
Melakukan perjalanan tanpa pasukan prajurit, dan hanya ditemani oleh dua orang pengawal bayangan. Baru kali ini dilakukan oleh Bagus Saksena.
Tanpa gegap gempita pasukan, tanpa derap kaki kuda yang biasanya bergemuruh memukul pertiwi. Bagus Saksena mengagumi kesunyian dan keindahan alam asli yang ia temui dalam perjalanan.
Berminggu-minggu ia menempuh perjalanan, memasuki dusun-dusun, melewati hutan menuju arah gunung Kelud. Ia memutuskan untuk mencaritahu keberadaan adik dan ibu tirinya terlebih dulu.
Pada pagi hari ia telah duduk di lereng gunung Kelud. Bola besar berwarna jingga kemerahan baru terbit di kaki gunung sebelah timur. Pendar sinarnya yang hangat membuat pemuda itu terpesona.
Suara kokok ayam hutan, jerit burung yang terbang melintas dari dahan ke dahan. Pohon-pohon besar menjulang memenuhi hutan di belakang Bagus Saksena. Langit biru kemerahan membentang luas di angkasa. Membuat pemuda bangsawan itu merasa dirinya kecil dan tak berarti di hadapan Sang Maha Pencipta.
"Oh Hyang Widhi. Di manakah di bawah kaki langit yang luas ini hamba bisa menemukan kekasih hati hamba. Galuh Citrawani. Juga menemukan adik tiri hamba, demi ayahanda tercinta !"
Bagus Saksena mengusap wajahnya yang belum tersentuh air pagi ini.
Kedua pengawalnya sudah pergi ke sungai jernih yang mengalir tak jauh dari situ untuk membersihkan diri . Mereka kembali tak lama kemudian sambil menjinjing air dalam wadah kulit waluh.
"Kita masih jauh dari dusun, Raden. Karena itu hamba akan memasak untuk makan pagi kita," kata Kebo Prakasa.
Pengawal kepercayaan itu membuat api dengan menggosokkan batu api yang dibawanya. Dengan cekatan ia menata kayu-kayu kering agar segera terbakar api. Lalu ia menancapkan kayu pendek bercabang untuk tempat menggantungkan periuk penanak nasi di atas api unggun.
Kudaka datang menenteng dua ekor ayam hutan gemuk yang telah ia bersihkan di sungai. Lelaki itu lalu membaluri garam dan beberapa bumbu pada ayam sebelum menyiapkan api untuk panggangan.
Kedua pengawal itu sibuk menyiapkan makan pagi, sementara tuannya masih termenung di bawah siraman matahari pagi.
****
Di puncak gunung Welirang, suatu senja.
Galuh Citrawani memejamkan mata. Telapak tangan Bagawan Wistara menempel di ubun-ubunnya untuk beberapa saat. Gadis itu merasakan hawa hangat menenangkan memasuki kepalanya, diikuti cahaya putih menyilaukan.
Sudah seminggu ini, sejak kunjungannya di puncak Welirang. Bagawan Wistara selalu membimbing Citra untuk melakukan meditasi membuka cakra.
Sepenginangan sirih berlalu, Bagawan Wistara menepuk pundak keponakannya sambil tersenyum.
"Anakku, sungguh tepat ayahandamu mengirim nanda ke sini. Karena hanya nanda yang akan bisa membuka tabir kemelut dua kerajaan yang sesungguhnya masih kerabat dekat.."
Begawan Wistara menatap tepat ke manik mata Galuh Citrawani. Sorot mata lembut itu sangat menenangkan. Entah kenapa airmata Citrawani tiba-tiba menitik.
Citra Kartika teringat pada ayahnya di dunia modern. Ayah kandung yang tidak pernah terang-terangan mengakuinya.
Meski Citra Kartika menentang semua keputusan ayahnya. Dan menunjukkan sikap seolah dia tidak peduli dan tidak membutuhkan seorang ayah.
Sesungguhnya jauh di lubuk hati yang terdalam, Citra sangat merindukan kehadiran seorang ayah. Baik dalam bentuk fisik maupun keberpihakan dan kasih sayang.
