
Citra mengangkat gadgetnya yang melantunkan dering monoton kesukaannya.
Suara Yudhis yang menggelegar tidak membuatnya kesal. Ia tersenyum .
"Ya, bocah edan, kenapa tumben nelpon aku, kesambet kowe?" tegur Citra konyol.
"Aku kangen menghadiri berbagai workshop bersamamu, nek. Ayo ikut aku seminar Reiki tingkat dua plus kundalini, yuk ?" cerocos Yudhis.
"Ah, gila kowe bocah edan ! Aku lagi di Jakarta ini, jadi wakil perusahaannya ayahku. Emang seminarnya di mana?"
"Di Malang."
"Yaelah !" Citra bisa menduga kalau Yudhis sedang nyengir kuda di seberang sana.
"Cieee yang sekarang jadi wanita karier, sok sibuk dah. Kamu tahu nek, kalau Kundalini udah bangkit, itu para black magic, roh halus, ronaldo de-el-el yang suka ngincer lu bakalan kabur dah jauh-jauh ! Biar hidupmu tentrem ayem kagak lagi kena musibah macem-macem kaya dulu !"
"Iya, iya aku tahu, bawel. Itu workshop pasti akan diadakan lagi kapan-kapan, kan ? Nah saat aku udah cuti , trus pulang kampung ke Malang, aku ikut kowe deh."
"Beneran ya? Pokoknya kalo attend seminar bersamamu itu paling seru, nek. Ya udah kamu terusin dah jadi wanita kurir. Gue mau lanjut patroli dulu. Dah !"
Terdengar suara telpon ditutup semena-mena sebelum Citra menyelesaikan salamnya.
Dasar si bocah edan.
Beberapa detik kemudian, telepon berdering lagi.
"Kenapa lagi, cah edan?" sapa Citra .
"Kapan-kapan ajak Sherly seminar juga yuk. Biar dia nggak terus-terusan depresi mikirin lakinya yang mata duitan !"
"Iya, boleh."
"Dah, gitu aja !" Telepon ditutup lagi dengan semena-mena. Citra geleng-geleng kepala.
Tong..tong..tong ..
Dering telepon yang monoton dan unik itu terdengar lag. Citra menyambar mobilenya dan berteriak kesal.
"Heh bocah edan, kowe kalau ngomong itu yang bener, dihabisin dulu sampe clear, biar ga tang tang tong tong melulu hape gue !" seru Citra .
Hening sejenak. Beberapa detik kemudian terdengar suara berat bernada heran.
"Citra? "
Ya ampun. Itu Bagus Saksena.
"Oh. Maaf, maaf, aku kira temanku," Citra Kartika meringis malu.
"Aku sudah menduga, pasti kamu salah kira !" Suara berat itu tertawa pelan. "Gadis cantik seperti kamu pasti banyak penggemar, termasuk yang ganggu via panggilan telpon ya?"
"Oh bukan, tadi itu teman aku, mantan team aku di korps. Udah kayak saudara sih, jadi kalau ngomong suka seenaknya, ngeselin."
__ADS_1
Diih, kenapa juga aku mesti eksplain ke dia? Batin Citra Kartika.
"Citra. nanti malam kamu ada acara nggak?"
"Ada, ada.." Sahut Citra cepat . "Nanti malam aku mau tidur. "
"Yeee ..Aku juga mau tidur nanti malam. Maukah kamu...hemmm.... bersama denganku?" suara Bagus Saksena terputus-putus.
"Bersama ngapain!?" sambar Citra sewot.
"Makan malam, Citra. Dinner. Masaa bobo bareng...hmm ? Emangnya kamu mau ?"
"Huh !"
"Duh, galaknya !" Bagus Saksena tertawa ringan. "Sinyal di situ lagi buruk yaa? Omonganku terpotong-potong ya?" Godanya. Padahal malaikat juga tahu, ia sengaja main-main.
"Alasan. Aku lagi mager. Lagi PMS juga . Ogah ah ke mana-mana ."
"Kamu nggak usah ke mana-mana. Biar aku yang nyamperin tuan putri ke hotel ya?"
"Tetep aja aku mesti jalan keluar kan. "
"Apa tuan putri mau digendong ala bridal style?" goda Bagus Saksena .
"Konyol, ah."
"Atau kita dinner di hotel aja. Kita makan di balkony, panggil in room dinning aja !"
"Hngg..."
"Iya, iya. Makasih atas perhatiannya, tuan_yang_sangat_mengerti_wanita !" kata Citra dengan penekanan khusus.
"Aku tulus. Kok aku mendengar aroma sindiran ya ! Aku jadi merasa terkondisikan sebagai buaya darat !" protes Bagus Saksena.
"Hihihi.." Citra tertawa kecil.
"Yah, kuakui Bagus Saksena memang pintar bicara dari dulu. Okey, aku kalah. Kamu kutunggu sampai jam 7 aja ya. Lewat dari itu kamu belum mengetuk pintuku, aku ngga bukain !"
