hatinya ia berdoa kepada Hyang Widhi untuk melindungi seluruh perkemahan. Maka seketika cahaya terang itu memancar keluar dari dirinya dan menyebar memenuhi seluruh perkemahan.
Tidak ada seorangpun yang mampu melihat cahaya terang itu, kecuali Citra Kartika.
Dan Raden Surya Kencana.
Duduk dan memejamkan mata, Raden Surya Kencana membuka hubungan kepasrahan terhadap Sang Maha Kuasa, Sang Maha Sakti.
Beberapa saat kemudian, serangan-serangan api pun berkurang, untuk kemudian berhenti sama sekali .
Barulah Citra Kartika disuruh untuk istirahat, dan Surya Kencana menemani para prajurit untuk melanjutkan berjaga.
.
.
.
Persiapan panggung sayembara tuan Narjuman telah rampung sepenuhnya. Panggung itu lumayan luas, dibangun di alun-alun yang merupakan milik pribadi keluarga Narjuman.
Di depan panggung dibangun tempat duduk untuk para penonton. Sedangkan di belakang panggung dibangun pondok-pondok darurat dari kayu dan bambu untuk para tamu yang membutuhkan penginapan.
Meskipun pondok itu terlihat sederhana dari luar, tetapi dalamnya cukup nyaman dengan lantai kayu dan tilam yang empuk.
Pondok-pondok yang sangat banyak dan hampir memenuhi setengah bagian alun-alun yang luas itu, sebagian besar telah diisi oleh tamu undangan.
__ADS_1
Sayembara besar itu akan diselenggarakan tiga hari lagi, dan tuan Narjuman telah sibuk menyambut tamu-tamu penting yang berdatangan ke kotanya.