Bahkan sampai saat inipun, rasa rindu dan haus akan kasih sayang seorang ayah, masih tersimpan rapat di kedalaman kalbu.
Suara lembut dan sorot mata kebapakan yang penuh energi sakti dari Bagawan Wistara, membangkitkan kerinduan dan luka bathin Citra Kartika, sehingga gadis itu menangis tersedu-sedu.
Surya Kencana yang mendampingi adik sepupunya sejak tadi, menyodorkan segelas air. Citra Kartika meraih gelas dan minum hingga tersedak.
"Hati-hati, adik..." kata Surya Kencana. Ia menepuk punggung Citra Kartika dengan lembut, diikuti sorot mata tajam Suryapaksi yang duduk di belakang Bagawan Wistara.
Bagawan Wistara manggut-manggut. Pandangannya jauh menerawang ke depan sambil mengamati Citra Kartika.
__ADS_1
"Nanda Suryapaksi, di depan kalian semua Romo harus berterus terang, agar tidak ada lagi ganjalan di hati kalian semua. Dengarkan Romo ," kata Bagawan Wistara dengan suara halus.
Suryapaksi terkejut.
Kepalanya menunduk ketika semua mata tertuju kepadanya.
Suryapaksi teringat dengan kata-kata Bagawan Wistara beberapa minggu yang lalu, ketika mereka baru saja selesai meditasi pagi.
Kala itu Bagawan Wistara juga memegang pundaknya sambil memandang tepat ke matanya.
"Nanda Galuh Citrawani akan datang kemari bersama kakakmu. Lepaskan dan relakan ikatan perasaanmu, Nanda Suryapaksi. Karena nanda Citra bukan jatukarmamu yang sesungguhnya... karena ia bukanlah ditakdirkan untuk menjadi milikmu..." kata Bagawan Wistara saat itu.
"Benarkah, Romo?" tanya Suryapaksi dengan suara berat dan bergetar.
"Itulah yang Romo lihat. Citrawani bukan bagian dari duniamu, bukan bagian dari dunia kita. Dia ditakdirkan datang ke sini untuk membuka tabir kemelut di kerajaan kita. Tetapi dia bukan untukmu. Romo harus katakan ini padamu, agar nanda tidak terus-menerus tenggelam dalam harapan yang salah."
"Sudah banyak yang nanda pelajari di sini. Kakakmu datang untuk menjemputmu. Sudah saatnya nanda kembali ke Panjalu, membantu ayahandamu mengatur kerajaan."
"Hamba akan pikirkan kembali nasihat Romo. Biarkan hamba di sini lebih lama lagi, karena hati hamba saat ini belum bisa lascarya menerima kenyataan ini..." kata Suryapaksi pelan.
Begitulah percakapan guru dan murid, sebelum kedatangan Surya Kencana dan Citrawani ke puncak Welirang bersama pengawal-pengawal mereka.
.
.
.
"Baik, Romo .." dengan pasrah Suryapaksi berkata. Senyumnya yang tipis tersungging sambil mengangguk ketika Citrawani menoleh kepadanya.
" Baik, Romo !" kata Surya Kencana.
"Romo masih punya satu tugas lagi untuk kalian berdua. Hal ini berkaitan dengan perseteruan antara Jenggala dan Panjalu. Kemelut dua kerajaan ini telah terjadi sejak dulu, dan memang ditakdirkan akan terus bersaing dan berperang, sebelum akhirnya takdir akan menyatukan dua kerajaan kembali..."
"Mungkinkah perdamaian itu terjadi, Romo? Di saat Jenggala sedang merencanakan pengkhianatan. Dengan menggalang dukungan dari negara-negara lain?" tanya Surya Kencana.
"Siapapun tidak bisa melawan kuasa Hyang Widhi, nanda... meskipun anugrah penglihatan yang Romo terima belum tentu kebenarannya, tetapi tanda-tanda bintang kejayaan dan kedamaian telah menampakkan diri..." Bagawan Wistara tersenyum.
"Setelah kalian menyerahkan suratku pada ayahandamu. Nanda Surya Kencana dan nanda Galuh pergilah ke padepokan Gunung Kelud. Serahkan suratku pada kakak seperguruan Romo, Bagawan Lalitaswara. "
"Baik. Romo."