"Siap , tuan putri ! Pangeran berkuda siap meluncur ke TKP !" kata Bagus Saksena kocak .
Lima menit kemudian, bel pintu kamar Citra berbunyi. Dengan heran Citra Kartika membuka pintu untuk Bagus Saksena yang menunggu dengan tampang cool.
"Hah? Kamu tadi nelpon dari lobby?" tanya Citra tercengang.
"Ya." sahut Bagus Saksena pendek.
"Huh, dasar curang !"
Bagus Saksena tergelak.
Citra menepi untuk membiarkan Bagus Saksena masuk. Mereka melangkah menuju balkony, lalu duduk di kursi yang menghadap ke arah view garden.
__ADS_1
"Aku emang niat ngajak kamu makan malam, sih. Tadinya aku mau langsung ketuk pintu kamarmu. Tapi nggak enak aja sama kamu. Makanya aku telpon dulu ."
Mereka memesan makan malam yang tak terlalu berat. Citra hanya memesan sup jamur ayam dan salad buah. Setelah pesanan mereka datang, Bagus Saksena mengajak Citra makan sambil mengobrol seputar latar belakang masing-masing.
Bagus bercerita tentang ibunya yang berasal dari Bali dan hingga kini masih sering pulang ke Bali. Untuk mengunjungi kedua orang tua dan sanak saudaranya di Bali. Ceritanya itu memancing antusiasme Citra untuk bercerita tentang neneknya yang juga berasal dari Bali.
"Ibu dari ibuku, dia dipanggil Meme oleh ibuku. Beliau berasal dari timur Bali. Menikah dengan kakekku dan menetap di Malang hingga akhir hayatnya," tutur Citra Kartika hangat.
"Nenekku bernama Anak Agung Istri Raini seorang seniman lukis dan tari yang berdarah bangsawan salah satu puri di Bali. Tetapi beliau keluar dan tidak diakui keluarga, akibat menolak perjodohan dengan lelaki bangsawan pilihan orangtuanya. Dan memilih menikah dengan kakekku, seorang pria Jawa tulen. "
"Jadi kita sama-sama memiliki darah keturunan orang Bali. Sepertinya kita memang jodoh !" senyum Bagus Saksena.
"Mungkin ya !" balas Citra ringan .
"Kamu setuju ?" Kata Bagus Saksena antusias . Digenggamnya tangan Citra yang telah selesai menyantap makanannya.
"Segala kemungkinan bisa saja terjadi kan..." kilah Citra.
"Intinya kamu setuju bahwa kita berjodoh ! Iya kan ?"
"Kapan aku bilang setuju ? Aku hanya bilang mungkin !" bantah Citra dengan pipi memerah, karena tangannya terasa hangat digenggam tangan besar Bagus Saksena.
"Iyain aja kenapa ? Jadi anak gadis jangan bandel-bandel kalau dinasehatin !" bisik Bagus Saksena .
Citra Kartika merinding. Bibir Bagus Saksena begitu dekat dengan telinganya, ketika laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke sisi kepala Citra.
"Jangan terlalu dekat dong Pak, heloow.." kata Citra Kartika. Ia mendorong sedikit bahu Bagus Saksena dengan sebelah tangannya yang bebas.
'Dan inj tangannya tolong dikondisikan !" kata Citra sambil melepaskan tangannya yang digenggam dengan hangat.
"Duh, eks pasukan korps reserse memang beda ya. Agak susah didekati..." canda Bagus Saksena.
"Bukan hanya susah didekati, tapi juga ganas. Awas ya, jangan macam-macam denganku !" ancam Citra Kartika.
"Ow, takut ! Tapi aku suka cewek ganas !" sahut Bagus Saksena sambil mengedipkan sebelah mata.
"Jijay!" keluh Citra Kartika. "Bisa nggak sih, image nakal Pangeran Bagus Saksena dihapus dari wajahmu, pliz ? Aku jadi illfeel ini . Hilang selera. "
"Yaaah .. kok gitu ! Boleh nggak kamu lupakan saja masa lalu yang nggak enak untuk dikenang itu. Boleh nggak ?"
"Boleh. Asalkan kamu jangan lagi mode on Pangeran mesum itu !"
"Ngga janji. Abis kamu begitu menggoda sih !" Bagus Saksena menyeringai nakal.
"Huh, kalau gitu maaf aja ya.. Aku ogah dekat-dekat pria mesum."
"Aku nggak mesum kok !" protes Bagus Saksena.
"Lalu ini apa?" keluh Citra Kartika kesal. Disingkirkannya tangan Bagus Saksena yang singgah di atas bahunya.
"Hehehe..."
__ADS_1
Malam itu Citra Kartika baru berhasil menyuruh Bagus Saksena pulang ke rumahnya sendiri, setelah dua jam kemudian.
****