"Istirahatlah lebih awal. Karena besok pagi-pagi kalian sudah harus meninggalkan puncak gunung ."
Suryapaksi memandang ke depan dengan tak berdaya. Berat rasanya meninggalkan perguruan yang telah menggemblengnya dua tahun belakangan ini.
Tetapi apa daya, sang guru telah memberi perintah untuk kembali ke istana, mengemban tugas sebagai putra mahkota.
.
.
.
__ADS_1
Pada malam hari Suryapaksi meminta untuk berbicara empat mata dengan Galuh Citrawani.
Mereka berdiri di bawah cahaya bulan yang bulat besar, di taman bunga depan pondok.
"Dinda Citrawani, kanda tahu kamu bukan berasal dari duniaku..." Suryapaksi membuka percakapan.
DEG.
Citra Kartika terperanjat.
Jangan-jangan Suryapaksi sudah mengetahui kebenaran ini?
'Darimana lelaki ini bisa tahu kalau aku bukan Galuh Citrawani yang asli?' Batin Citra Kartika bingung.
"Romo Bagawan yang menyadarkan kanda, bahwa dirimu bukan berasal dari dunia yang sama dengan kanda. Kita tidak ditakdirkan untuk bersama-sama . Jatukarma kita tidak bisa dipaksakan, karena hanya akan menuai kehancuran .." Suryapaksi menjelaskan.
Bibir Citra Kartika membulat
"Ooh .."
Suryapaksi menatap Citra Kartika ragu. Mata elangnya yang tajam berkilauan di bawah cahaya bulan.
"Dinda, aku hanya ingin meminta maaf,, atas segala kesalahan yang pernah aku lakukan padamu, semasa di Panjalu... Dinda memang layak menjauhiku, bahkan mungkin membenciku, atas semua yang pernah terjadi .." Suryapaksi berkata dengan nada yang dalam.
"Kanda, Citra sudah memaafkan semua hal yang telah lalu. Di hati ini tidak ada dendam sedikitpun terhadap kanda. Percayalah, saat ini di hatiku, kanda adalah seorang saudara sepupu, bukan orang yang layak untuk dibenci !" tegas Citra Kartika.
" Sebenarnya... " Suryapaksi ragu-ragu. Betapa ingin dia mengutarakan perasaannya kepada Citrawani. Betapa ia mencintai gadis ini dengan sepenuh hati dan jiwa.
Tetapi apakah itu ada gunanya lagi?
Citrawani bukan ditakdirkan untuk menjadi miliknya. Untuk apa ia mengutarakan cinta, jika tidak bisa meraihnya?
"Sebenarnya kenapa, kanda?"
Citra Kartika bertanya karena dilihatnya lelaki itu ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
Suryapaksi menghela nafas panjang
"Sebenarnya, aku selalu mencintaimu, dinda. Aku tidak pernah melupakanmu. Kamulah teman sepermainanku, kekasih masa kecilku. Hanya takdirlah yang telah mempermainkan kita, sehingga hari ini kita berdiri sebagai dua orang sepupu..." kata Suryapaksi.
Tetapi hanya dalam hati .
Bibirnya bergerak mengatakan hal yang bertentangan dengan kata hatinya .
"Besok kita akan berangkat pagi-pagi. Sebenarnya kanda hanya ingin menuntaskan perasaan bersalah yang sangat berat pada dinda. Karena dinda telah berlapang hati memaafkan, maka aku juga merasa lega. Terimakaih, dinda..."
Suryapaksi tersenyum, dibalas oleh Citra Kartika dengan tulus.
Setelah itu mereka pun berpisah.
Citra Kartika masuk ke dalam pondoknya, diawasi oleh Suryapaksi dengan tatapan rindu bercampur sendu.
Dia, istrinya yang masih suci murni dan belum pernah terjamah.
__ADS_1
Kenapa takdir tidak berpihak padanya untuk memiliki orang yang dia cintai?
Mata elang itu meredup, setitik bulir bening mengembang di sudut-sudutnya.